
Berbagai kenangan manis bermunculan di permukaan, saat dia masih bersama Saga. Bagaimanalaki-laki itu begitu memanjakannya, meskipun bukan tipe laki-laki romantis, hanya saja Saga memang berbeda. Senyum tipis pias mengembang di bibirnya, bagaimana laki-laki itu sudah mengoyak hatinya.
Bukan salah Saga, ini murni kesalahan yang dia lakukan. Dendam sudah menguasainya. Dan kini dia benar-benar kehilangan Saga.
Ganis, bagaimana bisa dia blunder melakukan kesalahan fatal, rencana awal yang menurutnya matang, ternyata benar-benar di luar dugaannya. Gadis yang dia persiapkan untuk menghancurkan Saga dan keluarganya ternyata berubah menjadi lem perekat dalam keluarga itu.
Jika awalnya dia hanya bermain-main dengan Saga, tidak melibatkan hatinya, hingga puncaknya dia diajak menikah oleh Saga, tidak ada getaran yang terjadi di hatinya. Namun ketika laki-laki itu menghilang, dia mulai merasakan jika dia mencintainya, laki-laki baik yang pernah ada di hidupnya.
Anaya mematut di depan cermin, ini adalah momen patah hati yang kesekian kalinya pada orang yang sama, yaitu Saga. Apa yang harus dia perbuat kali ini?
“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Anaya berbicara sendiri di depan cermin. “Aku mencintainya, Tuhan…” bisik Anaya lagi, kali ini air matanya masih tersimpan rapi.
Anaya mengambil figura poto, dilihat wajah kedua orang tuanya tersenyum di poto tersebut.
“Mama…Papa…apa yang harus aku lakukan? Aku sudah melakukan kesalahan besar, mengapa harus ada Barata di kehidupan Papa dan Mama? Andai saja bukan karena dia, maka aku sudah bersama Saga sekarang”. Anaya mengusap wajah kedua orang tuanya di poto tersebut.
Kini yang ada hanya tinggal penyesalan, penyesalan yang entah ujungnya akan kemana bermuara.
Anaya cantik, sukses, pekerja keras, dan tentu banyak laki-laki yang menginginkan dia. Hanya saja, dia sudah terlanjur tertambat dengan Saga. Bagaimanapun dia belum bisa move on, dan entah bisa move on dari Saga dengan cepat.
Dreeet….
HP Anaya bergetar, membuyarkan lamunannya.
Alex Calling….
Laki-laki yang senantiasa ada untuk Anaya, Anaya menggeser tombol hijau.
“Keluarlah” ujarnya sebelum Anaya mengucapkan sepatah kata. Anaya menutup sambungan telepon, dia berdiri dan mendekat ke arah jendela kamarnya. Melihat Alex sudah ada di depan sambil melambaikan tangan. Anaya masih mematung di depan jendela.
Alex menatap Anaya lekat, sudah sejak lama dia menyimpan rapat isi hatinya. Anaya tetap mempesona di hatinya, tidak pernah berubah. Meskipun banyak perempuan singgah dan pergi di sampingnya, hatinya untuk Anaya. Ada rasa senang saat Saga tiba-tiba menikahi Ganis, itu berarti ada kesempatan untuknya, tapi melihat kenyataan bahwa Anaya kini benar-benar mencintai Saga, jalan terjal membentang di depannya.
“Makanlah, biar kamu bisa berpikir dengan jernih” ujar Alex sambil memperhatikan mata cekung Anaya. “Aku tidak pernah menyangka bahwa dia yang akan bisa menghancurkan mentalmu” ujar Alex. Anaya tersenyum hambar, apa yang dikatan Alex tidak salah.
__ADS_1
“Aku terlihat menyedihkan ya?”
“Tidak seharusnya kamu seperti ini” Alex masih berusaha. “Kamu gadis yang kuat, Ann”
Anaya tersenyum kembali, mungkin benar, tapi dia belum bisa pulih dari rasa sakit hatinya.
“Bagaimana keadaan di kantor?” tanya Anaya.
“Ya…begitulah”
“Masih terobsesi menghancurkan dia?” tanya Anaya lagi, dia tahu jika Alex punya misi. Alex mengerutkan dahinya, pada awalnya dia menginginkan bisa mengambil sedikit keinginan untuk menguasai apa yang sedang dipegang saat ini.
“Entahlah”
“Kamu juga nampaknya sudah menyerah, mimpi apa kamu dan Papamu menjadi baik?” tanya Anaya dengan senyum mengejek.
“Bukan seperti itu Ann, entahlah”
Alex menghentikan mobilnya saat di hadapannya terlihat lampu lalu lintas berwarna merah, mata Anaya melihat sekeliling. Tepat di samping kirinya sebuah sepeda motor matic berwarna hitam. Dia mendekat ke arah kaca mobil, terlihat Saga dan Ganis sedang berboncengan dan sedang bergurau.
Anaya menelan ludahnya, Alex melirik Anaya, nampaknya dia juga mengetahui apa yang dilihat Anaya. Setelah lampu berganti menjadi hijau, motor yang ditumpangi Saga dan Ganis melaju.
Motor melaju perlahan menuju sebuah salon, Ganis turun dari motor dan melepaskan helm. Saga melakukan hal yang sama.
“Kamu baik-baik saja kan Mas?”
“Memangnya kenapa?” Saga menghentikan langkahnya, menatap Ganis.
“Aku takut kamu masuk angin, kan kamu tidak pernah naik motor” ucap Ganis khawatir, senyum mengembang dari bibir Saga, merasa senang dengan perhatian Ganis. Gadis itu kini susah payah meraih rambut Saga, merapikannya. Saga agak menekuk kakinya agra Ganis bisa leluasa membenahi rambutnya yang berantakan.
“Dan kamu juga harus tahu jika itu adalah pertama kalinya aku makan di kaki lima” Saga terkekeh.
“Hah? Serius?” Ganis menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Saga berlalu menuju salon. Ganis merasa bersalah karena telah membawa Saga makan bakso tadi.
__ADS_1
“Tidak usah merasa bersalah” Saga berjalan lebih cepat, seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Ganis, dia menoleh ke belakang, Ganis ketinggalan langkah. Dia tersenyum melihat gadis itu.
“Makan bakso di kaki lima tidak pernah? Sesultan itukah dia? Atau memang sakit perut setelah makan di kaki lima?” Ganis bergumam.
Saga sudah menghilang di balik pintu, Ganis yang menyadari itu langsung berlari menyusul Saga.
“Selamat datang Nona” sapa seorang pegawai salon dengan ramah. Ganis tersenyum membalas sapaan tersebut.
Saga sudah duduk di depan cermin, siap untuk dipotong oleh salah satu pegawai salon. Sebelum dipotong, Saga dicreambath terlebih dahulu.
Ganis memperhatikan sekitar, salon tersebut cukup mewah, terlihat dari interior ruangan yang didominasi warna pastel.
Ganis membuka-buka majalah yang ada di rak samping dia duduk, hari ini dia hanya menemani Saga, tidak ada agenda untuk dirinya melakukan perawatan.
Bosan membuka-buka majalah, Ganis menutup majalah tersebut dan kembali meletakkan di rak. Hawa AC yang sejuk membuat dirinya mengantuk, Ganis menyandarkan diri di sandaran sofa yang empuk, memejamkan matanya setelah melihat Saga yang juga belum selesai.
Saga melirik Ganis sekejab, menaikkan alisnya. Bisa-bisanya gadis itu tidur sembarangan di tempat umum.
“Sudah selesai Tuan”
“Saga segera berdiri dan berjalan mendekati Ganis, menaik turunkan tangannya di depan wajah Ganis. Gadis itu tak bereaksi, mungkin benar sedang tertidur.
Saga menowel pipi Ganis, Ganis terlihat menggeliat, lalu membuka matanya, terkejut saat Saga ada di depannya.
Tampilan rambut baru, membuat Saga terlihat semakin enak dipandang mata. Ganis tersenyum.
“Haaah….kamu, kok bisa-bisanya tidur di tempat seperti ini?” selorohnya. Ganis mengucek matanya. “Apa kamu kelelahan tadi malam?” Saga menggoda Ganis, Ganis melotot. Mengapa Saga selalu mengungkit kejadian semalam, malam pertama yang tidak bisa dia deskripsikan. Sebelum mendapat pukulan gemas dari Ganis, Saga berlari kecil menuju kasir untuk membayar. Ganis segera berdiri mengikuti langkah Saga.
“Ok, kalau kamu lelah, kamu bisa tidur nanti di boncengan, jangan lupa pegangan erat. Takut kamu jatuh” imbuh Saga lagi.
Ganis tergelak, memukul Saga pelan, lalu mereka keluar meninggalkan salon untuk kembali menyusuri jalan dengan motor berdua.
Terima kasih buat readers yang sudah memberikan vote buat Author, ayo dong yang belum ngasih votenya. hehe sayang lho vote yang muncul seminggu sekali nggak dipake. wkwk (maksa). terima kasih juga yang sudah setia membaca, ini masih manis-manis dulu ya...nanti kita pahit-pahitan lagi. hohoho. yang sudah like dan memberikan hadiah juga thank you....like yang banyaaaak ya...nanti malam kalau nggak ada halangan, Author up lagi...^^
__ADS_1