
Ganis meraba pergelangan tangannya, Ganis mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar. Atas meja, kolong ranjang, bawah meja dan kamar mandi tak luput dari sapuan matanya. Tapi yang dicari tidak ada.
“Kamu mencari apa?” tanya Saga yang sedang duduk berselonjor di atas ranjang sambil memainkan HPnya.
“Jam tangan” jawab Ganis tanpa memandang Saga. Saga meletakkan HPnya di ranjang lalu ikut mencari.
“Tuan tidurlah, biar aku yang mencari, mungkin ketinggalan di luar, aku keluar dulu” Ganis beranjak menuju pintu, Saga dengan cepat menghalangi dengan tangannya.
“Lihat sudah jam berapa sekarang?” Saga mendongakkan wajahnya, memperlihatkan jam dinding yang sudah menunjukkan tengah malam lebih. “Kamu di sini saja, biar aku yang mencari”.
Ganis menurut, dia tetap berada di kamar.
“Kemana sih? Dasar aku ceroboh” imbuhnya, jam tangan itu adalah jam pemberian Nyonya Rima saat pernikahannya dulu, teramat berharga, jika hilang, maka dia merasa akan sangat bersalah tidak mampu menjaganya dengan baik. Ganis mencoba mengingat-ingat, tadi dia benar-benar memakainya, dan setelah itu dia lupa.
“Ih dasar” Ganis mengetok kepalanya. “Jangan sampai hilang”
Saga berada di tempat yang tadi dia dan Ganis berada selama acara, mencoba menyisir tempat tersebut. Mengedarkan pandangannya di setiap sudut ruangan. Suasana sangat sepi dari hiruk pikuk. Bahkan Saga sangat jelas mendengar derap kakinya. Saga mencoba mencari ke tempat lain, karena terakhir kali dia dan Ganis berada
di sebuah balkon villa. Saga melangkahkan kakinya, dilihatnya samar, ada bayangan seseorang yang sedang duduk di balkon. Punggungnya berguncang, nampak sesekali sesenggukan. Saga mendekat, karena dia sangat mengenali dia.
Saga duduk di samping Anaya dengan kursi yang berbeda, tidak ada sapaan dari gadis itu meskipun dia sadar di sampingnya ada seseorang. Dia masih sesenggukan, sepoi angin malam menerpa rambutnya. Tangan kanannya menggenggam tisu yang bertugas menjadi penyeka air matanya yang meleleh. Matanya sembab karena terlalu banyak menangis.
“Ann…” Sapa Saga.
“Mengapa kamu melakukannya?” Anaya menatap Saga, dia benar-benar merasa frustasi. “Apakah kamu sengaja melakukannya di depanku?”
“Ann…maafkan aku”
“Tatap aku Saga, tatap aku!” Anaya mencengkeram dua pundak Saga, menatap lekat mata laki-laki itu. “Katakan jika kamu memang sudah tidak mencintaiku, katakan!”
__ADS_1
Saga terdiam dengan permintaan Anaya, matanya masih menatap lekat mata Anaya. Gadis itu benar-benar frustasi dengan keadaan yang sedang dia hadapi.
“Lalu aku harus bagaimana?” tanya Saga datar.
“Katakan jika kamu mencintaiku!” Anaya masih mencengkeram.
“Jikalaupun aku masih mencintaimu, aku tidak bisa melakukan apapun Ann. Apa yang ada sekarang, maka itu yang harus aku perjuangkan” jawab Saga tegas.
“Kamu…”
“Iya Ann, kamu mengerti maksudku. Jika kamu bertanya tentang perasaannku, maka aku tidak bisa mengatakan apapun, terima kasih sudah pernah menjadi bagian dari hidupku, biarkan aku yang menyimpulkan semua perasaanku, tapi aku rasa ini cukup”
Anaya melepas tangannya dari bahu Saga, matanya nampak sendu, air matanya kembali menetes. Blunder yang dia lakukan benar-banar fatal.
“Semua ini adalah salahku” Anaya tergugu. Sesungguhnya Saga tidak tega melihat seseorang menangis di depannya, dia turun dari kursinya, berdiri dan dengan pelan dia memegang pundak Anaya, mengusapnya perlahan. Jemarinya mengusap air mata Anaya perlahan. Lalu dia memeluk Anaya agar gadis yang ada di depannya itu bisa tenang kembali.
“Kamu akan bahagia dengan hidupmu, Ann” Saga mengusap punggung Anaya, Anaya semakin deras menangis.
“Aku kira iya, dengan apa yang kamu lihat tadi, semoga bisa membuatmu membenciku dan melupakanku”
Ganis memundurkan langkahnya, sudah hampir satu jam Saga tidak kembali ke kamar. Ganis akhirnya menyusul, dan sampailah dia di tempat terakhir yang diingatnya tadi, balkon villa. Ganis melihat Saga memeluk Anaya yang sedang menangis tergugu. Bukan perasaan cemburu yang muncul kali ini, Ganis akan rela melepas Saga jika memang mereka seharusnya bersama, dia akan benar-benar melakukannya.
Jika memang mereka masih mencintai, harusnya aku yang pergi entah bagaimanapun caranya.Ganis mencoba memantapkan hatinya.
Saga melepaskan pelukan dari Anaya, gadis di depannya nampak sedikit merasa lega.
“Sudah malam, tidurlah” Saga mengusap kepala Anaya. Saga berbalik, dilihatnya Ganis berada di dekat tembok. Saga mendekatinya, menggenggam erat tangannya, lalu berjalan meninggalkan Anaya. Saat menuju kamar, Saga tidak melepas tangan Ganis, Ganis hanya terdiam hingga mereka sampai di kamar.
“Aku tidak akan pernah mundur dengan yang ada sekarang, jika pada awalnya aku sangat membencimu dan tidak ingin, tapi…aku tidak akan melepasmu” ucap Saga menatap Ganis, mereka berdiri di dekat jendela kamar yang masih terbuka. Ganis menatap mata Saga lekat, didengarkannya dengan seksama ucapan Saga.
__ADS_1
“Apakah Tuan sedang bersandiwara?” Ganis mencoba menepis, tidak ingin merasa percaya diri dengan apa yang diucapkan Saga saat ini.
“Apa kamu pikir semua yang aku lakukan adalah sandiwara?” Saga sedikit kesal.
Ganis membuang pandangannya, hatinya tak karuan.
“Tuan…”
“Semua ini bukan salah siapa-siapa, mungkin Tuhan memang mengirimkanmu dalam hidupku dengan cara yang unik. Anaya hadir hanya memberikan pelajaran untuk hidupku”
“Tuan…” Ganis ingin menangis, apakah ini benar-benar nyata? Dia yang bukan siapa-siapa dan kini seperti mimpi.
“Kamu hanya…hanya pihak yang dikorbankan, dan aku…aku mulai menyukaimu” Saga menatap
bola mata Ganis meyakinkan. Dia tidak ingin gadis itu merasa tidak nyaman dengan perlakuan yang dia dapatkan. Entah itu dari Anaya atau darinya dulu. Kini dia hanya ingin melindunginya, semampunya.
Antara senang dan sedih, Ganis melihat kesungguhan ucapan Saga. Tapi dia juga sedih, bagaimana jika suatu hari Saga mengetahui perjanjian di atas kertasnya dengan Anaya. Apa yang akan dia pikirkan nanti? Apakah Saga tetap akan seperti ini? Atau dia harus jujur?
Saga melihat Ganis lekat, gadis sederhana itu telah mengisi hatinya. Hari-harinya menjadi berbeda semenjak ada gadis itu dalam hidupnya, gadis yang tidak pernah mengatur hidupnya, gadis yang membiarkan dirinya menjadi dirinya sendiri, dan gadis yang selalu melayani kebutuhannya dengan tanpa mengeluh.
Tak bisa dipungkiri, Saga adalah sosok yang berbeda dari pandangannya semula, dia memang bukan laki-laki yang bisa dengan mudahnya akrab dengan orang, termasuk dirinya, hanya saja dia adalah laki-laki yang baik. Setidaknya dia bahagia bisa menjadi istri Saga walau hanya di atas kertas, dia bukanlah laki-laki yang kasar, sebenarnya dia orang yang sangat perhatian. Dia mulai nyaman dengan laki-laki yang sedang berdiri di depannya itu.
Apakah aku juga sudah menyukainya?Ganis membatin, tatapan mereka beradu, Saga memegang pipi kiri Ganis, mengusapnya perlahan. Bibirnya mendekat, dan mengecup mesra bibir Ganis.
Tidak seperti adegan siang tadi, Ganis lebih bisa menerima perlakuan Saga kali ini. Kedua tangan Ganis melingkar ke tubuh Saga.
Angin malam berhembus kencang, menyibak gorden kamar yang belum tertutup jendelanya.
__ADS_1
Author agak ngelindur up 2 chapter hari ini. hihihi