
Nyonya Rima sudah mewanti-wanti agar Saga dan Ganis berangkat terlebih dahulu ke rumah Budhe Sarah. Nampaknya saudaranya itu masih setengah hati jika keluarga Andrew akan datang hari ini. Yang dipikirkan oleh Nyonya Rima adalah bagaimana jika Budhe Sarah akan mencak-mencak dan mengusir keluarga Andrew yang sudah berniat bertanggung jawab.
Saga dan Ganis tengah bersiap, mereka akan ke rumah Budhe Sarah lebih awal dan meyakinkan Budhe Sarah.
"Hati-hati ya di jalan, Saga jangan ngebut" pesan Nyonya Rima agak khawatir, sejak kejadian yang tidak mengenakkan yang menimpa Saga dan Ganis, dia selalu merasa khawatir.
"Iya Ma" jawab Saga.
"Berangkat dulu ya Ma..." Ganis berpamitan.
"Iya....hati-hati, nanti kalau sudah sampai sana tolong kabari"
"Siap Mama..." timpal Ganis lagi.
Mobil melaju meninggalkan halaman rumah Saga yang luas, Nyonya Rima segera masuk ke dalam rumah sesaat setelah mobil yang ditumpangi Saga dan Ganis hilang dari pandangannya.
Hari ini Saga berpenampilan formal dengan mengenekan batik lengan panjang, begitu juga Ganis, mengenakan kebaya biru muda dengan bawahan batik yang senada dengan kemeja Saga.
"Aku tidak pernah menyangka sama sekali jika Carolina akan bernasib seperti ini" Saga membuka percakapan mengenai nasib sepupunya itu. Ganis menoleh ke arah Saga.
"Dia itu gadis yang sangat keras kepala, idealis, tapi bisa begini" Saga membuang nafas.
"Tanggapan Papanya Andrew kemarin bagaimana Mas?" tanya Ganis, belum sempat Saga membicarakan hal tersebut.
"Yaaa mau bagaimana lagi, kalau sampai Andrew macam-macam, siap-siap saja berurusan denganku" Saga menyunggingkan senyumnya. Kalau sampai Andrew macam-macam dan tidak mau bertanggung jawab, dia akan menjadi orang pertama yang memburu Andrew.
"Sebenarnya kalian adalah saudara yang manis" puji Ganis, mendengar kalimat tersebut Saga hanya tersenyum.
"Ya begitulah, dari kecil kita sama-sama, sering main bareng, hanya saja semenjak kita sama-sama mulai beranjak dewasa, kita seolah punya jalan masing-masing, ada sifat yang tidak aku sukai darinya, begitu juga dia terhadapku, jadi kita seperti menjauh, tapi bagaimanapun juga dia tetap saudara kan?"
"Betul Mas, terlebih dia sekarang sedang menghadapi masalah, dan Mas lah yang diharapkan bisa membantu" Imbuh Ganis. Saga mengangguk.
"Sebenarnya dia itu baik, cuma ya itu, terkadang suka seenaknya sendiri, misalnya dulu benci banget sama kamu, masih ingat kan?" Saga melihat ke arah Ganis, lalu dia kembali berkonsontrasi mengemudi. Ganis mengangguk, masih ingat bagaimana Carolina menolaknya dari awal pernikahan dengan Saga karena merasa tidak sebanding.
"Dan kini dia merasakan, bahwa cinta tidak melihat strata" Saga kembali menyunggingkan senyum, kali ini seperti mengejek.
"Memangnya Andrew tidak sekelas Mas?" tanya Ganis.
"Kan tetap saja keluarga Andrew masih di bawah keluarganya kan? dia mah mikirnya nggak sejauh itu, karena hidup tidak semudah bayangan kita. Janganlah memandang orang, takdir, dan jodoh itu kudu sesuai dengan keinginan kita" ujar Saga panjang lebar.
Ganis kagum dengan suaminya, di balik wajah suaminya yang dingin, datar, namun dia memiliki pandangan yang berbeda. Meskipun Saga hampir memiliki segalanya, namun dia tidak pernah mempermasalahkan kepada siapa dia berada, siapa yang ada di hatinya.
__ADS_1
Ganis tersenyum menatap wajah Saga.
"Kenapa begitu?" tanya Saga ikut menoleh ke wajah Ganis, mereka saling menatap.
Ganis menggeleng, "Terima kasih sudah menerima segala kekuranganku Mas"
"Laahhh melow lagi ini bocah" Saga terkekeh.
"Bukan...bukan begitu, kan kalau di sonetron-sinetron begitu kan orang kaya...milih orang kaya, benar tuh mungkin Carolina" Ganis terkekeh.
"Kebanyakan nonton sinetron kamu, makanya nontonlah sponge bob"
Ganis semakin terkekeh, "Itu dulu, sekarang nggak pernah Mas" Ganis mengelak. Dia sekarang lebih suka nonton acara lain dibandingkan sinetron, Ganis lebih suka lihat film atau drama korea.
"Bagaimana jika Budhe Sarah nati kekeh Mas?" Ganis mendadak khawatir.
"Makanya, ini tugas kita, jangan sampai Budhe Sarah menolak kedatangan keluarga Andrew"
"Iya Mas"
Mobil memasuki sebuah gerbang mewah, seorang kembali menutup gerbang tersebut. Rumah tersebut terlihat lengang, tidak ada persiapan yang mencolok.
Saga dan Ganis masuk ke dalam rumah, terlihat lengang. Tidak nampak Carolina maupun Budhe Sarah. Saga menyuruh Ganis duduk di sebuah sofa, sementara Saga berjalan ke dalam.
"Budhe....Budhe belum siap?" tanya Saga yang heran melihat Budhenya masih mengenakan pakaian rumahan. Jauh dari kesan mau menerima tamu.
Budhe Sarah nampak diam, dia menatap Saga sejenak, setelahnya dia menghembus nafas kesal.
"Budhe rasanya ogah-ogahan bertemu dengan laki-laki yang sudah menghancurkan masa depan Carolina" ujarnya sambil menarik sebuah kursi kayu, Saga ikut menarik kursi tersebut dan duduk di depan Budhe Sarah.
"Budhe....gini deh, misalkan...misalkan nanti Carolina melahirkan, terus apa kata orang jika Bapaknya tidak mau bertanggung jawab?" Saga mencoba berdiskusi.
"Biarkan saja, saya bisa membesarkan tanpa bapaknya" jawabnya kekeh.
"Budhe....tidak ada yang diragukan dari Budhe, Budhe jelas mampu dari segi keuangan, tapi apa Budhe bisa menggantikan posisi ayahnya kelak? terus lagi, bagaimana mental Carolina saat menghadapi kehamilan sendirian tanpa ayah dari bayinya?"
Budhe Sarah menerawang, kalimat demi kalimat yang Saga lontarkan seolah terpikirkan di otaknya. Memang, jika tanpa bapak sekalipun, masalah materi tak akan menjadi kendala bagi keluarganya.
"Begini lho Budhe....entahlah saya juga kurang paham hukum pernikahan pada saat hamil duluan, tapi setidaknya Andrew mau tanggung jawab. Nah selepas itu nanti Budhe bisa konsultasi ke orang yang lebih paham, setidaknya saat ini Carolina mentalnya tertata dulu"
Budhe Sarah masih terdiam.
__ADS_1
"Jam berapa dek Rima akan datang?" tanyanya.
"Nanti Budhe, pasti Mama datang"
"Ya sudah, semua aku pasrahkan kamu, demi Carolina" Budhe Sarah beranjak, dia menepuk pundak Saga lalu pergi kembali masuk ke kamarnya.
Ganis terkejut saat langkah kaki menghampirinya, Ganis menoleh. Carolina dengan wajah sembab duduk di sampingnya, Ganis agak bergeser, memberikan cukup tempat untuk Carolina.
Wajah gadis itu sembab, Ganis yakin dia habis menangis.
"Apa kabar?" tanya Ganis lembut. Carolina memaksa bibirnya untuk mengembankan senyum.
"Masih sama, kenapa aku jadi selemah ini?" senyumnya hambar, dia menatap ke udara.
Pertengkarannya dengan Mamanya tadi malam masih menyisakan sesak, Mamanya kekeh tak ingin Carolina berhubungan dengan Andrew.
Carolina menggelengkan kepalanya, tak habis pikir Mamanya akan sekeras kepala itu.
"Entahlah, apa yang membuat Mama begitu keras kepala" Carolina menghembuskan nafas putus asa.
"Sabar....tadi Mas mencoba ngomong, semoga saja Budhe bisa luluh"
"Aku tidak bisa membayangkan anak ini hadir di dunia tanpa Bapak!" suara Carolina bergetar. "Aku tahu Nis aku salah, aku yang menyebabkan semua ini terjadi, Mama kecewa dengan harapannya terhadapku, Mama yang
memimpikan aku bisa menggantikan Almarhum Papa memimpin perusahaan, tapi aku malah begini"
Ganis melihat tatapan mata Carolina yang nampak frustasi.
"Harusnya aku tidak usah pulang kesini, harusnya aku tetap di sana, atau harusnya aku menggugur...."
"Ssstttt.....jangan berbicara seperti itu, jangan" Ganis menggelengkan kepalanya, tangannya memegang erat tangan Carolina.
Carolina mulai menangis, Ganis mencoba meraih Gadis itu dan memeluknya, menenangkannya.
Saga menghentikan langkahnya saat melihat Ganis sedang memeluk Carolina yang sedang tergugu, dalam hati dia bersyukur istrinya memiliki hati yang lapang, tidak pernah memendam dendam pada Carolina yang pernah jahat padanya.
Saga dan Ganis berharap, upaya mereka untuk membuka hati Budhe Sarah akan berhasil.
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like ya readers yang baik hati......