
Saga bangun lebih awal dari biasanya, dia sudah menguasai kamar mandi sebelum Ganis menggunakannya. Lebih dari 30 menit dia menyelesaikan mandinya. Ganis mengucek matanya, dilihatnya masih gelap di luar. Ganis melipat selimutnya dan meletakkan ke dalam lemari, dilihatnya ranjang Saga masih berantakan, selimut masih berserakan. Diambilnya dengan cepat lalu melipatnya dan meletakkan di bagian atas ranjang. Nampak 3 setel setelan jas di atas ranjang, warna hitam, abu-abu tua, dan coklat tua. Ganis membuka pintu balkon dan keluar menghirup
udara segar sembari menunggu Saga keluar dari kamar mandi. Hatinya terasa membaik, semoga setelah ini dia tidak bertemu lagi dengan Radian, paling tidak dalam waktu dekat ini, dia belum siap.
Terdengar langkah kaki menjejak di dalam kamar, Ganis menoleh, Saga keluar dengan kaos pendek dan celana sambil mengusap rambutnya yang basah. Saga keluar menuju balkon dan ikut menghirup udara pagi.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Saga.
“Hem?” Ganis membenahi rambutnya, menguncirnya agar tidak berantakan. “Ya Tuan, saya baik-baik saja” Ganis menyunggingkan senyumnya. “Semoga acara hari ini berjalan dengan lancar Tuan”
“Ehm…tolong pilihkan setelan jas yang cocok untukku”
“Ya Tuan” Ganis berlalu meninggalkan Saga yang masih menikmati udara pagi di balkon kamar.
Ganis memilih setelan jas warna hitam, baginya warna itu sangat cocok untuk acara hari ini. Terlihat elegan dan menambah kesan berwibawa.
“Ini Tuan” Ganis menunjuk setelan jas warna hitam. Saga terdiam sejenak, memperhatikan jas yang dipilihkan Ganis untuknya. Kedua alisnya terangkat. “Apakah Tuan tidak setuju?”
Saga menggeleng, “Ok, setuju”. Ganis tersenyum lalu menyimpan setelan jas yang tidak dipilih itu ke dalam lemari.
***
Berbagai karangan bunga dari rekan bisnis mulai berjejer di depan kantor Saga, dimulai dari karangan yang ukuran kecil maupun yang jumbo. Saat memasuki kantor, terlihat buket bunga berjejer rapi di meja resepsionis. Saat Saga memasuki kantor, semua karyawan berjejer rapi memberikan hormat dengan menundukkan kepala, hari ini sungguh berbeda dari hari biasanya.
Sebuah tempat dikhususkan untuk para wartawan yang menunggu, baik wartawan media cetak maupun elektronik. Mereka sudah mulai datang dan menunggu jalannya pelantikan pemimpin baru. Para rekanan bisnis dan undangan juga sudah mulai berdatangan, mereka memasuki aula yang luas di lantai 10. Saga masih berada di ruangannya bersama sekertaris Li, Tuan Candra akan hadir secara langsung untuk acara hari ini.
Tepat pukul 09.00 acara pun dimulai, dimulai dari pembukaan dan sambutan-sambutan. Hingga tepat pukul 10.30 Tuan Candra hadir di aula, dengan berpakaian setelan jas warna hitam. Tuan Candra hadir dibantu oleh seorang pengawal yang mendorong kursi rodanya. Semua tamu undangan berdiri memberikan salam hormat kepada Tuan Candra. Kini Tuan Candra duduk di samping Saga di meja depan.
__ADS_1
“Kini, semua hal yang menyangkut perusahaan ini akan menjadi tanggung jawab putra saya, Saga Arjuna Putra Candra. Saya sangat berharap bagi rekan semua untuk memberikan dukungan sepenuhnya kepada pemimpin Arjuna Group yang baru” serunya, diiringi tepuk tangan dari para tamu.
“Dan lagi, saya akan segera memperkenalkan menantu saya, istri dari putra satu-satunya keluarga kami. Maaf jika kemarin belum sempat mengabarkan Bahagia ini” tiba-tiba ruangan menjadi riuh, mereka saling bertanya kepada orang yang ada di sampingnya. Wartawan tidak mau ketinggalan merekam ucapan Tuan Candra tentang berita ini, ini akan menjadi berita heboh hari ini.
“Siapa? Apakah dia seorang selebritis atau pebisnis juga?” ujar tamu undangan yang sedang duduk di dekat wartawan salah satu stasiun televisi.
“Beberapa bulan yang lalu, Tuan Saga diberitakan sedang dekat dengan salah satu pebisnis muda, tapi entah setelah itu nampaknya tidak ada kabar” jawab seorang wartawan berkacamata itu.
“Dengar-dengar, saat rekan bisnis dan juga sahabat Tuan Candra saat masih hidup, mereka sempat akan menjodohkan anak-anak mereka”
“Siapa?” wartawan itu nampak sangat tertarik dengan dunia “perghibahan” dengan salah satu tamu laki-laki setengah baya itu.
“Konon menurut cerita, Tuan Candra punya sahabat dalam membangun kerajaan bisnisnya, hanya saja orang itu kurang beruntung dan meninggal, dan katanya mereka membuat perjanjian menjodohkan putra putrinya, tapi entahlah” jawab laki-laki itu.
“Berita ini akan heboh” ujar wartawati yang duduk di samping wartawan tadi. “Bahkan aku merasa patah hati ternyata Tuan Saga sudah menikah, bagaimana berita ini bisa tersimpan dengan rapi tanpa terendus?” gerutunya.
“Terima kasih saya ucapkan untuk kerjasamanya selama ini, saya sangat-sangat berharap kerjasama ini akan tetap terjalin dengan baik, dan tunggu undangan dari kami segera. Terima kasih” tutup Tuan Candra, semua tamu undangan berdiri memberikan tepuk tangan meriah, Saga memeluk Tuan Candra erat. Setelahnya Tuan Candra
meninggalkan ruangan aula untuk segera pulang, karena kondisinya tidak bisa terlalu lama berhadapan dengan banyak orang, Tuan Candra harus beristirahat. Seorang pengawal kembali mengantar Tuan Candra.
Seluruh tamu undangan, baik rekan bisnis atau wartawan sedang menikmati jamuan makan siang yang berada di ruangan lain. Saga berbincang-bincang dengan beberapa rekan bisnis.
“Selamat Tuan” ujar seseorang sambil mengulurkan tangannya. Saga mencoba mengingat-ingat orang tersebut.
“Saya Alex” laki-laki itu menyebut namanya, nampaknya Saga belum hafal dengannya.
“Oh iya, terima kasih” Saga membalas uluran tangan Alex.
__ADS_1
“Bagaimana bisa seorang bos besar menikah tetapi tidak mengundang kita para rekanan” ujar seorang dengan wajah tambun, Alex yang berdiri di samping Saga tertawa, Saga hanya menimpalinya dengan senyum. Pernikahan mendadak dengan Ganis memang belum diketahui banyak orang, hanya saudara dan sahabat karibnya saja yang tahu. Dia sendiri kaget dengan pernyataan Tuan Candra kepada khalayak, bahwa dia sudah memiliki istri. Bagaimana dengan Ganis? Apakah gadis itu akan siap dengan peran yang dilakoninya, dia tahu itu tidak akan mudah.
“Apakah dia adalah perjodohan itu?” bisik laki-laki itu lagi.
Perjodohan? Perjodohan apa yang dimaksud oleh orang yang ada di sampingku?.Saga mengambil minuman yang dibawa oleh pelayan, dia tidak berkomentar atas lontaran kalimat dari orang-orang yang ada di sampingnya.
“Pasti dia bukan orang sembarangan Pak” canda Alex, kalimatnya diiringi dengan tawa laki-laki tadi.
“Benar sekali”
Sekertaris Li mendekati Saga dan berbisik di telinga Saga.
“Maaf saya harus meninggalkan Anda sebentar, silahkan menikmati suguhan hari ini” pamit Saga kepada laki-laki itu dan Alex. Sekertaris Li membawa Saga ke ruang konfrensi pers. Wartawan sudah berkumpul untuk bertanya kepada presiden direktur yang baru.
“Bagaimana perasaan Anda sebagai pemimpin baru Arjuna Group Tuan?” pertanyaan dari seorang wartawan dari media elektronik.
“Saya harus berterima kasih kepada semua yang menjadi bagian dari Arjuna Group dan juga para rekan bisnis, saya akan bekerja keras untuk membangun Arjuna Group lebih baik lagi”
Pertanyaan demi pertanyaan yang terkait dengan pelantikan hari ini mengalir dari wartawan silih berganti, lampu blits tidak hentinya mengekspos wajah Saga, begitu juga kamera televisi.
“Tuan…tuan, beri bocoran untuk kita, siapakah mantu yang dimaksud oleh Tuan Candra, apakah itu benar Tuan, jika anda sudah menikah?” celetuk wartawan di akhir-akhir sesi tanya jawab. Semua kamera menyorot Saga. Saga terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat.
“Terima kasih atas perhatian kalian, dan tanpa kalian kami juga tidak apa-apa, untuk itu, benar, saya sudah menikah, nanti akan ada waktu yang tepat untuk memperkenalkan dia”
“Apakah dia wanita yang dulu akan dijodohkan dengan Tuan?” teriak wartawan yang lain. Saga mulai gerah dengan kalimat itu, dari mana mereka tahu tentang perjodohan, dia sama sekali tidak pernah mendengar itu sebelumnya.
“Baik, saya rasa cukup, terima kasih” tutup Saga meninggalkan ruang konfrensi pers. Para wartawan nampak kecewa tidak mendapatkan jawaban yang jelas.
__ADS_1