
Saga mengulat saat melihat cahaya matahari menembus ruang kamarnya, tubuhnya masih terbalut selimut tebal, perlahan dia membuka matanya karena silau oleh sinar matahari. Dia mengucek kedua matanya. Tangan kanannya meraba ke samping, lalu dia menoleh. Ganis sudah tidak ada di sisinnya. Saga segera merubah posisinya
menjadi duduk, jam dinding menunjukkan pukul 8.30.
Malam panjang berharga yang mereka lalui sungguh masih mengusik pikirannya, di mana mereka telah menunaikan kewajiban sebagai suami istri yang sebenarnya. Saga tersenyum-senyum sendiri mengingatnya.
Saga turun dari ranjang, baju piyamanya terlepas sejak tadi malam dan tidak memakainya kembali. Saga kembali mengucek matanya, lalu bergeser menuju kamar mandi.
Ganis membuka pintu kamar, membawakan sarapan untuk Saga. Dilihatnya ranjang sudah kosong, terdengar suara gemricik air dari dalam kamar mandi.
Ganis meletakkan makanan di atas meja. Lalu dia merapikan ranjang dengan cekatan. Dia duduk di sofa sambil menyalakan televisi. Kebetulan hari ini hari libur, sehingga Saga tidak perlu ke kantor.
Saga membuka pintu kamar mandi, mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ganis menoleh ke arahnya. Tanpa menunggu aba-aba, Saga segera merangsek ke arah Ganis, mencium pipi Ganis gemas. Lalu dia membanting tubuhnya duduk di samping Ganis.
“Ayo sarapan dulu”
Bukannya beranjak, Saga malah mengubah posisinya, kini kepalanya berada di pangkuan Ganis. Kakinya yang panjang tidak bisa berselonjor manis di atas sofa, sehingga terjuntai di lantai.
Tangan Saga menarik leher Ganis agar wajah mereka berdekatan. Mata Ganis membulat dengan apa yang dilakukan Saga.
Saga menarik lebih dalam, lalu dia mengecup bibir Ganis tipis.
“Sarapan” Ganis mencubit pinggang Saga pelan.
“Galaknya istriku” Saga mengelus bekas cubitan Ganis.
“Iya aku mau sarapan, lelah setelah bekerja keras semalaman” goda Saga, Ganis pura-pura cemberut, mengingat betapa Saga sangat antusias tadi malam.
“Itu sudah aku bawakan, bangun ih” Ganis mengangkat kepala Saga dari pangkuannya. Saga kembali ke posisi duduk.
“Suapin” ujarnya manja. Ganis menyipitkan mata. Apa tidak salah Saga bersikap manja seperti itu.
“Aku terlalu kelelahan jadi tidak bisa makan sendiri” ujarnya membuat Ganis gemas, lalu kembali melayangkan cubitan ke arah pinggang Saga.
“Aduuuh duhh” Saga menerima cubitan itu, bukan karena ssakit, tapi terasa sangat geli.
Ganis beranjak berdiri dan mengambil piring agar Saga segera sarapan.
“Apa menunya?” tanya Saga.
“Nasi goreng” jawab Ganis enteng.
“Kenapa tidak roti selai kacang?” Saga menyebut menu kesukaannya.
“Jadi tidak mau nih nasi goreng istimewa buatan istri?”
“Oh…mau mau….aaaaaaa” Saga membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Ganis. Ganis sengaja membuat gundukan yang besar di sendok, hampir tidak muat masuk ke mulut Saga.
“Sengaja mau membunuh ini” Saga protes, Ganis terkekeh.
“Mama ada?”
__ADS_1
“Mama pergi dengan Mbak Dini, mau ke salon katanya”
“Tumben? Biasanya salonnya yang disuruh ke rumah” Saga menerima suapan kembali dari Ganis.
“Sekalian mau beli bunga”
“Oh…”
Ganis kembali menyuapkan nasi goreng untuk Saga.
“Enak rasanya” Saga memuji. Ganis tersenyum mendapatkan pujian dari Saga.
“Besok mau lagi” Saga menerima suapan terakhir, karena nasi goreng di piring sudah habis.
“Siap pak bos” Ganis mengangkat jempolnya.
“Pedes apa tidak sih Mas?”
“Ehm…lumayan sih, tapi tidak apa-apa, enak kok kalau pedes gitu”
Ganis awalnya ragu, karena dia sudah lama tidak memasak nasi goreng, tapi dia senang ternyata Saga menyukai nasi goreng buatannya. Ganis keluar dari kamar membawa piring kosong.
Saga masih bermalas-malasan di kamar, Ganis kembali masuk kamar. Saga melambaikan tangan menyuruh Ganis duduk di sampingnya. Ganis menurut dan duduk di samping Saga.
“Ingin di rumah saja atau keluar?” tanya Saga, Ganis menoleh. Saga memainkan rambut Ganis.
“Bosan di rumah, keluar yuk Mas, tapi masih panas”
“Memangnya kenapa? Kan pakai mobil”
“Naik motor” ujar Ganis manja. Mata Saga membulat, sudah berapa lama dia tidak pernah naik motor, kemana-mana selalu mengendarai mobil.
“Jangan bercanda”
“Serius mas, aku ingin naik motor keliling kota, sama kamu” Ganis menyeringai. Saga menghembuskan nafas, permintaan Ganis di luar dugaannya. Saga menciumi rambut Ganis yang beraroma wangi.
“Ya sudah, nanti sore ya, sekarang panas”
“Iya”
“Sekarang kita ngapain?” Saga menaik turunkan alisnya, memberikan kode. Ganis memukul pundak Saga pelan.
“Aku mau ke samping rumah, ikannya belum makan, mau kasih makan ikan” Ganis beranjak meninggalkan Saga, Saga cemberut. Ganis tertawa geli, dia membuka pintu dan keluar kamar.
***
“Kamu yakin mau naik motor?” Saga menoleh ke belakang, memastikan jika Ganis benar-benar mau jalan-jalan naik motor. Ganis mengangguk, justru Ganis yang tidak yakin Saga mau naik motor.
Saga memakaikan helm warna kuning di kepala Ganis, lalu mengaitkan talinya hingga berbunyi klik. Saga memakai helm di kepalanya, motor matic warna hitam yang sudah lama dia kendarai itu. Tadi dia sudah meminta Isnan untuk mengecek keadaan motor tersebut.
Saga berada di depan, siap mengemudikan. Ganis naik di jok belakang motor, tangannya berpegangan pada pinggang Saga.
__ADS_1
“Kurang” ujar Saga sebelum menekan tombol start.
Ganis memajukan kepalanya hingga dekat dengan wajah Saga.
“Kurang apa?”
“Kurang pegangannya” Saga menarik kedua tangan Ganis, dan melingkarkan di perutnya. Ganis tersenyum.
“Kirain apa”
“Pegangan yang kenceng, takutnya kamu kebawa angin” selorohnya.
Motor melaju dari rumahnya, menyusuri jalan-jalan komplek sebelum ke jalan raya. Angin sore berhembus, Ganis menikmati jalan-jalannya kali ini. Naik motor bersama Saga.
“Kamu aman kan mas nyetir motor?” Ganis memastikan.
“Kenapa?”
“Ya takutnya kenapa-napa”
“Jangan ragukan kemampuan Saga, begini-begini jago”
Motor sudah berada di jalan raya, Saga sengaja tidak menjalankan motor dengan kencang. Karena Ganis sendiri niatnya ingin jalan-jalan.
Ganis menepuk punggung Saga pelan sebanyak tiga kali.
“Mas..mas berhenti” ujarnya, Saga menghentikan laju motor, lalu menoleh ke belakang.
“Ada apa?”
Ganis menunjuk sebuah warung bakso yang ada di pinggir jalan sambil tersenyum. Saga mengerti maksud Ganis.
Mereka duduk di dalam, Ganis sudah memesan bakso spesial 2 mangkok. Aroma kuah bakso begitu menggoda, pelayan warung segera menyajikan bakso yang telah dia pesan. Ganis menuangkan kecap dan sambal ke dalam mangkoknya, Saga masih terdiam memperhatikan Ganis.
“Mas juga seperti ini?” tanya Ganis, Saga mengangguk. Lalu Ganis menuangkan sambal dan kecap ke dalam mangkok bakso Saga.
Ganis menikmati bakso yang sudah dia aduk itu, Saga masih belum memegang sendok dan hanya melihat Ganis.
“Kenapa?” tanya Ganis sambil mengunyah. “Mas tidak suka?”
Saga belum pernah makan di pinggir jalan, dia juga sudah sangat lama tidak makan bakso. Melihat Ganis makan membuatnya senang, dan ini menjadi pengalaman pertamanya makan bakso di warung pinggir jalan. Saga menggeleng, lalu dia mengikuti Ganis menikmati bakso.
Ternyata rasa bakso yang ada di depannya benar-benar nikmat, bahkan Saga lebih cepat menghabiskan bakso daripada Ganis.
“Mau nambah?” tanya Ganis, Saga menggeleng. Setelah minum es yang ada di depannya, Saga membersihkan mulutnya dengan tisu.
“Gimana? Enak kan?”
“Iya”
Ganis tersenyum, dia tidak tahu sama sekali jika Saga belum pernah di tempat seperti ini sebelumnya. Berpetualang walaupun sederhara.
__ADS_1
Give me your vote and like. thank you...Happy Reading ^^