
Menggunakan villa pribadi sebagai tempat perhelatan ulang tahun Nyonya Rima, segala persiapan sudah siap 100 %. Malam nanti, tepat pukul 7 malam, Nyonya Rima akan di bawa ke tempat ini oleh Isnan, si sopir pribadi keluarga.
Sementara Saga dan Ganis sudah berada di tempat, berlatar taman belakang villa, tasyakuran dengan konsep outdoor. Anak-anak dari panti asuhan keluarga Saga juga sudah berada di sana, tidak ada undangan dari luar, hanya kerabat dan orang terdekat yang datang. Termasuk sekertaris Li dan Nadia. Mereka semua sudah tiba di sana.
Saga dan Ganis tengah menikmati senja ujung hari, Saga tentu masih ingat kesukaan Ganis, yaitu melihat senja. Sehingga dia sengaja mengajaknya sebelum senja hilang.
“Mas masih ingat jika aku menyukainya” ujarnya sambil melihat senja di halaman belakang villa yang kini disulap menjadi sebuah tempat yang penuh dengan bunga mawar, bunga kesukaan Nyonya Rima.
“Iya lah, mana mungkin aku lupa” Saga berbangga diri, dia melihat ke arah senja yang sama.
“Aku juga tidak tahu mengapa aku suka dia, kapan aku menyukainya” Ganis tersenyum, benar-benar menyukai senja.
“Itu seperti jatuh cinta, tanpa kita rencanakan, bukan begitu?”
“He em” Ganis mengangguk.
Hawa di villa keluarga Saga sangat sejuk, Ganis menghirup udara perlahan, menikmatinya, dan sungguh menyejukkan jiwanya. Matahari hampir tenggelam, berpulang ke peraduannya karena seharian dia sudah bertugas.
Saga merapatkan cardigan rajut yang dipakai oleh Ganis, agar istrinya tidak merasakan hawa dingin. Ganis tersenyum, lalu memegang tangan Saga yang masih berada di bahunya.
“Terkadang aku masih merasa ini adalah mimpi, mimpi indah” gumamnya. Saga melepaskan tangannya dari bahu Ganis, dia duduk di samping Ganis. Lalu pandangannya lekat menatap istrinya.
“Bagaimana tidak, kamu adalah hadiah terbaik dari Tuhan” Ganis masih melanjutkan kalimatnya. Suasana sore membuatnya ingin mengutarakan isi hatinya yang dalam. Saga masih setia mendengarkan, dalam hatinya dia sangat senang mendengar hal itu dari mulut Ganis.
“Hadiah yang sama sekali tidak pernah aku mimpikan, bahkan aku tidak berani meminta”
Saga meraih tangan Ganis.
“Aku yang harusnya berterima kasih dengan hadiah terbaik dalam hidupku, yaitu kamu” Saga mengeratkan genggamannya, semakin erat, dia menatap Ganis dalam.
“Kita tak akan saling melupakan kan, Mas?” Ganis mendadak khawatir.
Saga agak terkejut mendengar pertanyaan Ganis. Baginya itu adalah mustahil.
__ADS_1
“Selama kita berada di senja yang sama, kita akan selalu mengingat satu sama lain. Jangan ucapkan terima kasih, kamu sudah terlalu banyak mengatakannya padaku” Saga tahu apa yang akan diucapkan oleh Ganis. Ganis tertawa, seolah Saga bisa menebak apa yang ada di ujung bibirnya, kalimat yang akan meluncur.
“Mengenai Mama, apa yang tidak aku tahu dari Mama?” tanya Ganis mengalihkan pembicaraan ke Nyonya Rima, salah satu wanita yang sangat baik padanya.
“Mama suka bunga”
“Aku tahu, bunga mawar kan?”
“Eum”
“Mama suka kamu” Saga tertawa.
“Ehm….” Ganis mengetuk ngetuk dahinya sendiri.
“Iyalah, Mama menyukaimu bahkan aku cemburu” Saga mengerucutkan bibirnya, Ganis menoleh serius. “Ha..ha…enggaklah, mana mungkin aku cemburu tentang itu”
“Mama adalah salah satu wanita terbaik dalam hidupku, di mana sangat bijak menghadapi sesuatu” Ganis menerawang. Wanita itu adalah orang yang pertama kali menerimanya dengan tangan terbuka di keluarga Saga, menjadi penyejuk di saat dirinya seakan berada di tengah prahara yang tak dia duga. Ganis tersenyum tipis, wanita itu sungguh mengesankan.
“Semoga Mama selalu menjadi salah satu yang terbaik untuk hidupmu, hidup kita”
“Kalau aku bagimana?” Saga mengangkat kedua alisnya, meminta perhatian. Ganis menyenggol lengan Saga.
“Kalau ini, manusia kulkas yang badung dan menyebalkan”
“Ah masa sih?”
“He em” Ganis mengangguk.
Lalu mereka tertawa berdua, Ganis melirik jam tangannya, sudah waktunya memasuki ibadah shalat maghrib. Mereka bergegas menunaikan kewajiban, selanjutnya mereka akan menunggu kedatangan Nyonya Rima.
Mendekati jam 7, Nyonya Rima beserta para asisten rumah tangga, hadir di lokasi. Ganis memberikan buket bunga mawar warna merah kepada Nyonya Rima, Nyonya Rima terkesima dengan apa yang dilihatnya. Tidak menyangka jika Saga dan Ganis akan memberikan kejutan seperti ini.
“Aku kira kalian hanya akan mengajak Mama makan malam” Nyonya Rima tersenyum, tangannya memegang buket bunga yang diberikan oleh Ganis. Nyonya Rima yang mengenakan busana warna putih dengan sanggul sederhana nampak sumringah, berjalan diapit oleh Saga dan Ganis menuju sebuah kursi yang ada di deretan depan.
__ADS_1
Sementara para tamu duduk di kursi yang ditata sedemikian rupa oleh EO. Mereka menantikan acara puncak ulang tahun Nyonya Rima.
Tepat pukul 7 malam, acara dimulai. Seorang MC perempuan membuka acara tersebut, karena undangan
terbatas, sehingga acara tersebut terasa semakin akrab. Suara celoteh anak-anak panti yang menggemaskan tak luput dari acara tersebut.
Nyonya Rima berdiri di dekat meja yang ada tumpengnya.
“Apa harapan Nyonya di usia yang sekarang?” tanya MC perempuan dengan wajah bahagia tersebut, Nyonya Rima memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama, senyum terus mengembang di bibirnya. Ganis dan Saga berada di sampingnya, mereka sama-sama mengenakan pakaian serba putih.
“Harapanku semua sudah terpenuhi, saya memiliki anak-anak yang menyenangkan hati, mungkin tahun depan suasana akan semakin semarak dengan kehadiran cucu” jawab Nyonya Rima, harapan tersebut mendapat sambutan dari para tamu dengan tepuk tangan yang meriah. Saga merangkul Ganis, Ganis tersenyum sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya, pipinya nampak tersipu.
“Tetaplah menjadi anak-anak kebanggaan Mama” ujar Nyonya Rima dengan mata berkaca-kaca, Ganis mengusap pundak Nyonya Rima halus. “Karena hanya kalian yang Mama punya, tahun ini terasa beda karena Papa sudah tidak ada”
Ganis memeluk Nyonya Rima erat, sambil kembali mengelus pundak wanita itu. nyonya Rima membalas pelukan Ganis, ingatannya kembali kepada Tuan Candra, belahan jiwanya yang tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya tak akan ada di setiap perayaan hidupnya.
“Tetaplah menjadi anak-anak terbaik Mama” ucapnya dengan suara agak parau.
“Iya Ma…” balas Ganis, Saga merentangkan kedua tangannya, bersiap memeluk Nyonya Rima selepas Ganis melepaskan pelukannya.
Setelah memberikan sepetah kata, Nyonya Rima memotong tumpeng dan menyuapkan kepada Saga dan Ganis bergantian. Acara pun dilanjut dengan makan malam bersama-sama.
Mereka yang hadir nampak sangat bahagia malam itu.
Saga, Ganis, dan Nyonya Rima berada di meja yang sama. Sesekali ada yang datang memberikan salam pada Nyonya Rima.
Nampak juga Budhe Sarah, namun tanpa Carolina. Pernah suatu hari Budhe Sarah datang ke rumah Saga dan bercerita jika Carolina kuliah di luar negeri dan jarang sekali pulang ke tanah air.
Semua wajah nampak sangat bahagia malam ini, nampak semua menikmati acara yang disuguhkan. Nyonya Rima nampak juga sangat bahagia dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya.
__ADS_1
Terima kasih atas semua dukungannya, Happy Reading...