
Tak ada percakapan lagi, hanya suara deru mobil yang terdengar. Ganis menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya, nampaknya kantuk sudah menyerangnya. Saga tersenyum melihat Ganis tertidur dengan nyenyaknya.
Perjalanan mereka hampir sampai, jalanan malam yang agak sepi. Saga melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang sekarang, tidak ingin Ganis terbangun hingga sampai rumah.
Salah satu hal yang dia syukuri hari ini adalah kabar gembira tentang keadaan kehamilan Ganis, bayangan tentang masa yang akan datang membayangi dirinya. Kelak akan ada makhluk-makhluk kecil yang menggemaskan akan hadir dalam hidup mereka. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, akan secepat ini. Dulu ini bukan dari rencananya, memiliki anak di usia sekarang, hanya saja sesuatu mengubah segalanya, dan dia amat mensyukurinya sekarang.
Senyumm kecil megembang di sudut bibirnya, mobil berhenti di depan gerbang kokoh rumahnya. Seorang security dengan segera membuka gerbang tersebut agar mobil bisa segera masuk ke dalam. Ganis nampak masih tertidur pulas.
Saga masih membiarkan Ganis tetidur, dia membuka pintu mobil di sebelahnya, lalu turun. Dia memutar dari depan dan membuka pintu mobil dekat Ganis, Saga membuka sabuk pengaman yang dikenakan Ganis perlahan dengan harapan Ganis tidak terbangun.
"Eh sudah sampai Mas?" Ganis membuka matanya perlahan, Saga sudah bersiap membopongnya.
"Iya, tetaplah seperti itu, aku akan menggendongmu" ucapnya.
"Aku jalan saja Mas" ucap Ganis seraya ingin turun.
"Tetaplah seperti ini" Saga menolak. "Ayo rapatkan tanganmu, biar tidak jatuh" Saga memerintah. Ganis semakin melingkarkan kedua tangannya erat di leher Saga.
Dengan mudahnya Saga membawa Ganis hingga lantai dua, menuju kamarnya.
Alex ikut menghentikan mobilnya dengan jarak yang tidak begitu dekat dengan rumah Saga, tidak ingin ada seseorang yang mencurigainya.
"Jadi kalian masih tinggal di sini?" ucap Alex dengan ekspresi datar. Tidak lama dia berada di sana, dia segera menyalakan mesin mobilnya dan segera memutar arah meninggalkan tempat tersebut.
Tidak ada rencana pasti yang akan dia lakukan sekarang, semuanya serba tidak jelas. Dia menyadari bahwa di depan sana dia sedang menghadapi masa depan yang buruk, bukannya ingin mengubahnya, dia malah semakin berputus asa. Tidak ada keinginan sama sekali untuk menyerahkan diri ke polisi untuk kasus kematian Aziza tempo hari.
Nasehat-nasehat dari Barata pun dia mentahkan, baginya Papanya juga seorang bajingan yang menyebabkan ini semua. Alex tersenyum sinis, menertawakan hidupnya yang sedang porak poranda.
"Entahlah, Tuhan sedang bercanda dengan hidupku, semesta tak pernah berpihak padaku"
Alex membelokkan mobilnya di sebuah club malam, ingin berdamai dengan keadaan yang sedang dia hadapi sekarang, entah dengan cara apapun.
***
"Baik-baik di rumah sayang, aku kerja dulu, cari uang yang banyaaak buat beli popok nantinya" gurau Saga, diikuti suara tawa Ganis. Saga mengelus perut Ganis gemas, tak sabar rasanya melihat perut Ganis membesar. "Jangan lupa banyak makan ya, biar perutnya cepat gendut"
"Nggak ada pengaruhnya Mas" Ganis kembali tertawa. "Nanti kalau sudah waktunya, pasti dia akan gendut sendiri"
"Ya sudah, aku berangkat dulu ya...?" Saga mengulurkan tangannya ke arah Ganis, Ganis menyambutnya, lalu mencium punggung tangan Saga.
Saga melambaikan tangannya, Ganis membalasnya, tak lupa senyum manisnya mengembang, mengiringi keberangkatan suaminya menuju kantor.
Ganis duduk di kursi teras, Nyonya Rima nampak sudah cantik dengan riasannya.
__ADS_1
"Mama mau pergi?" Sapa Ganis, Nyonya Rima menoleh ke arah Ganis.
"Eh kamu masih di sini? iya, Mama mau ke rumah Budhe Sarah"
"Oh...ada acara apa Ma?"
"Biasa arisan, kebetulan acaranya di tempat Budhe Sarah"
"Oh iya Ma, Mama hati-hati, salam untuk Budhe Sarah"
"Iya Nis, nanti Mama sampaikan. Mama berangkat dulu ya..."
Ganis mengangguk, tak lupa dia mencium punggung tangan Mama mertuanya itu. Nyonya Rima berangkat ke tempat Budhe Sarah diantar oleh salah satu sopir keluarga.
Ganis kembali duduk di kursi kayu, tidak tahu apa yang akan dia lakukan sepagi ini. Terlihat Dini berjalan tergopoh-gopoh dari dalam rumah.
"Mbak Dini mau kemana?" sesaat setelah Dini tanpa sadar berjalan melewati Ganis.
"Eh Nona...ini Non, mau ke pasar" jawab Dini setelah menghentikan langkahnya, dia tidak tahu jika Ganis berada di kursi teras.
"Aku ikut" seru Ganis bersemangat"
"Eh....jangan Nona" ujar Dini tak kalah bersemangat menjawab.
"Kenapa?" tanya Ganis heran, tidak biasanya Dini menolak keikutsertaannya ke pasar. Biasanya Dini selalu memperbolehkan.
"Oh iya" Ganis menepuk dahinya.
"Atau Nona ingin pesan sesuatu?" tanya Dini menawarkan. Ganis menggeleng.
"Tidak Mbak Din, terima kasih, berangkatlah. hati-hati ya..."
"Siap Nona..."
Dini berangkat ke pasar dengan menggunakan angkutan umum, dia sengaja tidak mau diantar Isnan, karena jarak pasar yang dia tuju tidak terlalu jauh dari rumah Saga.
***
Sudah sejak tadi pagi Salwa berada di kantor pusat, dia menjadwalkan untuk bertemu dengan Saga. Dia akan secara langsung menyampaikan laporan dari divisi yang dia pegang.
Dia menunggu di resepsionis, hingga akhirnya Farel memberitahunya jika Saga sudah berada di ruangannya.
Salwa masuk ke dalam lift dan menuju lantai 20, di mana ruangan Saga berada. Map warna biru dia tenteng, map dengan banyak isian dokumen penting yang sudah dia kerjakan.
__ADS_1
Pintu lift terbuka, suara hak sepatu Salwa terdengar nyaring menuju pintu ruangan Saga.
Salwa mengetuk pintu ruangan Saga, setelah mendapat persetujuan dari Saga, dia masuk ke dalam. Nampak Saga tengah sibuk dengan pekerjaannya.
"Selamat pagi Tuan" Sapa Salwa sambil menganggukkan kepalanya memberi salam.
"Selamat pagi, silahkan duduk" balas Saga, pandangannya masih berkutat dengan tumpukan berkas.
"Terima kasih, Tuan" Salwa duduk di kursi seberang meja Saga.
"Jadi apa yang bisa saya dengar secara langsung?" tanya Saga menghentikan aktivitasnya, kini dia melihat Salwa. Salwa membuka map dan mengambil lembaran dokumen, lalu mengulurkannya pada Saga.
"Pertumbuhan laba dari divisi saya naik 5%, Tuan, ini kabar yang menggembirakan tentunya, setelah kemarin hampir kolaps" terang Salwa.
"Ok, kinerja kamu sejauh ini bagus, nanti akan saya teliti laporannya secara detail"
"Iya Tuan"
"Arjuna Group membutuhkan orang-orang yang mau bekerja"
"Siap Tuan"
Saga memperhatikan, ada perubahan pada diri Salwa, tak ada lagi baju seksi yang menempel di tubuhnya. Setidaknya aturan yang dia buat sudah tak dilanggar oleh karyawan yang berada di bawah naungan Arjuna Group.
"Dan lagi Tuan, mengenai kerjasama dengan beberapa rekanan, banyak yang mengajukan, saya mohon nanti Tuan tinjau ulang, apakah saya harus menyetujuinya atau menolaknya, saya mohon pertimbangan"
"Baik, sudah ada di laporan ini semua kan?" Saga menunjuk dokumen yang tadi diserahkan oleh Salwa.
"Iya Tuan" jawab Salwa sambil mengangguk.
"Ada lagi yang ingin kamu sampaikan?" tanya Saga.
"Oh"
Salwa membuka tasnya, mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, dia tersenyum, agak ragu untuk memberikannya pada Saga.
Yang sudah vote, like, dan memberikan hadiahnya, terima kasih banyaaak....
Eits....jangan suudzon dulu, kasihan kalau Salwa nanti kena bully...ikuti terus kelanjutannya ya. Eh maaf bagi para readers kalau merasa tidak sejalan dengan jalan cerita yang Author tulis, sedih sih saat baca komen yang pada nggak mau nerusin ceritanya gitu karena tak sesuai harapan. Pada akhirnya Author mikir, Ya udah deh...dibaca Alhamdulillah, enggak ya author sedih gitu aja. wkwkwk
__ADS_1
Happy Reading