Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
Dua Puluh Enam : Wedding's Invitation


__ADS_3

Saga memutar kursinya saat mendengar suara pintu terbuka, pasti yang datang adalah sekertaris Li, tiga menit lalu dia menelponnya untuk segera datang ke ruangannya. Sekertaris Li mengangguk memberikan hormat, lalu dia duduk di kursi seberang tepat berhadapan dengan Saga.


“Pak Li” ucap Saga dengan dingin.


“Iya Tuan”


“Saya tahu, Pak Li bekerja untuk Papa sudah sangat lama, bahkan saat Papa baru merintis perusahaan ini”


“Benar Tuan”


“Pak Li tahu semua yang terjadi bukan?”


Sekertaris Li terdiam, pikirannya kembali memutar memori masa lalu, pada saat pertama kali Tuan Candra menerimanya bekerja sebagai sekertaris pribadinya hingga Tuan Candra menyerahkan kepimimpinan itu kepada putranya.


“Pak Li, ceritakan yang Pak Li ketahui” ucap Saga masih dengan suara yang dingin, wajahnya tanpa ekspresi. Hampir beberapa malam dia tidak bisa tidur dengan nyenyak memikirkan omongan para pewarta. “Apa yang sebenarnya terjadi, hal-hal yang tidak kuketahui” imbuhnya.


“Tuan…” sekertaris Li sedikit ragu.


“Pak Li tahu, saya ingin tahu. Ada apa sebenarnya dengan cerita masa lalu perusahaan ini?”


“Tuan muda, pada saat Tuan Candra merintis perusahaan ini, beliau tidak sendirian”


“Begitukah?” Tuan Candra tidak pernah sekalipun menceritakan ini kepadanya.


“Iya Tuan”


“Lalu?”


“Ada seorang sahabat yang bernama Tuan Raharja, dan satu orang lagi Tuan Barata. Lama kelamaan perusahaan ini berkembang pesat, hingga pada akhirnya Tuan Candra dan Tuan Raharja membentuk perusahaan yang berbeda, sedangkan Tuan Barata sebagai pendamping Tuan Raharja. Hubungan mereka sungguh baik, hingga mereka benar-benar seolah menguasai berbagai bisnis di negeri ini, hingga Tuan Candra menekan sebuah perjanjian, jika kelak anak-anak sudah dewasa, mereka akan menjadi pewaris kerajaan bisnis mereka, yaitu dengan menikahkannya. Namun, kecelakaan parah terjadi secara tidak terduga, Tuan Raharja dan Nyonya meninggal seketika, namun putri kecilnya menghilang seolah ditelan bumi. Di situ betapa sedihnya Tuan Candra, selain kehilangan sahabatnya, dia juga tidak bisa mengasuh putri dari sahabatnya” sekertaris Li menerawang, ingatannya masih sangat jelas kembali ke peristiwa itu.


“Ini menjadi berita besar kala itu di kalangan rekan bisnis Tuan Candra, Setelahnya perusahaan Tuan Raharja dikelola oleh Tuan Barata dan entah bagaimana perusahaan itu bangkrut”


“Mengapa Papa tidak pernah sama sekali menceritakan hal ini?” Saga meninggalkan kursinya, kini dia duduk di pinggir meja kerjanya sambil melipat tangannya.

__ADS_1


“Saya rasa, Tuan Candra ingin mengubur semua kenangan itu Tuan, bertahun-tahun beliau mencari putri Tuan Raharja, namun nihil. Dan hal berat yang masih beliau rasakan hingga kini adalah saat beliau dituduh sengaja membunuh Tuan Raharja”


“Apa?”


“Maaf Tuan, begitulah ceritanya, Tuan Candra berasa ada beban, sedangkan orang-orang yang tidak menyukainya tetap berpikir demikian”


“Apakah kira-kira gadis itu masih hidup, Pak Li?”


“Maaf Tuan, menurut saya masih, karena Tuan Barata hingga kini pun tidak tahu kemana”


Saga menarik nafas panjang, sudah bertahun-tahun lamanya Tuan Candra memendam rahasia ini, dan dia sama sekali tidak mengetahuinya. Sepertinya Tuan Candra memang ingin mengubur semua cerita ini.


“Saya pikir, Tuan muda jangan terpengaruh suara orang di luar sana hanya karena Tuan muda sudah menikah, mereka hanya ingin mengorek luka lama Tuan Candra”


“Pak Li, jika memang menurut Pak Li gadis itu masih hidup, saya ingin bertemu dengannya, entah mengapa saya merasa dia salah mengartikan keberadaan Papa”


“Akan saya usahakan Tuan muda”


“Lakukan serapi mungkin, jangan sampai rekan bisnis mengetahui, saya paham tidak semua orang menyukai dengan apa yang terjadi di keluargaku”


“Bagaimana jadwalku untuk besok Pak Li?”


“Besok ada meeting di luar kota Tuan, selama 2 hari”


“Bemalam?”


“Iya Tuan”


“Baik Pak Li, siapkan saja”


“Siap Tuan”


***

__ADS_1


Ganis berjalan lunglai meniti anak tangga menuju kamar, tangannya membuka pintu dan melemparkan tasnya di atas sofa. Ganis meletakkan begitu saja kertas undangan berwarna keemasan itu di meja dekat sofa, luka batinnya yang belum sembuh, kini dia harus mendapat kabar jika Radian akan menikah lusa. Ganis menyelimuti dirinya


di atas sofa, matanya terpejam meskipun dia belum terlelap. Dia sadar cepat atau lambat pernikahan Radian akan terjadi, tapi tidak menyangka jika secepat ini.


Tanpa sengaja dia mendapatkan undangan tersebut saat dia sedang berbelanja di supermarket bersama asisten rumah tangga keluarga Saga. Radian begitu ceria saat menceritakan betapa dia sedang berbunga-bunga menanti hari H. Ganis sesekali menimpali dengan senyum, bukan tidak ingin merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Radian, hanya saja hatinya belum mampu membayangkan Radian bersanding dengan orang lain.


Andai saja pernikahan ini adalah pernikahan yang aku inginkan, maka aku tidak akan sesedih ini melihat orang yang aku cintai bersama dengan orang lain. Andai Saga adalah benar-benar suamiku, maka semua akan baik-baik saja…tapi aku harus bisa, selamat berbahagia mas.


Seberat apapun perasaan dan luka hatinya, dia sudah berjanji akan datang sebagai sahabat. Dia ingin mengenal siapa wanita yang bisa mendampingi Radian. Ganis memastikan bahwa dia akan turut berbahagia.


“Aku harus datang” ucapnya di bawah selimut warna kuning itu. Memejamkan mata dan tertidur.


Pintu kamar terbuka, Saga memasuki kamarnya, lampu kamar sudah menyala, dilihatnya sofa yang kini beralih fungsi menjadi singgasana Ganis. Gadis itu nampak sudah terlelap, tidak ada Gerakan sama sekali ketika langkahnya mendekati gadis itu. Hanya wajahnya yang nampak lelah.


            Saga segera masuk ke dalam kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air hangat yang mengalir dari showernya, sesekali ingatannya kembali pada cerita sekertaris Li. Dia harus menemukan gadis itu.


            Handuk putih tebal itu digosok-gosokkan di rambutnya, dia sudah mengganti baju dengan piyama dan


hendak berbaring di ranjangnya. Langkahnya terhenti, melihat sebuah undangan yang tergeletak di meja. Tangannya meraih undangan tersebut dan membukanya, nama Radian tertulis dalam undangan tersebut. Pandangannya kini beralih ke arah Ganis yang masih terlelap tidur dengan posisi yang sama dengan yang dia lihat


tadi. Dia meletakkan undangan tersebut kembali ke atas mejanya.


Bagaimana dengan luka hatinya, apakah dia kembali terluka saat mendapat undangan pernikahan dari Radian? Batin Saga, dia duduk di atas ranjangnya, perasaannya mendadak khawatir dengan Ganis. Apakah gadis itu akan kembali menangis?


“Kenapa aku harus repot memikirkan dia?” desisnya. Saga menampar pipinya, menyadarakan dirinya sendiri, bahwa masih banyak hal yang harus dia pikirkan, bukan Ganis.


Saga turun dari ranjang, mondar mandir sebelum pada akhirnya membuka pintu balkon dan menghirup udara malam.


“Hallo Pak Li…iya, maaf malam-malam mengganggu Pak Li, jadwal ulang untuk meeting besok”


Saga menutup sambungan teleponnya, lalu dia kembali ke dalam kamarnya. Matanya kembali memperhatikan Ganis yang kini berganti posisi tidurnya menjadi miring, selimutnya agak jatuh. Awalnya ragu, namun Saga akhirnya mendekat dan membenahi selimut tersebut untuk menutupi tubuh Ganis.


 

__ADS_1


 


Happy Reading ^^


__ADS_2