
Gathering Arjuna Group yang rutin digelar satu tahun sekali kembali digelar hari ini tepat setelah kemarin ada pertemuan dengan para investor. Semua karyawan Arjuna Group yang ada di kota tersebut berkumpul di sebuah tempat yang khusus disewa oleh manajemen perusahaan. Tahun ini memutuskan digelar di salah satu puncak.
Seperti biasa, acara tersebut digelar secara out dor, akan ada banyak permainan seru. Semua karyawan boleh membawa anggota keluarga untuk ikut acara tersebut. Nampak sekertaris Li bersama putrinya sudah selesai sarapan dan memilih duduk di bawah pohon. Panitia sudah menyiapkan kursi-kursi yang bisa ditempati oleh peserta gathering.
Saga sudah bersiap keluar kamar, begitu juga dengan Ganis, sejak kemarin dia berada di tempat ini. Semua peserta memakai kaos yang sama, yaitu warna putih dengan tulisan Arjuna’s Family di belakang. Saga memadukannya dengan celana pendek di bawah lutut berbahan kain, jam tangan sporty warna hitam di pergelangan tangan kiri, topi warna putih serta sepatu hitam. Begitu juga Ganis, mereka seperti sedang memakai baju couple.
Begitu turun di tempat acara, Ganis begitu senang melihat sudah banyak orang berkumpul di sana.
“Apakah ini dilakukan setiap tahun, Tuan?” Ganis berjalan di samping Saga.
“Iya”
“Waaah” Ganis nampak kagum, acara ini semacam acara persaudaraan yang sangat menyenangkan.
“Itu dia, Bos kita sudah hadir…ehm…tunggu-tunggu, siapa yang ada di sampingnya?” ucap seorang MC (Master of Ceremony) itu dengan semangat, Ganis melihat ke arah MC tersebut, laki-laki bertopi hitam itu sedang berdiri di dekat sebuah podium dengan hiasan aneka balon berwarna. “Selamat pagi Bos, dan Nona cantik yang ada di sampingnya!”
Saga melayangkan pandangannya ke arah MC tersebut. Ganis duduk di kursi VIP yang sudah ditata oleh panitia, Saga duduk di sampingnya. Suasana sejuk di puncak sangat mendukung kegiatan ini, meskipun cuaca cerah, tapi sama sekali tidak terasa membakar kulit.
Tuan Candra dan Nyonya Rima absen pada gathering kali ini, selain karena kepimimpinan sudah berada di tangan Saga, mereka berdua memilih untuk beristirahat saja di rumah. Saga baru saja selesai memberikan sambutan untuk pembukaan acara hari ini, diiringi tepuk tangan yang meriah dari para peserta, Saga kembali duduk di kursinya.
Sementara itu, Anaya menjadi salah satu peserta yang mendapat undangan hadir di acara tersebut, dia memilih duduk terpisah dari Alex. Sesekali dia melihat Ganis yang tengah duduk di samping Saga, rasa cemburu tak bisa dia sembunyikan. Ingin rasanya dia menyeret Ganis dan menyuruhnya pergi dari samping Saga. Anaya menuangkan minuman yang ada di meja, lalu menegukknya dan meletakkan gelas dengan kasar.
“Permisi Tuan, Nona” sekertaris Li membungkukkan badan memberikan salam, seorang perempuan muda di samping sekertaris Li mengukuti apa yang dilakukan sekertaris Li.
“Ya Pak Li” balas Saga, Ganis mengangguk dan menyunggingkan senyum manisnya.
“Mohon maaf Tuan, ini putri saya, sangat ingin berfoto dengan Nona” sekertaris Li mengucap malu-malu, gadis muda di sampingnya juga malu-malu sambil menyunggingkan senyum. Saga melirik ke arah Ganis, Ganis bengong.
“Ah? Foto?” Ganis menunjuk dirinya sendiri, seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
__ADS_1
“Iya Nona, maaf jika lancang” sekertaris Li membungkukkan badan.
“Ah tidak..tidak, sini-sini” Ganis memberikan isyarat dengan tangannya agar gadis berambut panjang yang dikuncir kuda itu mendekat.
“Ya sudah, kalian di sana saja, aku sama Pak Li mau ke sana” Saga menunjuk suatu tempat di dekat podium.
“Baik Tuan”
“Terima kasih Tuan” ucap Gadis itu sangat senang.
“Siapa nama kamu?” tanya Ganis ramah, dirinya merasa tersanjung ada yang meminta foto bareng dia, karena dia merasa dirinya bukanlah siapa-siapa.
“Nadia, Nona” jawab gadis itu riang.
“Salam kenal Nadia, kamu kelas berapa?”
“Kelas 1 SMA, Nona. Terima kasih sudah mengizinkan saya berfoto dengan Nona”
“Ayah sering bercerita tentang Nona dan Tuan Saga” imbuhnya.
“Oh ya?”
Nadia mengangguk, dia sangat senang dengan apa yang dia dengar dari Ayahnya. Ganis tersenyum manis, bagaimana bisa sekertaris Li menceritakan dirinya.
Permainan demi permainan mulai dimainkan, ada yang joget balon berpasangan, tarik tambang, makan krupuk, dan lain-lain. Semua nampak bahagia, kecuali Anaya, dia nampak sangat tidak nyaman berada di tempatnya. Berbeda dengan tahun lalu, sekarang dia merasa benar-benar diabaikan oleh Saga.
“Bagaimana kalau kita ikut lomba?” Ganis menawarkan, Nadia tersenyum sambil mengangguk, dia begitu bahagia saat Ganis menarik pergelangan tangannya untuk ikut lomba jalan tiga kaki.
“Ya…saatnya perlombaan selanjutnya, dan istimewanya lagi, kali ini Bos kita akan mengikutinya, kalian harus saling berpasangan. Dan salah satu kaki dari kalian akan diikat, lalu berjalan bersama. Dan yang paling cepat sampai di garis finish, merekalah juaranya” seru MC dengan semangat 45.
__ADS_1
Ganis berpasangan dengan Nadia, bersiap mengikuti lomba jalan tiga kaki. Saga berdiri tidak jauh dari Ganis dan Nadia, dan samar-samar mata Ganis menangkap seseorang yang sudah sangat dia kenal.
“Nona?” bisik Ganis lirih sambil memastikan jika yang dilihatnya adalah benar Anaya. Anaya tersenyum sambil melambaikan tangan.
“Oh…Nona manis yang tahun kemarin juga berpasangan dengan Bos kita, silahkan Nona Ann kembali berpasangan dengan Bos” ucap MC tersebut, Ganis melirik ke arah Saga, Saga nampak biasa saja dan tidak keberatan mengikuti lomba tersebut dengan Anaya. Anaya girang bukan kepalang, akan dia buktikan di depan umum jika Saga masih untuknya.
Semua peserta dengan pasangannya masing-masing sudah bersiap untuk berlomba.
“Kita harus menang yah” Ganis tersenyum sambil mengepalkan tangan kanannya, memberikan semangat untu Nadia.
“Siap Nona!” jawab Nadia tak kalah semangat.
“Satuuuuu…..dua…..tigaaaaa……!!!” MC memberikan aba-aba, semua peserta dengan semangat susah payah mencoba berjalan secepat mungkin agar berhasil sampai di garis finish dan menjadi pemenang, semua nampak tertawa, karena merasa kesulitan untuk berjalan dengan cepat. Ganis melupakan sejenak pasangan Saga saat berlomba, dia benar-benar larut dalam perlombaan.
Bruuuk…..
Tubuh Ganis terhuyung ke tanah, begitu juga Nadia, tapi Ganis yang tertimpa tubuh Nadia. Siku tangan Ganis pertama kali yang menyentuh tanah, hingga terdapat luka di sana.
“Paramedis, tolong!” ucap sang MC memanggil paramedis, kemudian paramedis datang membantu mereka berdua.
“Maaf Nona” Nadia menggumam, mereka sudah di tepi dan diobati lukanya. Dia merasa sangat bersalah membuat Ganis terluka.
“Tidak apa-apa, kamu nggak apa-apa kan?” Ganis memastikan. Nadia menggeleng pelan.
Saga masih konsentrasi menyelesaikan lomba, dia tidak menyadari jika yang terjatuh adalah Ganis, karena dia bersemangat berada di barisan depan. Anaya nampak tertawa riang, mereka kompak menguasai jalannya perlombaan. Hingga pada akhirnya Anaya terhuyung dan jatuh, Saga ikut terhuyung, mereka sama-sama jatuh.
“Yaaaakkkk…sayang sekali Bos kita terjatuh” ucap MC tersebut, Ganis yang berada di pinggir area permainan menoleh ke arah Saga. Terlihat Saga melepas tali yang mengikat kakinya dan kaki Anaya. Lalu dia menolong Anaya, Ganis nampak tertegun. Dia mengelus sikunya yang diplester oleh petugas Kesehatan tadi.
“Aduh” Anaya mengaduh sambil memegangi pergelangan kakinya, spontan Saga memerika keadaan kaki Anaya. Dengan sigap dia membopong Anaya ke pinggir area permainan agar tidak menganggu jalannya permaianan.
__ADS_1
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Saga, petugas media mendekati Anaya dan memeriksa Anaya. Anaya menggeleng, senyumnya mengembang, ternyata Saga masih perhatian juga dengannya.
Diam-diam Ganis melihat semua yang dilakukan Saga terhadap Anaya, dia menunduk. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Anaya, bahwa Saga masih sangat mencintainya.