Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
Dua Puluh Dua : Flashback di hari yang sama (Saga)


__ADS_3

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika pernikahan dengan Anaya adalah mimpi belaka, nyatanya dia malah harus menikah dengan asisten kekasihnya, tanpa cinta dan benar-benar serba mendadak. Rasa marah menguasai dirinya, ingin rasanya dia menolak dengan rencana itu, akan tetapi Kesehatan Papanya juga menjadi hal yang sangat dia perhitungkan. Akhirnya, dengan berat hati dia menerima menikah dengan Ganis.


Saat pertama kali dia tahu Ganis adalah calon yang dikirimkan kekasihnya, dia sangat shock dan mencoba berontak, gadis itu terlihat biasa saja di matanya, tidak ada yang menarik baginya, gadis umur 21 tahun yang terlihat pendiam dan lugu itu. Tapi tidak, seiring berjalannya waktu, gadis itu sedikit menyebalkan dan suka melakukan hal-hal di luar dugaannya.


Gadis yang datang ke rumahnya saat hujan turun dengan derasnya, dan dia tidak ingin peduli dengan dia sedikitpun. Yang ada di benaknya hanya Anaya, dia ingin menemui gadis itu, tapi seketika gadis itu seolah lenyap ditelan bumi, tidak diketahui keberadaannya.


Saat melafalkan ijab, yang terasa baginya adalah mimpi buruk, dia benar-benar tidak ingin Ganis ada dalam hidupnya.


Gadis itu dianggap telah mencoba merusak kehidupannya, dimulai dari kamar pribadinya. Berani-beraninya gadis itu membuka lemari dan menyiapkan setelan jas untuknya, berani-beraninya dia menimbun makanan di dalam kamarnya dan seenaknya makan mie di balkon yang merupakan masih wilayah dari kamarnya.


Ada rasa heran, mengapa orang tuanya sangat meyukai Ganis? Mereka benar-benar terbuka menerima gadis itu hadir di rumahnya dengan sangat-sangat manis. Saga harus menjaga sika, terlebih saat berada di depan Tuan Candra, dia harus berusaha bahwa dia terlihat mencintai Ganis. Karena itulah yang Tuan Candra tahu.


Perlahan, dia mampu melupakan Anaya, tidak lagi sesakit dulu jika teringat dengan gadis itu. Tanpa dia sadari, dia harusnya berterima kasih pada Ganis yang telah membantu menyembuhkan lukanya, kini dia punya teman untuk berbicara.


Ganis yang dengan polosnya duduk bersila sambil makan mie instan dan menawarinya untuk makan juga, ada rasa geli saat itu. Tapi nyatanya mie itu tidak buruk juga, dan saat itu, dia tahu bagaimana rasanya curhat masalah pribadi pada seseorang yang di anggap teman. Namun, dia membuat kesepakatan agar mereka hidup masing-masing, mereka boleh pergi kemana pun dan menjalin pertemanan dengan siapapun. Begitu juga saat hari ini Ganis meminta izin untuk pergi bersama temannya, laki-laki. Meskipun sudah ada kesepakatan bersama jika boleh


berteman dan pergi dengan siapapun, namun dalam hati kecilnya dia mengkhawatirkan saat Ganis izin akan pergi dengan teman laki-laki. Saat itu juga, Saga meminta sekertaris Li mengutus seseorang untuk membuntuti dan


mengawal Ganis dari jauh.


            Saat dia berangkat ke kantor, Ganis masih berada di rumah. Gadis itu sudah mendapatkan izin darinya untuk pergi hari ini, dan seperti biasanya, Ganis tidak ingin pergi diantar sopir. Dia lebih suka bepergian dengan menggunakan taksi online, Saga pun mengizinkan.


“Apakah Pak Li sudah mengutus seseorang untuk membuntutinya?” tanya Saga, tangan kanannya memainkan bolpoin warna hitam.


“Sudah sesuai perintah Tuan” balas sekertaris Li.


Saga meletakkan bolpoin yang dari tadi dimainkan, kini dia berdiri di dekat jendela, memandang keluar jendela. Apakah Ganis baik-baik saja? Dengan siapa dia keluar?. Dia mengibaskan tangan kanannya, membuang pikiran mengapa dia harus peduli pada gadis itu, bukankah sudah kesepakatan bersama.


“Apakah Tuan ingin tahu dengan siapa Nona keluar?” Sekertaris Li nampaknya peka jika Tuannya sedang galau.


“Hah? Apa aku terlihat seperti merisaukan dia Pak Li?” senyum sinisnya mengembang. Sekertaris Li tersenyum kecil dan mengangguk. “Aku hanya ingin memastikan dia bisa menjaga nama baik keluarga, itu saja” imbuhnya.


“Iya Tuan” balas Pak Li.


“Apakah ada berkas yang harus aku tanda tangani lagi?”

__ADS_1


“Ini Tuan” Sekertaris Li menyodorkan beberapa berkas di dalam map. Saga kembali duduk di kursinya dan menandatangani semua berkas.


“Bagaimana persiapan untuk besok Pak Li?” Saga memastikan jika acara besok berjalan dengan lancar, karena mengingat acara ini sangat penting dan berpengaruh pada Arjuna Group.


“Sudah Tuan, semua sudah bekerja keras sesuai dengan tugasnya, saya rasa Tuan segera pulang saja, karena sudah tidak ada dokumen yang tertinggal hari ini, semuanya sudah selesai. Saya rasa Tuan lebih baik mempersiapkan diri untuk besok” nasehat Sekertaris Li. Saga mengangguk, menyetujui usul sekertaris Li.


“Apakah Pak Li ada pekerjaan setelah ini?”


“Jika Tuan ingin saya mengantar tuan pulang, maka saya akan mengantar Tuan”


“Oh tidak usah kalau memang Pak Li masih ada pekerjaan”


“Tidak Tuan, mari silahkan saya antar”


Bisa pulang dari kantor jam 5 sore di saat kantor sedang sibuk begini adalah situasi yang langka, tapi nasehat Sekertaris Li adalah bukan ide buruk, dia bisa menenangkan diri sebelum acara esok hari Saga duduk di deretan kedua, sedangkan Sekertaris Li menyetir mobil. Saga memainkan HPnya, ternyata baru sadar bahwa selama ini dia tidak menyimpan nomer Ganis.


“Apakah dia sudah pulang?”


“Maaf Tuan, maksud anda Nona?”


“Baru saja ada informasi, Nona baru saja pulang Tuan”


“Kemana dia pergi seharian?” ucapnya lirih.


“Mereka pergi ke butik, toko perhiasan, mall, menonton bioskop” jawab sekertaris Li, ternyata ucapannya yang lirih tadi masih dapat terdengar oleh sekertaris Li.


“Apa?” Saga terkejut.


“Iya Tuan, mereka pergi ke sana”


Sial, mengapa aku jadi memikirkan dia? Biarin saja dia pergi kemanapun dengan siapapun, harusnya aku tidak peduli.Batinnya, Saga membanting tubuhnya di sandaran mobil, memejamkan matanya.


“Pak Li”


“Ya Tuan?”

__ADS_1


“Apa Pak Li tahu di mana ada yang jualan mie terenak di sini?”


“Ada Tuan, di restoran XY” jawab sekertaris Li, Saga melengos, nampaknya bukan itu yang dimaksud.


“Ehm…bukan…maksudku bukan restoran, tapi tempatnya yang enak, ada lesehannnya” Saga mencoba membayangkan di pikirannya tentang tempat yang dimaksud.


“Apakah Tuan yakin ingin mencari penjual yang ada lesehannya?” sekertaris Li ragu.


“Ada yang salah Pak Li?”


“Setahu saya, anda tidak pernah makan mie Tuan, apalagi di lesehan, maafkan saya jika saya lancang” jawab sekertaris Li.


“Ehm…saya ingin mencobanya Pak Li, cepat katakan di sini yang jual di mana? Dengan deskripsiku tadi”


“Ada Tuan, ini favorit anak saya juga, tempatnya lesehan dan juga ada live musiknya. Tempatnya tidak jauh dari perempatan lampu merah sini Tuan” mereka sedang berhenti di lampu merah, Saga memperhatikan dan mencoba mengingat.


“Nah, ini Tuan tempatnya” sekertaris Li menunjuk tempat tersebut dari kejauhan.


“Terima kasih Pak Li”


“Ya Tuan”


Kini mobil itu sudah masuk ke halaman rumah Saga. Sesudah mengantarkan Saga, sekertaris Li pamit undur diri dan kembali ke kantor, karena sebenarnya dia masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.


            Saga melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah, nampak sepi karena Nyonya dan Tuan Candra sedang keluar. Saga langsung menuju lantai 2, meniti anak tangga dan membuka pintu kamarnya. Gelap dan sunyi, seolah tidak ada penghuni. Begitu dia menyalakan lampu, betapa kagetnya dia melihat Ganis sedang terbaring di sofa dengan kondisi berantakan, banyak tisu berceceran di lantai. Nampaknya gadis itu baru saja menangis. Saga


segera membersihkan diri, setelahnya dia membangunkan Ganis, dia ingin sekedar menghiburnya. Lalu diajaklah Ganis keluar malam itu.


 


 


Hari ini aku update 2 episode, terima kasih readers yang sudah membaca. Terima kasih juga sudah menunggu kelanjutannya. tetap dukung author ya, jangan lupa like, vote, rate, dan jika kalian belum menjadikannya favorit, silahkan klik tombol lovenya.


jangan lupa juga follow akun author ya....

__ADS_1


tetap tunggu lanjutannya ya...Happy Reading ^^


__ADS_2