Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 96 : Cinta Kamu, Titik!


__ADS_3

Jalan-jalan pertama, Saga memilih pantai tak jauh dari tempatnya menginap. Sepanjang sapuan pandangan, laut lepas warna biru memanjakan mata, sejenak Ganis melupakan galau di hatinya, dia tenang dengan melihat jernihnya laut, angin menerbangkan rambutnya. Dengan segera dia menguncir rambutnya agar rapi.


Saga menggandeng tangan Ganis mesra sambil menikmati indahnya laut di sore hari.


“Bukankah kita sudah pernah melakukannya? Maaf jika aku mengulangnya” ujar Saga, Ganis tersenyum. Seberapapun berulang, dia akan tetap senang melakukannya. Pantai adalah salah satu favoritnya, jika dulu dia berjalan-jalan di pantai bersama Saga, namun tautan hatinya berbeda. Kini, mereka melakukannya dengan suasana saling mencintai.


“Seberapapun kita melakukannya, tak terbersit sekalipun di kepalaku bahwa ini akan membosankan, selama kita berdua berada di jalur yang sama, Mas” ucap Ganis bijak.


“Aku suka, aku suka kamu yang apa adanya” Saga menghentikan langkahnya, dia berada di sebuah jembatan kayu yang amat luas, hanya berpagar pembatas kayu pula agar para wisatawan bisa seolah berada di tengah laut. Bawah papan kayu adalah lautan dengan warna biru jernih.


“Aku akan tetap seperti ini, Tuan Saga suamiku, apakah kamu akan keberatan?” tanya Ganis melipat kedua tangannya.


“Sama sekali tidak” Saga menggeleng, dia merentangkan tangan kanannya, menarik pelan kepala Ganis, lalu membenamkan di dadanya.


Perasaan Saga agak tidak enak, apakah Ganis kurang suka saat dia melakukan panggilan telepon dengan Salwa.


Angin bertiup agak kencang, Saga masih menahan kepala Ganis di dadanya. Menikmati rasa yang ada di hatinya. Begitu juga Ganis, merasa nyaman dengan apa yang dilakukan oleh Saga. Menikmati setiap perasaan cinta dari suaminya.


            Ganis merasa agak pusing, sehingga mereka berada di pantai tidak sampai malam. Saga segera mengajaknya kembali ke hotel untuk beristirahat. Padahal Ganis hanya merasa sedikit pusing, Saga kekeh mengajaknya untuk kembali beristirahat.


“Kita makan di dalam saja ya, kita pesan biar nanti dikirim ke sini” ujar Saga sesaat setelah mereka sampai di kamar. Ganis mencuci tangan di wastafel, kemudian dia duduk menyalakan televisi.


“Iya Mas, apa Mas nggak apa-apa kita hanya berdiam diri di sini?” tanya Ganis setengah berseru, karena Saga masuk ke dalam kamar mandi.


“Masih ada besok sayang, kita lanjutkan besok”


“Iya Mas”


“Apa Mas malu kalau jalan-jalan dengan aku? Sehingga aku baru bilang pusing sedikit saja sudah diajak ke kamar”Ganis sebal dengan perasaannya sendiri yang mudah curiga, mudah cemburu dan uring-uringan. Dia bergumam perlahan, tentunya Saga tidak mendengar ucapannya.


Ganis menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, tangannya meraih bantal dan memeluknya. Tangannya memencet tombol remote televisi, mencari hiburan.

__ADS_1


Saga masih berada di kamar mandi. Ganis meletakkan remote di sampingnya, lalu dia mengambil HPnya dan melakukan sesuatu karena tiba-tiba otaknya mendapatkan sebuah ide.


Saga keluar dari kamar mandi, mendapati Ganis duduk sambil melihat layar televisi, Saga berjalan ke arah Ganis, dan duduk di sampingnya.


“Kamu sudah lapar?” tanya Saga sambil mengelus rambut Ganis, Ganis menggeleng pelan. Dia melihat ke arah Saga, lalu menyenderkan kepalanya di lengan Saga.


“Masih pusing?” tanya Saga khawatir.


“Sedikit” jawab Ganis.


“Setelah makan istirahatlah, biar besok segar, kita bisa jalan-jalan sesukamu”


“Iya Mas” jawab Ganis singkat, meskipun bukan itu yang ingin dia ucapkan.


            Terdengar pintu hotel diketok, Saga menoleh ke arah pintu dan bersiap membukanya. Ganis menarik kepalanya dan mengalihkan sandarannya dari lengan Saga ke sandaran sofa.


“Sebentar ya…” Saga memakai sandal hotel dan berjalan ke arah pintu, benar saja, ada dua pelayan yang mengantarkan makanan pesanannya. Saga membuka pintu lebar-lebar agar pelayan tersebut membawa masuk makanan yang telah dia pesan dengan leluasa.


“Terima kasih” ujar Saga ramah.


“Sudah siap, ayo kita makan sayang” ajak Saga. Ganis mengangguk.


Karena terlalu khawatir, takut jika Ganis akan pingsan, Saga mendekati Ganis dan menggandengnya.


“Aku tidak apa-apa, Mas” seru Ganis sambil tersenyum mendapatkan perlakukan demikian dari Saga.


“Tidak apa-apa, sini aku gandeng, kalau perlu sini aku gendong” Saga berjongkok dan menyiapkan punggungnya. Ganis menepuk punggung Saga gemas.


“Nggak gini juga kali Mas, cuma 3 meter doang jaraknya” Ganis terkekeh sambil menutup mulutnya. Saga masih saja berjongkok menunggu Ganis mau digendong belakang.


Akhirnya Ganis duduk di punggung Saga, Saga berdiri dan memegangi tubuh Ganis dengan kedua tangannya melingkar ke belakang. Terlihat sangat konyol.

__ADS_1


“Sudah sampai Tuan Putri, silahkan duduk” Saga menurunkan Ganis, menarik sebuah kursi kayu dan mempersilahkan Ganis duduk.


“Terima kasih pangeranku” Ganis ikut-ikutan konyol.


Ganis duduk di salah satu kursi, begitu juga Saga. Mereka saling berhadapan, hanya dipisahkan oleh meja yang penuh dengan hidangan.


Jika menengok ke samping, mereka akan melihat pemandangan laut di malam hari. Lampu berkelip memenuhi area sekitar pantai, terlihat sangat indah.


“Pemandangan yang bagus” ujar Ganis sambil menyuapkan potongan daging ke dalam mulutnya.


“Iya, jadi tak apa kita makan malam di kamar, pemandangannya tak kalah dari pemandangan di luar sana”


“Iya Mas, gini saja sudah romantis” Ganis mengunyah makanannya. Suasana pantai yang tenang, terlihat dari kamar yang mereka tempati. Hanya ada beberapa wisatawan asing yang nampak di area pantai.


Mereka makan dengan suasana hati senang, sesekali saling bercanda dengan saling menyuapi makanan.


Satu jam sudah mereka makan malam, dan banyak hal yang mereka lakukan, sesekali terdengar tawa kecil antara Saga dan Ganis.


Tawa mereka terhenti saat terdengar pintu kembali diketok, Saga berdiri meninggalkan kursinya dan membuka pintu hotel. Terdapat seorang pelayan hotel dengan ramah memberikan sebuah totebag. Saga heran saat menerimanya, karena dia merasa tidak memesannya.


Ganis melihat ke arah pintu, lalu dia meninggalkan kursinya dan mendekati Saga dan pelayan.


“Oh…sudah datang nampaknya” Ganis mengambil alih totebag yang dibawa oleh Saga sambil tersenyum.


“Terima kasih ya mbak” sahut Ganis ramah, pelayan tersebut mengangguk dan tersenyum, lalu meninggalkan Saga dan Ganis.


Ganis membuka totebag tersebut sambil tersenyum senang, Saga mengedikkan bahunya kemudian menutup pintu kembali. Ganis menuju kamar mandi tanpa berbicara banyak pada Saga.


Saga duduk di atas sofa sambil melihat tayangan olahraga di televisi, sementara Ganis masih berada di kamar mandi.


Sekitar 10 menit terdengar pintu terbuka, Ganis keluar dari kamar mandi. Dia berjalan di depan Saga, awalnya Saga yang terpaku melihat layar televisi menjadi terkejut saat melihat Ganis. Sama sekali tidak pernah melihat Ganis seperti itu sebelumnya. Mulutnya menganga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Ganis memasang wajah datar sambil berdiri di depan Saga. Saga mengubah posisinya segera, dia berdiri mendekati Ganis. Mereka berdua beradu pandang.

__ADS_1


Hati Saga tidak karuan melihat apa yang dilakukan oleh Ganis.


Mau nggak Author Up 2 chapter hari ini? hehe. tembusin 300 like please....kalau tembus nanti malam up lagi. Terima kasih yang sudah memberikan vote, sangat berarti buat Author....yang belum hayuk lah biar bisa nembus 200 besar ranking vote. Terima kasih juga yang sudah memberikan like dan juga gift, love kalian semua.


__ADS_2