Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 79 : Got You


__ADS_3

Makan malam baru saja usai, Nyonya Rima sudah pamit untuk beristirahat di kamar. Ganis dan Saga menuju lantai 2 untuk istirahat juga. Menu nasi liwet yang diminta Saga benar-benar terpenuhi, rasa puas menyantap nasi liwet terpancar di wajah Saga. Baginya, masakan Ganis tidak ada duanya.


“Kalau sama masakan Bik Janah masih kalah lah” Ganis menutup pintu kamarnya.


“Ya…miriplah, yang jelas enaaak banget, terima kasih istriku yang cantik dan pintar memasak” Saga menoleh ke arah Ganis lalu menyentil hidung istrinya pelan.


“Sama-sama pak suamiku” Ganis membuka gorden balkon, membuka pintu kaca lebar-lebar, lalu dia melangkah ke balkon dan duduk di lantai balkon. Langit malam ini begitu cerah.


Saga yang melihat istrinya telah duduk manis di balkon, akhirnya dia mengikuti Ganis.


“Mas mau kopi?” tanya Ganis sesaat melihat Saga berada di dekatnya.


Saga menggeleng, perutnya masih kenyang.


“Aku mau menikmati malam bersama istriku” Saga meletakkan kepalanya di pangkuan Ganis. Ganis menyisir rambut Saga dengan jarinya. Aroma wangi sampo tercium dengan sempurna di hidungnya.


“Oh ya mas, tadi aku telpon Bu Fatimah, Disya sudah pulang dari rumah sakit”


“Syukurlah”


“Lalu bagaimana dengan kasusnya? Apakah sudah ada perkembangan?”


“Tunggu saja, sebentar lagi pasti akan terbongkar”


“Semoga ya Mas”


“Oh ya, kamu mau bulan madu kemana? Biar aku bisa mengambil libur. Saga teringat jika selama ini belum sama sekali dia bulan madu khusus bersama Ganis.


“Terserah Mas saja, ikut” Ganis pasrah, tangan Saga meraih tangan Ganis yang dari tadi memainkan rambutnya, memegang erat dan mencium tangan Ganis.


“Kemana? Dalam negeri ? Luar negeri?”


“Ehm…dalam negeri dulu aja Mas, aku belum pernah merasakan keliling dalam negeri”


“Siap istriku, biar nanti aku atur ya”


“Iya Mas”


“Hei, aku membayangkan suatu saat nanti kita bercanda begini terus direcokin sama anak-anak kita” Saga mengusap tangan Ganis yang ada di dadanya. “Kamu ingin punya anak berapa?” sambil melirik wajah Ganis. Ganis tersenyum.


“Entahlah, sedikasihnya Mas” Ganis menutup mulutnya dengan tangan, dia ingin tertawa. “Lucu mungkin kalau kita punya anak kembar”


“Kalau kamu mau, kita bisa program” Saga memberikan ide.


“Biar Mas, biar berjalan apa adanya”

__ADS_1


“Baiklah kalau itu keinginan kamu” Saga memiringkan wajahnya menghadap perut Ganis. Tangannya mengelus perut Ganis. “Cepetlah hadir dalam perut Mamamu” bisiknya.


Saga sengaja tidak menceritakan perihal kasus yang dia bicarakan dengan sekertaris Li tadi, dia akan


memberitahu jika pelaku yang sesungguhnya sudah tertangkap. Mereka kembali ke kamar karena malam semakin larut, perbincangan dengan Ganis adalah salah satu obatnya untuk melepaskan penat setelah seharian sibuk dengan pekerjaannya.


***


Saga berada di dalam mobilnya, sekertaris Li mengantarkannya menuju tempat mereka akan bertemu dengan orang yang dibahas kemarin. Sekertaris Li memutuskan untuk bertemu dengan orang tersebut di luar kantor.


Beberapa orang berpakaian jas hitam dengan kacamata hitam menggiring seseorang ke arah Saga yang kini sudah menuruni mobilnya, mereka berada di sebuah bangunan kosong namun bersih. Itu adalah salah satu gudang yang ada di tempat di mana kecelakaan Ganis terjadi.


Nampak seorang laki-laki dengan umur sekitar 40 tahunan sedang digiring oleh beberapa orang Saga. Laki-laki itu nampak sedikit cemas melihat Saga. Saga melipat kedua tangannya, kaca mata hitam masih dia kenakan.


“Maafkan saya Tuan” ujar laki-laki itu sambil menangkupkan kedua tangannya memohon maaf. Saga masih terdiam, memperhatikan laki-laki itu di balik kacamata hitamnya.


“Saya hanya suruhan Tuan” suaranya nampak bergetar.


Saga melepaskan kacamata hitamnya, matanya tajam melihat laki-laki yang ada di depannya tersebut. Sesungguhnya tangannya sudah gatal ingin melayangkan pukulan pada laki-laki itu, tapi dengan sekuat tenaga dia menahan, dia tidak mau mengotori dirinya.


“Untung isri saya baik-baik saja sekarang, kalau tidak, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!” geramnya.


“Maafkan saya Tuan” ujarnya kembali meminta maaf, dia nampak sangat ketakutan, ditambah intimidasi dari beberapa pengawal Saga.


“Urus semua, biar semua jelas, bawa dia ke kantor polisi” perintahnya.


“Tuan…jangan Tuan….saya masih punya anak istri Tuan, anak saya masih kecil-kecil” dia memelas.


“Masih untung kamu saya bawa ke kantor polisi, aku bisa saja membunuhmu sekarang” gertak Saga. Mendengar penuturan Saga, laki-laki itu diam tidak bisa membantah, dan pasrah saat dibawa oleh beberapa pengawal Saga.


“Pak Li”


“Ya Tuan?”


“Suruh orang untuk mencari keluarganya”


“Baik Tuan”


Saga segera meminta untuk kembali diantarkan ke kantor, ada meeting penting hari ini. Bertemu dengan seorang yang melakukan kejahatan kepada istrinya membuat moodnya sedikit rusak hari ini. Dia mencoba menenangkan hati, agar emosinya kembali baik.


***


“Aku dengar jika Saga kali ini tidak akan membiarkannya lolos” ujar Alex, dia berada di ruang kerja Anaya.


“Kenapa? Aku sudah bermain seaman mungkin, lagian kemarin juga tidak terjadi apa-apa pada istrinya” Anaya membela diri.

__ADS_1


Alex berdiri dari kursinya, mendekat ke arah jendela, dia ingin melindungi Anaya, jangan sampai dia terseret masalah hukum yang sedang dilakukan oleh Saga.


“Kamu jangan khawatir” imbuh Anaya santai.


“Aku hanya takut jika ini akan terjadi” ujar Alex lalu mengusap wajahnya dengan tangannya. Anaya masih terlihat sangat santai, dia begitu yakin jika dia tidak akan terseret masalah hukum.


“Ann, tolong hentikan apa yang kamu lakukan!” seru Alex dengan sedikit teriakan, membuat Anaya menoleh ke arah Alex sebal, bagaimana laki-laki it uterus saja merecoki hidupnya.


“Atas dasar apa Lex? Kamu tidak ingat jika Papamu yang menghancurkan hidupku!” Anaya balik berteriak.


“Maka dari itu, aku mengingatkan kamu agar tidak semakin hancur hidupmu, aku mencintaimu Anaya! Aku mencintaimu!” pekiknya, Anaya masih menatap Alex, ucapan itu begitu jelas terdengar olehnya. “Aku mencintaimu, makanya aku tidak mau kamu melakukan hal-hal yang bisa membuat dirimu dalam masalah” Alex memelankan suaranya, dia mendekat ke arah Anaya.


“Menjauhlah dariku Lex” Anaya mengangkat kedua tangannya memberikan jarak. Alex menghentikan langkahnya.


“Aku tidak mau kamu kenapa-napa, Ann” ujar Alex lirih, dia sudah putus asa mengingatkan Anaya.


“Aku tidak mencintaimu Lex, tidak pernah!” Anaya mengucap dengan tegas.


“Setidaknya kamu mendengar ucapanku, hentikan semua ini sebelum terlambat”


“Aku tidak akan berhenti Lex, akan aku buat hidup Ganis berantakan karena sudah merebut apa yang seharusnya menjadi milikku”


Alex memegang kepalanya, tangannya menjambak rambutnya, dia begitu frustasi dengan sikap keras kepala Anaya.


“Ok, selemat menjalani hidupmu” ujar Alex lalu keluar ruangan Anaya.


Bersamaan dengan keluarnya Alex dari ruang kerja Anaya, Dera masuk ke dalam untuk memberitahukan jika para staff dan beberapa rekan dari perusahaan lain sudah siap di ruang rapat.


“Maaf Nona, rapat siap dimulai” ujar Dera, tangannya membawa sebuah buku agenda dan bolpoin. Anaya masih mencoba menguasai dirinya, mengambil nafas agar amarahnya mereda.


“Baik, 5 menit lagi aku akan datang, kamu kesana dulu”


“Baik Nona”


Selang 5 menit, Anaya sudah bergabung di ruang rapat untuk memimpin jalannya rapat. Para anggota rapat


dengan serius mengikuti apa yang disampaikan Anaya. Pemaparan tentang jaringan perusahaan yang kian meluas dan siap menambah anak perusahaan.


Suasana mendadak berbeda, saat pintu ruang rapat dibuka tanpa permisi. Beberapa orang laki-laki masuk ke dalam, sambil menunjukkan surat perintah penangkapan. Pemaparan presentasi dari Anaya pun terhenti, semua melihat ke arah pintu tersebut.


“Maaf, anda harus ikut kami ke kantor sekarang juga” ujarnya.


 


Terima kasih kepada para readers yang sudah membaca, memberikan like, vote. Mohon maaf jika masih banyak typo, cerita ini kurang memenuhi ekspektasi readers. Tetap ikuti ya....^^

__ADS_1


__ADS_2