Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 119 : Menunggu Hari H


__ADS_3

Semakin hari semakin deg-degan, itulah yang kini dirasakan Ganis. Perutnya semakin membuncit, tendangan bayi yang ada di dalam perutnya juga semakin membuatnya sedikit meringis geli, tapi dia sangat menikmatinya. Pada saat USG terkahir kali, bayi yang ada di kandungannya nampak baik-baik saja dan sudah siap untuk lahir ke dunia. Jika tidak ada aral melintang, dia bisa melahirkannya secara normal.


Ada rasa takut, ada rasa senang, semua campur aduk jadi satu. Untungnya Saga dan orang-orang terdekatnya selalu memberikan rasa aman dan rasa senang serta dukungan yang luar biasa.


Acara tujuh bulanan juga sudah usai digelar dengan lancar, karena usia kandungan Ganis dan usia kandungan Carolina hampir sama, hanya selisih satu minggu, maka acara pun dilakukan bersama-sama. Seperti layaknya saudara erat.


"Ah Mama sebentar lagi mau jadi Oma" ujar Nyonya Rima di gazebo sambil melemparkan makanan ikan ke kolam ikan, nampak beberapa ikan hias berebutan makanan yang dilempar tersebut.


Ganis mengayun-ayunkan kakinya yang menjuntai, dia ikut tersenyum, perjalanan ini tidak mudah, bahkan tidak terbersit sama sekali jika dia akan menjadi seorang Ibu di usia sekarang. Dulu, impiannya adalah bekerja serajin mungkin agar dia bisa hidup layak, namun Tuhan memang luar biasa dengan segala rahasianya.


Usia sekarang dia menjadi istri dari seorang konglomerat yang baik hati, dengan jalan yang sama sekali tidak dia duga sebelumnya. Dikaruniai mertua yang juga sangat baik hati padanya.


"Iya Ma...terkadang kalau mengingat pertama kali Ganis hamil, kok sepertinya cepet banget ya sudah mau lahiran saja, tapi Ganis juga tidak sabar untuk menunggu kelahirannya dan menggendongnya" ujarnya lalu disambut senyum oleh mertuanya.


"Iya, sepertinya baru kemarin Mama mendengar kalian mengabarkan jika Mama akan memiliki cucu, sekarang sudah 9 bulan saja kamu mengandung, semoga semua dilancarkan" harapnya.


"Amin Ma...."


"Oh ya bagaimana perasaan kamu saat ini?" Nyonya Rima melihat Ganis seperti tenang sekali menghadapi usia kandungan yang sudah tua.


"Yah....aku grogi Ma" ujarnya, tak bisa dipungkiri itu yang dia rasakan, bagaimana nanti menghadapai persalinan, apakah akan baik-baik saja? apakah dia akan dengan mudah melewatinya? apakah bayinya akan baik-baik saja?. Berbagai pikiran berkecamuk dalam otaknya.


"Wajar sekali....Mama juga dulu merasakannya, tapi itu adalah kebanyakan pikiran yang ada di benak seorang calon Ibu, tenang saja"


"Oh iya Ma"


"Aku yakin semua akan baik-baik saja, siapkan saja mental dan fisik kamu"


"Oh ya Ma, kapan hari itu aku pernah mimpi, Mas meninggalkanku, aku sampai menangis ketakutan karenanya" urai Ganis sambil mengingat mimpinya dulu"


Nyonya Rima memandang Ganis lekat, tangannya menutup toples makanan ikan dan meletakkannya di tepi. Dia memandang Ganis, beberapa saat terdiam, lalu sudut bibirnya menyunggingkan senyum.

__ADS_1


"Oh benarkah kamu mimpi begitu?"


Ganis mengangguk mendengar pertanyaan Nyonya Rima.


"Mimpimu kenapa sama persis dengan mimpi Mama saat Mama hamil Saga, saat itu Mama juga bermimpi jika Papa akan meninggalkan Mama, kalau Mama mengartikan....itu artinya kamu memang sangat menyayangi dia, karena setahu Mama, orang hamil itu rasanya pengen dekat-dekat suami, apa-apa suami, pengen lebih diperhatikan oleh suami, jadi itu adalah suara hati dari perasaan kamu yang terdalam" ujarnya panjang lebar.


Tidak salah apa yang dikatakan oleh Nyonya Rima, semenjak hamil, dia memang sangat-sangat ingin dekat dengan Saga, bukannya saat belum hamil tidak ingin dekat, hanya saja saat hamil dia memang ingin selalu dekat dan mendapat perhatian dari suaminya. Ganis tersenyum lega, bahwa mimpinya hanya sekedar bunga tidur.


"Dan kamu jangan risau, Inysaallah tidak akan terjadi apa-apa, dulu Mama juga seperti itu, dan kamu tahu...beberapa hari sebelum Mama melahirkan, Mama malah melarang Papamu untuk berangkat kerja, jadi Papamu harus tetap di rumah menunggu Mama" jelasnya, disambut tawanya yang renyah, Ganis juga ikut tertawa.


"Iya Ma, lega rasanya, soalnya kemarin-kemarin itu Ganis benar-benar kepikiran, takut kenapa-napa"


"Ya itulah intinya, pikiran Ibu hamil tua itu kemana-mana, jadi harus tetap bahagia ya, dan apa-apa jangan dipendam sendiri"


"Terima kasih Ma"


Betapa bersyukurnya Ganis, benar-benar berada di lingkungan yang menenangkannya, dia berasa mendapat kekuatan untuk menghadapi persalinan nanti.


Saga mengerutkan keningnya saat mendapat pesan dari Ganis, dilihatnya istri yang amat disayanginya itu meminta nasi goreng pak Khozin, nasi goreng yang jika beli bisa antri hingga 2-3 jam lamanya.


"Ok sayang" itu jawaban yang dia kirimkan untuk Ganis.


Di tengah sibuknya pekerjaan hari ini, dia tetap tidak mau membuat istrinya kecewa saat dia pulang tanpa membawa nasi goreng pesanan istrinya.


"Pak Li? masih berapa lama lagi dokumen yang harus saya tunggu?" tanyanya sambil tetap menandatangai berkas dokumen yang harus selesai hari ini juga.


"Masih ada beberapa Tuan"


"Baik" jawabnya.


"Ada yang bisa saya lakukan untuk Tuan?" tanya sekertaris Li.

__ADS_1


Saga menggeleng, "Tidak Pak Li" Saga menolak tawaran sekertrais Li, dia ingin pergi sendiri membelikan nasi goreng pesanan Ganis, biar lebih afdol.


        Satu jam sudah Saga menunggu, akhirnya semua dokumen selesai dia tanda tangani, kini dia bersiap untuk segera pulang ke rumah. Semenjak kandungan Ganis sudah memasuki usia tua, sebisa mungkin dia pulang ke rumah lebih awal, dia menyiapkan dirinya sebagai suami siaga untuk Ganis.


        Saga memenuhi permintaan Ganis, dia menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan dan segera mendekat ke warung pak Khozin, warung nasi goreng yang sangat ramai peminat. Saga segera memesan nasi goreng untuk Ganis, kemudian dia duduk di sebuah kursi kayu tidak jauh dari gerobak nasi goreng tersebut.


Ada beberapa orang juga yang sudah mengantri, terlihat asap mengepul dari wajan penggorengan, aroma nasi goreng benar-benar enak dan menggoda lidah. Saga memainkan HPnya untuk menemaninya saat menunggu nasi goreng pesananya siap. Sesekali dia nampak menguap, rasa kantuknya yang dari tadi siang menghinggapinya.


Akhir-akhir ini Ganis sering terbangun saat malam, hanya untuk sekedar minum, buang air kecil, dan terkadang merasa tidak nyaman dengan berbagai posisi tidur, Saga dengan telaten menemaninya dan tak jarang memijitnya agar Ganis merasa nyaman dan kembali tertidur.


Ada beberapa orang yang memperhatikannya, ada yang berbisik mungkin sedang membicarakannya. Terasa aneh baginya saat harus membeli nasi goreng di sini seorang diri, dia pernah makan nasi goreng ini, tapi tentu bukan dia sendiri yang membelinya, melainkan menyuruh orang lain.


Tapi Saga tidak peduli, asal Ganis senang, apapun akan dia lakukan, termasuk harus mengantri sendiri sekarang. Saga tersenyum pada penjualnya saat pada akhirnya pesanannya selesai. hampir 2 jam dia berada di sana, dan akhirnya pesanan untuk istri tercintanya siap sudah.


"Semoga dia suka" gumamnya senang.


        ***


Jam 8 malam, Saga tiba di rumah, dia segera naik ke lantai 2, menuju kamar. Berharap istrinya masih terbangun dan menunggunya. Saat dia membuka pintu kamar, benar saja, Ganis segera merangsek menuju pintu dan memeluknya.


"Papa pulang....!" teriaknya girang, begitu juga dengan Saga, dia menyambut pelukan Ganis dengan pelukannya, lalu tangannya mengusap perut Ganis gemas.


"Ini nasi goreng pesanan istri tersayang, ayo dimakan, dihabiskan lho ya...ini nasi goreng perjuangan" Saga terkekeg.


Ganis berbinar senang, lalu tangannya meraih sebungkus nasi goreng tersebut dengan wajah senang.


"Cuma satu? Mas nggak beli untuk Mas sendiri?" Ganis mengangkat kedua alisnya. Saga menggeleng, lalu dia melepaskan jas dan kemejanya.


"Mas sudah kenyang, kamu cepetan makan, nanti ngiler itu si utun" goda Saga.


Tak berapa lama, Saga disuguhi pemandangan, di mana Ganis menikmati nasi goreng yang dia belikan dengan nikmatnya. Tak hentinya dia bersyukur melihat istrinya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2