
Tak akan tinggal diam, setelah Saga mendapatkan cerita dari Ganis perihal penguntitan yang dilakukan oleh mobil hitam tersebut, Saga segera bertindak. Dia mengumpulkan beberapa petunjuk yang sekiranya bisa menguatkan tindakan yang akan dilakukan.
Saga telah mengerahkan anak buahnya, dia akan bertindak terlebih dahulu. Bukan tidak percaya kepada pihak yang berwajib, karena dia terlanjur geram dengan tndakan tersebut.
"Saya pastikan jika nomor polisi mobil tersebut adalah kepunyaan Alex, Tuan" Sekertaris Li tengah memberikan penjelasan kepada Saga, mereka tengah duduk di dalam ruangan Saga.
Saga mengira jika ini sudah usai, dia mengira jika semua ini berakhir. Namun tidak, Alex semakin menjadi-jadi dan hampir mencelakakan Ganis dan calon bayinya.
Kemarin Saga juga mendapatkan tambahan informasi dari satpam komplek di perumahannya, menjelaskan memang ada orang yang mencurigakan. Dan ketika CCTV diperiksa, mobil yang selalu terparkir sama dengan mobil yang ada di foto Ganis.
Saga bergegas, dia hanya mengajak sekertaris Li menuju rumah Alex. Mustahil memang akan menemukan lex di sana, karena Alex tak akan sebodoh itu bersembunyi di rumah.
Lelaki tua nan tambun itu agak terbatuk saat melihat siapa tamu yang datang, seorang perawat membantunya untuk duduk di sebuah kursi kayu. Saga menampakkan wajah datar, begitu juga sekertaris Li yang duduk tidak jauh dari Saga.
Barata mengibaskan tangannya, menyuruh perawat tersebut meninggalkan mereka. Perawat tersebut pun mengangguk dan meninggalkan orang-orang dengan wajah dingin itu.
Barata berdehem, ini adalah pertama kalinya dia bertatap muka secara langsung dengan Saga, putra dari Tuan Candra.
"Sekiranya Anda sudah tahu kedatangan saya kesini" ucap Saga membuka pembicaraan.
Barata tersenyum, dia menatap Saga, masih belum memberikan kalimat apapun. Nampaknya Saga berbeda dengan Tuan Candra, pemuda itu nampak dingin.
"Kamu sudah besar" ujar Barata.
Saga terdiam dan menatap pria tua itu, nampak sangat menyebalkan baginya. Sementara sekertaris Li diam saja dengan situasi tersebut. Harusnya pria itu menjadi salah satu pihak yang bertanggung jawab dengan keadaan ini.
"Putra saya sudah keterlaluan, dan saya tidak bisa menghentikannya" ucapnya, akhirnya berbicara kaitannya dengan Alex.
"Bukannya itu bermula dari anda?" Saga mencecar, hatinya terasa gemeretak, dia masih mencoba tenang.
Sekian lama dia mencoba melupakan kesalahan pria itu pada keluarganya, dia mencoba untuk "ya sudahlah", tapi ternyata menjadi suatu virus yang terus saja memberikan efek tidak baik pada hidupnya.
"Saya berteman dengan Papamu sejak dulu, dan sejak peristiwa itu....saya...saya mennghilang dan akhirnya menyadari jika itu kesalahan saya, kesalahan yang amat besar"
Saga dan sekertaris Li terdiam mendengarkannya.
"Hingga saya menjadi pengecut yang tidak berani datang walau sekedar meminta maaf, dan kini saya merasa mendapat kesempatan emas karena didatangi oleh anda. Saya meminta maaf atas semua kesalahan saya, dan kini anak saya yang mulai mengganggu kehidupan anda sekeluarga"
__ADS_1
Saga mengeraskan rahangnya, kedua tangannya mengepal. Sekertaris Li melihat ke arah Saga dan menggeleng, mengingatkan Saga agar jangan sampai terlepas kontrol perilakunya.
"Kini bahkan saya sudah kehilangan anak saya, ini sudah lebih dari cukup pembalasan untuk saya" ujarnya tertawa hambar.
"Jika itu bagi anda cukup, bagiku tidak, anak anda akan mempertanggungjawabkan ini semua" geram Saga.
"Saya pasrah dengan semua yang akan terjadi padanya" Barata nampak pasrah, punya anak berasa tidak punya anak.
"Ini adalah apa yang anda tanam, sekarang anda yang tuai, anda terlalu kejam pada keluarga saya di masa lalu" Saga perlahan mengeluarkan unek-uneknya.
Barata mengangguk, dia pasrah. Mengingat betapa jahatnya dia di masa itu, hingga Anaya gadis yatim piatu itu kini menjadi salah satu korbannya.
"Namun kini saya benar-benar tidak tahu dia berada di mana, jika anda menemukannya, silahkan..." Barata sudah benar-benar pasrah.
***
Saga masih terdiam di dalam mobil, sekertaris Li masih menunggu perintah dari Saga.
"Kita berdiam di sini dulu" titah Saga.
Mobil berhenti di jarak yang agak jauh dari rumah Barata, entah apa yang ada di pikiran Saga. Sudah hampir satu jam dia berada di sana.
"Apa yang Pak Li pikirkan?" tanya Saga pada sekertaris Li yang juga melihat mobil tersebut.
"Alex"
Kini sekertaris Li tahu alasan Saga masih belum beranjak dari tempat tersebut.
"Dia pasti akan pulang walau sejenak" tebak Saga jitu.
"Apakah kita segera bertindak, Tuan?" sekertaris Li bersiap akan memanggil anak buah Saga jika memang Saga mengiyakan.
Saga mengangkat salah satu tangannya, melarang.
"Kita lihat saja dulu" Saga nampak santai, dia bisa menguasai amarahnya, namun dia bersiap jika harus berhadapan dengan Alex sendirian.
"Perdekat jarak mobil dengan rumah itu" perintahnya.
__ADS_1
"Baik Tuan" sekertaris Li menjalankan mobil agak lebih dekat.
Barata masih berada di teras depan, dia melihat kedatangan Alex. Sudah beberapa hari Alex tidak pulang. Penampilannya semakin berantakan.
Barata menggelengkan kepalanya heran, Alex dengan wajah kecutnya menatap Barata tajam. Pria tua itu juga menatap Alex muak.
"Duduk!" perintahnya. "Panjang umur kamu bajingan!"
Alex menarik kursi dengan kasar, lalu menghempaskan tubuhnya di kursi tersebut. Topi lusuh dari kepalanya dia lepas dan meletakkan sembarangan di atas meja.
"Sebaiknya kamu segera menyerahkan diri pada pihak berwajib, sebelum kamu mati konyol" ujarnya tegas.
Alex tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan Barata,
Sampai kapanpun, itu tak akan pernah dia lakukan. Alex mengeluarkan beberapa obat-obatan dari dalam saku celananya ke atas meja.
Barata kembali geleng-geleng kepala melihat hal tersebut, anaknya sudah seperti seseorang yang sama sekali asing bagi hidupnya.
"Asal papa tahu, aku tidak akan pernah melakukannya, ingat itu Pa"
"Kamu...."
"Papa yang buat ini semua, dan ini mungkin aku terakhir kali menginjak rumah ini, Papa tidak akan melihatku lagi setelah ini" ujarnya sambil menyipitkan mata. Lalu tertawa terbahak-bahak.
Alex mengeluarkan sepucuk senjata api, mata Barata tertujku pada benda tersebut. Anaknya benar-benar sudah gila, kelakuannya benar-benar brengsek.
"Buat apa kamu membawa senjata begitu?" tanya Barata.
"Ini?" Alex memegang pistol tersebut dan mengangkat di depan wajahnya. "Ini untuk membunuh lawan-lawanku, jika sebuah pisau tidak mampu membunuhnya, maka pistol ini yang akan bicara" ucapnya.
"Gila kamu!" seru Barata.
Alex semakin terbahak, dia kembali meletakkan pistol tersebut ke meja.
"Jangan mencariku setelah ini, jika ada berita tentangku juga jangan kaget, tapi aku yakin aku tidak akan tertangkap oleh siapapun" ocehnya.
Barata merangsek, tangannya meraih benda tersebut, dia berhasil meraihnya, dia mencoba agar Alex tidak menggunakannya. Alex yang menyadari usaha Barata pun langsung berusaha merebut benda tersebut, terjadi;lah tarik menarik di antara keduanya.
__ADS_1
Saga dan sekertaris Li masih memantau dari dalam mobil, dan Saga memejamkan mata menahan rasa terkejutnya saat sebuah suara keras terdengar. Sebuah letupan, hanya sekali namun terengar keras dan jelas. Senjata api. Diikuti oleh teriakan seorang wanita.