
Saga turun dari mobilnya, tak lupa dia memakai topi warna hitam dan juga masker agar tidak dikenali oleh banyak orang. Ini adalah pertama kalinya dia berada di tempat umum benar-benar tanpa pengawalan semenjak akan segera menjadi pimpinan Arjuna Group. Tanpa menunggu aba-aba, Ganis membuka pintu mobil dan keluar dari mobil tersebut. Ganis menatap heran di area sekitar, lumayan rame.
Tempat tersebut berbentuk sebuah joglo dengan pelataran terbuka yang luas, terdapat meja dan kursi untuk tamu, selain itu juga ada tempat lesehan bagi yang ingin duduk di lesehan. Tulisan “Mie Nyemek Joglo” terpampang di depan joglo tersebut. Tempat itu dipenuhi dengan lampu gantung yang menambah keindahan tempat tersebut, terlebih saat malam hari. Tempat ini juga rame didatangi oleh para pelanggan, dan didominasi oleh para anak muda.
Ganis mengikuti langkah Saga, laki-laki itu memilih tempat lesehan. Tanpa ragu, dia duduk di karpet warna hijau dengan meja pendek. Ganis duduk di depan Saga, hanya dipisahkan oleh meja pendek tersebut. Belum ada kata yang keluar darinya, hanya saja dia heran mengapa Saga mengajaknya ke tempat seperti ini. Yang dia tahu, mungkin ini pertama kalinya Saga berada di tempat makan yang terbuka.
“Mau pesen apa kak?” seorang pelayan perempuan dengan ramah menghampiri meja mereka. Saga meminta lembaran menu kepada pelayan itu.
“Sini mbak daftar menunya, saya pilih-pilih dulu”
“Baik ini kak” pelayan perempuan itu dengan ramah memberikan daftar menu untuk Saga. Saga melihat-lihat menu yang tertera di situ. Hampir semua menu berkaitan dengan aneka olahan mie. Beberapa saat Saga membaca, dan akhirnya menentukan pilihan mie yang ingin dia makan. Saga menyerahkan daftar menu untuk Ganis, dari tadi gadis itu masih terdiam. Diliriknya sejenak, nampaknya hatinya memang sangat sedih, matanya juga masih sembab.
“Pilihlah menu kesukaanmu, kamu harus makan, nanti kamu pingsan, kan nggak lucu kalau kamu tiba-tiba pingsan di sini” Saga mengetuk-ngetuk tangannya di atas meja di depannya. Ganis meraih daftar menu makanan, berbagai olahan mie yang nampak sangat lezat dan menggugah seleranya. Dia tidak tahu mengapa Saga membawanya
kesini, apakah sekedar ingin makan atau memang ingin menghiburnya. Apakah mie instan tempo hari itu sudah menjadi candu?. Dia ingin tersenyum, tapi urung.
“Pilihlah sesukamu, kalau perlu beli semuanya agar kamu kenyang dan senang, aku tidak mau kalau sepulang dari sini kamu memporak-porandakan kamarku lagi dengan tisu-tisu” ejeknya. Ganis menatap Saga yang memberikannya sindiran yang menohok.
Ganis menulis menu yang dia inginkan di lembaran daftar pesanan, dia memilih mie nyemek spesial, sama dengan yang Saga pilih. Ganis berdiri untuk memberikan daftar pesanan kepada pelayan. Namun Saga dengan cekatan mengambil kertas tersebut dari tangan Ganis, kemudian dia berlalu menuju meja pesanan tanpa mengatakan apapun. Ganis kembali duduk bersila seperti semula.
Terdengar sayup-sayup suara petikan gitar, nampaknya live musik akan segera dimulai, Ganis memperhatikan arah sumber petikan gitar, berada tidak jauh dari tempatnya duduk. Dilihatnya pula pembawa gitar dan penyanyi, Ganis menutup mulutnya, ternyata mereka adalah youtuber yang sudah lumayan terkenal dengan karyanya. Ganis tersenyum tipis, antara percaya dan tidak dengan apa yang dilihatnya.
“Aku terlihat norak” gumamnya.
Saga telah kembali setelah mengembalikan daftar pesanan kepada pelayan, dia kembali duduk di depan Ganis. Sesaat dia melirik ke arah Ganis yang tersenyum menatap live musik.
“Kenapa senyum-senyum?” tanya Saga, pandangannya ikut memperhatikan apa yang dilihat Ganis.
“Itu, mereka youtuber yang aku sukai” Ganis menunjuk ke arah mereka.
__ADS_1
Saga mengangkat kedua alisnya, dia sama sekali tidak kenal dengan mereka berdua, tapi dia mengangguk saja, agak lega melihat Ganis mulai tersenyum.
"Sini HP kamu" Saga mengulurkan tangan kanannya, meminta HP.
"Untuk apa Tuan?"
"Sini"
Ganis membuka tasnya dan memberikan HPnya pada Saga. Saga membuka layar HP dan menambahkan nomernya. Setelah nomernya tersimpan, dia lalu memencet nomer tersebut sehingga HPnya berdering. Jemarinya dengan cepat menyimpan nomer tersebut dengan nama "pecinta mie".
"Ini" Saga mengembalikan HP milik Ganis.
Tidak lama kemudian, mie pesanan mereka diantarkan oleh pelayan, kali ini diantar oleh pelayan laki-laki, lagu pun mulai terdengar mengiringi mereka menikmati makan malamnya. Ganis menggulung mie dengan garpu, dan menyuapkannya perlahan di mulutnya.
Mungkin hari ini…hari esok atau nanti…
Berjuta memori…yang terpatri dalam hati ini….
Mungkin hari ini…hari esok atau nanti…
Terdengar syair dari suara merdu dari live musik tersebut, Ganis berhenti menggulung mie, tangannya meletakkan garpu perlahan, ingatannya kembali pada kejadian hari ini, matanya mulai berkaca-kaca. Saga memperhatikan gadis itu, lalu pandangannya beralih ke penyanyi yang sedang mendendangkan lagu tersebut.
“Kenapa lagi?” tanya Saga. Ganis terdiam, dia sedang menahan air matanya. Saga meletakkan garpunya di piring, memakai maskernya kembali lalu berdiri. Ganis spontan melihat Saga dengan muka kesal menuju ke arah penyanyi.
Mau apa dia? Kumohon jangan buat ulah.Batin Ganis, dia menyeka air mata yang mulai meleleh, kemudian berusaha menahan lelehan air mata selanjutnya. Dia hanya terhanyut dengan lagu itu. Ganis memperhatikan Saga dari jauh, dia Sudah bisa mengontrol air mata dan juga emosinya. Terlihat Saga tengah menginterupsi penyanyi tersebut dan menghentikannya, lalu terlihat dia membisikkan sesuatu di gitaris dan penyanyi tersebut. Gitaris nampak mengangguk paham, begitu juga dengan penyanyi wana berambut panjang itu.
“Apa yang dia lakukan?” pekik Ganis lirih.
Saga melangkah kembali ke mejanya, dengan muka tanpa bersalah dia membuka maskernya dan kembali melanjutkan makan. Ganis menatap Saga penuh heran, namun Saga diam saja. Mulai terdengar nyanyian lagi, kali ini mereka membawakan lagu-lagu yang bernuansa Bahagia. Ganis menyunggingkan senyum tipis, dia tahu apa yang baru saja dilakukan oleh Saga.
__ADS_1
“Kalau mau nyanyi sana gih maju, sekalian nangis juga boleh, biar plong” ujar Saga.
“Terima kasih, tapi aku tidak mau mempermalukan diriku Tuan” jawab Ganis datar. Bukannya dia takut malu karena dia menangis karena menyanyi, tapi dia akan malu kalau orang banyak tahu suaranya cempreng seperti kaleng rombeng, mereka pasti akan kabur meninggalkan tempat makan ini.
“Dasar cemen kamu, gitu aja nangis” ejek Saga, mie yang ada di piringnya sudah habis, jus yang ada di gelasnya juga sudah habis.
Ganis menatap tajam, “Nah Tuan sendiri juga pas patah hati juga seperti itu” bisiknya.
“Apa? Kamu bilang apa?”
“Tidak Tuan, aku nggak bilang apa-apa” elak Ganis. Kini dia tahu bagaimana rasanya patah hati, bagaimana sakitnya saat harus berpisah dari orang yang benar-benar dia harapkan dalam hidup. Kini perasaan itu masih terasa berat. Begitu juga mungkin yang dirasakan Saga tempo hari saat harus ditinggalkan oleh Anaya tanpa sebab. Lalu apa kabar hatinya kini? Apakah hatinya sudah sembuh dari luka itu?.
“Kamu jangan cengeng, kamu menakutkan kalau sedang menangis, lebih menyeramkan dari hantu” ejeknya lagi, Ganis memonyongkan bibirnya, tak terima Saga mengatakan demikian.
“Ya kan biar lega kalau nangis” Ganis menjawab.
“Ya sudah lah terserah kamu saja”
Musik masih mengalun dengan lagu-lagu yang Bahagia, sejenak Ganis benar-benar terlupakan dengan hari ini dan menikmati suara merdu sang penyanyi dan petikan gitar pengiringnya. Saga, you're hero today....
Jangan lupa like, rate, dan vote ya....
bantu author agar lebih bersemangat menulis.
__ADS_1
jika episode ini tembus 10 like aja hari ini, besok aku akan update 2 episode sekaligus. terima kasih, happy reading ^^