
Setelah mendapatkan penjelasan panjang lebar dari Saga tentang penangkapan Anaya, Ganis hanya bisa menghela nafas panjang, di satu sisi tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Anaya. Di satu sisi dia kasihan dengan sikap yang dilakukan Anaya hingga menggiring Anaya masuk penjara.
“Kamu jangan merasa bersalah, karena bukan kamu yang menyebabkan dia menjadi monster yang menakutkan” Saga membentengi Ganis, dia mengetahui bagaimana sifat istrinya, mudah menyalahkan dirinya sendiri. Ganis mengangguk.
“Tapi bagaimana bisa Nona bersikap sejahat itu?” Ganis bertanya dengan suara lirih.
“Bagaimana bisa dia menyiapkan kamu menjadi penggantinya di malam sebelum pernikahan aku dan dia, jika dari awal dia menjadi orang yang bisa merencanakan sesuatu sebaik mungkin, bukan tidak mungkin dia benar-benar merencanakan memusnahkan kamu dari dunia ini” penjelasan Saga membuat Ganis bergidik.
Ganis menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, Saga melihat Ganis.
“Aku akan melindungi kamu” ujarnya. Ganis tersenyum ke arah Saga.
“Lalu bagaimana dengan orang-orang suruhan Nona?”
“Mereka juga sudah ditangkap sama pihak polisi, malah mereka dahulu yang ditangkap, baru Anaya”
Ganis mengangguk.
“Sudahlah, mulai sekarang jangan pikirkan masalah ini lagi”
“Iya Mas”
Setelah sarapan pagi, Saga berangkat ke kantor. Hari ini ada meeting penting dengan beberapa klien. Ganis mengantar Saga hingga teras, tidak lupa mencium punggung tangan Saga, melihat hingga mobil yang membawa Saga menghilang dari balik pagar besi itu.
Ganis melambaikan tangan, dia membalikkan diri untuk kembali masuk ke dalam rumah. Dini sudah berpakaian rapi bersiap pergi.
“Mbak Dini mau kemana?” tanya Ganis menghentikan langkahnya.
“Mau ke pasar Nona, lalu setelahnya mau ke supermarket membeli perlengkapan dapur dan lainnya, sudah mulai habis” ujar Dini.
“Aku ikut” seru Ganis bersemangat.
“Ehm” Dini sedikit ragu, meskipun sebenarnya Ganis rajin ikut belanja ke supermarket.
“Tunggu sebentar ya mbak, aku ambil tas dulu” Ganis berjalan dengan cepat meninggalkan Dini menuju kamar lantai 2. Dini tersenyum, dia berjalan ke depan menunggu Ganis.
Mobil yang membawa mereka telah melaju, Isnan mengantar kepergian mereka.
“Nona…nanti Nona tidak usah ikut, saya mau beli ikan di pasar, nanti takut Nona kotor” Dini khawatir.
“Eh tidak apa-apa mbak Din, aku sudah biasa, tidak usah khawatir” Ganis tersenyum, bagaimana bisa Dini memikirkan hal seperti itu. “Dari dulu, aku tidak pernah mempermasalahkan sebuah tempat mbak, malah menyenangkan bisa melihat pasar ikan secara langsung”
__ADS_1
“Baik Nona”
“Sekalian aku akan memilih ikan kesukaan Mas Saga”
“Iya Nona”
Meskipun masih pagi, namun jalan raya sudah mulai macet, bersamaan dengan anak-anak berangkat ke sekolah, bersamaan dengan orang-orang yang akan berangkat bekerja. Mobil yang dikemudikan Isnan melambat.
“Nona…saya tahu beritanya, bahwa semua adalah ulah Nona Anaya yang jahat” ujar Dini, Ganis yang semula melihat keluar jendela, menoleh ke arah Dini.
“Iya Mbak Din” jawab Ganis singkat.
“Untung saja Tuan Saga tidak jadi menikah dengannya” celosnya. “Eh maaf Nona, saya keceplosan" Dini menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
“Tidak apa mbak Din, itu masa lalu. Kita tidak pernah tahu apa yang digariskan untuk kita kan?”
“Iya Nona, betul sekali, bahkan kehadiran Nona Ganis yang baik hati juga tidak pernah aku sangka sebelumnya” puji Dini.
“Ah Mbak Dini ada-ada saja”
“Betul Nona…” ujarnya tertawa kecil. “Saya benar-benar bersyukur akhirnya Nona Anaya kena batunya” Dini meremas kedua tangannya mengekspresikan kekesalannya.
“Sudah…kita doakan saja yang terbaik mbak”
“Iya Nona”
Semua barang telah dimasukkan ke dalam mobil oleh Isnan, hari hampir siang saat mereka akan kembali ke rumah.
“Itu dia” bisik beberapa orang yang ada di sekitar area parkir supermarket. Ganis tidak menyadari keberadaan mereka.
“Benar kan itu Nona Ganis?” bisik orang yang lain.
“Iya, saya sudah mengintai dari rumahnya tadi, kita akan mendapatkan berita mengenai dirinya dan Nona Anaya, kalau tidak di sini kita tidak bisa wawancara nanti” imbuh salah seorang yang lain, mereka adalah wartawan yang sedang mencari berita yang berkaitan dengan kasus yang sedang ramai saat ini, yaitu penangkapan Anaya.
“Sudah siap semua mbak Din?” tanya Ganis bersiap masuk ke dalam mobil.
“Siap Nona” jawab Dini.
“Ok kita pulang”
Sebelum Ganis masuk ke dalam mobil, beberapa orang wartawan mendekati Ganis secara bersamaan.
__ADS_1
“Eh apa ini Nona?” tanya Dini bingung, dia memperhatikan orang yang sedang berkerumun di sekitar mereka. Ada kamera juga, dan beberapa hal yang berkaitan dengan media pemberitaan. “Apakah mereka wartawan?” bisik Dini.
“Iya” balas Ganis tak kalah berbisik, sementara Isnan sudah berada di bangku kemudi. Dia membuka pintu mobil dan segera ingin meminta Ganis dan Dini masuk mobil segera.
“Nona Ganis, tolong berikan pernyataan mengenai tertangkapnya Nona Anaya” ujar salah seorang wartawan laki-laki. Ganis terdiam, memperhatikan sorot kamera yang tepat berada di depannya.
“Apakah benar berita yang beredar itu Nona?” cecar lainnya. Belum juga Ganis memjawab pertanyaan pertama, pertanyaan lanjutan sudah bergulir tanpa permisi.
“Iya Nona, apakah benar jika keberadaan Nona Ganis dalam kehidupan Tuan Saga itu memang sebuah konspirasi?” ujar wartawan lainnya.
Ganis diam seribu Bahasa, pertanyaan yang seolah menyudutkannya. Dini mencoba menarik Ganis dari kerumunan, namun hampir semua menutup akses jalan mereka, mereka masih setia menunggu Ganis buka suara.
“Kami juga mendengar jika Nona sengaja melakukannya untuk menjadi istri Tuan Muda Saga dan menyingkirkan Nona Anaya? Sehingga menyebabkan dendam terhadap Anda Nona?” pertanyaan semakin memanas.
“Maaf, saya tidak akan komentar apapun dengan pertanyaan Anda semua, terima kasih” ujar Ganis tegas, sambil mencoba menerobos kerumunan.
“Berikan komentar anda perihal penangkapan mantan Bos Anda Nona” seru lainnya.
“Tidak ada komentar, silahkan menunggu rilis dari kepolisian hal yang sebenarnya terjadi, maaf cukup!” Ganis menangkupkan kedua tangannya.
Tidak ada jawaban yang mereka dapatkan dari Ganis, mereka memberikan jalan ketika Ganis dan Dini yang dibantu Isnan menuju mobil untuk pulang.
Ganis menghela nafas saat dia sudah berada di dalam mobil. Dini mengambilkan sebotol air mineral dan memberikannya pada Ganis, Ganis membuka tutup botol, lalu meneguk air.
“Bisa-bisanya mereka mengejar Nona? Dan pertanyaannya itu loh seakan menyudutkan Nona” gumam Dini.
“Huuuh….” Ganis menutup botol air mineral dan meletakkan di sampingnya.
“Jahat sekali, darimana berita seperti itu?” desah Dini.
“Entahlah Mbak, aku kaget tadi saat tiba-tiba diserbu dengan pertanyaan seperti itu”
“Harusnya Nona menanggapinya”
“Jangan dulu mbak Din, biarkan polisi yang melakukan tugasnya, aku tidak mau memperkeruh suasana” ujar Ganis bijak.
“Benar juga ya Nona” Dini mengangguk, apa yang dikatakan Ganis benar adanya, dia terlalu tergesa dan tidak berpikiran panjang seperti Ganis.
“Benar Din, jangan sampai melah memperkeruh suasana nanti” imbuh Isnan yang ikut berkomentar. “Maaf Nona, saya ikut berkomentar”
“Tidak apa-apa” ujar Ganis.
__ADS_1
Ganis tidak menyangka sama sekali jika ada wartawan yang akan mengejarnya, bahkan dengan santainya dia keluar seperti biasanya. Agaknya dia sedikit lupa jika Anaya dan dia ada hubungan yang membuat para wartawan tertarik untuk mengorek informasi darinya. Tapi ada satu hal yang mengusik hatinya, mengapa mereka menganggap jika ini adalah konspirasi? Dan menganggap bahwa Ganis lah yang merencanakan.