Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 50 : Candu


__ADS_3

Tidak ada lagi sofa dan ranjang, sejak kepulangannya dari acara gathering perusahaan. Saga dengan tegas meminta Ganis untuk tidur satu ranjang dengannya, titik!. Meskipun Ganis merasa hal itu aneh, tapi dia menurut.


“Iya Tuan”


“Haruskah kamu memanggil suamimu dengan panggilan itu?” Saga mengomel menatap Ganis gemas. Ganis tersenyum kikuk.


“Aku sudah terbiasa dengan panggilan itu” Ganis manyun, ditatapnya lelaki yang ada di depannya itu, sedang memintanya membenahi dasi.


“Tidak enak rasanya didengar di telinga” Saga masih saja protes. Sejak kapan dia merasa tidak enak dengan panggilan itu? Ganis sudah menggunakan panggilan itu sedari lama, kecuali kalau di depan Tuan Candra dan Nyonya Rima.


“Minta dipanggil apa Tuan? Hehm?” Ganis menggodanya. Saga nampak berpikir, dia bukanlah laki-laki romantis yang bisa menciptakan panggilan mesra untuk pasangannya. “Sayang? Cinta? Baby? Honey?” Ganis menyebutkan satu per satu.


Saga menggeleng, “Terlalu bucin” ujarnya.


“Nah kan!” Ganis mengangkat telunjuknya. “Memang iya” lalu dia tertawa. “Panggilan Tuan lebih cocok”


“Tidak mau!” Saga berteriak.


“Ya sudah, Mas saja ya, lebih ehm…lebih cocok untuk anda ya Tuan yang kaku speerti kanebo” Ganis cekikikan.


“Kamu!”


“Sudah selesai dasinya Tu…eh Mas, ini sudah siang, jangan sampai terlambat ke kantor” Ganis mengingatkan. Saga memperhatikan dirinya di depan cermin, Ganis memang melayaninya dengan baik. Bahkan hal sepele pun sangat diperhatikan dengan seksama.


“Ayo kita turun sarapan” ajak Saga, Ganis mengangguk, membuntuti Saga.


Seperti biasa, mereka makan di ruang makan. Ganis mengambilkan sarapan untuk Saga, sedangkan Nyonya Rima mengambilkan untuk Tuan Candra.


“Bagaimana acara kemarin?” tanya Tuan Candra di sela sarapannya.


“Baik Pa, semua berjalan dengan lancar”


“Nampaknya semua membahagiakan, wajahmu nampak berseri-seri” imbuh Tuan Candra. Saga menengok ke arah Ganis, Ganis pura-pura tidak melihatnya. Nyonya Rima ikut tersenyum.


“Iya Pa, berbeda, nampak berseri, jangan-jangan sebentar lagi kita akan punya cucu” Nyonya Rima tersenyum kecil. Saga tersenyum penuh arti, sementara Ganis menahan perasaannya.


“Tinggal bilang, Mama dan Papa ingin cucu berapa?” Saga menimpali dengan candaannya. Ganis menyenggol lengan Saga.


“Kenapa sayang?” kamu sudah siap dengan calon cucu keluarga Candra? Heum?” Saga menoleh ke arah Ganis, menggoda gadis sebelahnya adalah salah satu hal yang menarik, pipi Ganis bersemu merah. Membayangkannya saja sudah geli, apalagi Saga memanggilnya sayang. Tadi di kamar dia sendiri yang bilang panggilan itu adalah bucin, tapi kenapa dia melakukannya.


“Bagaimana?” tanya Tuan Candra, tentu saja pertanyaan itu ditujukan untuk Ganis.


“Eum…”


“Ah sudah-sudah, sudah siang, aku berangkat ke kantor dulu, jadi tolong ya semuanya, jangan ganggu istriku yang sedang ngidam” Saga meneguk air lalu berdiri.

__ADS_1


“Maaas” Ganis memekik pelan. Tangannya memukul lengan saga pelan. Nyonya Rima dan Tuan Saga melihat mereka lalu tertawa. Ganis mengikuti Saga sampai di teras.


Mobil hitam sudah siap membawa Saga ke kantor, Ganis melambaikan tangan ke arah mobil hingga mobil itu berjalan menuju gerbang yang kokoh itu. Ganis membalik badannya dan bersiap masuk ke dalam rumah, tapi mobil itu kembali lagi menuju halaman tempat mobil semula. Ganis berhenti melangkah dan membalik badannya.


Saga turun dari mobilnya.


“Apa ada yang tertinggal?” Ganis bersiap untuk mengambilkan barang Saga yang tertinggal.


“Ada”


“Apa itu? Biar aku ambilkan”


Saga memegang dada sebelah kiri dengan telapak tangan kanannya. Ganis memperhatikan dengan seksama.


"Jantung hatiku ketinggalan di sini" ujarnya, Ganis menatapnya tidak percaya, bagaimana bisa manusia itu bisa mengeluarkan gombalan seperti itu. Ganis tersenyum, lalu diikuti tawa. Saga menatapnya sebal.


Saga mengangkat tangan kanannya, tepat berada di depan wajah Ganis”


“Eum?” Ganis memiringkan kepalanya.


“Kamu kan istriku, jadi cepatlah cium tanganku” Saga gemas melihat Ganis tidak segera melakukannya karena masih belum bisa menangkap apa yang dia inginkan.


“Oh” Ganis meraih tangan Saga, menjabat, dan mencium punggung tangannya. Terasa aneh, karena ini baru pertama kalinya. Saga tersenyum girang.


“Nah, begitulah kalau jadi istri, jangan lupa ya. Baik-baik di rumah, jangan nakal dan tunggulah suamimu ini pulang” ujarnya sambil mengedipkan mata.


Saga mendekati Ganis, dan berbisik di telinganya.


“Tunggulah aku malam nanti” Saga tersenyum penuh arti, Ganis melotot melihat Saga yang nampak menakutkan baginya.


Apa yang dia pikirikan? Jangan-jangan…. Ganis bergidik, jangan-jangan Saga menginginkan dirinya.


“Jang….” Belum sempat dia mengatakannya, mobil yang ditumpangi Saga sudah berlalu meninggalkan halaman rumah. “Aisshh”.


            Saat Ganis baru saja melangkahkan kakinya beberapa langkah ke dalam, Nyonya Rima mendekatinya.


“Ada yang jatuh cinta rupanya” Nyonya Rima menggoda.


“Mama” Ganis bersemu.


“Ada cerita kah tentang gathering?” Nyonya Rima duduk di teras depan, Ganis mengikutinya. Ganis tersenyum penuh arti.


“Jadi kalian benar-benar jatuh cinta?” Nyonya Rima memelankan suaranya, takut jika Tuan Candra akan mendengarnya. Ganis tidak menjawab langsung, dia hanya tersenyum penuh arti. Nyonya Rima sudah bisa mengartikan apa yang ada di wajah Ganis.


“Hah…akhirnya, apa yang aku harapkan terwujud, entah mengapa, lega rasanya, setalah kejadian itu, tetaplah bersamanya, dan saling menjagalah satu sama lain” ujar Nyonya Rima memegang tangan Ganis erat.

__ADS_1


“Terima kasih Ma atas semuanya, peneriamaan Mama yang luar biasa untukku”


“Sudah sepantasnya Ganis, Mama yang berterima kasih kamu sudah bersikap baik sekali kepada Saga yang kaku itu” Nyonya Rima terkekeh.


“Sama-sama Ma” Ganis merasa sangat bahagia di tengah keluarga yang benar-benar baik ini.


            Ganis menata seprei ranjangnya, menggantinya dengan yang baru. Dini membantunya.


“Biar saya saja Nona” Dini meminta, tapi Ganis tidak mau.


“Nggak apa-apa mbak, aku yang nggak enak jika hanya melihat saja”


“Ini memang pekerjaan saya Nona”


“Sama, ini juga pekerjaan seorang istri” Ganis masih kekeh. Terdengar suara nyaring dari HPnya. Ganis menghentikan menatapa seprei, kesempatan bagi Dini untuk menyelesaikannya. Ganis menuju meja tempat di mana HPnya berada.


Suamiku tercinta calling


Ganis meringis membaca tulisan kontak di layar HPnya.


“Sejak kapan dia menulis ini?” Ganis tidak segera menggeser tombol hijau di HPnya. Hingga panggilan terhenti, Ganis masih geli dengan tulisan yang dibacanya. Tak lama kemudian HP kembali berdering. Ganis menggeser tombol hijau.


“Ha…”


“Kenapa lama sekali mengangkat telepon? Kamu lagi apa?” tanya Saga tanpa memberikan celah Ganis walau hanya mnegucapkan kata halo.


“Ehm…aku lagi benerin seprei mas” jawab Ganis lalu melirik Dini yang ternyata sudah menyelesaikan tugasnya.


“Maaf Nona, saya permisi keluar” Dini membawa seprei yang kotor keluar.


“Terima kasih mbak Din” shaut Ganis.


“Sama-sama Nona”


“Ha..ha..ha…jadi kamu sudah mulai menyiapkan untuk nanti malam?” Saga menggoda, dia sedang tertawa di sana.


“Sejak kapan nama di kontak menjadi begini?” Ganis protes.


“Mana pantas kamu memberikan nama Tuan Kulkas untuk kontak suami kamu ini?” Saga balik protes, Ganis terdiam, dia memang menamai kontak Saga dengan nama “Tuan Kulkas”


“Dasar, jadilah istri yang baik untuk suamimu yang tampan ini” Saga menggoda.


“Kenapa kamu aneh sekali, menakutkan” Ganis membuang nafas.


“Ok, aku hanya ingin sekedar mendengar suaramu, aku kerja dulu ya” Saga menutup teleponnya tanpa aba-aba. Ganis menjauhkan HP dari telinganya, wajahnya sebal, dia menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Benar-benar menakutkan” Ganis meletakkan kembali HPnya di meja samping ranjang, lalu merebahkan tubuhnya dia atas ranjang yang sudah berganti seperi. Terasa sangat nyaman.


Hari senin.... saatnya vote rekomendasi, Author sangat berterima kasih kepada teman-teman readers yang sudah memberikan vote rekomendasi untu cerita ini. Terima kasih banyak..... 


__ADS_2