Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 100


__ADS_3

Tiba tiba saja penglihatan Hanum kian merabun, hingga pada akhirnya Hanum memejamkan matanya.


Seseorang yang membius Hanum lekas membawa tubuh Hanum masuk kedalam mobil, entah karena keberuntungan sedang berpihak kepadanya atau apa karena keadaan disekelilingnya benar benar sepi dan ia dapat memastikan jika tidak ada satu orang pun yang melihatnya.


.......


Tok....tok....tok...disaat tengah sibuk mengerjakan bertumpuk tumpuk berkas yang ada di depannya, tiba tiba saja seseorang mengetuk pintu ruangan Anton. Ada orang yang mengaggu pekerjaannya membuat Anton harus menghela nafas panjang, jangan sampai paginya hancur gara gara hal sepele seperti ini.


"Masuk." ucap Anton mempersilahkan.


Ceklek....oh, rupanya asistennya lah yang masuk.


"Ada apa?" tanya Anton datar.


"Ini pak, ada kiriman untuk Bapak." jawab asisten Anton.


"Kiriman?" tanya Anton heran.


"Untuk saya?" tanyanya lagi sembari menunjuk dirinya sendiri.


"Benar pak." jawab asisten Anton yang kemudian langsung menyodorkan sesuatu yang dibawanya, Anton pun menerima sodoran barang tersebut meskipun dengan raut wajah yang heran sekaligus bingung.


"Oke, kamu bisa keluar." ucap Anton dengan tatapan mata yang masih fokus menatap sebuah map yang sudah berpindah ketangannya ini.


"Baik Pak, kalau begitu saya permisi dulu." ucap asisten Anton pamit undur diri sembari membungkukkan sedikit badannya.


Bahkan Anton sendiri sama sekali tak menyadari dengan kepergian asistennya tersebut sampai akhirnya ia mendengar suara pintu yang ditutup.


Sreeeekkkk....tanpa menunggu lama lagi Anton pun langsung merobek pinggiran map berwarna cokelat tersebut dan dengan tak sabaran langsung mengambil isi didalamnya.


Foto?


Mata Anton seketika langsung melebar melihat foto pertama ditangannya tersebut.


Deggg...


"Siapa yang mengirimkan ini?" batin Anton dengan nafas yang sudah mulai naik turun sembari menatap dengan intens foto didepannya ini, ia juga melihat beberapa lembar foto lainnya.


"****." umpat Anton.


"Brengsekkk!" umpatnya.

__ADS_1


Srek....srekk....srekkkk...Anton langsung merobek semua foto tersebut dengan brutal seakan akan hendak melampiaskan semua kekesalannya.


Brakkkk.....Anton langsung berdiri dan menggebrek meja dengan keras.


"Aaaaaa...sialannn....brengsekkk!" maki Anton dengan keras.


"Hah...hah...hah...hah." terdengar suara dari nafas Anton yang tampak memburu.


Ceklekkk...tiba tiba saja pintu ruangan Anton terbuka kembali membuat Anton yang posisinya tadi membelakangi pintu langsung memutar tubuhnya menghadap orang tersebut dengan rahang yang tampak mengeras seakan akan ingin menelan hidup hidup orang lancang tersebut.


"Lancang sekali kamu!" bentak Anton langsung menghardik asistennya tersebut.


"Maaf Pak, tapi saya tadi sudah mengetuk pintu ruangan Bapak tapi Bapak tidak menjawabnya.


"Dan saya malah mendengar suara teriakan Bapak dan saya takut terjadi apa apa sama Bapak, jadi saya langsung masuk Pak." jawab Asisten Anton tersebut dengan wajah terdunduk menahan rasa takutnya terhadap Bossnya yang sedang dalam mode galak tersebut.


Mendengan jawaban dari Asistennya tersebut membuat Anton langsung membuang pandangannya ke arah lain, mencoba mengatur nafasnya yang telah amburadul agar kembali stabil seperti semula.


Hening.....


"Ada apa?" tanya Anton yang telah berhasil mengendalikan emosinya.


"Saya hanya mau menyampaikan jika sebentar lagi kita akan berangkat untuk menghadiri rapat dengan perusahaan Mitra." jawab Asisten tersebut memberanikan diri.


Seketika Anton langsung teringat sesuatu yang ingin diketahuinya.


"Em tunggu." ucap Anton yang menghentikan langkah Asistennya yang hendak berbalik arah, mungkin karena Anton terlalu lama menjawab hingga asistennya tersebut menganggap jika pembicaraan mereka telah berakhir.


"Iya pak?" tanya Asisten tersebut yang baru saja memutar tubuhnya menghadap Bossnya kembali.


"Tentang kiriman tadi? emt siapa yang datang memberikannya?" tanya Anton.


"Oh kiriman tadi diantarkan kurir Pak." jawab Asisten tersebut.


"Kurir?" tanya Anton yang tampak heran.


"Benar Pak." jawab Asisten tersebut.


"Maaf Pak, apa ada yang salah dengan isi kirimannya?" tanya asisten tersebut yang mengira jika kiriman yang tadi datang mungkin tidak sesuai dengan apa yang dipesan oleh Bossnya tersebut.


"Aaa tidak tidak, kalau begitu kamu bisa keluar." ucap Anton yang langsung mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Sebentar lagi saya sudah siap." ucao Anton lagi.


"Baik Pak, kalau begitu saya pamit undur diri dulu Pak." ucap asistennya yang hanya dihawabi dengan anggukan kepala samar oleh Anton.


Aaaaaaaaaaaa......


..........


"Permisi Mbak." sapa Pak Tyo pada Mbak Susi yang memang sudah kerap ia temui saat ia datang kesini bersama Retha.


"Eh Pak Tyo." sambut Mbak Susi dengan senyuman sumringahnya.


"Rethanya mana Pak?" tanya Mbak Susi yang tampak celingak celinguk mencari keberadaan anak kecil yang kerap datang untuk menemui rekan kerjanya tersebut.


"Oh Retha? Retha hari ini nggak ikut Mbak soalnya kan masih sekolah." jawab Pak Tyo sembari tersenyum dipaksakan.


"Oh iya iya, maaf saya lupa pak." jawab Mbak Susi sembari menggaruk garuk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya tak gatal tersebut, apak Tyo hanya menanggapi dengan anggukan kepala kecil.


"Oh ya, saya kesini mau bertemu dengan Hanum. Tapi Hanum dimana yah?" tanya Pak Tyo yang sebenarnya sedari tadi celingak celinguk mencari keberadaan Hanum namun ia tidak menemukannya, makanya ia memutuskan untuk menanyakannya pada Mbak Susi tersebut.


"Ah kemarin kan Hanum sakit, mungkin hari ini dia belum masuk kerja Pak. Mungkin kondisinya belum benar benar pulih." jawab Mbak Susi yang merasa yakin.


Sebenarnya Pak Tyo tanpak heran karena kemarin ia telah memberikan obat penurun panas untuk Hanum yang seharusnya kondisi Hanum sekarang sudah lebih baik, tapi kenapa Hanum belum masuk kerja apakah dia masih sakit?


"Oh gitu, kalau begitu saya permisi dulu Mbak." ucap Pak Tyo yang tanpa menunggu jawaban dari Mbak Susi langsung pergi begitu saja.


"Eh eh eh malah pergi gitu aja." heran Mbak Susi geleng geleng kepala sembari menatap punggung Pak Tyo yang kian menjauh.


"Jangan jangan dia juga suka lagi sama Hanum?" gumam Mbak Susi yang kembali menggeleng gelengkan kepalanya tak habis pikir.


Dengan penuh rasa kekhawatirannya Pak Tyo langsung berlari menuju mobilnya.


Brakkk


Pak Tyo langsung menginjak pedal gassnya dan mulai membelah jalanan ibu kota, untung saja kondisi jalanan tak terlalu ramai karena memang bukan jam jam padat.


Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan kencang dan dengan lihaynya ia juga menyalip dan menikung mobil mobil didepannya yang mengganggu perjalanannya. Hingga sekitar 30 menitan kemudian akhirnya Pak Tyo sampai juga di kos kosan tempat Hanum tinggal, tanpa menunggu lama lagi Pak Tyo pun langsung bergegas turun dari mobil dan berlari menuju kos kosannya Hanum.


Namun, langkah kakinya harus terhenti ketika...


~ Kita dilahirkan untuk menjadi nyata, bukan untuk menjadi sempurna~

__ADS_1


^Min Yoongi^


__ADS_2