
Adnan membuka matanya perlahan, sontak ia langsung terkejut ketika menyadari bahwa kini ia masih berada dirumah sakit. Bahkan dalam posisi tertidur disamping ranjang Vanessa.
"Kamu sudah bangun Mas?" tanya Vanessa menyambut pagi Adnan, tanpa menjawab Adnan pun langsung meregangkan ototnya supaya tidak tegang akibat posisi tidurnya semalam yang kurang nyaman hingga tak sengaja netranya menangkap sosok Mamanya yang sedang duduk di sofa tengah mengupas buah.
"Mama?" pekik Adnan yang terkejut, Bu Dian pun langsung menoleh kearah Adnan memberikan senyum manisnya.
"Mama sejak kapan disini?" tanya Adnan sembari beranjak berdiri dari posisi duduknya.
"Sekitar 1 jam yang lalu." jawab Bu Dian santai.
"Kenapa nggak bangunin aku sih ma." kesal Adnan.
"Mama kasihan soalnya kamu kelihatan cape banget." jawab Bu Dian dengan santainya tanpa merasa bersalah sedikit pun, dari pada nanti malah membuat emosi Adnan lebih memilih langsung pulang saja.
"Aku pulang, kasihan Hanum sendirian dirumah." ucap Adnan sembari berjalan keluar dari kamar Vanessa.
"Adnan....Adnan tunggu, Adnan jangan pulang dulu." teriak Bu Dian dari dalam sana, namun Adnan sudah tidak perduli lagi. Baginya jika Mamanya sudah datang maka tugasnya dalam menjaga Vanessa pun sudah selesai.
Didalam kamar rawat inap Vanessa dan Bu Dian hanya memandang kearah pintu yang baru beberapa menit yang lalu dilewati Adnan dengan perasaan kecewa, kecewa karena Adnan pergi meninggalkannya begitu saja tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu kepadanya.
"Seharusnya Mama tidak datang sepagi ini." ucap Bu Dian yang merasa bersalah.
"Tidak apa apa, Makasih Mama sudah datang kesini." sahut Vanessa menimpali.
Adnan pun berjalan cepat keluar, ia hendak mencari taksi yang biasanya berhenti disekitaran rumah sakit ini, namun betapa terkejutnya Adnan saat tak sengaja melihat mobilnya masih terparkir ditempat kemarin ia memarkirkan mobilnya.
"Kok mobilnya ada disana?" gumam Adnan yang merasa heran.
"Apa Hanum baru aja sampai yah?" pikir Adnan yang langsung mampu menerbitkan senyuman dibibir Adnan, tanpa menunggu lama Adnan pun langsung berjalan cepat menuju tempat mobilnya terparkir.
__ADS_1
"Sayang." ucap Adnan sembari membuka pintu mobilnya, namun hanyalah rasa terkejut yang dirasakan Adnan saat melihat mobil tersebut dalam keadaan kosong tanpa ada sosok Hanum.
"Dimana Hanum?" gumam Adnan, hingga tatapan matanya tertuju pada tas selempang yang kemarin dipakai Hanum. Adnan pun langsung masuk kedalam mobil dan meraih tak selempang Hanum. Lagi lagi Adnan hanya bisa dibuat terkejut saat melihat ponsel Hanum juga berada disalam tas tersebut.
"Kenapa ponselnya ada disini?" gumam Adnan sembari tangannya memegang ponsel Hanum.
"Pantas saja telepon dariku tidak diangkat," ucap Adnan saat melihat ada beberapa panggilan tak terjawab di ponsel Hanum.
"Kenapa semuanya masih ada disini? Hanum pulang naik apa?" gumam Adnan, tanpa menunggu lama lagi Adnan pun langsung melajukan mobilnya. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada Hanum seorang, bagaimana bisa ia membiarkan Hanum pulang sendirian?
........
"Ini rumahmu?" tanya Anton pada Hanum saat keduanya kini telah berhenti didepan sebuah rumah yang tak terlalu besar namun terkesan rapi dan sejuk karena ada pohon mangga yang berada didepan rumah samping kanannya.
"Iya, terima kasih." jawab Hanum menganggukkan kepalanya dengan senyuman simpul yang menghiasi bibirnya sembari membuka sealtbeat yang melekat ditubuhnya.
"Kamu tidak ingin menawariku masuk terlebih dahulu?" tanya Anton membuat Hanum seketika menghentikan aktivitasnya.
"Cih...kemarin juga kamu bertamu bahkan hingga larut malam, eh...bukan malam lagi bahkan sampai pagi." cibir Anton, Hanum hanya geleng geleng kepala menimpali.
"Lain kali aku akan mentraktirmu sebagai tanda terima kasihku." ucap Hanum yang hendak turun dari mobil Anton tersebut.
"Oke, aku tunggu." jawab Anton dengan angkuhnya, membuat Hanum hanya bisa tersenyum geli melihat ekspresi wajah Anton tersebut.
Tak berselang lama setelah Hanum turun dari mobil Anton, mobil Anton pun perlahan lahan mulai berjalan menjauh. Hanum pun langsung melangkahkan kakinya masuk kedalam pekarangan rumahnya.
"Mobil Mas Adnan kemana?" gumam Hanum yang melihat tak ada mobil suaminya didalam garasi.
"Apa Mas Adnan belum pulang?" pikir Hanum, tiba tiba saja perasaan sedih pun merasuk kedalam hatinya. Sudah bisa ditebak jika Hanum merasakan hatinya sakit membayangkan Suaminya semalaman menjaga Vanessa dirumah sakit.
__ADS_1
Karena kondisinya yang belum sepenuhnya sehat, Hanum pun lekas masuk kedalam kamarnya dan langsung berbaring bahkan tanpa mengganti bajunya terlebih dahulu.
Tin....tin....terdengar suara klakson mobil Adnan, namun Hanum sudah tak perduli lagi karena yang ia butuhkan saat ini hanyalah ketenangan dan juga istirahat.
Usai memarkirkan mobilnya digarasi, Adnan pun langsung masuk kedalam rumah dengan langkah yang tergesa gesa.
"Sayang...." panggil Adnan dengan sedikit berteriak.
"Hanum sayang...." panggil Adnan lagi saat tak kunjung mendapatkan balasan. Adnan pun langsung menuju kamarnya.
Ceklekkk....
Adnan pun terkejut ketika melihat Istrinya masih berbaring diatas ranjang, padahal sebelumnya Hanum tak pernah bangun sesiang ini. Hanum akan selalu bangun subuh subuh untuk kemudian menyiapkan sarapan dan dilanjut dengan berebes rumah.
"Hanum, Sayang?" Adnan pun langsung berjalan cepat dengan paniknya menghampiri Hanum.
"Hanum kamu kenapa? kenapa wajah kamu pucat sekali?" tanya Adnan yang langsung meletakkan telapak tangannya pada jidat Hanum untuk memeriksa suhu badannya.
"Ya ampun, kenapa panas sekali?" ucap Adnan.
"Mas, kamu baru pulang?" tanya Hanum yang terbangun ketika merasakan ada telapak tangan yang menyentuh jidatnya, ternyata Suaminya lah yang berada disampingnya.
"Iya, maafkan aku." ucap Adnan penuh sesal, Hanum pun hanya bisa terdiam karena ia paham betul penyebab suaminya melontarkan kata kata maaf. Tak mendapat sahutan dari Hanum, tanpa menunggu lama lagi Adnan pun langsung berbalik arah dengan tujuan adalah dapur untuk mengambil air dan kain yang akan digunakan sebagai kompresan untuk Hanum.
"Aku akan mengompresmu, sebentar lagi pasti panasnya akan turun." ucap Adnan sembari memeras kain yang sudah ia celupkan kedalam air dingin, Hanum pun hanya diam tak menyahutinya. Dengan telaten dan penuh ke hati hatian Adnan mengurus Hanum.
"Kenapa kemarin tidak pulang bawa mobil saja?" tanya Adnan sembari mengelap area wajah Hanum menggunakan handuk kecil basah. Hanum hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Maafkan perkataan Mama kemarin, Mama tidak bermaksud begitu." ucap Adnan kemudian, Hanum hanya diam saja, tubuhnya kini terasa masih sangat lemas. Bahkan sekeder untuk menjawab ucapan suaminya saja Hanum merasa malas sekali, lebih baik ia menyimpan energinya saja supaya lekas sembuh.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya tak sengaja tatapan matanya beralih pada pakaian yang dikenakan oleh Hanum membuat Adnan langsung mengernyitkan dahinya heran.
"Hanum, kenapa bajumu?....