Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 89


__ADS_3

"Aaaaaaaaaa" teriak Adnan sembari memukul mukul stir mobilnya.


Pikirannya kacau, kalut dan selalu terbayang bayang penolakan yang dilakukan Hanum padanya tadi. Wajah yang dahulu penuh dengan kelembutan dan kasih sayang, kini telah berubah seakan akan menampakkan taringnya.


"Brengsekkk." teriaknya lagi, Adnan pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bahkan Adnan akan mengklakson tiada ampun kendaraan didepannya yang tidak kunjung memberinya jalan.


"Aaaa"


Shhhtttttttt........Adnan langsung mengerem mobilnya begitu ada sebuah motor yang tiba tiba menyabrang begitu saja disaat ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Shiiit." umpat Adnan dengan nafas yang masih memburu saking terkejutnya. Beberapa saat kemudian ia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi pula, seakan akan peringatan yang didapatkannya barusan hanya angin lalu.


Tttuuuuttt.....tttuuuutttt......tttuuuttttt.....tiba tiba saja ponsel Adnan berdering menandakan ada seseorang yang meneleponnya, Adnan pun merogoh saku kemejanya.


"****." umpat Adnan saat membaca nama yang tertera dilayar ponselnya.


Brakk....tanpa pikir panjang lagi Adnan pun langaung melemparkan ponselnya kekursi sampingnya dengan asal, seakan akan ia sama sekali tak perduli bahkan tak mau tau dengan seseorang yang baru saja menelponnya tersebut.


Setelah menembus jalanan ibu kota cukup lama, akhirnya sampailah Adnan dikediamannya. Ia pun memarkirkan mobilnya dengan asal dan langsung masuk begitu saja kedalam rumahnya.


Tap....tap...tap...tap...


"Mas kamu sudah pulang." sambut Vanessa yang langsung berjalan menghampiri suaminya.


Entah mengapa tiba tiba Vanessa merasa merinding dekat dekan dengan Adnan, bagaiman ia tidak merinding jika tatapan yang diberikan Adnan bukanlah tatapan teduh seperti suami pada istri pada umumnya melainkan tatapan menusuk seakan akan hendak menerkamnya hidup hidup.


"Ke...kenapa mas?" tanya Vanessa takut takut.


"Sini kamu." ucap Adnan yang langsung menarik dengan paksa tangan Vanessa, hingga siap tak siap Vanessa pun mengikuti langkah kaki suaminya dengan tertseok seok.


"Mas, tunggu mas." ucap Vanessa yang mencoba meminta Adnan untuk membicarakannya baik baik.


"Mas kenapa mas?" tanya Vanessa lagi, namun sama sekali tak mendapatkan sepatah kata jawaban pun yang keluar dari bibir Adnan. Jika Vanessa berada didepan Adnan, pastinya ia akan melihat wajah sangar yang ditampakkan Adnan. Tatapan bengis dengan rahang yang telah mengeras ditambah lagi dengan nafas yang sudah naik turun seakan akan hendak memukul habis lawannya.


Ceklekkk......Adnan langsung menarik lebih keras Lagi Vanessa masuk kedalam kamarnya.

__ADS_1


Brakkkk......Adnan pun langsung menutup pintu dengan kasarnya seakan akan melampiaskan semua kekesalan dan kemarahanny pada pintu tersebut.


"Aaaaa" terkejut Vanessa dengan suara gubrakan pintu akibat perlakuan kasar Adnan sampai sampai ia menutup kedua telinganya dan menutup mata.


"Sini kamu." ucap Adnan yang kembali lagi langsung menarik tangannya dengan kasar, tak ada kelembutan sama sekali didalamnya seakan akan Adnan tengah menarik hewan peliharaan.


"Au mas, sakit mas." ringis Vanessa yang merasakan perih pada pergelangan tangannya.


"Diam kamu!" bentak Adnan yang langsung membuat bibir Vanessa bungkam seketika saking terkejutnya.


Adnan kembali menarik tangannya lagi menuju kearah ranjang.


Brakkk.....Adnan langsung menghempaskan tubuh Vanessa dengan kasar diatas ranjangnya.


"Auhh mas." ringis Vanessa dengan tangan yang melindungi perutnya, entah mengapa tiba tiba Adnan seakan akan melupakan jika wanita itu tengah hamil.


Vanessa tetap pada posisinya hingga beberapa saat, sebelum kemudian mengumpulkan sisa sisa kekuatannya untuk kembali bangkit.


"Apa maksud kamu mas?" tanya Vanessa yang berbalik menatap tajam suaminya tersebut.


"ITU BUKAN ANAK AKU!" balas Adnan yang langsung berteriak, bahkan tepat didepan wajah Vanessa membuat Vanessa terkejut dibuatnya.


"Mas, kita itu sudah resmi sebagai suami istri baik dimata negara maupun dimata agama mas. Jadi mau tidak mau, suka tidak suka anak ini anaka kamu juga mas!" balas Vanessa yang berteriak juga.


"Anak brengsekkk!" teriak Adnan lagi membuat Vanessa langsung membelalakkan matanya lebar lebar seakan akan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, laki laki didepannya seperti orang lain yang tak dikenalnya. Bukan, bukan orang tetapi malah terlihat bagaikan iblis yang berwujud wajah suaminya.


"Apa kamu bilang mas?" tanya Vanessa menggunakan nada terendahnya dengan mata yang sudah berkaca kaca.


"Anak brengsek." ucap Adnan mengulang kembali apa yang dikatakannya tadi, namun menggunakan nada yang sama rendahnya seperti Vanessa.


Plakk.....tiba tiba saja dengan ringannya tangan Vanessa melayang dan mendarat sempurna dipipi kiri suaminya, tidak ada perasaan takut yang dirasakan Vanessa usai menggambar tangannya diwajah suaminya melainkan hanya ada perasaan marah. Yah....marah pada suaminya karena dengan mudahnya kata kata pedas nan menusuk keluar dari bibirnya begitu saja.


"Kamu tega mas, kamu jahat." ucap Vanessa dengan air mata yang sudah turun membasahi pipi mulusnya.


Adnan tampak mengusap pipinya yang terasa panas akibat cetakan tangan Vanessa, membuang pandangannya kearah lain.

__ADS_1


"Kamu berubah mas." sinis Vanessa.


"Aku berubah gara gara kamu!" Adnan mulai menancap pedal gass lagi hingga membuat suasana kembali menanjak.


"Gara gara kamu Hanum pergi!."


"Gara gara kamu aku sama Hanum pisah!"


"Gara gara kamu Hanum berubah!!!" teriak Adnan kembali dengan lantangnya didepan wajah sang istri.


Vanessa menatap tak percaya suaminya, bagaimana bisa seorang suami dengan lantangnya kembali mengingat ingat mantan istrinya dan bahkan melimpahkan semua kekesalannya kepada dirinya?.


"Hanum?" tanya Vanessa dengan nada sinisnya.


"Wanita mandul itu?" tanyanya lagi dengan nada yang seakan akan merendahkan.


"Mau sampai kapan mas? hah? mau sampai kapan kamu akan terus mengingat wanita itu?" tanya Vanessa sembari melangkahkan kakinya selangkah lebih dekat dengan sang suami.


"Aku sekarang istri kamu mas, harusnya yang kamu pikirin itu cuma aku bukan wanita lainnya!" teriak Vanessa sembari mengguncang guncang lengan Adnan.


"Oh, rupanya kamu sudah lupa dengan perjanjian yang kita buat." sinis Adnan sembari menghempaskan dengan kasar tangan Vanessa, seakan akan tak sudi jika tangan tersebut hinggap dibagian tubuhnya.


"Perjanjian?" tanya Vanessa dengan terkejutnya dan dengan spontan ia mundur beberapa langkah dari posisinya semula.


"Iya, kamu lupa? perlu saya ingatkan kembali?" tanya Adnan yang seolah olah malah ingin menantang Vanessa yang hanya melihatnya dengan tatapan tak percaya.


"Oke, biar saya ingatkan kembali." ucap Adnan dengan tersenyum sinis.


"Saya berjanji untuk menceraikan kamu begitu anak yang ada didalam perut kamu lahir dan kamu sendiri juga sudah menyetujuinya, jadi buang...buang jauh jauh khayalan kamu atau pikiran kamu yang nggak masuk akal itu karena kita akan segera bercerai." tekan Adnan dengan tegasnya.


"Nggak nggak aku nggak mau." tolak Vanessa menggelengkan kepalanya tak menyetujui.


"Kamu pasti mau kembali dengan Hanum, wanita brengsek itu kan?" teriak Vanessa dengan penuh keberaniannya membuat rahang Adnan lagi lagi kembali mengeras.


Plakkk......

__ADS_1


~Buatlah trobosan baru, ubah kehidupan suram menjadi lebih indah dari sebelumnya~


__ADS_2