Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 75


__ADS_3

Bughhh


Aaaaaa....huaaaa....tangisan anak kecil perempuan ini melejit ketika dirinya baru saja menabrak tubuh Hanum hingga membuatnya terpental dan langsung terduduk dilantai.


“Aduh maaf dek.” Dengan paniknya Hanum langsung berjongkok menolong anak perempuan berkuncir kuda tersebut.


“Aduhh...maaf ya dek, tante nggak sengaja.” Walaupun ia tahu betul jika ini sama sekali bukan kesalahannya, namun meminta maaf jauh lebih baik apalagi dengan anak kecil ini.


Huaaaa....tangisan anak itu belum berhenti, malah kini semakin melejit kencang hingga menarik perhatian orang di sekitarnya.


“Papa.” Teriak anak kecil ini sekencang kencangnya seakan akan tengah berteriak mencari keberadaan Papanya ditegah hutan.


“Cup....cup...cup, ayo kita cari Papa kamu. Tapi nangisnya berhenti dulu ya, uh....cup...cup...cup.” Hanum mencoba menenangkan anak kecil tersebut, namun anak kecil tersebut seakan akan tidak mendengarkan bujukannya.


“Retha.” Tiba tiba saja ada seorang laki laki yang datang dan langsung menggeser posisi Hanum dari tempatnya hingga terpaksa harus sedikit menyingkir.


“Kamu kenapa ret?” tanya laki laki tersebut dengan raut wajah khawatirnya.


“Huaaaa.....jatuh paaa...hiks...hiksss....hiksss.” jawab anak kecil tersebut kemudian melanjutkan kembali tangisannya.


“Aduhhh sayang, nggak papa kok jangan nangis lagi yah.” Bujuk laki laki tersebut yang kemudian langsung memeluk anak kecil tersebut, setelah dipeluk selama beberapa menit tampak tak ada pergerakan dari anak kecil tersebut membuat Hanum sedikit mengintip ke wajah anak kecil tersebut yang ternyata sudah tertidur dengan sisa sisa air matanya.


“Maaf pak, anaknya sudah tidur.” Kata Hanum memberi tahu dengan suara amat pelan supaya tak membangunkan anak kecil bernama Retha tersebut.


“Oh, baik terima kasih.” Balas laki laki itu dengan berbisik pula kemudian perlahan lahan mulai berdiri dari posisi jongkoknya.


“Maaf pak, tadi saya nggak sengaja bikin nangis anak Bapak.” Ucap Hanum memohon maaf.


“Nggak papa, palingan karena Retha lari lari.” Balas laki laki tersebut yang hanya dijawabi dengan anggukan kepala samar oleh Hanum.


“Kalau begitu, saya permisi dulu. Maaf atas kenakalan anak saya.” Ucap laki laki tersebut sebelum pada akhirnya berlalu pergi masuk kedalam hotel tersebut.


Haaaahhh....tampak Hanum menghela nafas panjang sembari melihat kearah dalam hotel tersebut.


“Ngapain juga aku kepo, bukan urusan aku juga.” Kata Hanum pada dirinya sendiri.


“Lagi pula ke hotel belum tentu ke kamar kan? Bisa aja dia reservasi ke restorannya.” Kata Hanum geleng geleng kepala mencoba menghilangkan macam macam pikiran buruk yang bersarang dikepalanya.


Pada akhirnya Hanum lebih memilih untuk kembali pulang ke puncak.


Beberapa hari kemudian selepas kejadian tersebut, Anton datang beberapa kali berkunjung ke puncak membawakan beberapa jenis makanan untuk dirinya dan juga orang tuanya. Hanum sama sekali tak membahas atau menanyakan tentang apa yang dilihatnya beberapa waktu lalu di hotel. Tentang siapa wanita yang bersamanya, apa yang mereka berdua lakukan?


“Oh iya, apa rencanamu setelah proses perceraianmu selesai?” tanya Anton pada Hanum, saat ini mereka berdua tengah duduk dikursi panjang yang berada di halaman rumah ini sembari menikmati beberapa jenis camilan dan minuman.


“Aku? Aku akan cari kerja di Jakarta dan mulai menata hidupku kembali.” Jawab Hanum dengan senyuman yang melengkung dibibirnya sembari mencomot snack ditangannya.


“Oh ya?” tanya Anton mangut mangut yang dijawabi dengan anggukan kepala juga oleh Hanum.


“Kerja dimana?” tanya Anton lagi sembari meminum jus kotak ditangannya.


“Kalau itu aku belum tau, ya....sedapatnya aja lah. Lagi pula aku kan juga cuma lulusan sma.” Jawab Hanum apa adanya.


“Emmm, nanti aku coba bantuin cari lowongan kerja buat kamu.” Kata Anton kemudian.

__ADS_1


“Makasih.” Jawab Hanum.


“Oh iya, aku boleh nanya sesuatu sama kamu?” tanya Hanum meminta izin sebelum menyampaikan pertanyaannya.


“Apa?” tanya Anton mempersilahkan.


“Orang tua kamu kemana? Setidaknya sepertinya aku mesti nyapa orang tua kamu deh selagi orang tua aku masih disini juga.” Kata Hanum. Mendengar pertanyaan Hanum, raut wajah Anton langsung berubah seketika seperti tak senang dengan apa yang dipertanyakan Hanum.


“Nggak perlu.” Jawab Anton cepat dengan wajah kerasnya membuat Hanum mengernyit bingung.


“Kenapa?” tanya Hanum yang penasaran.


“Orang tua aku udah cerai, mereka udah sibuk sama keluarganya masing masing.” Jawab Anton sebelum pada akhirnya membuang pandangannya ke arah lain.


“Ohhh.” Hanum menundukkan kepalanya tak enak hati, kini ia mengerti kenapa wajah Anton tadi langsung berubah ketika ia menanyakan hal tersebut.


“Oh ya, kamu besok mau ikut aku nggak?” tanya Anton.


“Kamana?” tanya Hanum.


“Kita ke....” jawab Anton melirik ke kanan ke kiri mempermainkan Hanum.


“Ada deh, ikut aja besok.” Jawab Anton cepat kemudian yang pada akhirnya mendapatkan timpukan botol kosong dari Hanum.


Hahahaha....tawa mereka pun pecah secara bersamaan.


“Mas.” Panggil Vanessa pada Adnan yang tengah duduk sendirian diteras samping rumah. Adnan sama sekali tak merespons panggilan Vanessa, fokusnya kini hanya menatap langit gelap bertabur bintang.


“Nggak papa.” Jawab Adnan singkat bahkan tanpa menoleh sedikit pun.


Ekspetasi yang tak seindah kenyataan, begitulah yang dirasakan Vanessa saat ini. Selepas kepergian Hanum memang hubungannya dengan Adnan masih berjalan semestinya, namun siapa sangka jika sampai detik ini Adnan sama sekali tak mengizinkannya untuk tidur bersama suaminya dikamar lama suaminya dengan mantan istrinya tersebut.


“Perlahan lahan Vanessa, sabarlah.” Batin Vanessa mencoba mengisi kembali kesabarannya.


“Oh iya, Hanum sekarang tinggal dimana yah? Udah pulang kampung apa masih di Jakarta?” Vanessa berbicara pada dirinya sendiri untuk memancing Adnan, namun apa yang didapatkannya? Adnan sama sekali tak meresponsnya sedikit pun, seakan akan kehadirannya sama sekali tak terlihat disini.


“Mas.” Bentak Vanessa yang sedikit meninggikan suaranya setelah kesabarannya benar benar habis diuji dengan sikap Adnan yang seperti ini.


“Tidurlah, tidak baik wanita hamil tidur larut malam.” Kata Adnan yang kemudian langsung berdiri dari tempat duduknya, Vanessa hanya menatap kepergian Adnan dengan raut wajah yang tak percaya lagi lagi diacuhkan seperti ini.


.............


“Papa nggak perduli lagi sama pernikahan Adnan ma, biar dia merasakan sendiri akibat dari kebodohannya tersebut.” Kata Pak Basuki yang kini tengah menikmati secangkir kopi.


“Papa ini jadi orang tua kok jahat banget sih, nggak kasihan apa sama Vanessa.” Kesal Bu Dian.


“Kalau Mama kasihan ya Mama aja yang urus dia.” Jawab Pak Basuki yang tampak tak perduli.


“Pa, Vanessa itu wanita hamil pa. Nggak kasihan apa?” tanya Bu Dian berapi api.


“Kalau belum siap hamil kenapa mesti hamil segala?” balik tanya Pak Basuki sembari memencet remote mencoba mencari siaran televisi yang menurutnya menarik.


“Ya karena udah takdir dong pa, gitu aja nggak tau.” Kesal Bu Dian menatap sinis suaminya.

__ADS_1


“Ya kalau nggak gituan nggak bakalan hamil juga ma.” Sahut pak Basuki.


“Hahhh...anak jaman sekarang memang aneh aneh kelakuannya.” Pak Basuki geleng geleng kepala tak habis pikir.


“Kalau saja Mama nggak banyak ikut campur urusan rumah tangga Adnan nggak bakalan begini jadinya ma.” Kata Pak Basuki mulai menyalahkan istrinya yang turut ambil bagian dalam masalah ini.


“Papa nyalahin Mama?” tanya Bu Dian yang hampir tak percaya.


“Mama nggak ngerasa bersalah?” balik tanya Pak Basuki yang kemudian langsung berdiri dan meninggalkan istrinya sendirian ditemani serial televisi.


Hah?...Bu dian menatap kepergian suaminya dengan raut wajah tak percaya.


.......


Kemarin sidang terakhir baru saja selesai, kini Hanum dengan resmi menyandang status baru sebagai seorang janda.


Kini ia telah kembali lagi menginjakkan kakinya di tanah Jakarta, mencoba mencari peruntungannya kembali di tanah yang telah menorehkan luka untuknya.


“Bismillah.” Ucap Hanum dengan yakin sebagai bekalnya menginjakkan kakinya kembali di Jakarta.


“Sekarang aku cari kos dulu aja.” Kata Hanum pada dirinya sendiri.


Selama hampir seharian Hanum mencari kos kosan yang sesuai dengan budget yang ia miliki saat ini, namun keberuntungan belum menghampirinya hingga jam menunjukkan pukul 1.


“Bodoh.” Hanum meruntuki kebodohannya sendiri.


“Kenapa aku nggak telepon Maya aja?” Hanum menepuk jidatnya kemudian meraih ponselnya dan mencari cari kontak milik Maya.


“Halo.” Sapa Hanum, untung saja Maya dengan cepat menjawab panggilannya.


“Kenapa bu janda?” ejek Maya dari seberang sana.


“Sialan,” umpat Hanum mendengar ejekan Maya.


“Di kos kosan kamu ada yang kosong nggak?” tanya Hanum langsung pada intinya.


“Ada, sebelah gue pas kosong nih.” Jawab Maya dari seberang sana.


“Mau ngekos disini?” tanya Maya dari seberang sana.


“Iya.” Balas Hanum singkat.


“......”


“Oke oke, kalau gitu aku kesana sekarang.” Kata Hanum untuk mengakhiri panggilannya.


“Oke.” balas Maya dari seberang sana kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.


“Nggak mau ma....aku nggak mau.” Terdengar suara dari sampingnya yang langsung menarik perhatiannya.


~Apa yang kamu Doakan, sedang tuhan kerjakan~


^Marry Riana^

__ADS_1


__ADS_2