
Didalam mobil hanya ada keheningan semata, Hanum hanya memandang jearah luar jendela sementara Adnan hanya fokus pada jalanan didepannya tersebut
Entah mengapa Adnan lebih berfikir jika segala sesuatu sebaiknya diselesaikan dirumah dari pada dijalan seperti ini apalagi dalam kondisi mengemudi yang takutnya malah akan membahayakan keduanya
Akhirnya sampai juga Adnan dan Hanum dirumah bertabur bunga surga yang telah menjadi tempat tinggal mereka berdua selama 3 tahun ini
Brakkk....Hanum menutup mobil dengan keras
Tap....tap....tap....deru langkah kaki Hanum meninggalkan Adnan yang masih tertinggal didalam mobil, Adnan yang belum melepaskan sabuk pengamannya pun lekas melepaskannya dan dengan buru buru langsung keluar dari dalam mobil dan berlari mengejar ketinggalannya mengikuti langkah kaki Hanum
"Num, tunggu num" kata Adnan sedikit menaikkan suaranya, namun Hanum seolah olah pura pura tuli. Hanum terus berjalan meninggalkan Adnan, sementara itu Adnan pun semakin mempercepat langkah kakinya saat Hanum memasuki rumah. Entah dengan kekuatan kemarahan atau apa yang dipakai Hanum sehingga dengan cepat ia membuka pintu yang masih terkunci tersebut
"Num" pekik Adnan yang telah berhasil menggapai tangan Hanum, hingga Hanum pun hampir terjatuh akibat tak siap dengan cekalan tangan Adnan yang tiba tiba tersebut
"Num, dengerin aku dulu" pinta Adnan memelas pada Hanum, sementara Hanum hanya diam saja tak menimpalinya bahkan ia enggan menatap wajah sang suami tersebut
Tanpa menunggu lama lagi Adnan pun langsung menarik tangan Hanum dan mengarahkannya untuk duduk disofa, sesuai keinginan Adnan, Hanum pun duduk disofa sesuai arahan Adnan
"Num, ini nggak seperti yang kamu kira" ucap Adnan sembari menggenggam tangan Hanum, sementara Hanum masih memalingkan wajahnya dari Adnan
"Aku emang salah sama kamu num, akun nggak jujur" ucap Adnan mengakui kesalahannya
"Kesalahan apa yang kamu lakuin?" tanya Hanum yang langsung berbalik arah menatap Adnan
"Sebenernya kemarin aku nggak ke surabaya num" lirih Adnan
"Apa?" tanya Hanum dengan wajah hampir hampir tak percaya, dengan cepat kini mata Hanum telah mengembun. Ia sama sekali tak menyangka jika suaminya tega membohongi dirinya
"Maafin aku num" ucap Adnan
"Apa lagi yang kamu sembunyiin dari aku mas?" tanya Hanum dengan menaikkan volume suaranya, bahkan tangannya pun langsung ia tarik begitu saja sehingga genggaman tangan Adnan pun akhirnya terlepas
"Kamu bohongin aku biar bisa ketemu sama Vanessa, kalian menghabiskan hari libur bersama?" tanya Hanum dengan air mata yang telah mengalir membasahi kedua pipinya
__ADS_1
"Nggak, nggak gitu num" bantah Adnan yang kembali mencoba meraih tangan Hanum kembali, namun dengan cepat pula Hanum menepiskan tangannya agar jauh dari jangkauan suaminya
"Lalu?" sinis Hanum
"Kemarin Orang tua Vanessa keluar kota num, terus Vanessa minta tolong aku buat anterin periksa" jawab Adnan tegas dan penuh keyakinan
"Telepon malam itu?" selidik Hanum yang kembali mengingat suaminya menerima telepon secara diam diam
"Iya, malam itu Vanessa telepon aku num"
"Aku ngrasa kasian sama dia, gimana kalau dia nggak cek kandungannya" ucap Adnan dengan raut wajah gelisah
"Kenapa? kenapa kamu khawatir? toh...itu juga bukan anak kamu kan" bantah Hanum yang tak memahami ucapan suaminya
"Num, coba kamu bayangin kalau kamu ada diposisi Vanessaa num"
"Apa kamu nggak sedih, saat nggak ada orang yang nolongin kamu saat kamu butuh bantuan?" tanya Adnan mencoba membuat Hanum mengerti akan maksudnya
"Kamu sering teleponan sama dia?" tanya Hanum tanpa menjawab pertanyaan suaminya, entah....rasanya pertanyaan itu telah menguap dari indra pendengaran Hanum
Tanpa menunggu lama lagi, Adnan pun langsung merogoh ponselnya yang ia simpan disaku celana dan mengotak atiknya beberapa detik sebelum kemudian ia serahkan pada Hanum
"Coba kamu lihat sendiri kalau kamu nggak percaya" ucap Adnan sembari menyodorkan ponselnya, ia sama sekali tak keberatan jika Hanum akan memeriksa isi ponselnya secara menyeluruh sekalipun
Tangan Hanum pada akhirnya terulur untuk mengambil ponsel tersebut dan membaca isi pesan dari atas hingga kebawah. Tak banyak percakapan yang tertulis didalamnya dan dilihat dari tanggalnya, pesan tersebut memang pesan lama bahkan sebelum Adnan menikahi Vanessa secara hukum
Tubuh Hanum langsung lemas seketika namun hatinya terasa lega saat suaminya tidak banyak berhungan dengan wanita itu
"Num, Hanum" Adnan pun dengan cepat langsung menangkap tubuh Hanum hingga tubuh wanitanya tidak menyentuh lantai
"Num...Hanum" panggil Adnan sembari menepuk nepuk pipi Hanum
Perlahan lahan penglihatan Hanum memudar hingga pada akhirnya ia memejamkan matanya
__ADS_1
Adnan yang panik melihat Hanum yang pingsan pun langsung membopong tubuh Hanum dan dibaringkannya disofa. Adnan berlarian mencari minyak angin kesana kemari karena ia sama sekali tak tau dimana Hanum meletakkan benda tersebut. Hingga Adnan mengingat jika Hanum pernah memasukkan benda tersebut kedalam tasnya, buru buru Adnan meraih tas Hanum dan mengacak acak isinya dan beruntung benda tersebut ditemukan
Entah berapa lama Hanum pingsan, saat Hanum membuka mata nampaklah Adnan yang duduk dibawah dengan tangan yang menggenggam erat tangannya. Adnan melakukan itu tentu saja agar ia dapat merasakan pergerakan tangan Hanum nantinya, benar saja Adnan pun langsung terjaga dari tidurnya begitu Hanum bergerak dari posisi berbaringnya
"Kamu udah sadar num?" tanya Adnan padahal ia sudah tau jawabannya
"Aku kenapa mas?" tanya Hanum yang belum ingat kejadian beberapa jam yang lalu
"Kamu pingsan tadi num" Jawab Adnan
"Udah, kamu nggak perlu mikirin iyu dulu yang terpenting sekarang keadaan kamu gimana?" tanya Adnan panik
"Pusing nggak? atau kamu laper? atau kamu mau apa? bilang sama Mas" Adnan langsung memberondong Hanum dengan berbagai pertanyaan tanpa henti
"Aku capek, aku mau mandi" jawab Hanum ketus setelah ia berhasil mengingat kejadian beberapa jam yang lalu
"Yaudah, ayo Mas bantuin" kata Adnan yang langsung membantu Hanum bangkit dari posisi berbaringnya
"Mas gendong aja ya" tawar Adnan yang merasa khawatir akan keadaan Hanum
"Aku bisa jalan sendiri Mas" tolak Hanum, sebenarnya ia sedikit merasa malu karena telagmh berlebihan dalam mencemburui suaminya tersebut. Ia menyesal saat menuduh suaminya tersebut tanpa mendengarkan penjelasan dari suaminya terlebih dahulu
"Yaudah biar Mas bantuin" kata Adnan yang kemudian langsung membantu Hanum berjalan sampai dikamarnya
"Sekarang kamu tunggu dulu disini biar Mas siapin air buat kamu mandi" kata Adnan setelah membantu Hanum untuk duduk dipinggir ranjang
"Nggak usah mas, aku bisa sendiri" tolak Hanum yang langsung berdiri dari duduknya
"Jangan bantah Mas" ucap Adnan tegas dan kemudian langsung berjalan menuju kamar mandi meninggalkan Hanum
Hampir lima menit kemudian Adnan pun keluar dari kamar mandi dan menghampiri Hanum
"Mas udah siapin airnya, sekarang kamu mandi dulu" ucap Adnan sembari hendak membantu Hanum berdiri
__ADS_1
"Aku bisa sendiri Mas" tolak Hanum yang merasa apa yang dilakukan Adnan tersebut berlebihan untuknya. Hanum pun bergegas memasuki kamar mandi