
Otak Tyo masih waras, ia masih bisa berfikir baik mengharapkan mantan istrinya tersebut akan bahagia bersama dengan laki laki pilihannya. Namun jujur, didalam dirinya yang lain ia merasa ada sesuatu hal aneh yang mengganjal. Ia merasa bahwa dirinya hanyalah laki laki bodoh, laki laki yang harga dirinya serasa di injak injak akibat penghianatan yang dilakukan mantan istrinya tersebut.
"Aku harap semoga kau bahagia." batin Tyo mencoba menyunggingkan senyum melihat kebersamaan mantan istrinya dengan laki laki lain tersebut.
Tyo pun kembali melanjutkan langkah kakinya menuju mobilnya.
Brakkkk
"Ahhh" Tyo meraup wajahnya dengan kasar menggunakan kedua tangannya.
Ia pun mulai menyalakan mesin mobilnya dan mulai menancap pedal gassnya. Selama menyetir mobilnya pikiran Tyo malah terpecah menjadi dua bagian, antara mengawasi jalanan didepannya dan juga putrinya yang berubah ketika bersama dengan Hanum.
Jujur saja sebagai seorang laki laki dewasa yang telah memiliki anak, kebahagiaan putrinya adalah segala galanya bagi dirinya. Apalagi melihat semangat putrinya yang bangkit dari keterpurukan yang dialaminya dahulu.
Lagi pula ia juga tertarik dengan Hanum, tidak ada yang membuatnya tidak menyukai wanita itu.
"Aku akan mulai mendekati Hanum, aku yakin dia akan jadi Ibu yang baik buat Retha." gumam Tyo dengan senyum semangat yang mengambang dibibirnya.
Setelah cukup lama membelah jalanan akhirnya sampailah juga ia di kos kosan Hanum, dengan perasaan berdebar debar ia membawakan obat yang dibelinya tadi.
Tok....tok...tok. Dengan sopan Tyo mengetuk pintu kamar Hanum.
Cekllekk....tak berselang lama pintu pun terbuka dan menampakkan sosok putri kecilnya.
"Papa kok lama benget sih?" tanya Retha.
"Maaf ya sayang, soalnya jalannya macet." jawab Pak Tyo tersenyum lembut seraya membelai rambut Retha.
"Ya udah, kalau gitu ayo kita masuk. Biar tante Hanum cepet cepet minum obatnya." kata Pak Tyo yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Retha.
Pak Tyo pun langsung masuk dan terlihatlah Hanum yang masih berbaring dengan wajah pucatnya.
"Kamu sudah makan?" tanya Pak Tyo yang dijawabi dengan anggukan kepala samar oleh Hanum.
"Kalau gitu kamu minum obatnya dulu yah." kata Pak Tyo yang langsung membantu Hanum untuk bangkit dari posisi berbaringnya.
"Sayang, ambilin air minum yah." ucap Pak Tyo meminta tolong pada Retha.
"Iya pa, tunggu sebentar." balas Retha yang langsung beranjak mengambilkan permintaan Papanya.
"Hati hati." kata Pak Tyo saat membantu Hanum.
"Terima kasih." balas Hanum yang saat ini sudah duduk bersandar pada bantal sebagai penganhalang dirinya dan juga tembok.
__ADS_1
"Ini pa." ucap Retha yang ternyata sudah datang dengan membawa segelas air putih ditangannya.
"Makasih sayang." kata Pak Tyo sembari meraih gelas yang disodorkan putrinya tersebut.
Pak Tyo pun menyuapi obat Pada Hanum lalu memberikannya air putih, bagai kerbau yang dicocok hidungnya Hanum pun hanya menurut saja apa yang dikatakan Pak Tyo.
"Pelan pelan." kata Pak Tyo mengingatkan Hanum yang minum dengan tergesa gesa.
"Terima kasih." ucap Hanum.
"Sama sama, kalau gitu biar saya komperes dahi kamu biar demamnya cepet turun." kata Pak Tyo yang kemudian langsung beranjak dari duduknya.
"Maaf yah, tante malah ngerepotin kamu sama Papa." kata Hanum pada Retha dengan perasaan bersalahnya.
"Kok malah minta maaf sih tante? Retha sama Papa seneng kok bisa nolongin tante kayak gini." balas Retha.
"Retha sayang sama tante." lanjut Retha membuat Hanum tersenyum mendengarnya, merasa beruntung karena ternyata di dunia ini ada orang lain yang perduli dan bahkan menyayanginya.
"Makasih ya, udah sayang sama tante." balas Hanum.
"Retha bakalan labih bahagia lagi kalau tante bisa jadi Mamanya Retha." kata Retha yang sontak saja langsung membuat Hanum terkejut bukan main, bagaimana bisa Retha mengatakan hal itu? ah...bukan itu saja, bagaimana bisa anak sekecil itu bisa berfikiran sampai sejauh itu? apa karena Retha mulai nyaman saat bersamanya?
Tidak, Hanum tidak bisa memberikan harapan kosong untuk Retha, walaupun Retha masih anak kecil ia akan memberikan pengertian sepelan mungkin supaya Retha bisa mengerti maksudnya. Lagi pula ia juga sebentar lagi akan menikah dengan Anton, jadi keputusannya memberi pengertian saat ini bukanlah keputusan yang buruk.
"Iya tante?" sahut Retha, entah mengapa Hanum tiba tiba merasakan jika Retha tampak bersemangat dan bahagia begitu menjawab panggilannya membuat nyalinya sedikit menciut.
"Ehm, soal yang Retha omingin tadi." ucap Hanum dengan ragu ragu namun tetap meyakinkan dirinya sendiri untuk terus melanjutkan kata katanya.
"Tante ng." lanjut Hanum.
"Maaf yah, udah nuggu lama yah?" ucap Pak Tyo yang tiba tiba datang dan secara otomatis langsung memotong ucapan Hanum.
"Lama pake banget." sahut Retha.
"Lihat aja sampai tante Hanum capek duduk terus." kata Retha.
"Eh." kaget Pak Tyo, tanpa ba bi bu lagi Pak Tyo langsung meletakkan begitu saja baskom yang dibawanya dan menghampiri Hanum.
"Maaf yah saya sampai lupa." kata Pak Tyo yang langsung mengambil alih kembali membantu Hanum untuk berbaring seperti sebelumnya.
"Pelan pelan." kata Pak Tyo mewanti wanti Hanum.
"Sekarang saya kompresin kamu." kata Pak Tyo.
__ADS_1
"Nggak usah pak, saya bisa sendiri kok." tolak Hanum yang merasa tak enak hati.
"Nggak papa sekalian biar saya saja, sebentar lagi saya sama Retha juga sudah mau pulang kok." ucap Pak Tyo, mau tak mau akhirnya Hanum pun membiarkan Pak Tyo mengompresnya. Jujur, Hanum merasakan Pak Tyo yang tulus dan juga lembut dalam memperlakukannya.
"Selesai." ucap Pak Tyo usai meletakkan kompres didahi Hanum.
"Sekarang, kamu istirahat aja biar cepet pulih." kata Pak Tyo mengingatkan Hanum kembali.
"Terima kasih Pak." ucap Hanum.
"Sama sama, kalau gitu sekarang saya sama Retha pamit pulang dulu." kata Pak Tyo.
"Sayang, pamit dulu sama tante yah." ucap Pak Tyo pada Retha.
"Iya pa." balas Retha yang langsung bergeser menggeser posisi Papanya yang semula ada didekat Hanum.
"Tante, Retha sama Papa mau pulang dulu yah." ucap Retha.
"Iya, Retha sama Papa pulangnya hati hati yah. Makasih udah nengokin dan ngerawat tante." balas Hanum yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh Retha.
Akhirnya Retha dan Pak Tyo pun langsung pulang usai berpamitan dengan Hanum.
...........
"Sayang." panggil Pak Tyo yang sontak saja Retha langsung menoleh ke arah Papanya.
"Tante Hanum baik yah?" kata Pak Tyo memancing pembicaraan mengorek orek pendapat dari Putrinya.
"Iya tante Hanum orangnya baik." jawab Retha.
"Retha suka?" tanya Pak Tyo lagi.
"Suka bangetttt pake buanget." jawab Retha dengan lebaynya membuat Pak Tyo langsung tersenyum lebar mendengarnya.
"Pa, aku mau makan bakso dong." kata Retha kemudian.
"Sekarang? makan bakso?" tanya Pak Tyo memastikan.
"Iyah, sekarang." jawab Retha membenarkan.
"Oke, Gasss." teriak Retha dan Pak Tyo bersamaan.
~Jangan membenci mereka yang mengatakan hal buruk untuk menjatuhkanmu, karena merekalah yang membuatmu semakin kuat setiap hari.~
__ADS_1