Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 41


__ADS_3

"Kamu yakin num mau kepasar sendiri?" tanya Bu Lastri sebelum membiarkan anaknya pergi sendirian ke Pasar.


"Yakin lah buk, aku juga kangen jalan jalan disini." jawab Hanum yang sebenarnya juga merasa jengah jika Ibunya terlalu menghawatirkan dirinya seperti ini.


"Kenapa nggak mau aku anterin aja sih?" tanya Adnan yang sebenarnya sedang gabut.


"Pak nanti Bapak kesawah kan?" tanya Hanum memandang Bapaknya yang tengah duduk dengan sangat santai ditemani dengan secangkir kopi dan juga gethuk goreng.


"Iya, sebentar lagi Bapak mau ambil singkong." jawab Pak Imam dengan senyum yang terbit dari bibirnya melihat Menantu dan Istrinya yang tengah berdiri disamping Hanum yang sedang duduk diatas motornya.


"Tuh Mas, mending nanti ikut Bapak aja kesawah. Lagian Mas juga nggak pernah kesawah juga kan." ucap Hanum tersenyum manis kepada suaminya itu


"Ibu juga, mendingan nyuci aja deh." kata Hanum memerintah Ibunya.


"Kamu yakin nggak mau Ibu atau Suami kamu temani?" tanya Bu Lastri untuk kesekian kalinya.


"Yakin, udah ah keburu siang nanti." ucap Hanum yang sudah sangat muak.


"Yasudah kalau gitu kamu hati hati yah." wanti wanti Bu Lastri.


"Iya, yaudah kalau gitu Hanum berangkat dulu yah..." ucap Hanum kemudian melajukan motornya.


Bu Lastri dan Adnan pada akhirnya hanya bisa menatap kepergian Hanum yang kini kian menjauh.


"Udah, kalian pada ngapain sih? mendinganIbuk nyuci aja deh dibelakang. Adnan, kamu temenin Bapak disini gih." kata Pak Imam membuyarkan lamun ndua orang tersebut.


"Iya pak." jawab Adnan yang kemudian langsung berjalan kearah Pak Imam, sementara Bu Lastri langsung berjalan masuk kedalam rumah.


disisi lain Hanum mengndarai motornya dengan kecepatan sedang sembari menikmati keindahan kampungnya yang suda tak ia kunjungi selama kurang lebih 3 bulan ini.


"Hanummmm." panggil seoramg wanita yang melambai lambaikan tangannya didepan sana. Hanum pun menghentikan motornya tepat didepn wanita tersebut.


"Intan, kamu mau kemana?" tanya Hanum pada wanita cantik yang rambutnya dikuncir kuda tersebut.


"Mau kepasar num, aku nebeng kamu sampe kedepan situ yah?" pinta wanita cantik yang bernma Intan tersebut.


"Wah kebeulan banget dong, soalnya aku juga mau kepasar nih." kata Hanum dengan senyum yang mengambang dari bibirnya karena kebetulan ia bisa bertemu dengan teman sekolahnya dulu.


"Wah...kebetulan banget dong kalau gitu aku jadi bisa nebeng kamu sampa pasar, nggak perlu bayar ongkos jadinya." ucap Intan dengan rona bahagia yang menghiasi bibirnya. Hanum pun ikut tersenyum mendengar setiap kata yang keluar dari mulut temannya itu karena ekspresi wajah yangditampilkan Intan sangat lucu menurut Hanum.

__ADS_1


...................


Usai dengan kegiatan belanjanya Intan dengan sengaja mengajak Hanum untuk pergi nongkrong bentar sekedar untuk menikmati secangkir weddang jahe yang dijajakan diwarung pinggiran pasar.


"Mbak, boleh minta tolong nggak?" tanya Mbak Dewi selaku penjual tersebut.


"Minta tolong apa mbak?" tanya Intan sembari meletakkan secangkir kopinya diatas meja.


"Anu, tolong jagain warung saya sebentar soalnya saya mau beli gas sebentar" jawab Mbak Dewi. Intan pun menoleh kearah Hanum untuk meminta persetujuam tukang ojeknya tersebut, Hanum yang mengerti dengan arti tatapan Intan pun langsung menganggukkan kepalamya mengiyakan.


"Oke Mbak, aku jagain asal gorengannya gratis loh." jawab Intan tanpa sungkan.


"Boleh Mbak, tapi ya jangan banyak banyak. Yaudah kalau giitu saya tinggal dulu." ucap Mbak Dewi kemudian berjalan dengan menenteng tabung gas ditangan kanannya.


"Eh, kamu datengnya kapana num?" tanya Intan yang baru ingat jika ia belum berbasa basi pada temannya tersebut.


"Kemarin tan." jawab Hanum dengan melampirkan senyumnya.


"Ohhhh." jawab Intan mangut mangut.


"Sama Suami kamu juga?" tanya Intan lagi.


"Iya," jawab Hanum.


Usai melontarkan pertanyaannya Hanum pun kembali menatap kearah depan tanpa megetahui perubahab raut wajah dari Intan tersebut.


1 detik, 2 detik, 3 detik....namun tak kunjung terdengar suara jawaban dari Intan membuat Hanum pun langsung menoleh kearah Intan.


"Tan????" panggil Hanum yang merasa ada yang aneh dengan raut wajah yang ditunjukkan Intan.


"Lo nggak papa kan?" tanya Hanum memastikan keadaan temannya terdsebut.


"Gue nggak papa kok num." jawab Intan menampilkan senyumannya walaupun senyum itu namoak sangat kaku dan terpaksa dimata Hanum.


"Kamu ada masalah ya?" tanya Hanum yang tahu jika ada hal yang disembunyikan Intan.


"Sebenernya aku sama Mas Lukman udah cerai sebulan yang lalu num" jawab Intan tanpa bisa menyembunyikan kesedihannya lagi hingga membuat air mata langsung turun membasahi pipinya.


"Apa???"pekik anum yang sangat terejut juga tak percaya.

__ADS_1


"Emangnya kenapa tan??" tanya Hanm yang sudah terlanjur menjadi penasarn tersebut.


"M...Mas L...ukman selingkuh num kata Intan dengan suara beretar kemudian langsung menghamburkan diri memluk Hanum.


Hiks....hiks....hiks.... tangis Intan pun langsung pecah.


"Kamu yang sabar ya tan."ucap Hanum sembari tangannya mengelus elus punggung Intan, jujur....dalam hatinya ia juga sangat sedih dengan masalah yang sedang menimpa temannya ini.


"Kok Mas Lukman bisa tega banget sih sama kamu tan." Hanum pun kembali mengingat wajah mantan Suami Intan dengan perasaan dongkol, ingin sekali rasanya Hanum mengacak acak wajah laki laki itu jika ada depannya.


"Dia jahat banget num, hiks....hiks....hiks." tangis Intan kembali meledak juga.


"Dia selingkuh sama siapa sih tan??? aku kenal sama orangnya nggak???" tanya Hanum yang langsung menarik tubuh Intan yang tadi memeluknya tersebut.


"Ak....aku juga nggak tau num, aku nggak kenal wanita itu." jawab Intan jujur.


"Kamu yang sabar tan." akhirnya hanya kata kata itulah yang dapat ia ucapakan ketika sudah tak tau lagi harus mengatakan apa. Hanum juga tak ingin menanyakan lebih jauh lagi, karena nanti pasti akan membuat Intan semakin merasakan kesedihannya.


"Kamu berutung banget punya Suami kaya Adnan num." ucap Intan yang melihat jika Suami Hanum terlihat seperti laki laki yang sangat setia, hingga tak mungkin rasanya jika Adnan akan menyakiti Hanum seperti yang dilakukan mantan Suaminya tersebut.


"Intan," panggil Hanum membuat Intan pun langsung menoleh kearahnya.


"Kamu pernah denger nggak kalau, orang yang terlihat baik baik aja itu mungkin sedang bertarung dengan isi kepalanya sendiri loh." ucap Hanum dengan tatapan mata yang lurus kedepan, ia kembai mengingat hal hal yang ia rasakan setelah pernikahan kedua suaminya tersebut.


Walaupun selama ini ia tak pernah menunjukkan kemarahannya secara gamblang kecuali saat Mama mertuanya datang dengan menyuruhnya untuk berbesar hati menampung wanita itu dengan alasan menjadikan anak yang berada dikandungan wanita itu sebagai pancingan untuknya, ia tak pernah lagi mempermasalahkam kedatangan Vanesa dengan Suaminya lagi walaupun sebenarnya ia selalu ketakutan setiap malam.


Bagaimana jika Suamiku tidak bisa menepati janjinya? bagaimana jika nanti Mas Adnan kembali jatuh hati dengan wanita itu? bagaimana jika besok atau lusa Mas Adnan akan nenpermasalahkan perihal seperti Mamanya?, tidak....Suamiku pasti akan menepati janjinya bukan? dia pasti setia padaku dan akan selalu membahagiakanku....entah beapa banyak pertanyaan yang setiap malam harus ia lawan agar pernikahannya selama ini teta utuh bagaikan Bulan Purnama yang selalu menjadi lambang dari arti cinta mereka berdua.


tanpa ada yang mengetahui jika perlahan lahan Hanum mergukan ucapan Suaminya. Bagaimana bisa saat tengah malam Suaminya membelikan Vanessa sate? apa karena Suaminya itu kini sangat perduli dengan kandugan wanita itu?, kenapa perlahan lahan ia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari Suminya? sedang ia sendiri tak tahu perasaan apa itu.


"Mas Adnan menikah lagi." ucap Hanum secara tiba tiba yang sukses langsung membuat Intan menoleh kearahnya.


"Apa???" pekik Intan yang terkejut dengan apa yang didengarnya barusan.


"Nggak lucu tau num, ada ada aja." ucap Intan geleng geleng kepala memanggap apa yang dikatakan Hanum barusan hanyalah lelucon belaka.


"Mas Adnan menikahi wanita itu karena menolongnya." ucap Hanum melanjutkan ceritanya membuat Intan langsung menatap intens Hanum.


" Wanita itu hamil tanpa ada pertanggung jawaban dari laki laki yang menghamilinya,..........Hanum pun menceritakan dengan detail asal mula pernikahan Suaminya tersebut.

__ADS_1


"Lalu apakah Adnan menepati jabjinya?" tanya Intan.


"Aku pernah beberapa kali menemukan kejanggalan, namun aku tidak bisa memarahinya atau menuduhnya tanpa ada bukti yang jelas. Sebenarnya aku merasa sangat kasihan kepada Mas Adnan karena.....


__ADS_2