
"Astagaaa." pekik Hanum saat tiba tiba pintu kamarnya terbuka, bagaimana ia tidak terkejut jika saat ini tubuhnya bahkan polos tanpa sehelai benang pun karena ia baru saja melepaskan handuknya.
"Astagahh." Adnan pun ikutan terkejut karena mendengar pekikan Hanum.
"Kenapa berteriak." ucap Adnan sembari mengelus elus dadanya dengan bersender pada dinding, kini netranya menatap tubuh polos Hanum yang hanya memakai dalaman saja Adnan yakin jika Hanum baru saja selesai mandi.
"Tentu saja aku terkejut, kenapa tidak mengetuk pintu dulu." kesal Hanum dengan tangan yang masih memegang pakaiannya, pasalnya tadi baru saja ia akan berganti pakaian.
"Kenapa pintunya tidak dikunci?" balik tanya Adnan yang mulai berjalan mendekati sang Istri, kemudian menahan pakaian yang akan dikenakan oleh Hanum tersebut.
"Mas, lepasin dong." Hanum menatap suaminya dengan sebal.
"Nggak usah dipakai." kata Adnan yang langsung melemparkannya ke sembarang arah.
"Mas." pekik Hanum melihat pakaiannya yang kini tengah tergeletak begitu saja dilantai.
"Mas, ini udah mau makan malam. Nggak enak dong sama Ibu Bapak kalau kitanya malah dikamar." ucap Hanum panjang lebar.
"Yaudah deh, maafin Mas." akhirnya Adnan hanya bisa mengalah karena yang dikatakan Hanum memang benar adanya.
Tuttttt.....tuuutttt.......ttttuuuuutttttt tiba tiba saja ada suara deringan dari ponsel Adnan yang terletak diatas ranjang. Hanum dan Adnan saling berpandangan dan menatap ponsel tersebut bergantian.
"Siapa Mas?" tanya Hanum yang tampak penasaran.
"Sebentar." jawab Adnan kemudian berjalan kearah ranjang dan melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.
"Vanessa?" gumam Adnan, ia menatap Hanum dan ponselnya secara bergantian.
Oh...Ya Tuhan, beginilah rasanya jika mempunyai dua istri. Untuk mengangkat panggilan Vanessa dihadapan Hanum saja rasanya Adnan tak memiliki keberanian.
"Siapa Mas?" tanya Vanessa yang berjalan mendekat, untung saja ia kini sudah memakai pakaian yang lengkap.
Tak mau menjawab, Adnan pun menunjukkan ponselnya pada Hanum agar Hanum membaca sendiri nama orang yang meneleponnya terkejut.
"Vanessa." gamam Hanum mendelik kesal tak suka pada wanita yang tengah menelepon Suaminya juga Suaminya tersebut. Tanpa menjawab Hanum pun berniat meninggalkan Adnan, namun baru saja kakinya hendak melangkah Adnan sudah terlebih dahulu mencekal tangannya.
"Kamu disini." kata Adnan dengan tegas kemudian menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.
"H...halo Mas" terdengar suara rintihan Vanessa dari seberang sana.
"Kamu kenapa Van?" tanya Adnan yang tampak terkejut mendengar suara Vanessa.
__ADS_1
"To...tol...tolong aku Mas." suara Vanessa kini kian terdengar melemah.
"Ka...kamu kenapa Van?" tanya Adnan yang sudah mulai khawatir dengan kondisi Vanessa.
"A...aku terpel..leset Mas, Sa...kit." ucap Vanessa dari seberang sana membuat Adnan dan Hanum sontak langsung membelalakkan matanya mendengar ucapan Vanessa.
"Tol..ong Mas." lirih Vanessa dari seberang sana.
"Oke oke, kamu tenang aja. Aku bakalan hubungin orang rumah." jawab Adnan kemudian langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Telepon Mama Mas." ucap Hanum dengan wajah yang mulai panik.
"Nggak bisa Num, Kasihan Mama kalau keluar sendirian. Mendingan aku telepon Zidan aja." balas Adnan sembari mengotak atik ponselnya mencari nomor Zidan.
"Iya Mas" balas Hanum cepat menyetujui perkataan Suaminya tersebut.
Tut.....tttuuuttt.....tttuuuttt.....
"Halo." sapa Adnan cepat begitu Zidan mengangkat telepon darinya.
"Halo Mas, kenapa kok suara Mas kedengarannya panik gitu?" tanya Zidan yang merasa khawatir diseberang sana.
"Dan, tolong kamu ke rumah Mas sekarang." perintah Adnan tegas.
"Vanessa jatuh dan, tolong kamu bawa dia kerumah sakit sekarang." jawab Adnan yang masih panik dengan keadaan wanita hamil itu.
"Apa Mas?" pekik Zidan yang terkejut.
"Tolong dan." kata Adnan.
"O..oke Mas oke, aku langsung kesana sekarang." jawab Zidan yang sudah sadar dari rasa keterkejutannya tadi.
"Oke, makasih yah." kata Adnan tulus.
"Sama sama Mas, Mas nggak perlu khawatir.” balas Zidan dari seberang sana kemudian langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Huhhhh.....akhirnya kini Adnan bisa bernafas lega karena ada Zidan yang mau menolongnya.
Sedari tadi Hanum terus menerus mengamati gerak gerik dari Suaminya, memang Suaminya terlihat panik namun ia juga memaklumi akan hal itu. Karena disini ia juga panik dengan keadaan Vanessa yang tengah mengandung disana.
"Gimana ini Mas?" tanya Hanum membuka suara.
__ADS_1
"Kuta harus pulang Num, kasihan Vanesaa. Cuma kita satu satunya keluarganya sekarang." jawab Adnan kemudian meraih tangan Hanum untuk kemudian digenggamnya.
"Maafin Mas ya, kalau pulang kampung kita malah berakhir seperti ini." ucap Adnan penuh penyesalan karena merasa dirinya hanya bisa menambah kekecewaan Hanum yang pastinya masih sangat ingin berada disini.
"Ki..kita pulang Mas?" pertanyaan bodoh yang seharusnya sudah Hanum ketahui jawabannya pun kini terlontar sudah dari bibirnya.
"Maaf." kata Adnan tertunduk.
"Sekarang sudah malam Mas, lebih baik Mas istirahat saja dulu. Besok kuta pulang." ucap Hanum berusaha berlapang dada memahami dan menerima situasi yang tengah terjadi.
"Aku ke bawah dulu ambilin makanan buat Mas." kata Hanum sembari melepaskan genggaman tangan Suaminya tersebut.
"Nggak perlu, Nggak enak sama Ibu Bapak kalau Mas nggak ikut makan." tolak Adnan cepat menahan tangan Hanum yang berusaha melepaskan genggaman tangannya. Hanum pun menganggukkan kepala mengiyakan jawaban Suaminya.
..............
"Kenapa mesti pulang besok?" kaget Bu Lastri yang terkejut ketika Adnan bilang bahwa besok Ia dan Suaminya akan pulang ke Jakarta.
"A...ada." jawab Adnan yang belum menyelesaikan ucapannya.
"Ada kerjaan mendadak Buk, jadi Mas Adnan harus turun langsung karena nggak bisa diwakilkan." sahut Hanum cepat karena ia memiliki firasat jika Suaminya akan mengatakan hal yang sebenarnya dan Ia tak mau membuat Ibunya sedih karena beranggapan jika posisinya kini telah bergeser karena kehadiran Istri baru Andan.
"Yah...padahal kan Ibu Masih kangen banget sama Hanum," ucap Bu Lastri yang nampak betat hati mengizinkan Putrinya kembali Ke Jakarta besok.
"Kamu kenapa kerja terus sih Nan, udah kaya juga." kesal Bu Lastri pada menantunya tersebut.
"Udahlah buk, kan nanti juga bisa kesini lagi." sahut Pak Imam menenangkan Istrinya.
"Tapi mereka baru aja pulang setelah 3 bulan loh Pak, udah gitu nginepnya nggak lama juga." protes Bu Lastri yang belum mengizinkan Hanum dan Adnan pulang besok.
"Kan itu idah pekerjaan Adnan buk, hargain dong." jawab Pak Imam mencoba memahami situasi Adnan.
"Iya buk, nanti kan Hanum bisa pulang lagi." sahut Hanum menengahi.
"Kalau Suami kamu sibuk, kamu pulang aja dong num sendiri. Kan Ibu kangen banget sama kamu." kata Bu Lastri pada Hanum dengan wajah memelasnya.
"Ya nggak bisa gitu juga dong buk, kalau gitu sama aja kaya Ibu ngajarin Hanum biar nggak menghargai Adnan." sahut Pak Imam yang mulai kesal.
"Maafin Ibu Nan, Ibu nggak bermaksud kayak gitu." ucap Bu Lastri penuh penyesalan pada Adnan.
"Nggak papa kok buk, Adnan mengerti," jawab Adnan dengan senyumannya.
__ADS_1
"Adnan janji akan pulang kesini lagi sama Hanum, Adnan akan sesuaikan jadwal untuk ambil cuti." imbuh Adnan mencoba meyakinkan Bu Lastri.