
Pak Tyo pun akhirnya kembali melanjutkan perjalanannya menuju kos kosan Hanum, singkat cerita saat ini keduanya telah sampai dikos kosan Hanum.
Tok...tok....tok Pak Tyo mengetuk pintu kos kosan Hanum.
"Ada nggak ya Pah?" tanya Retha dengan wajah cemberutnya.
"Eh Mbak Mbak." panggil Pak Tyo pada sesorang wanita yang hendak lewat dibelakangnya, secara otomatis sosok wanita itu pun menghentikan langkahnya.
"Iya, ada apa yah?" tanyanya.
"Maaf Mbak, begini em...Hanumnya kira kira ada didalam nggak yah Mbak? solanya tadi saya udah ketuk ketuk tapi nggak dibuka dan Hanumnya juga udah nggak berangkat kerja lagi." tutur Pak Tyo.
"Emmm sebenarnya biasanya Mbak Hanum keluar beli makan gitu. Tapi sejak kemarin saya nggak lihat lagi, soalnya saya juga nggak terlalu deket sama Mbak Hanumnya." jelas wanita itu.
"Aggghhhhh." tiba tiba saja terdengar suara rintihan yang cukup melengking dari arah kamar Hanum, sontak Pak Tyo dan wanita itu langsung menoleh kearah sumber suara.
"Itu sepertinya suara Mbak Hanum." ucap wanita itu dengan wajah paniknya.
"Sayang, kamu minggir dulu." ucap Pak Tyo dengan wajah khawatirnya yang langasung dipatuhi perintahnya oleh Retha.
Pak Tyo pun langsung mengambil ancang ancang bersiap untuk mendobrak pintu kamar Hanum.
Brakkk....percobaaan pertama gagal, tak menyerah Pak Tyo pun mengambil ancang ancang kembali.
Brakk.....akhirnya untuk yang kedua kalinya berhasil.
"Hanummm."
"Mbak Hanummm."
"Tanteee."
Terkejut semuanya saat melihat dengan jelas tubuh Hanum yang tergeletak begitu saja diatas lantai, dengan sigap Pak Tyo pun langsung mendekat kearah Hanum untuk memeriksa kondisinya.
"Masih hangat." gumam Pak Tyo saat memegang pergelangan leher Hanum untuk memeriksa detak nadinya.
Pak Tyo pun langsung menggendong tubuh Hanum ala brydal style.
"Retha, ayo." kata Pak Tyo dengan tegas.
"Mbak, tolong bilangin sama pemilik kosnya saya akan ganti rugi kerusakannya." kata Pak Tyo yang langsung dijawabi dengan anggukan kepala setuju oleh tetangga kos Hanum tersebut.
__ADS_1
............
Pak Tyo pun mengemudi dengan kecepatan tinggi, entah karena menyadari jika ini kondisi yang tidak tepat untuk bertanya atau protes. Retha pun pada akhirnya lebih memilih untuk memendam sendiri rasa takutnya, yah...rasa takut karena Papanya yang tengah mengemudi dengan kecepatan tinggi. Hingga pada akhirnya keduanya sampailah disebuah rumah sakit besar yang kebetulan menjadi rumah sakit paling dekat dengan kos kosan Hanum.
"Sayang, Retha ikut Papa yah. Papa nggak bisa gandeng Retha, Retha ngerti kan?" tanya Pak Tyo sembari mengambil tubuh Hanum untuk kembali di gendongnya.
"Ngerti Pah." jawab Retha yang kemudian benar benar mengikuti perkataan Papanya.
Tap...tap....tap...tap...Pak Tyo berjalan dengan cepat padahal tengah menggendong tubuh Hanum melewati lorong, karena saking khawatirnya dengan kondisi Hanum membuat Pak Tyo melupakan putrinya yang tengah kesulitan mengimbangi jalannya.
"Dok, dok tolongggg." teriak Pak Tyo yang sontak membuat para perawat langsung membawakan brankar yang dibawanya pada Pak Tyo dan Pak Tyo pun dengan sigap langsung merebahkan tubuh Hanum diatasnya.
Deg....
Pak Tyo langsung terkejut karena baru saja menyadari jika ada darah yang melumuri tangannya, sontak Pak Tyo langsung menoleh kearah Hanum yang memang dibagian lengannya tampak terlihat rembesan darah yang tembus dari kaosnya.
"Dok, tolong selamatkan dia." lirik Pak Tyo yang bahkan tidak menyadari jika Hanum sudah dibawa dan perlahan menjauh darinya.
Huh...huh...huh....huh...
Terdengar suara nafas Retha yang tampak memburu setalah akhirnya lega bisa menyusul Papanya.
Mendengar suara putri kecilnya langsung menyadarkan Pak Tyo dari keterkejurannya dan lansgung menoleh kesampingnya.
"Putri Papa, maafin Papa yah. Tadi kan Papa buru buru." kata Pak Tyo sembari jongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Retha.
"Ret..a ha..us Pah." ucap Retha tanpa menjawab permintaan maaf Papanya, baginya hanya airlah yang paling dibutuhkannya saat ini.
Mendengar ucapan putrinya Pak Tyo hanya bisa tersenyum memaklumi kepolosannya tersebut.
"Ya udah, ayo sekarang kita beli minum dulu." tak punya pilihan lain, Pak Tyo pun akhirnya harus membelikan minuman untuk putrinya terlebih dahulu. Toh saat ini Hanum juga dalam penanganan dokter, jadi Pak Tyo pikir meninggalkan Hanum untuk sebentar saja tidak masalah.
.........
"Gimana kondisi Hanum dok?" tanya Pak Tyo dengan paniknya setelah cemas cemas menunggu dokter menyelesaikan pemeriksaannya.
"Begini Pak, kondisi Bu Hanum saat ini dalam kondisi yang cukup serius." ucap Dokter tersebut.
"Ta...tadi darah apa dok?" tanya Pak Tyo yang memang sedari tadi pikirannya semrawut memikirkan darah yang berasal dari tubuh Hanum tersebut.
"Sepertinya Bu Hanum dengan sengaja melukai lengannya sendiri Pak." jawab Dokter.
__ADS_1
"Apa?" terkejut Pak Tyo.
"Kalau saya boleh bertanya apalah Bu Hanum akhir akhir ini ini tengah mengalami tekanan mental dan batin?" tanya Dokter tersebut.
"Sepertinya benar dok, karena dia baru saja dikhianati calon suaminya." jelas Pak Tyo tanpa ada niatan berbohong.
"Jika diagnosa saya tidak salah, Bu Hanum saat ini tengah mengalami mental illness (mental disorder) atau yang lebih dikenal dengan gangguan mental."
"Apa?" pekik Pak Tyo yang terkejut dengan diagnosa yang diberikan dokter tersebut.
"Dimana kondisi kesehatannya akan mempengaruhi pikiran dan suasana hatinya."
"Inilah yang membuat pengidapnya terkadang sampai berani melakukan hal hal yang bisa melukai atau membahayakan kondisinya sendiri." jelas Dokter tersebut.
"Tapi tapi Hanum masih bisa disembuhkan kan dok?" tanya Pak Tyo dengan wajah penuh ke khawatiran.
"Untuk kasus Bu Hanum ini masih terbilang tahap awal, jadi masih banyak kesempatan untuk memulihkan kondisinya lebih awal pula. Hanya saja..." kata Dokter menggantung.
"Hanya saja apa dok?" tanya Pak Tyo dengan tak sabaran.
"Hanya saja kita harus menyesuaikan untuk berbicara dengan Bu Hanum saat kondisinya dalam suasana baik dan kita juga tidak boleh mengingatkan atau berbicara hal yang membuatnya kembali mengingat sumber kesedihannya." jelas Dokter tersebut.
"Kalau begitu saya pamit untuk memeriksa pasien yang lainnya." ucap dokter tersebut pamit undur diri yang tidak dibalas dengan sepatah katapun oleh Tyo karena masih berperang dengan pikirannya sendiri."
Usai kepergian dokter tersebut Pak Tyo dan Retha memilih untuk melihat kondisi Hanum secara langsung.
Tubuh lemah yang berbaring dengan wajah pucatnya dan rambut yang sudah kusutlah menjadi kesan pertama Pak Tyo melihat kondisi Hanum saat ini.
"Tante, Tante ayo bangun. Tante jangan sakit." lirih Retha sembari menggenggam tangan lemah Hanum.
"Hanum, cepatlah sembuh." batin Pak Tyo.
Pak Tyo pun dengan setianya menemani putri kecilnya yang tampak banyak bercerita pada Hanum yang bahkan masih belum sadar dari tidurnya, entah apa yang diceritakan oleh gadis kecil tersebut.
Fokus Pak Tyo hanyalah pada sosok Hanum yang saat ini tampak sangat menyedihkan, pasti banyaklah yang dipendam Hanum sendirian selama ini.
Ternyata sosok tegarnya sangat bertolak belakang dengan kondisi batinnya selama ini.
~Jika kamu terjatuh, maka yang terpeting adalah kamu harus bangkit kembali~
^Min Yoongi^
__ADS_1