Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 122


__ADS_3

2 Tahun Kemudian......


Tyo tampak sedang menatap kearah luar jendela, menatap derasnya hujan yang turun membasahi bumi. Bukan hanya bumi yang basah dibuatnya, tapi hatinya juga.


Setiap hari yang selalu terfikir olehnya hanyalah "Dimana Hanum? kenapa aku tidak bisa menemukannya padahal aku selalu mencarinya kesana kemari?"


Hanum beserta orang tuanya serta Vanessa tiba tiba menghilang begitu saja bak ditelab bumi, ia tidak bisa menemukannya atau bahkan berkomunikasi dengannya semenjak panggilan terakhirnya dengan Vanessa malam itu.


Masih terekam jelas dalam ingatannya, saat itu Vanessa tengah meminta bantuannya namun ia tidak bisa membantunya karena kondisi malam itu bertepatan dengan kecelakaan yang menimpa Retha dan mantan istrinya.


"Papaaaaa." teriak Retha yang tiba tiba masuk begitu saja ke dalam kamarnya dengan senyum senang dengan membawa kantong keresek yang isinya entah apa itu.


Ia masih mengingat dengan jelas, saat kecelakaan itu ia sangat takut jika harus kehilangan anak satu satunya tersebut. Pasalnya saat itu kondisi Retha lah yang paling parah, hingga salah satu ginjalnya tidak bisa berdungsi dengan baik padahal kondisi tubuhnya dalam kondisi yang sangat buruk.


*Flashback On*


"Maaf pak, kondisi putri anda kian hari kian memburuk." ucap dokter tersebut.


Dugg... Pak Tyo langsung memegang kedua lengan Dokter tersebut.


"Dok, tolong dok tolong selamatkan putri saya."


"Saya mohon dok." ucap Pak Tyo menghiba.


"Maaf pak, jika seperti ini terus maka kondisi putri bapak juga akan semakin memburuk." jawab Dokter tersebut.


Perlahan lahan cekalan tangannya pada lengan dokter tersebut pun mulai mengendur dan terlepas.


"Hiks...hiks...hiks." Pak Tyo tak kuasa lagi menahan tangisannya.


"Saya akan mendonorkan ginjal saya." tiba tiba saja ada suara yang membuat Pak Tyo dan dokter langsung menoleh ke arahnya.


"Ri...Rini?" terkejut Pak Tyo yang melihat Rini tengah duduk diatas kursi roda dengan suster yang membantu mendorongnya.


"Saya yang akan mendonorkan ginjal untuk Retha." ucapnya lagi.


"Tap...tapi buk, kondisi ibu juga belum sepenuhnya pulih." ucap Dokter yang juga terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Rini.


"Kamu nggak bisa ngelakuin ini rin." sahut Pak Tyo yang langsung mebuang pandangannya kearah lain.


"Kenapa? aku ngelakuin ini demi Retha." jawab Rini yang masih kekeh dengan pendiriannya.


"JANGAN NEKAT RIN." bentak Pak Tyo yang kesabarannya sudah habis, memikirkan tentang Retha saja sudah membuatnya pusing dan sekarang ditambah lagi dengan mantan istrinya yang mengada ngada tersebut.


"Aku ini Mamanya, aku tahu selama ini aku salah."


"APA LAGI YANG BISA AKU LAKUKAN SELAIN INI YO!" bentaknya.


"Kalaupun aku mati, aku akan merasa lega karena aku bisa berguna untuk anakku." lirih Rini yang masih bisa didengar dengan jelas oleh Tyo, Dokter dan Suster tersebut.


Akhirnya dilakukanlah operasi dan berkat Rinilah Retha bisa bangkit dari kondisi terpuruknya.

__ADS_1


Dan bagaimana keadaan Rini? keajaiban tuhanlah yang bekerja hingga membuatnya masih bertahan hidup.


*Flashback Off*


Pak Tyo langsung merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan putri semata wayangnya tersebut, Retha pun berlari dan menghambur ke pelukan Papanya.


"Waahhhh, udah pulang anak Papa." kata Pak Tyo.


"Gimana jalan jalannya? seru nggak?" tanya Pak Tyo kemudian, perlahan lahan Retha melepaskan diri dari pelukan sang Papa.


"Seru banget tau pa, sayang banget Papa malah nggak ikut." jawab Retha dengan penuh semangatnya.


"Ahahaha iya iya." tawa Pak Tyo sembari mengacak acak rambut Retha.


"Oh iya pa, ini dari Mama." ucap Retha sembari menyodorkan kantong keresek yang dibawanya tersebut.


"Ma Mama kemana?" tanya Pak Tyo ragu ragu sembari meraih kantong keresek yang disodorkan Retha, dan setelah dibuka ternyata isinya martabak telur, seharusnya ia bisa mencium baunya namun sayangnya saat ini ia tengah pilek.


"Mama langsung pulang pa padahal tadi aku udah nyuruh Mama mampir soalnya kan masih hujan, tapi Mama nggak mau." jelas Retha.


"Ohhh." balas Pak Tyo mengangguk anggukkan kepalanya mengerti.


............


Sementara itu dibelahan bumi lain, di Finlandia tepatnya.


"Gimana enak kan?" tanya Vanessa setelah menyuapkan karjalanpiirakat ke mulut Hanum.


"Hanummm....Vanessaaa, kesini makan siangnya udah siapp." terdengar suara teriakan Bu Lastri dari arah dapur.


"Iya bukk." jawab Vanessa dan Hanum secara bersamaan.


Pukkk....


Hanum memukul Vanessa tepat mengenai wajahnya kemudian langsung berlalu setengah berlari pergi begitu saja.


"Auhhh, awas kamuuu." teriak Vanessa yang kemudian juga ikut berlari menyusul Hanum.


Bug...bug...bug...gedebukkk.


Brakkk....Hanum langsung duduk dikursi dengan kasar hingga terdengar bungi gesekan antara kaki kursi dan lantai cukup keras.


"Hanumm, apa apaan sih kamu sama Vanessa kayak anak kecil aja." heran Bu Lastri menatap Hanum dan Vanessa secara bergantian.


"Tau nih buk, Hanum sih." jawab Vanessa melirik Hanum kesal.


"Udah udah buruan makan, keburu dingin nanti malah." sahut Pak Imam yang angkat bicara.


Mereka pun makan bersama sama, semenjak kedatangan mereka ke negara ini setahun yang lalu demi rehabilitasi untuk Hanum. Alhamdulillah kini Hanum bisa sembuh total hingga membuatnya kembali ceria seperti dahulu lagi.


"Oh iya buk pak, aku sama Hanum nanti mau pergi dulu yah sebentar." ucap Vanessa disela sela suapan makannya membuat Hanum memelototkan matanya seketika, pasalanya ia sendiri merasa tidak tahu dan tidak membuat janji dengan Vanessa.

__ADS_1


"Kemana?" tanya Bu Lastri yang tampak penasaran.


"Bisalah buk, namanya juga anak muda." jawab Vanessa dengan wajah tanpa dosanya.


"Biarin aja lah buk, namanya juga anak muda." sahut Pak Imam yang ikut menimpali.


"Wahhhh." ternganga Vanessa yang kemudian mengangkat tangannya mengajak Pak Imam ber tos ria yang di turuti oleh Pak Imam.


Tekkkk....


"Hahahaha." tawa Pak Imam dan Vanessa pun pecah secara bersamaan, sementara Bu Lastri dan Hanum hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan dua orang tersbeut.


.........


"Mau kemana lagi?" tanya Hanum yang sudah merasa lelah mengikuti Vanessa sejak tadi.


"Ea krim gimana?" tanya Vanessa meminta pendapat.


"Boleh boleh." jawab Hanum mengangguk cepat dengan senyum yang langsung melengkung begitu saja di bibirnya.


"Let's go." jawab Vanessa yang langsung berjalan duluan meninggalkan Hanum.


"Woiii tungguin dong." teriak Hanum yang langsung berlari menyusul Vanessa.


........


"Gimana? enak kan es krimnya?" tanya Vanessa antusian.


"Biasa aja." jawab Hanum cuek.


"Cihhhh." desis Vanessa kesal.


"Eh ngomong ngomong gimana kabar hubungan kamu sama Alexi?" tanya Hanum.


"Hahhhhh capek tau, masak dari pagi hingga petang sibuk kerja mulu." jawab Vanessa dengan raut wajah berapi apinya.


"Yah...namanya juga hidup." jawab Hanum acuh.


Tettttt....


"Pak, bukain pintunya pak." teriak Bu Lastri yang sedang berkutat didapur, tanpa menjawab Pak Imam pun langsung bangkit.


Klekkk....


"Selamat siang pak." sapa seorang laki laki yang sudah akrab dengan keluarganya maupun Vanessa selama tinggal disini.


Nt: Novel ini sudah berada di penghujung cerita ya kawan kawan, kasi bintang tujuh dong biar ramah😂


~Segala sesuatu menjadi buruk saat kamu berfikiran negatif, saat kamu berfikiran positif maka kebaikan akan mengikutimu~


^Kim Seok Jin^

__ADS_1


__ADS_2