
"Kenapa repot repot sekali?" tanya Hanum memandang semangkuk sup dan Anton bergantian.
"Tidak perlu berbasa basi, jadi makanlah." jawab Anton.
"Lagi pula ini akan menghangatkan tubuhmu." ucapnya lagi.
"Kamu masih pusing?" tanya Anton yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh Hanum.
"Baiklah kalau begitu biar aku saja yang menyuapimu." ucap Anton sembari mulai menyendokkan sup dari mangkuknya, sementara Hanum hanya diam tak menjawab karena kepalanya kini masih terasa pusing.
"Sekarang buka mulutmu." kata Anton memberi aba aba. Hanum pun membuka mulutnya berlahan sesuai aba aba dari Anton.
"Kenapa kamu bisa kehujanan? tubuhmu menggigil, pasti karena kamu kehujanan cukup lama." setelah memberikan suapan pertamanya Anton memberondong Hanum dengan berbagai pertanyaan.
"Aku lapar," kata Hanum tanpa menjawab pertanyaan Anton.
"Oh baiklah, aku akan mengambilkanmu nasi juga." refleks Anton langsung meletakkan begitu saja sup untuk Hanum dan langsung keluar dari kamarnya, Hanum hanya memandang kepergian Anton dengan perasaan sedihnya. Bagaimana tidak? jika pertanyaan Anton malah mengingatkannya pada kata kat Pedas dari Ibunya.
Tak berselang lama Anton pun kembali dengan membawa sepiring nasi sesuai permintaan Hanum.
"Nasinya sudah datang." ucap Anton mengiringi langkah kakinya, jangan lupakan senyum simpul yang menghiasi bibirnya tersebut.
"Terima kasih." balas Hanum.
"Sekarang mari kita makan dengan nasi juga." ucap Anton kemudian kembali menyendokkan makanan untuk Hanum dengan diselingi untuk dirinya juga, hingga pada akhirnya makanan pun telah tandas.
...........
Benar adanya jika suatu hal yang menjadi alasan besar perubahan pada diri kita akan selalu kita ingat, entah sebagai entah sebagai ucapan terima kasih atas perubahan diri yang lebih baik lagi atau karena telah berhasil menorehkan luka terlalu dalam untuknya. Begitu pula yang saat ini tengah dirasakan oleh Adnan.
"Eughh." lenguh Vanessa yang tiba tiba sadar dari pengaruh obatnya, dengan sigap Adnan pun langsung membantu Vanessa untuk bangun.
"Berbaring saja, aku akan panggilkan dokter." ucap Adnan.
"He eum." jawab Vanessa tersenyum lemah, Adnan pun kemudian bergegas keluar untuk memanggil dokter. Hingga beberapa saat kemudian Adnan kembali dengan seorang dokter disampingnya.
"Saya akan memeriksa kondisi Bu Vanessa terlebih dahulu." kata dokter tersebut kemudian memulai proses pemeriksaannya.
"Akibat benturan yang dialami Bu Vanessa membuat kandungannya sempat tak tertolong, namun kami berhasil menyelamatkannya dan memberikan suntikan penguat kandungan. Untuk kedepannya saya harap Bu Vanessa lebih berhati hati lagi." ucap Dokter tersebut memberikan penjelasan panjang lebar mengenai kondisi kesehatan Vanessa dan juga bayinya.
"Terima kasih dok telah menyelamatkan bayi saja, lain kali saya akan lebih berhati hati lagi." balas Vanessa dengan raut wajah bersalahnya.
__ADS_1
"Berapa lama lagi Vanessa harus dirawat dok?" tanya Adnan menyela pembicaraan dokter dan pasien tersebut.
"Lusa Bu Vanessa baru bisa pulang karena kami harus memastikan benar benar kondisi Bu Vanessa pak." jawab dokter tersebut memberikan penjelasan.
"Baiklah, terima kasih dok." balas Adnan.
"Sama sama pak, kalau begitu saya pamit dulu." ucap Dokter tersebut dengan sopan kemudian berlalu meninggalkan Adnan dan Vanessa berdua.
Adnan kini duduk dikursi yang berada tepat disamping Vanessa, hanya ada keheningan yang tercipta diantara keduanya.
"Bagaimana bisa kamu terjatuh?" tanya Adnan membuka suara, sontak Vanessa pun langsung menoleh kearah Adnan.
"A...aku, kakiku tidak sengaja tersandung." jawab Vanessa kemudian.
"Maaf aku malah mengganggu waktumu dengan Hanum." lirih Vanessa.
"Tak masalah, yang penting kondisimu dan bayimu baik baik saja." balas Adnan.
"Dimana Hanum?" tanya Vanessa kemudian karena merasa aneh jika Hanum tidak berada disamping Adnan.
"Mama tadi minta tolong padanya untuk mengambilkan pakaian ganti untukmu." jawab Anton cepat.
........
"Sebaiknya kamu istirahat dulu, besok pagi aku akan mengantarmu pulang." ucap Anton sembari beranjak berdiri dengan membawa nampan yang berisi mangkuk dan gelas kotor bekas makan Hanum tadi.
"Tidak perlu, aku akan langsung pulang saja." tolak Hanum cepat sembari berusaha bangun dari posisi berbaringnya kini.
"Auhhh." ringis Hanum yang langsung merasakan rasa pusing kembali menjalar kepalanya.
"Kepalamu pusing lagi kan? makanya sebaiknya kamu istirahat duli dan jangan banyak bertingkah." ucap Anton menatap Hanum.
"Aku tidak mau merepotkanmu," tolak Hanum yang masih berusaha turun dari ranjang.
"Jika kamu seperti ini terus kamu malah hanya sangat sangat merepotkanku, ini sudah malam dan diluar juga masih hujan." jelas Anton dengan tegasnya.
"Aku ini sudah sangat lelah, apa kamu tidak padaku?" tanya Anton pada Hanum dengan tatapan tajamnya, jika diperhatikan perubahan pada Anton seperti random karena sering berubah ubah sesuai suasana hatinya.
"Ma..maaf." cicit Hanum yang membernarkan perkataan Anton.
"Kalau begitu beristirahatlah." ucap Anton sebelum pada akhirnya pergi meninggalkan Hanum sendirian.
__ADS_1
"Benar, seharusnya kamu jangan merepotkannya num." gumam Hanum.
"Lagi pula ini lebih baik dari pada aku harus menuruti permintaan Mama yang menginjak injak harga diriku." geramnya lagi ketika mengingat kembali perlakuan Mertuanya tersebut, bukan karena Mertuanya minta agar ia membawakan pakaian untuk Vanessa melainkan karena cara memerintahkannya yang dibumbui dengan kata kata pedasnya membuat hati Hanum sakit.
.......
"Aku harus menelepon Hanum sebentar." ucap Adnan pada Vanessa kemudian langsung merogoh ponselnya yang berasa disaku celananya. Semwntara itu Vanessa hanya tersenyum sebagai tanda mempersilahkan.
Adnan pun lekas berdiri dan mencari tempat yang sedikit jauh dari Vanessa kemudian langsung mencari kontak Istrinya.
Sekali....dua kali....tiga kali namun panggilannya tak kunjung dijawab oleh Hanum dari seberang sana membuat Adnan khawatir, ia pun kemudian langsung mengirim pesan pada Hanum.
"Bagaimana?" tanya Vanessa pada Andan yang wajahnya terlihat masam.
"Hanum tidak menjawab panggilanku," jawab Adnan jujur apa adanya.
"Mungkin karena Hanum masih mencari cari bajuku, nanti pasti dia akan datang jadi kamu tenang saja tidak perlu khawatir seperti ini." ucap Vanessa memberi sugesti positif untuk Adnan.
"Baiklah, aku akan disini sampai Mama nanti datang lagi." jawab Adnan yang kembali duduk dikursi disamping Vanessa, Vanessa hanya tersenyum kecut mendengar jawaban Adnan barusan. Tak ada pembicaraan sama sekali dari keduanya membuat ruangan ini terasa sangat sunyi.
"Apa kamu bahagia menukah dengan Hanum?" tanya Vanessa membelah keheningan yang sempat tercipta. Membuat Adnan pun langsung menoleh kearah Vanessa.
"Sangat." jawab Adnan singkat.
"Apa persoalan anak sama sekali tak mengganggumu?" tanya Vanessa lagi membuat Adnan langsung menatapnya dengan kening berkerut tak mengerti dengan ucapan tiba tiba Vanessa.
"Em maksudku Mama pernah bercerita padaku jika ia sangat menginginkan cucu darimu." ucap Vanessa membenarkan.
"Selama ada Hanum disampingku aku sudah tak perduli dengan yang lainnya, lagi pula kami hanya belum diberi kepercayaan untuk memiliki anak saja." jawab Adnan dengan tegasnya.
"Syukurlah kalau begitu." balas Vanessa tersenyum kikuk.
"Aku harap kamu bahagia dengan Hanum." sambung Vanessa lagi.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Adnan kemudian.
"Maksud kamu?" tanya Vanessa belum mengerti.
"Dimana ayah dari bayimu?" tanya Adnan langsung pada intinya.
"Apa dia laki laki itu?" tanyanya lagi sebelum mendapatkan jawaban dari pertanyaannya sebelumnya.
__ADS_1