
Didalam kamar yang tidak dapat dimasuki oleh siapapun selain dirinya, Adnan duduk diranjangnya dengan membawa sebuah foto ditangannya.
Dielusnya foto tersebut dengan sayang, sesekali Adnan mengecup foto tersebut dengan perasaan penuh luka. Siapa lagi kalau bukan foto Hanum, mantan istrinya.
Bahkan semenjak kepergian Hanum pun kamar ini tidak pernah berubah sedikitpun dari sebelumnya, pakaian Hanum juga masih utuh ditempatnya.
Kata orang, waktu menyembuhkan segalanya. Tapi orang bilang seperti itu karena mereka belum pernah merasakannya. Hal itu yang selalu ia katakan kepada Mamanya setiap kali Mamanya meminta ia untuk melupakan Hanum dengan mudahnya dan menerima Vanessa seutuhnya.
Jika Adnan tidak memandang status Mama sebagai orang tuanya, mungkin ia akan mengklaim jika orang itu pasti sudah gila. Sebagian besar memang perceraiannya dengan Hanum karena Mamanya yang ikut campur dalam urusan rumah tangganya, walaupun ia juga mengakui jika ia juga melakukan kesalahan yang menyakiti hati Hanum.
Ahhh....desah Adnan yang lagi lagi dan lagi merasa frustasi dengan sebab yang sama, beberapa waktu yang lalu akhirnya ia dapat menemukan informasi yang dapat mengakhiri semua ini segera.
"Maafkan aku, karena semua ini berawal dari kesalahanku sendiri." ucap Adnan pada dirinya sendiri dengan membayangkan sosok Hanum berada dihadapannya.
"Seharusnya aku tidak melakukan itu semua."
"Tapi aku janji, aku akan merebut kamu kembali sayang." ucapnya lagi.
"Aku dan kamu akan kembali, kembali utuh seperti dulu.
"Membangun rumah tangga yang bahagia sayang." ucap Adnan dengan penuh keyakinan didalam hatinya, perlahan lahan Adnan beranjak berdiri dari posisi duduknya dan berjalan menuju meja rias milik Hanum.
Aaaaaaahhhhh......
Pranggggg.........
Prakkkkk.........
Barang barang milik Hanum bertebaran jatuh dilantai akibat amukan Adnan.
"Aku akan pastikan kamu kembali lagi padakuuu!" teriak Adnan dengan penuh rasa keputusasaannya.
Dengan tubuh lemah Adnan mengambil sesuatu didalam laci, menatap sesuatu yang kini telah berpindah ketangannya dengan perasaan campur aduk antara marah dan frustasi menghadapi semua ini.
............
Hari ini Anton dan Hanum memutuskan untuk pergi ke butik melakukan fitting baju pengantin yang nantinya akan menjadi saksi bisu pernikahan sakral mereka berdua.
Hanum yang baru selesai mandi pun berganti baju dan sedikit memoles wajahnya dengan bedak tipis tipis.
Tok.....tok.....tokk
"Hanummm." panggil Maya dari luar.
"Iyaaaa." sahut Hanum sembari menyemprotkan minyak wangi ketubuhnya.
"Sebentar." kata Hanum yang kemudian langsung meletakkan parfumnya dan berjalan kearah pintu.
Ceklekk....
__ADS_1
"Ada apa May?" tanya Hanum membuka pintunya.
"Lo ada primer nggak? punya gue habis nih." ucap Maya menyampaikan tujuannya datang kesini.
"Oh, ada kebetulan jarang gue pake jadi masih banyak." jawab Hanum.
"Tunggu sebentar yah." ucapnya lagi yang dijawab i dengan anggukan kepala antusias oleh Maya.
Hanum pun lekas masuk kembali kedalam untuk mengambil primer yang dibutuhkan Maya, tak berselang lama Hanum pun kembali dengan membawa primer ditangan kanannya.
"Nih." ucap Hanum sembari menyodorkan primernya pada Maya.
"Makasih." jawab Maya sembari menerima primer yang disodorkan Hanum.
"Eitss, ngomong ngomong kamu mau kemana?" tanya Maya yang memindai penampilan Hanum dari atas hingga bawah.
"Kok nggak pakai seragam yang biasanya?" tanya Maya lagi dengan kening berkerut.
"Mau keluar yah?" tanyanya lagi tanpa henti.
"He eum." jawab Hanum mengangguk anggukkan kepalanya mengiyakan.
"Mau kemana emangnya?" tanya Maya yang masih sangat penasaran dengan apa yang akan dilakukan temannya tersebut.
"Mau fitting baju aku hari ini." jawab Hanum dengan senyum yang mengambang dibibirnya.
"Ohhh." balas Maya mangut mangut mengerti, namun sejurus kemudian senyum terbentuk dibibir Maya.
"Yang akan menemani kamu sampai tua nanti." ucapnya lagi, sebagai seorang sahabat tentu saja Maya mendoakan segala sesuatu yang terbaik untuk sahabatnya.
"Amiin." ucap Hanum mengaminkan doa Maya untuknya.
"Kamu juga cepet nyusul dong, jangan lama lama." kata Hanum yang mendapat tatapan sinis dari Maya.
"Aku sih udah siap num, tapi ya itu jodohnya nggak tau masih dimana. Nggak tau apa kalau aku disini udah lama nungguin dia." seloroh Maya dengan bibir sebalnya.
"Makanya kamunya juga ikut nyari dong." balas Hanum.
"Hello, nyarinya dimana buk? gampang amat ngomongnya kayak yang nyari penjual bakso dipinggir jalan aja." balas Maya yang tak mau kalah.
"Ya...siapa tau aja jodohnya penjual bakso." jawab Hanum.
"Nanti lama lama malah Anggia dulu loh yang maju." kata Hanum lagi.
"Kalau emang iya, ih....nggak sopan banget tuh anak. Gue yang duluan lahir, eh...malah dia dulu yang mau kawin." balas Maya lagi.
..........
"Papa." panggil Retha.
__ADS_1
"Iya, apa?" tanya Pak Tyo yang langsung menoleh menghadap anaknya.
"Tante Hanum baik yah." ucap Retha.
"He eum." jawab Pak Tyo mengangguk anggukkan kepalanya menyetujui pendapat putrinya tersebut.
"Menurut Papa tante Hanum orangnya cantik nggak?" tanya Retha.
Emmm....Pak Tyo tampak berfikir fikir terlebih dahulu sebelum memberikan jawabannya.
"Ishhh Papa." sebal Retha pada Papanya karena terlalu lama menjawab pertanyaan sederhananya.
"Menurut Papa, tante Hanum cantik nggak?" tanyanya lagi tak mau menyerah.
"Cantik, tante Hanum cantik kok." jawab Pak Tyo pada akhirnya.
"Papa suka?" tanyanya lagi membuat Pak Tyo langsung membelakakkan matanya seketika.
"Pa." panggil Retha sembari menggoyang goyangkan tangan Papanya.
"Papa suka nggak?" tanyanya lagi sembaru menatap Papanya lekat lekat seakan akan memohon jawaban dari pertanyaannya tadi.
"Eh iya iya, Papa suka kok." jawab Pak Tyo dengan susah payah membuat senyum terukir dibibir anaknya tersebut. Sepertinya Retha sudah sangat puas dengan jawaban yang diberikannya, Pak Tyo pun mengacak acak gemas rambut hitam Retha.
"Kalau sama Retha?" tanyanya lagi.
"Sayang dong, masak nggak sih." jawab Pam Tyo langsung.
"Berati Papa bakalan ikut seneng kalau aku juga seneng dong pa?" tanya Retha lagi yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Pak Tyo.
"Papa mau ngelakuin apapun yang buat Retha bahagia?" tanya Retha lagi.
"Banyak tanya kamu." ucap Pak Tyo sembari mencubit gemas hidung Retha.
"Ihhh Papa, ini sakit tau." kata Retha sembari mengelus elus hidungnya yang bekas cubitan Papanya.
"Abisnya putri Papa sekarang cerewetnya pake banget sih.." jawab Pak Tyo dengan wajah tenangnya.
"Ihhhh aku serius pa, Papa ih....kalau ditanya nggak asik jawab Retha sembari mengerucutkan bibirnya.
"Iya iya deh, maafin Papa." kata Pak Tyo mencoba membujuk putri kecilnya yang tengah merajuk.
"Makanya kalau ditanya tuh dijawab yang bener dong pa." balas Retha dengan sebalnya.
"Ya udah Papa minta maaf deh, sekarang Retha mau tanya apa nanti Papa jawab yang bener bener deh." jawab Pak Tyo kemudian.
"Papa mau kan nikah sama tante Hanum?" ucap Retha kemudian yang langsung membuat Pak Tyo terkejut bahkan sampai tersedak air liurnya sendiri.
~Mulut adalah sumber api, ucapan adalah bara. Kalian harus berhati hati saat bicara~
__ADS_1
^It's Okay To Not Be Okay^