
"Sa...sayang, kenapa nanya itu?" tanya Tyo untuk menyamarkan keterkejutannya barusan.
"Aku suka sama tante Hanum pa." jawab Retha dengan wajah polosnya.
"Tante Hanum orangnya baik pa." lanjut Retha lagi, Pak Tyo hanya tersenyum menanggapi penjelasan putrinya karena memang yang dikatakan putrinya benar adanya.
"Sayang, jodoh itu sudah ada yang mengatur." ucap Pak Tyo memberi sedikit pengertian pada anaknya.
"Terus kenapa Papa sama Mama pisah?" tanya Retha lagi dengan wajaj polosnya seakan akan mengatakan semua hal yang terlintas dipikirannya, Pak Tyo tersenyum kecut mendengarnya. Jujur, akhirnya ia kembali mengingat perceraiannya dengan mantan istri karena dulu Mamanya Retha ketahuan selingkuh dibelakangnya bahkan hingga menelantarkan Retha saat ia sibuk mencari nafkah.
"Sayang, itu berarti Papa sama Mama jodohnya hanya sampai disitu." jawab Pak Tyo.
.............
"Maaf yah udah buat kamu jadi nunggu lama." ucap Hanum yang baru datang dengan terburu buru, pasalnya tadi obrolannya dengan Maya merambah ke topik yang lain hingga membuat durasinya pun bertambah panjang.
"Nggak papa kok." jawab Anton dengan senyumannya.
"Ya udah ayok sekarang aja, keburu siang malah nanti." kata Anton yang langsung dijawabi dengan anggukan kepala oleh Hanum dan langsung masuk kedalam mobil Anton.
Anton pun bergegas masuk kedalam mobilnya juga menyusul calon istri.
Perjalanan menuju butik membutuhkan waktu sekitar 30 menitan jika lalu lintas dalam keadaan normal.
"Oh iya Mas, sekalin lihat lihat model undangan yang mau dipakai nggak?" tanya Hanum pada calon suaminya.
"Iya, sekalian aja biar nggak bolak balik." jawab Anton sembari fokus pada jalanan didepannya.
"Oke." balas Hanum.
Perjalanan kali ini lebih banyak keheningan ketimbang adanya percakapan.
Tuutttt.....ttttuuuttt.....tiba tiba terdengar suara deringan ponsel, bukan milik Hanum karena ponselnya saat ini tengah ia mainkan melainkan ponsel milik Anton yang berada di dashboard.
Anton pun meraba raba untuk mengambilnya, karena Hanum yang posisinya lebih dekat pun pada akhirnya membantu mengambilkan ponsel milik Anton tersebut. Karena layar ponselnya menyala membuat Hanum bisa membaca dengan jelas nama yang tertera dilayar ponsel tersebut.
"**** *?" gumam Hanum membaca nama yang tertera sebelum memberikannya kepada Anton.
__ADS_1
"Eh..." kaget Anton yang spontan langsung menoleh kearah Hanum yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.
"Siapa dia Mas?" tanya Hanum lagi.
"Dia Miss Voke." jawab Anton yang berusaha bersikap biasa saja, namun Hanum masih memandang Anton dengan penuh tanda tanya seakan akan tidak puas dengan jawaban yang diberikan Anton barusan.
"Dia yang akan jadi model produk terbaru aku nantinya." jawab Anton.
"Dia temen lama aku waktu kuliah dulu, jadi aku bilang sama dia kalau misalnya ada apa apa atau ada hal yang dia kurang pahami dia bisa hubungin aku."
"Jadi ya kita kayak temen biasa yang lagi berbisnis gitu." Anton memberikan penjelasan yang kemudian mengambil ponselnya dari tangan Hanum saat Hanum terlihat sedang mencerna ucapannya barusan.
Anton pun menyalakan earphone nya untuk menjawab panggilan tersebut.
"Hello." sapa Anton setelah menggeser tombol berwarna hijau.
"......"
"Oh sorry, i'm driving." jawab Anton.
"......"
"....."
"Okay, you don't have to worry about that. We'll talk about it again at the next meeting." jawab Anton.
"...."
"Okay, you are welcome. See you later." ucap Anton yang kemudian langsung memutuskan sambungan teleponnya dan langsung meletakkan kembali ponselnya kedalam saku kemejanya.
"Kamu jangan berfikiran negatif." ucap Anton yang kemudian dijawabi dengan anggukan kepala oleh Hanum.
Memang seharusnya yang Hanum lakukan adalah membersihkan otaknya dari pikiran pikiran buruk yang ia duga duga sendiri hingga tak mencari tahu lebih dalam lagi kebenarannya.
Kunci dari sebuah hubungan yaitu adanya sikap saling percaya antara satu sama lain hingga dapat meminimalisir terjadinya salah faham.
..........
__ADS_1
Setelah cukup lama mengemudi akhirnya Anton dan Hanum sampai juga ditempat tujuan mereka,disebuah butik yang terkenal di ibu kota. Bahkan sudah dapat dipastikan jika busana yang dijual didalamnya harganya tak main main.
"Ayo." ajak Anton sebelum turun dari mobil.
"Ayo." balas Hanum yang kemudian langsung membuka pintu mobil dan turun.
Tak pernah sekalipun ada didalam bayangannya jika ia akan menjalani proses fitting baju pernikahan selama dua kali dalam hidupnya. Seperti kata pepatah, hidup tidak ada yang tahu bagaimana kedepannya. Inilah yang dialami Hanum, ia tidak pernah tahu bahkan sekedar menduga jika pernikahannya tak terselamatkan dari badai yang mengguncangnya.
Anton dan Hanum berjalan beriringan masuk kedalam butik, dengan tak lupa mereka bergandengan tangan seperti pasangan bahagia lainnya saat akan melakukan fitting baju pengantin.
"Pak Anton, selamat datang dibutik kami." begitu masuk Anton dan Hanum sudah disambut kedatangannya oleh Bu Lia selaku pemilik butik tersebut, sepertinya kedatangannya telah ditunggu tunggu oleh si pemilik butik. Hanum dan Anton menganggukkan kepalanya yang dibumbuhi dengan senyuman menjawab keramahan Bu Lia.
"Oke, Pak Anton mau langsung lihat lihat model gaunnya sekarang atau mau istirahat dulu Pak Anton?" tanya Bu Lia dengan gaya anggunnya.
"Langsung saja buk." jawab Anton yang disetujui dengan anggukan kepala oleh Hanum.
"Oke kalau gitu mari saya antar untuk lihat lihat model gaunnya dulu." ucap Bu Lia mepersilahkan.
Mereka bertiga pun berkeliling melihat lihat beragam design gaun yang terpajang dengan rapi dengan Bu Lia yang berada didepan menjelaskan setiap keunggulan keunggulan dari masing masing gaun dibutiknya tersebut.
"Sepertinya yang ini cocok untuk kamu." kata Anton setelah cukup lama berkeliling.
"Iya bagus, tapi itu juga terlihat bagus." jawab Hanum yang juga menunjuk gaun dengan model yang cukup tertutup hingga tidak mengekpose seluruh bagian tubuhnya, sedangkan yang dipilih Anton adalah gaun dengan model sabrina namun warnanya sangat menarik karena warnanya seputar warna pasta.
"Gimana kalau dicoba dua duanya dulu?" tawar Anton.
"Iya mas." jawab Hanum mangut mangut.
"Oke kalau begitu saya akan minta bantuan karyawan untuk mengambil gaunnya, Mbak Hanum sama Mas Anton bisa tunggu disana. Nanti kami akan datang membawakan gaunnya." ucap Bu Lia dengan ramahs sembari menunjukkan area yang biasanya digunakan untuk menunggu sembari bersantai.
Hanum dan Anton pun langsung berjalan menuju tempat yang ditunjukkan oleh Bu Lia, meninggalkan Bu Lia yang tampak sibuk memanggil karyawannya.
"Kira kira bagusan yang mana yah mas ya?" tanya Hanum ketika keduanya telah mendudukkan bokongnya disofa.
"Aku tidak perduli yang mana yang penting kamu akan menjadi istriku." ucap Anton.
~Takdir semua orang didunia sudah ditentukan oleh yang maha kuasa. Namun karena yang maha kuasa lebih tersentuh dari yang kalian kira, hal kecil ayang kalian lakukan atau katakan bisa mengubah takdir itu.
__ADS_1
^Mystic Pop - Up Bar^