Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 50


__ADS_3

Karena rasa kantuk yang kian mendera membuat Hanum mau tak mau harus memejamkan matanya, sementara itu disisi lain Anton yang sufah selesai dengan mencuci piring bekas makannya langsung masuk kedalam ruangan kerjanya. Maklum lah jika pekerjaannya masih sangat menumpuk karena ia baru saja pulang kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studinya di Amerika.


"Oh ya ampun, kenapa pekerjaanku banyak sekali?" ucap Anton dengan wajah pasrah bercampur kesalnya memandang satu tumpuk dokumen dimejanya.


"Lama lama bisa gila aku." gumam Anton dengan tangan yang mulai meraih dokumen yang berada pada tumpukan paling atas.


Satu persatu dokumen pun mulai berkurang, hingga kini hanya kurang seperempat saja. Karena merasa sudah sangat lelah Anton pun menghentikan aktivitasnya sejenak, menatap jam yang menempel didinding ruangannya.


"Sudah hampir 2 jam aku duduk disini." gumam Anton yang kemudian beranjak berdiri dari duduknya, entah mengapa tiba tiba ia menginginkan secangkir kopi untuk menemani malamnya.


..............


"I...itu bukan urusanmu." jawab Vanessa tegas dan langsung memalingkan wajahnya dari Adnan.


Adnan hanya bisa menghela nafas panjang, meskipun aslinya ia geram karena Vanessa tak mau memberitahukannya yang sebenarnya.


Tuttt.....tuuuttt....tttuuuttt.....tiba tiba saja ponsel milik Adnan berdering, dengan sigap Adnan pun langsung merogoh ponselnya dengan penuh semangat karena mengira itu adalah telepon dari Hanum. Sampai pada akhirnya senyum Adnan berlahan lahan mulai luntur seiring dengan netranya membaca nama yang tertera dilayar ponselnya.


"Mama?" gumam Adnan, pada akhirnya Adnan menjawab panggilan dari Mamanya dengan malas.


"Halo ma." sapa Adnan begitu mengangkat teleponnya.


"Halo nan, maaf banget deh kayaknya malam ini nggak bisa nengokin Vanessa lagi soalnya Mama mesti nemenin Papa kamu kerumah tante Mirna deh." ucap Bu Dian panjang lebar dari sana membuat Adnan lagi lagi harus menghela nafas panjang.


"Zidan kemana ma?" tanya Adnan kemudian.


"Zidan lagi keluar, Mama nggak tau kemana. Kayaknya sama temen temennya deh." jawab Bu Dian dari seberang sana.


"Oke." jawab Adnan singkat karena menghemat energinya yang sebenarnya sudah siap meledak karena tubuhnya yang masih lelah dan juga karena Hanum yang tak kunjung menjawab panggilannya, jujur saja Adnan takut jika Hanum akan marah padanya karena tadi ia tak membelanya saat ucapan pedas Mamanya terlontar dengan lancar dari bibir Mamanya.


"Eh nan tunggu." kata Bu Dian cepat karena ia tahu jika Adnan pasti hendak mengakhiri teleponnya. Sesuai dugaan Adnan pun kembali menempelkan ponselnya ditelinganya.


"Hanum udah balik belum?" tanya Bu Dian dari seberang sana.

__ADS_1


"Belum." jawab Adnan singkat.


"Gimana sih Hanum itu, disuruh gitu aja nggak becus." terdengar suara kesal Bu Dian dari seberang sana.


"Kalau Hanum nggak becus kenapa nggak Mama aja yang ngambil." sahut Adnan kemudian yang langsung mematikan sambungan teleponnya begitu saja.


"Kenapa Nan?" tanya Vanessa berbasa basi.


"Nggak papa." jawab Adnan singkat membuat Vanessa hanya bisa tersenyum kecut karena merasa telah diacuhkan.


Vanessa pun ingin mencoba turun dari ranjangnya meskipun kewalahan, Adnan yang melihat pun sontak langsung membantu Vanessa.


"Kamu mau kemana?" tanya Adnan dengan wajah paniknya.


"A..aku mau ke kamar mandi." jawab Vanessa dengan lirihnya.


"Ma...mau apa?" tanya Adnan kikuk.


"A...aku mau pipis." jawab Vanessa tertunduk malu.


"Biar aku bantu." ucap Adnan, sementara Vanessa hanya diam karena jujur dalam hatinya ia juga membutuhkan bantuan Adnan, Adnan pun membantu Vanessa ke kamar mandi dengan tangan kanan ya yang membantu memapah Vanessa sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk membawa tiang infus.


"Sampai disini saja." ucap Vanessa saat keduanya sudah sampai didepan pintu kamar mandi.


"Apa sudah bisa?" tanya Adnan yang hanya dijawabi dengan anggukan kepala oleh Vanessa.


Akhirnya Adnan pun menuruti permintaan Vanessa, namun saat baru hendak melangkah tubuh Vanessa langsung limbung untung saja dengan sigap Adnan langsung menangkap tubuh Vanessa.


"Kenapa dipaksa jika tidak bisa." kesal Adnan sembari membantu Vanessa berdiri tegak.


"Ma...maaf." cicit Vanessa yang merasa malu.


"Baiklah, aku akan mengantarmu sampai kedalam." ucap Adnan kemudian karena sudah tak memiliki pilihan lain.

__ADS_1


"A...apa?" kaget Vanessa mendengar ucapan Adnan.


"Apakah kamu ingin menggugurkan kandunganmu? bagaimana jika nanti kamu jatuh lagi? hanya bayi yang ada didalam kandunganmu lah yang kamu punya sekarang." ucap Adnan dengan tegas seakan akan sebuah tamparan yang ditunjukkan untuk menyadarkan Vanessa.


"Ma..af." cicit Vanessa tertunduk malu, tanpa disangka ia menundukkan kepalanya karena menahan tangis akibat ucapan Adnan barusan.


"Kamu salah Adnan, selain bayi ini aku juga memiliki kamu." gumam Vanessa mengepalkan tangannya kuat kuat.


Akhirnya Adnan pun benar benar membantu Vanessa masuk hingga kedalam kamar mandi.


..........


Disisi lain Anton yang sudah selesai membuat kopi pun membawa kopi buatannya ke teras depan, duduk dikursi menikmati langit malam serta ditemani dengan secangkir kopi untuk kembali membuat rileks otaknya.


"Kenapa aku seperti merasakan Hanum tengah bersedih?" gumam Anton saat ia mengingat kembali wajah Hanum.


"Apa dia dan Adnan tengah bertengkar?" gumamnya lagi.


"Kenapa Adnan tidak mencarinya?" gumam Anton.


"Haruskah aku mengantarkannya pulang? tapi tubuh Hanum masih panas, lebih baik malam ini Hanum beristirahat dulu." gumam Anton.


"Adnan tidak akan salah paham pastinya, dia pasti akan mempercayai Hanum." gumamnya lagi meyakinkan pikirannya.


Akhirnya Anton benar benar menghabiskan kopinya hingga tandas, tak terasa jam telah menunjukkan pukul 2 pagi. Merasa udara sudah semakin dingin, Anton pun memutuskan untuk masuk kedalam rumah.


Tiba tiba saja Anton kembali teringat dengan Hanum, ia pun lekas melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Anton membuka pintu dengan amat pelan karena tak ingin menimbulkan suara yang dapat mengganggu tidur Hanum, dipandanginya wajah Hanum lekat lekat yang semakin lama malah semakin membuat detak jantungnya tak karuan.


"Kenapa dengan jantungku ini? tidak mungkinkan aku kembali jatuh cinta padamu, ingat Hanum ingat dulu aku mencintaimu karena aku masih kecil dan anggap saja itu hanyalah cinta monyet. Jadi jangan menggodaku lagi dengan wajah polosmu itu." batin Anton memberikan peringatan keras, akhirnya Anton pun membenarkan selimut Hanum yang sudah berantakan sebelum pada akhirnya ia memilih untuk cepat keluar dari kamar ini.


.......


Disisi lain Adnan yang sudah merasakan kantuk dan juga lelah badannya tanpa sadar langsung tertidur disamping ranjang Vanessa dengan posisi duduknya, Vanessa yang masih terjaga pun memberanikan diri untuk membelai rambut Adnan.

__ADS_1


"Aku akan menebus segala kesalahanku padamu nan, maafkan kesalahanku yang dulu. Aku telah membuat keputusan yang salah, keputusan yang selalu aku sesali hingga saat ini." batin Vanessa sembari membelai rambut Adnan dengan lembut..


__ADS_2