Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 55


__ADS_3

Pada akhirnya mobil yang dikendarai Adnan pun berhenti di depan sebuah klub malam, padahal sudah lama sekali Adnan tak pernah bersilaturahmi lagi di tempat ini. Dulu Adnan sering ke sini sekedar untuk menghilangkan kegundahan hatinya karena perbuatan Vanessa, namun lambat laun ia semakin mengurangi jadwalnya untuk main kesini apalagi setelah ia menikah dengan Hanum sehingga ia tak pernah menginjakkan kakinya ditempat ini lagi.


"Mama kenapa ikut campur urusan rumah tangga Adnan segala?" geram Pak Basuki bercampur dengan amarahnya, Bu Dian yang terduduk ditepi ranjang hanya menundukkan kepalanya tak siap dengan kemarahan Suaminya tersebut.


"Harusnya tugas kita sudah selesai Ma, biarin Adnan sendiri yang menentukan pilihannya." lanjut Pak Basuki dengan intonasi yang menggebu gebu.


"Bukankah dulu kita sendiri yang telah menjodohkan Adnan dan Hanum, kenapa sekarang kamu egois sekali memisahkan mereka." imbuh Pak Basuki yang kini sudah tak tahu lagi harus berkata apa.


"Karena kita yang memilihnya, maka kita juga yang harus mengakhirinya Pa. Hanum bukan yang terbaik buat Adnan, apa Papa nggak kasihan sama anak kita sendiri!!!" bentak Bu Dian yang langsung bangkit dari posisi duduknya, kini matanya menatap tajam Suaminya tersebut.


"Lagi pula kalau dalam waktu setahun Hanum nggak hamil juga, Hanum juga udah setuju buat lepasin Adnan pa." ucap Bu Dian yang kemudian langsung berbalik arah dan pergi meninggalkan suaminya sendirian dikamar. Pak Basuki hanya bisa menghela nafas panjang sembari meraup kasar wajahnya, Istrinya itu jarang sekali protes atau mengeluh seperti ini. Entah apa yang membuat wanitanya itu kini berubah seratus persen seperti ini, Pak Basuki sendiri hampir hampir tak mengenal sosok yang berbicara dengannya tadi.


Ceklekkk.....suara pintu yang terbuka, muncullah sosok Zidan dari balik pintu.


"Dari mana aja kamu?" tanya Bu Dian yang kebetulan tadi hendak melintas, namun ia langsung berhenti ketika mendengar suatu pintu dibuka.


"Eh...Mam...Mama." terkejut Zidan, tak biasanya Mamanya itu menginterogasinya seperti ini.


"Aku abis pulang dari rumah teman Ma." jawab Zidan dengan santainya, menepiskan rasa gugupnya menghadapi wanita di depannya ini.


"Kamu ini sekarang sukanya kelayapan aja." bentak Bu Dian dengan tatapan tak suka membuat Zidan langsung mengerutkan keningnya heran.


"Biasanya aku emang begini Ma." potong Zidan langsung berniat menyadarkan Mamanya.


"Lagian kenapa Mama sekarang jadi sensian gini sih?" tanya Zidan dengan tatapan menyelidiknya, semakin lama perubahan pada sikap Mamanya ini semakin jelas terlihat pula.

__ADS_1


"Mam.." Bu Dian tampak bingung harus menjawab apa.


"Kamu ini dikasih tau kok ngeyel banget." tanpa aba aba lagi Bu Dian langsung menjewer telinga Zidan dengan.


"Auh...aduh...aduh ma" ringis Zidan yang merasakan panas pada daun telinganya akibat tarikan tangan Mamanya.


"Makanya kalau dikasih tau tuh jangan ngebantah terus, rasain ini." Bu Dian pun langsung menambah kekuatan tangannya.


.........


Didalam kamarnya Hanum hanya bisa meringkuk kedinginan, hanya satu hal yang ada didalam pikirannya.


Suami itu hanyalah pinjaman, entah nanti akan pergi karena diambil yang kuasa atau pergi karena wanita lain.


Kata kata itulah yang menjadi kekuatan bagi dirinya hingga membuatnya berani menyetujui permintaan Bu Dian, kini ia hanya harus memantapkan dan menguatkan hatinya agar bisa kuat menjalaninya. Ditatapnya dengan nanar foto besar yang berada dikamarnya, foto dimana dirinya tampak begitu cantik dengan balutan kain putih. Tak ada yang pernah menyangka jika ia duli harus menikah dengan cara dijodohkan, bahkan itu sama sejali tak pernah terlintas dipikirkannya. Kedepannya pun tak akan pernah ada yang tau, kapan pernikahan indahnya akan berakhir? Apakah harus berakhir karena permintaan Mertuanya ataukah akan berakhir karena hal lainnya pula.


Vanesa mengela nafas panjang....


"Aku harap kamu nanti akan memberikan keputusan yang tidak merugikan kita berdua." ucap Vanessa penuh harap, angin sepoi sepoi memberikan kesejukan bagi Vanessa.


.........


Disebuah klub malam, Adnan telah menghabiskan tiga botol minuman haram yang memiliki kadar alkohol yang tinggi. Rasa pahit yang membakar tenggorokannya pun sudah tak ia pedulikan lagi, yang ia butuhkah saat ini hanyalah ketenangan belaka. Ia ingin kembali hidup tenang, seharusnya dulu ia tak usah menolong Vanessa. Jika dulu ia membiarkannya, mungkin masalah yang menimpanya tidak akan serumit ini. Mamanya tidak akan berubah, wanita yang telah melahirkannya itu tidak akan tergila gila pada cucu seperti sekarang ini.


"Euhhhh....Vanessa, kau wanita jahat!!!" rancau Adnan yang sudah mulai kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


"Kau dulu meninggalkanku Semaumu, kenapa kamu harus kembali lagi dihidupku." rancaunya dengan menunjuk nunjuk entah apa yang berada didepanya tersebut.


"Kau tau, aku tidak bisa melupakan kamu sepenuhnya,"


"Hanum." tunjuk Adnan pada botol botol bekas minumnya.


"Kasihan sekali wanitaku itu, hiks...hiks...hikss." tiba tiba saja suasana hati Adnan berubah menjadi kesedihan, mengingat Hanum yang pastinya sangat terpukul.


"Huuuu...huuuu..." tangis Adnan pecah, bagaikan anak kecil yang tak dibelikan mainan. Adnan begitu rapuh.


Sudah hampir tengah malam Adnan menghabiskan waktu ditempat ini, kesadarannya pun semakin menipis juga. Membuat pegawai yang bekerja disini kewalahan dibuatnya, karena tak ada orang yang menjemputnya. Salah seorang pegawai pun berniat memesankan taksi untuk Adnan, bermodalkan alamat yang tertera di ktp Adnan yang diambilnya dari saku jaket yang dipakai Adnan.


..... .......


Vanessa yang tak kunjung bisa tidur pun memilih untuk berselancar di dunia maya sekedar untuk menghilangkan rasa bosannya, hingga pada akhirnya ia merasa haus. Untuk memenuhi kebutuhannya, Vanessa pun langsung bergegas menuju dapur.


Glek...glek....glek...Vanessa menghabiskan segelas air hanya dengan beberapa tegukan saja, usai mengatasi dahaganya Vanessa pun berniat untuk kembali lagi ke kamarnya.


Tok....tok....tokk, langkah kaki Vanessa harus terhenti ketika mendengar suara ketukan pintu, dilihatnya hari sudah lewat tengah malam lalu siapa yang datang bertamu malam malam begini?.


Vanessa pun memberanikan diri untuk mengintip dibalik tirai jendela, betapa terkejutnya ia saat melihat Adnan yang bahkan sudah tak bisa lagi berdiri tegak. Dengan cepat Vanessa pun langsung membukakan pintu untuk suaminya tersebut.


Ceklekkk....


"Mas Adnan." pekik Vanessa yang khawatir dengan kondisi Adnan, Adnan yang meligat seorang wanita membukakan pintu untuknya malah memindai penampilan wanita itu dengan detail dari atas hingga bawah.

__ADS_1


Pasalnya Vanessa yang sudah terbiasa tidur dengan pakaian minim pun tak merasa ada yang salah dengan pakaian yang dikenakannya, toh selama ini ia juga selalu berpakaian seperti ini. Perlahan lahan Adnan memajukan tubuhnya meskipun dengan sempoyongan, Vanessa yang melihat pun berusaha membantu Adnan namun....


Brak....


__ADS_2