Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 102


__ADS_3

"Ahhhh." teriak Vanessa.


Prangggg....pafrum dengan harga jutaan rupiah kini telah melayang membentur kaca dan berbaur menjadi serpihan serpihan yang berceceran diatas lantai.


"Brengsekkk." umpat Vanessa yang membaca sebuah pesan yang masuk kedalam ponselnya.


"Tenang, semarah apapun kamu kamu harus tetap tenang." gumam Vanessa sembari mengatur deru nafasnya yang tadinya menggebu gebu agar kembali normal.


Vanessa pun lekas mengambil tas yang berada diatas ranjangnya, kemudian sedikit merapikan pakaiannya yang sedikit kusut.


"Tersenyum Vanessa," gumam Vanessa.


"Tipu semua orang, kamu hanya perlu memperlihatkan jika dirimu baik baik saja." ucapnya lagi yang mencoba bersikap tenang.


Ceklekk.....


"Non." panggil seseorang yang mengagetkan Vanessa yang baru saja melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamarnya.


"Astaga." terkejut Vanessa hingga tubuhnya sedikit terlonjak yang kemudian langsung membalikkan tubuhnya.


"Bibiii!" bentak Vanessa tanpa menunggu lama.


"Bibi apa apaan sih! ngagetin aja tau." desis Vanessa.


"Anu, maaf non bibi gak bermaksud buat ngagetin non." bela Mbok Sri untuk dirinya sendiri.


Vanessa tampak kembali mengatur pola pernafasannya sembari membuang pandangannya kearah lain.


"Ada apa?" tanya Vanessa kemudian.


"Anu non, bibi cuma mau bilang kalau bahan bahan makanan didapur udah pada nipis." jawab Mbok Sri yang tampak takut takut.


Qeeehhhh.....


"Oke, tunggu sebentar." ucap Vanessa yang kemudian langsung masuk kembali kedalam kamarnya.


Mbok Sri pun menunggu majikannya tersebut diluar pintu yang saat ini sedah tertutup rapat.


Ceklekkk.....tampaklah Vanessa yang kembali keluar tak berselang lama.


"Ini." ucap Vanessa sembari menyodorkan sejumlah uang bergambar presiden soekarno tersebut.


"Makasih non." jawab Mbok Sri sembari menerima uang yang disodorkan majikannya tersebut.


"Kalau gitu saya permisi dulu non." ucap Mbok Sri pamit unduru diri, tanpa membalas Vanessa sendiri juga langsung pergi.


..........


Untuk yang kedua kalinya Hanum kembali mengerjabkan matanya dan untuk yang kedua kalinya pula ia melihat mantan suaminya yang tampak duduk disamping ranjangnya seakan akan telah menunggu dirinya sadar kembali.


"Auhh." ringis Hanum yang merasakan kepalanya pusing saat mencoba beranjak duduk.


"Hanum, jangan banyak gerak dulu." ucap Adnan yang tampak khawatir dan langsung mendekat kearah Hanum.


"Apa yang kamu mau?" tanya Hanum tanpa basa basi lagi membuat tangan Adnan harus menggantung di udara dan mengurungkan niatnya untuk sekedar membantu Hanum, Adnan pun kembali duduk ditempatnya semula.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu makan dulu, perutmu sudah kosong. Ini sudah saatnya kamu makan lagi, kamu bahkan telah melewatkan makan siangmu." bukannya menjawab Adnan malah mengingatkan Hanum akan makannya.


"Tidak perlu." tolak Hanum cepat yang kemudian langsung memalingkan wajahnya.


"Jangan takut, aku tidak akan macam macam padamu." ucap Adnan yang kemudian langsung beranjak dari duduknya.


Jujur sebenarnya Hanum juga telah merasakan lapar, tapi mana mungkin ia minta makan pada mantan suaminya dengan mulutnya sendiri bukan? maaf...ada harga diri yang harus ia junjung tinggi. Namum lain halnya dengan Adnan yang memaksanya untuk makan, itu merupakan dua kasus yang berbeda.


Ceklekk....tak berselang lama kemudian Adnan kembali lagi dengan sebuah nampan ditangannya.


Adnan pun berjalan krarah Hanum dan meletakkan makanan yang dibawanya keatas nakas, lalu Adnan pun membantu Hanum duduk agar lebih memudahkannya saat makan. Bagai kerbau yang dicocok hidungnya, Hanum bahkan nurut dengan Adnan tanpa ada penolakan darinya. Percuma saja jika ia menolak, nyatanya tubuhnya sendiri masih terasa lemas.


"Biar aku yang suapin kamu." ucap Adnan setelah membantu Hanum.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri." tolak Hanum yang tak ingin merepotkan dan juga merasa tidak nyaman jika mantan suaminya menyuapinya.


"Apa kamu yakin bisa sendiri?" tanya Adnan memastikan.


"Iya." jawab Hanum dengan suara lemahnya.


"Baiklah." balas Adanan yang langsung mengambilkan makanan yang dibawanya dan menyerahkannya pada Hanum, sementara ia sendiri kembali duduk ditempatnya semula sembari menikmati pemandangan mantan istrinya yang tampak asyik dengan makanannya.


Meskipun Hanum mencoba fokus dengan makanannya namun tetap saja ia dapat merasakan jika Adnan saat ini tengah mengamatinya, tentu saja hal itu membuat Hanum merasa tidak nyaman. Namun Hanum masih terus mencoba mengabaikannya, mencoba tak melihat serta tak perduli hingga ia menghabiskan makanannya.


"Sudah." kata Hanum yang langsung menyadarkan Adnan, sontak saja Adnan langsung mengambil piring bekas Hanum dan mengbil segelas air kemudian diberikannya kepada Hanum.


"Sekarang aku ingin pulang." ucap Hanum yang mencoba beranjak turun.


"Tunggu." tahan Adnan yang langsung memegang tangan Hanum.


"Maaf." lirih Adnan yang merasa bersalah.


"Tapi tunggu jangan pergi dulu, ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu." ucap Adnan membuat Hanum tampak mengernyitkan dahinya keheranan.


"Apa?" tanya Hanum yang penasaran.


"Tunggu sebentar." ucap Adnan yang kemudian merogoh ponselnya dan mengotak atik isi didalamnya, usai melakukan itu Adnan pun langsung mendekat kearahnya.


.............


Disisi lain...


"Brengsekkk." umpat Anton usai membaca sebuah pesan singkat yang masuk kedalam ponselnya.


"Sialann." umpatnya lagi sembari menendang apapun yang ada disampingnya. Anton pun kemudian langsung meraup wajahnya dengan kedua tangannya dengan kasar yang kemudian menetralkan hembusan nafasnya agar kembali normal.


"Shiit." umpatnya lagi yang kemudian langsung menyambar kunci mobil yang terletak diatas mejanya.


Anton mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi yang bercampur dengan emosi menuju alamat yang telah diberikan, hingga akhirnya ia sampai juga ditempat yang ditujukan.


Tanpa pikir panjang lagi ia pun langsung masuk kedalamnya, ia bergegas menuju resepsionis.


Anton yang berjalan tergesa gesa usai keluar dari lift menuju nomor kamar yang didapatkannya, antara perasaan marah bercampur lega lah yang tengah dirasakan Anton saat ini.


Marah? yah marah pada pecundang yang berani beraninya telah mencoba bermain main dengannya.

__ADS_1


Lega? yah lega karena sebentar lagi ia bisa menghajar hingga habis bedebah sialan itu.


Cekelekkk.....betapa terkejutnya Anton ketika ia masuk dan disuguhkan dengan pemandangan yang ada didepannya.


"Vanessa?" kaget Anton, mendengar namanya dipanggil sontak Vanessa pun langsung menoleh kearah sumber suara. Tak kalah terkejutnya dengan Anton, bahkan Vanessa langsung berdiri dari posisi duduknya dan menatap Anton dengan mulut terbuka.


Dengan rahang yang mengeras Anton pun langsung berjalan mendekat kearah Vanesaa dan langsung mencengkeram rahang Vanessa kuat kuat hingga Vanessa bahkan kesusahan untuk bicara bahkan bernafas pun terasa sulit.


"Sudah aku bilang jangan bersikap seolah olah kamu mengenalku." tekan Anton.


"Berani beraninya kamu bermain main denganku." tekannya lagi.


Vanessa yang tak bisa berbuat apa apa hanya berusaha untuk menggeleng gelengkan kepalanya menolak tuduhan yang telah diberikan Anton.


"Masalah Adnan mau menerimamu atau tidak itu sama sekali bukan urusanku." teriaknya tepat didepan wajah Vanessa membuat Vanessa hanya memejamkan matanya.


"Jangan jadikan anak sialan ini sebagai alasannya, aku sudah menyuruhmu untuk menggugurkannya dan aku juga sudah bilang jika aku tidak mau bertanggungjawab. Apa yang terjedi antara kita itu hanya sebuah kesalah pahaman dan kecerobohanmu saja." murka Anton yang kemudian langsung melepaskan cengkeraman tangannya dari rahang Vanessa dan...


Plakkk.....Anton menampar pipi Vanessa dengan kasarnya hingga Vanessa terjerembab terjatuh diatas lantai.


"Mas Anton." lirih Hanum yang sama sekali tak percaya dengan apa yang dilihatnya tepat didepan matanya, laki laki yang selama ini ia pikir memiliki kepribadian yang baik dan lembut nyatanya adalah laki laki bringas yang tega menyakiti hati dan fisik wanita.


Mendnegar suara yang tak asing baginya sontak membuat Anton langsung membalikkan tubuhnya begitu juga dengan Vanessa yang mendongakkan kepalanya dengan tangan yang memegang pipi kirinya yang terasa panas.


"Ha...Hanum." Anton sama sekali tak percaya dengan kehadiran wanita yang tampak berkaca kaca tengah berdiri disamping mantan suaminya, bahkan untuk memanggil nama calon istrinya saja suara Anton seperti tercekat.


"Ha...Hanum, ini nggak seperti yang kamu lihat." ucap Anton mencoba memberikan pengertian.


"Hanum kamu percaya kan sama Mas?" tanya Anton yang kini telah berdiri tepat dihadapan Hanum, sementara Hanum sendiri tampak menutup wajahnya dengan kedua tangannya seakan akan tak sanggup sekedar untuk menatap wajah Anton setelah apa yang dilihatnya dengan jelas didepan matanya.


Tatapan mata Anton kini beralih pada sosok yang berdiri disamping Hanum.


Buggghhh....tanpa aba aba lagi Anton pun langsung melayangkan pukulannya tepat disudut bibir Adnan hingga membuat Adnan terhuyung kesamping.


"Sialan lohhh." teriaknya sembari mencoba meraih Adnan kembali.


BUGGH... Anton kembali memukul Adnan mumpung lawannya itu tengah kesakitan.


"Mas, hantikann!." bentak Hanum sembari menahan tubuh Anton, namun Anton sama sekali tak perduli dengan hal itu.


Tiba tiba saja...


Tap...tap...tap.....tappp....tiba tiba saja segerombolan polisi masuk begitu saja.


"Angkat tangan." ucap salah seorang anggota polisi yang masuk sembari menodongkan pistol.


Tentu saja hal itu membuat semua orang yang ada didalamnya tampak terkejut.


"Pak Adnan, anda kami tangkap." ucap salah seorang polisi tersebit, Adnan pun mencoba beranjak berdiri.


"Saya? salah saya apa pak?" tanya Adnan dengan polosnya.


"Anda kami tangkap dengan tuduhan....."


~Jadilah dirimu sendiri, buatlah gaya unik dirimu sendiri~

__ADS_1


^Kim Taechyung, My Bias😚^


__ADS_2