Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 63


__ADS_3

"Aku mau cerai." ucap Hanum dengan penuh keyakinan membuat semua orang langsung tercengang, tak ada yang menyangka jika Hanum akan benar benar mengatakan hal itu.


"Apa?" kaget Adnan yang tak percaya dengan apa yang didengarnya kini, rasanya jauh lebih sakit daripada saat Hanum mengatakannya pertama kali tadi.


"Ha...Hanum, apa nggak sebaiknya kamu pikirkan baik baik dulu. Jangan ambil keputusan saat kamu emosi seperti ini, Papa tau kalau Adnan salah tapi kamu juga harus mengerti posisi Adnan." ucap Pak Basuki mencoba memanipulasi pikiran Hanum, jujur ia tak ingin kehilangan menantu seperti Hanum.


"Posisi Mas Adnan yang mana pa?" tanya Hanum dengan tersenyum sinis.


"Jangan harap kalian bisa membodohiku lagi, cukup sekian dan terima kasih." batin Hanum.


"Walaupun sejujurnya saya senang karena saya nggak harus nunggu satu tahun lagi tapi yang dikatakan Suami saya ada benarnya, setidaknya kalau kamu nggak berubah pikiran kamu mengatakannya dengan kondisi yang sudah tenang." sahut Bu Dian ikut menimpali.


"Sekarang atau besok keputusan saya tetap tidak akan berubah!." ucap Hanum tegas, tatapannya nyalang bergantian menatap semua orang yang ada disini. Hanum pun langsung beranjak berdiri dari posisi duduknya.


Geram karena Hanum yang ingin bercerai darinya membuat emosi Adnan kian naik, ia pun dengan kasarnya langsung beranjak berdiri menyeimbangi Hanum.


"Kamu pikir kamu siapa bisa minta cerai dari saya." ucap Adnan sembari menunjuk nunjuk wajah Hanum. Hanum yang baru saja hendak melangkahkan kakinya pun terpaksa harus mengurungkan niatnya dan kini menatap laki laki didepanya tersebut.


"Lihatlah, sekarang perubahanmu semakin terlihat Mas," batin Hanum tersenyum getir, baru kali ini ia melihat sifat suaminya yang menunjuk nunjuk dirinya dengan tatapan menusuk.


"Aku wanita paling bodoh didunia ini karena telah percaya ucapan laki laki bajingan sepertimu." ucap Hanum penuh penekanan yang dihiasi dengan senyum sinis menghiasi bibirnya. Sungguh harga dirinya benar benar hancur saat ini, bagaimana bisa ia merendahkan harga dirinya seperti ini dihadapan semua orang?


"Yah...benar, kamu memang benar benar wanita bodoh. Bodoh karena telah meminta cerai dariku." ucap Adnan menggema menghiasi malam ini.


"Lebih bodoh lagi karena dulu aku telah bersedia menikah denganmu." sinis Hanum, merasa sudah muak Hanum pun hendak pergi. Baru saja ia membalikkan tubuhnya, namun...


"Kamu pikir orang tuamu bakalan diam saja? Hah?" ucap Adnan dengan lantangnya membuat Hanum langsung berhenti seketika.

__ADS_1


"Adnan sudah, jangan diperpanjang lagi." lerai Pak Basuki seakan akan tahu apa yang hendak dikatakan oleh Putranya tersebut.


"Biarin pa, Biarin! " teriak Adnan, kini tatapan matanya beralih Pada sang Papa.


"Biar sekalian Hanum tau apa yang sudah kita berikan untuk keluarganya, biar dia sadar diri pa!" ucap Adnan penuh emosi.


"Adnan tap.." sahut Bu Dian yang sebenarnya tak ingin jika Putranya akan mengungkit hal tersebut.


"Biarin ma." jawab Adnan cepat. Adnan pun langsung berjalan cepat menuju Hanum hingga kini ia telah berdiri tegak dihadapan Hanum.


"Asal kamu tau, berhektar hektar sawah yang digarap Bapak kamu itu kamu pikir dari mana asalnya? hah?" ucap Adnan menunjuk wajah Hanum membuat Hanum langsung mendongakkan kepalanya.


Memang yang Hanum tahu dulunya Bapaknya hanyalah pekerja disawah milik orang lain hingga akhirnya perlahan lahan Bapaknya dapat membeli sawah hingga bisa menghidupinya bahkan merenovasi rumahnya, namun semua itu terjadi jauh sebelum ia menikah dengan Adnan.


"Apa maksud kamu? Bapakku beli sawah itu jauh sebelum aku menikah sama BAJINGAN seperti kamu." jawab Hanum sembari menunjuk dan menekan dada Adnan.


Qeh....Adnan tersenyum meremehkan ucapan Hanum.


"Bapak kamu itu nuker kamu sama uang aku!" teriak Adnan tepat didepan wajah Hanum membuat Hanum langsung tercengang, bahkan ia sudah tidak bisa melihat wajah Adnan dengan jelas karena tatapan matanya kini sudah kabur dan memburan.


Plakkkk....entah mengapa dengan ringannya dan untuk pertama kalinya tangan Hanum melayang dan mendarat mulus dipipi kiri Adnan, susuatu yang tak pernah ia bayangkan jika ia berani melakukannya.


"Adnan." teriak Bu Dian yang tercengang dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan.


Adnan hanya menatap Hanum tak percaya, wanita yang dikenalnya lembut kini telah berani menamparnya didepan keluarganya sendiri.


"Lihatlah, sejak kapan kamu berubah seperti ini? apakah kamu telah menahannya selama ini?" batin Hanum.

__ADS_1


"Akhirnya kata kata yang selama ini kau tahan keluar juga dari mulutmu." batin Hanum lagi.


"Aku mohon, jangan tinggalkan aku seperti ini." batin Adnan yang sebenarnya merasa sangat ketakutan, jujur ia mengatakan ini semua karena semata mata hanya untuk menggertak Hanum saja. Ia sudah tak memiliki pilihan lain saat pengihanatannya telah terbongkar seperti ini.


"Jadi pikirkan baik baik keputusanmu." ucap Adnan pelan namun penuh dengan penekanan. Selepas mengatakan hal tersebut Adnan pun langsung pergi meninggalkan tempat tersebut disusul oleh Pak Basuki, Bu Dian dan juga Vanessa yang kini hanya tinggal menunggu keputusan final dari Hanum.


Brukk....tubuh Hanum langsung terjatuh begitu saja.


Tes...hiks....hiks....hiks...tangis Hanum kembali pecah saat hanya ada dirinya seorang di ruangan ini, entah apa yang paling membuatnya sakit. Apakah karena pengihanatan yang dilakukan suaminya atau kah karena perbuatan orang tuanya.


Perlahan lahan Hanum mulai bangkit dari keterpurukannya, ia mengepalkan tangannya kuat kuat seakan akan ia ingin memberitahukan pada dunia bahwa Hanum yang sesungguhnya baru saja akan muncul.


"Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah menarik kata kataku." batin Hanum yang langsung bangkit dari posisinya.


Ia pun langsung berjalan cepat keluar dari rumahnya, tak ada yang menghentikannya termasuk satpam yang sedang berjaga. Mungkin karena tak mendapatkan perintah secara langsung untuk menghentikan Hanum dan menahannya agar tak pergi dari rumah ini.


"Rasanya aku sudah tidak sudi lagi menginjakkan kakiku dirumah itu." batin Hanum sembari menatap rumah itu dengan tatapan tajamnya.


Hanum melangkahkan kakinya tak tentu arah, ia hanya mengikuti jalanan yang dilaluinya. Entah apa kah ia harus mengucapkan terima kasih pada tuhan karena tak menurunkan hujannya saat situasi seperti ini ataukah ia harus marah dan menyalahkan takdir yang dialaminya.


Cukup lama Hanum berjalan hingga merasakan kakinya tak sanggup lagi untuk berjalan, tak ada penjual atau toko yang masih buka. Ia pun memilih untuk duduk diteras sebuah toko sembari menyaksikan mobil yang berlalu lalang didepanya.


"Apakah aku harus mati?" batin Hanum yang tiba tiba merasakan kesedihan merasuki jiwanya.


"Kenapa semua orang menghianatiku?" batinnya lagi, tanpa ia sadari air mata telah jatuh membasahi pipinya.


Merasa sudah cukup beristirahat, Hanum pun berencana untuk melanjutkan perjalanannya kembali. Lagi pula tempat ini masih dekat dengan rumah orang tua Adnan.

__ADS_1


Aaaaaaaaaa.....


~Pilihlah jalan mendaki, karena itu akan mengantarkan kita ke puncak puncak baru~


__ADS_2