Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 72


__ADS_3

"Aku udah yakin sama keputusan aku, aku mau Cerai." ulang Hanum kesekian kalinya membuat Adnan langsung melepaskan cengkeraman tangannya dari bahu Hanum, Adnan sudah tak mampu berkata kata lagi.


"Ka...kamu nggak dengerin ucapan aku num?" tanya Adnan menggeleng gelengkan kepalanya tak percaya.


"Aku bakal ganti semua uang kamu Mas, aku minta waktu aku janji bakalan balikin semua uang yang udah kamu kasi ke keluarga aku." jawab Hanum dengan tegas dan penuh keyakinan membuat Adnan tampak semakin frustasi karena Hanum sama sekali tak mengindahkan kata katanya kemarin, bahkan ini semua tak ubahnya seperti bom yang menghantam sebuah kota yang tampak damai.


Sementara itu Pak Imam tampak merogoh sesuatu dari dalam tas yang dibawanya dan meletakkan dengan kasar sebuah map ke atas meja yang membuat semua orang mengalihkan perhatiannya ke arahnya.


"Saya kembalikan semuanya." ucap Pak Imam tegas.


"A...apa maksud kamu mam? ini apa?" tampak Pak Basuki yang ternganga terkejut dan langsung meraih mab yang ada diatas meja dan membaca isinya.


"Mam, apa maksud kamu ngembaliin ini?" tanya Pak Basuki yang terkejut.


"Ini sama sekali nggak.." sambung Pak Basuki lagi.


"Aku tahu dan paham akan niat baikmu, tapi aku rasa aku sudah tak membutuhkan itu lagi. Terima kasih atas kebaikan keluarga kalian." sahut Pak Imam tampak menyunggingkan senyumannya kemudian berjalan menghampiri Hanum dan merangkulnya.


"Aku harap semuanya akan baik baik saja setelah perceraian ini." ucap Pak Imam lagi.


"Ayo Buk." panggil Pak Imam pada istrinya, Bu Lastri yang tadinya diam kini langsung berdiri memenuhi panggilan suaminya. Mereka pun berjalan beriringan keluar dari rumah ini.


"Aku nggak akan biarin kamu lolos Num, kamu milik aku!" teriak Adnan yang mengiringi kepergian Hanum dan keluarganya.


"Nggak papa, semua akan baik baik saja. Jangan perdulikan dia lagi." ucap Pak Imam yang mencoba menenangkan putrinya tersebut.


"Iya pak." balas Hanum tampak berusaha tersenyum hingga senyumnya tampak sangat kaku.


"Apa itu taksinya?" tunjuk Bu Lastri pada sebuah taksi yang terparkir diseberang jalan.


"Mungkin Buk," jawab Hanum.


"Ayo kita kesana." ucap Pak Imam.


...........


Ahhhhhh........Adnan menendang nendang meja karena saking frustasinya membuat Bu Dian dan Vanessa tampak panik, sedangkan Pak Basuki dan Zidan hanya menghela nafas mereka kasar.


"Hentikan!" bentak Pak Basuki yang sontak membuat mereka langsung terdiam pada posisinya bagaikan patung.


"Adnan." panggil Pak Basuki, tampak Adnan hanya diam saja tanpa ada niatan untuk menjawab.

__ADS_1


"Apa yang sudah kamu katakan sama Hanum sampai sampai Pak Imam datang mengembalikan sertifikat tanahnya?" tanya Pak Basuki penuh emosi, sementara Adanan tampak terdiam.


"JAWAB!" betak Pak Basuki karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.


"A...aku bilang kalau semua itu, d...dariku." jawab Adnan terbata bata dan langsung membuang muka.


Pak Basuki tampak mengeraskan rahangnya dan perlahan lahan mendekat kearah Adnan.


Bughh...tanpa basa basi lagi Pak Basuki langsung melayangkan pukulan mautnya yang mendarat tepat dipelipis Adnan.


"Papaaaa." teriak Bu Dian dan Vanessa hampir bersamaan.


Bugh...bugh...bughhh....tak puas hanya dengan sekali pukulan, Pak Basuki menambahnya dengan beberapa pukulan lagi hingga membuat Adnan langsung jatuh tersungkur.


"Pa udahh." Bu Dian langsung menarik tangan suaminya agar menghentikan kebrutalannya.


"Kenapa? kenapa kamu bohong!" bentak Pak Basuki menunjuk nunjuk wajah Adnan.


"Kamu tahu betul kalau itu semua Papa berikan karena Papa merasa banyak berhutang budi sama Pak Imam." ucap Pak Basuki berapi api.


"Sekarang lihat, kamu menghancurkan semuanya."


"Rumah tangga kamu sendiri dan juga persahabatan Papa."


Semua orang melihat untuk pertama kalinya kemarahan Pak Basuki, padahal Pak Basuki dikenal sebagai orang baik yang pandai menahan emosinya.


"Aku akan memperbaiki rumah tangga aku Pa." teriak Adnan. Entah karena tak mendengarkan atau karena tak perduli lagi, Pak Basuki tampak terus berjalan tanpa berhenti atau sekedar menoleh sedikitpun.


...........


"Pak kita mau kemana?" tanya Hanum pada supir taksi tersebut.


"Maaf mbak, tadi Pak Anton menyuruh saya untuk membawa Mbak sama kaluarga Mbak kesebuah alamat yang sudah diberikan Mbak." jawab Supir taksi tersebut.


"Anton kemana?" tanya Pak Imam penasaran.


"Maaf pak, saya nggak tau kan saya cuma supir." jawab Supir taksi tersebut.


Setelah perjalanan yang cukup panjang untuk ditempuh, kini akhirnya perjalanan mereka berakhir disebuah rumah yang dominan berwarna putih yang berada dipuncak hingga hawanya begitu sejuk.


"Disini pak?" tanya Hanum pada supir taksi tersebut untuk memastikan.

__ADS_1


"Iya Mbak, bener ini alamat yang diberikan Pak Adnan." jawab Supir taksi tersebut sembari mencocokkannya dengan yang tertera diponselnya.


"Ya sudah, terima kasih kalau begitu." jawab Hanum.


"Sama sama Mbak." balas Supir taksi tersebut.


Kini ketiganya tampak berdiri seperti orang linglung didepan bangunan megah tersebut.


"Permisi pak." tiba tiba saja terdengar suara dari belakang mereka, sontak Pak Imam dan semyanya langsung berbalik.


"I..iya." ucap Pak Imam terbata bata karena ragu ragu.


"Emm apa bener ini dari keluarganya Mbak Hanum?" tanya laki laki paruh baya tersebut.


"Iya, bener ini saya dan keluarga saya." jawab Hanum yang ikut menyahut.


"Bapak siapa ya? kok bisa tahu?" tanya Hanum dengan tatapan penuh selidiknya.


"Oh saya yang jaga rumah ini mbak, tadi Mas Anton bilang sama saya kalau bakalan ada tamu yang dateng." jawab laki laki paruh baya tersebut dengan ramahnya.


"Oh begitu." jawab Hanum mangut mangut.


"Kalau begitu, mari kita masuk Mbak." kata laki laki tersebut mempersilahkan.


"Emm Pak...Pak." Hanum langsung menghentikan semuanya membuat semua orang tampak menatapnya.


"Mas Anton kemana yah Pak?" tanya Hanum kemudian.


"Em Bapak nggak tahu Mbak kalau itu." jawab laki laki tersebut.


"Ohh." jawab Hanum tampak mangut mangut meskipun dengan tatapan kecewanya, pasalnya ia ingin segera mengucapkan banyak banyak terima kasih karena Mas Anton sudah banyak membantunya.


Mereka pun memasuki rumah tersebut dengan dipandu oleh laki laki yang ternyata bernama Pak Teguh tersebut. Ternyata bukan hanya Pak Teguh yang mengurus rumah ini, melainkan ada Mbok Ijah yang ternyata merupakan Istri dari Pak Teguh tersebut.


Hanum menungguk kedatangan Anton sembari duduk duduk dibangku kayu yang terletak dibawah pohon mangga didepan rumah tersebut, namun hingga terang berganti gelap Anton tak kunjung menampakkan batang hidungnya juga.


"Kenapa masih disini num?" tiba tiba Bu Lastri datang menghampiri Hanum.


"Eh, Hanum masih nunggu Mas Anton buk mau bilang terima kasih." jawab Hanum menyunggingkan senyumannya.


"Ayo masuk dulu num, udah mulai dingin nanti kamu kena flu loh." bujuk Bu Lastri.

__ADS_1


~Lepaskan apa yang membuatmu sulit, yakinlah jika kamu akan mendapatkan ganti yang lebih baik~


__ADS_2