Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 99


__ADS_3

Tap...tap...tap..Adnan memasuki rumahnya dengan tenang, melihat raut wajah ketakutan Anton tadi menimbulkan perasaan bahagia yang tersendiri untuknya.


"Mas?"


Satu kata tersebut langsung membuat senyum yang tadinya mengambang sempurna dibibir Adnan langsung hilang seketika, tanpa menoleh pun ia sudah tau pasti siapa pemilik suara tersebut.


"Mas, kamu berhenti dulu dong." kata Vanessa yang membuntuti langkah kaki Adnan, namun Adnan sama sekali tak memperdulikannya dan masih melanjutkan langkah kakinya.


"Mas berhenti!" teriak Vanessa yang tiba tiba saja sudah meraih tangannya dan menariknya hingga membuat Adnan langsung berbalik kearahnya.


"Mas, kamu dari mana Mas?" tanya Vanessa lagi.


"Pertanyaan kamu nggak penting tau nggak?" tekan Adnan yang hendak berbalik kembali namun secepat itu pula Vanessa menahan tangannya.


"Mas tunggu mas, Mas aku mau ngomong sama kamu." kata Vanesaa lagi membuat Adnan harus menahan kesabarannya.


"Cepat." tungkas Adnan.


"Mas, aku maafin kamu." kata Vanessa membuat Adnan mengerutkan keningnya tak mengerti dengan apa maksud ucapan wanita itu.


"Aku bakalan lupain semua yang udah kamu lakuin ke aku kemarin mas, asalkan kamu janji kalau kamu nggak bakalan ngelakuin itu lagi dan kamu juga mau ngelupain wanita itu." ucap Vanessa panjang lebar dengan tatapan seriusnya.


"Qeh." senyum Adnan meremehkan, tak habis pikir dengan apa yang dikatakan wanita ini.


"Aku nggak perduli!" tekan Adnan dengan wajah dinginnya dan hendak meninggalkan Vanessa.


"Mas, kamu nggak bisa kayak gini terus mas. Kamu harus bisa lupain wanita penyakitan itu." teriak Vanessa yang sontak membuat Adnan menghentikan gerakannya, rahangnya telah mengeras ditambah lagi dengan tangannya yang kini telah mengepal kuat.


Adnan pun langsung berbalik dan...


Plakk....


Ahhhh....


Sontak saja tangan kekar Adnan mendarat dengan mulus dipipi Vanessa hingga membuat wanita hamil tersebut hingga terhuyung kesamping, untung saja Vanessa tidak sampai jatuh tersungkur.


Vanessa memegang pipinya, pandangannya kini telah berkabut.


"Aku udah berkali kali ingatin kamu kalau jangan pernah kamu menghina Hanum!" bentak Adnan yang sudah terbakar emosi.


"Kamu sama sekali tidak lebih baik dari Hanum." hardiknya.


"Aku sama sekali tidak perduli kamu memaafkanku atau tidak karena aku sama sekali tidak menyesal melakukan itu sama kamu." tekan Adnan lagi.


Merasa sudah selesai Adnan pun langsung berbalik arah dan meninggalkan Vanessa yang tampak masih sangat kesakitan.


Tes...air mata Vanessa langsung terjun bebas begitu saja sembari menatap nanar punggung Adnan yang berjalan kian menjauh darinya, bahkan tanpa menoleh sedikitpun.


"Hiks...hiks...hiks."


"Aaaahhhhh." teriak Vanessa frustasi, entah dengan cara apa lagi yang harus ia lakukan agar Adnan bisa kembali seperti semula.


Vanessa menatap tangga yang tadi dilewati Adnan, ia menatapnya dengan penuh rasa kebencian, Vanessa pun berjalan kembali menuju kamarnya.


Brakkk....Vanessa langsung membanting pintu dengan sangat keras, yang tentu saja orang yang mendengarnya pasti langsung terkejut.


Prang.....Vanessa melempar dengan asal parfumnya hingga membentur tembok dan berakhir menjadi kepingan kepingan kaca yang berceceran dilantai.

__ADS_1


"Aaahhhhhhhh." teriak Vanessa mencoba mengeluarkan beban beban hidupnya.


Vanessa mengambil ponselnya yang berada disampingnya dan mengotak atik sesuatu didalamnya.


"Halo." ucap Vanessa ketika seseorang diseberang sana sudah menjawab panggilannya.


"......"


"Saya punya tugas baru buat kamu." kata Vanessa.


"....."


"Nanti saya akan kabari kamu lagi." ucap Vanessa yang kemudian langsung mematikan sambungan teleponnya dengan senyum yang terbit diujung bibirnya.


"Aaaahhhhgg." teriak Adnan didalam kamarnya.


.........


Tak terasa malam sudah berlalu dan berganti dengan senyum matahari dalam menyambut hari baru.


Tok....tok....tok....suara ketukan pintu yang membangunkan Hanum dari tidurnya.


Tok....tok...tok...


"Hanummm." panggil Maya diluaran sana.


"Iya." balas Hanum yang kemudian beranjak duduk dari poaisi berbaringnya dan duduk bersandar ditembok untuk mengumpulkan kesadarannya kembali.


Dug...dug...dug.


"Iya, tunggu bentar." balas Hanum yang kemudian mulai beranjak dari tempatnya dan berjalan kearah pintu.


Ceklek....


"Hay, gimana kondisi kamu sekarang?" tanya Maya langsung pada intinya.


"Udah mendingan kok." balas Hanum.


"Kalau belum pulih bener mendingan libur sehari lagi aja." saran Maya.


"Emmm." Hanum tampak ragu ragu.


"Udah jangan ngeyel gitu deh, Anton juga nggak bakalan ngijinin kamu kerja kalau kondisi kamu kayak gini." sahut Maya.


"Ya udah sekarang aku mau beli sarapan dulu, kamu buruan masuk terus istirahat aja." kata Maya yang langsung berbalik tanpa mendengar jawaban dari Hanum dulu.


"Selamat pagi." tiba tiba saja ada suara yang mengejutkan mereka.


"A..Anton?" terkejut Maya melihat laki laki didepannya ini.


"Anton?" Hanum juga tak kalah terkejutnya melihat calon suaminya yang sudah ada disini sepagi ini.


"Hehe kepagian yah?" cengenges Anton.


"Banget banget banget." sahut Maya.


"Eh, btw bawa apaan tuh?" tanya Maya melirik kantung keresek yang dibawa Anton.

__ADS_1


"Eh ini? ini sarapan buat Hanum." jawab Anton jujur.


"Ada jatah buat gue nggak?" tanya Maya tanpa tahu malu.


"May." tekan Hanum yang merasa tak enak dengan Anton karena tingkah Maya.


"Eh, aku bawa dua sih tadi. Buat aku sama Hanum, tapi nggak papa deh buat kamu aja." ucap Anton yang langsung merogoh satu bungkus sandwich dan diberikan kepada Maya.


"Wih, makasih loh ya." ucap Maya sembari menerima sandwich yang disodorkan Anton padanya.


"Oke." balas Anton acuh.


"Kalau gitu aku mau balik ke kamar aja deh, siap siap buat berangkat kerja." ucap Maya yang langsung berlalu pergi meninggalkan Hanum dan Anton.


"Maafin Maya yah." ucap Hanum yang masih merasa tak enak hati.


"Kenapa minta maaf? aku aja biasa aja." balas Anton.


Kini Hanum dan Anton sudah berada didalam kamar Hanum dengan pintu yang dibuka lebar lebar supaya tidak menimbulkan fitnah.


"Maaf yah, aku kemarin malah nggak tau kalau kamu sakit." ucap Anton dengan raut wajah bersalahnya.


"Ya nggak bakalan tau dong kamu, orang aku juga nggak ngabarin kamu." balas Hanum dengan senyum lebar dibibirnya.


"Gimana kondisi kamu sekarang?" tanya Anton tanpa menghiraukan candaan yang dilontarkan Hanum.


"Udah sembuh aku tuh." jawab Hanum.


"Yakin?" tanya Anton memastikan dan langsung meletakkan telapak tangannya di dahi Hanum untuk mengukur suhu tubuhnya.


"Gimana? udah nggak panas kan?" tanya Hanum memastikan.


"Jadi nggak perlu pakai acara kedokter segala." lanjut Hanum.


"Kalau gitu kamu hari ini jangan masuk kerja dulu, masuk besok atau lusa. Atau kalau perlu kamu berhenti kerja aja, kamu kan calon istri aku jadi aku yang bakalan bertanggungjawab sama hidup kamu." ucap Anton panjang lebar.


"Masih calon, jadi nunggu kalau sudah sah." balas Hanum dengan senyum dibibirnya.


Hanum dan Anton pun berbincang bincang hingga akhirnya Anton sudah harus pamit pergi. Hanum pun mengantar Anton hingga masuk mobil walaupun Anton sudah melarangnya, namun Hanum masih bersikeras untuk mengantarnya hingga Anton tak punya pilihan lain selain membiarkannya.


"Kamu buruan masuk terus banyak banyaj istirahat yah." kata Anton yang sudah masuk kedalam mobilnya.


"Iya, kamu juga hati hati bawa mobilnya terus semangat kerjanya." jawab Hanum.


"Oke sayang, kalau gitu aku berangkat dulu yah." kata Anton.


"Iya, dahhh." balas Hanum.


Perlahan mobil Anton pun mulai meninggalkan Hanum, setelah cukup jauh Hanum pun hendak berbalik masuk kedalam namun sebelum itu.


Happpp........


Aaaaaa.....


~Sukses adalah wujud kesempurnaan hidup~


^Dee Lestari^

__ADS_1


__ADS_2