Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 77


__ADS_3

“Zi...Zidan.” Hanum cukup terkejut saat berbalik badan dan melihat ada Zidan dan juga Anggia yang berdiri berdampingan dan menatapnya penuh selidik seakan akan banyak sekali pertanyaan yang tengah bersarang di otak mereka masing masing.


“Mbak Hanum mau kemana?” tanya Zidan langsung pada ]intinya dengan tatapan mata yang menatap dirinya dan Anton bergantian.


“Oh iya Mbak sampai lupa, kenalin ini namanya Mas Anton. Dia ini temen Mbak waktu sekolah, emm rencananya malam ini kita mau makan bareng.” Jawab Hanum langsung memperkenalkan Anton dan menyenggol lengan Anton agar segera mengulurkan tangannya untuk Zidan.


“Anton.” Kata Anton yang langsung mengulurkan tangannya.


“Zidan.” Balas Zidan menerima uluran tangan Anton.


“Anton.” Kata Anton yang kini mengalihkan uluran tangannya pada Anggia.


“Anggia.” Balas Anggia sembari menjabat tangan Anton.


“Oh iya, bukannya Mbak di kampung yah?” tanya Zidan mengalihkan pembicaraannya, walaupun statusnya sudah bukan adik ipar Hanum lagi namun keduanya masih menjalin komunikasi dengan baik.


“He eum, Mbak baru aja dateng ke Jakarta pagi tadi.” Jawab Hanum jujur apa adanya.


“Oh gitu,” balas Zidan mengangguk anggukkan kepalanya.


“Ih udah ih jangan nanya terus, Mbak Hanum pergi aja. Nanti keburu kemalaman loh lama lama ngeladenin pertanyaan Zidan, hehe.” Sahut Anggia yang ingin menyudahi percakapan ini, jujur ia sudah sangat lelah dan ingin menginap di kosan Maya.


“Oh, kalau begitu saya sama Hanum pergi dulu ya.” Balas Anton yang sangat setuju dengan ucapan Anggia.


“Iya, hati hati di jalan Mbak.” Ucap Anggia.


Akhirnya Hanum dan Anton pun lekas memasuki mobil, entah mengapa Hanum merasakan tatapan lain dari sorot mata Zidan. Seperti tatapan kekecewaan, dan itu dapat Hanum simpulkan karena Zidan dari awal memang tak menyetujui perceraiannya dengan sang Kakak.


“Makasih ya kamu udah nganterin aku.” Ucap Anggia pada Zidan.


“Eh, iya iya sama sama.” Sontak Zidan pun langsung mengalihkan pandangannya dari mobil yang ditumpangi mantan kakak iparnya tersebut pada Anggia yang berada disebelahnya.


“Kamu kenapa?” tanya Anggia yang merasakan ada perubahan tersendiri yang ditampakkan Zidan.


“Nggak papa kok.” Jawab Zidan cepat.


“Kalau gitu aku pergi dulu.” Kata Zidan yang kemudian langsung pergi begitu saja meninggalkan Anggia dan langsung masuk ke dalam mobilnya.


Anggia menatap Zidan dengan perasaan heran, namun sedikit sedikit ia yang tadinya merasakan perubahan Zidan setelah melihat mantan kakak iparnya bersama laki laki lain pun mulai memahami tentang apa yang membuat Zidan berubah.


“Kamu sayang banget yah sama Mbak Hanum.” Gumam Anggia melihat mobil yang dikendarai Zidan melaju dengan kecepatan tinggi.


........


“Tadi siapa?” tanya Anton membelah keheningan yang terjadi di dalam mobilnya,l membuat Hanum yang tadinya hanya fokus menatap lurus kedepan langsung mengalihkan arah pandangannya kepada Anton.


“Oh dia Zidan adiknya Mas Adnan.” Jawab Hanum.


“Ohhh, dia kayaknya sayang banget yah sama kamu.” Kata Anton menyampaikan apa yang dilihatnya.


“Emm He eum, kami dekat banget. Aku juga sering masakin dia makanan dan dia juga sering bawain aku hadiah, Zidan juga sayang banget sama Mas Adnan.” Jawab Hanum yang tatapan matanya kini menerawang jauh mengingat ingat hal hal yang pernah dilaluinya bersama.


“Dia pasti nggak setuju yah begitu tau kamu cerai sama Adnan?” tanya Anton lagi.


“Yah gitu sih, pertama sidang aku ketemu sama dia dan dia seperti nggak rela kalau aku pisah sama Kakaknya. Tapi dia anak yang baik, dia mengerti sama keadaan yang terjadi.” Jawab Hanum yang tersenyum mengingat betapa manisnya mantan adik iparnya tersebut.


“Oh iya, kita mau kemana?” tanya Hanum yang baru mengingat ketidaktahuannya tentang kemana Anton akan membawanya pergi hari ini.


“Ke tempat yang....emmm pokoknya aku yakin kalau kamu pasti suka.” Jawab Anton.


Tak berselang lama Anton pun menghentikan mobilnya membuat Hanum heran.


“Udah sampai, ayo turun.” Kata Anton yang langsung turun dari mobilnya. Bukannya turun, justru Hanum melirik lirik dimana ia berada saat ini.


“Pasar malam?” ucap Hanum yang hampir tak percaya, sontak ia pun langsung bergegas turun dari mobil.


“Wuahh, pasar malam.” Hanum menatap dengan kagum dengan apa yang dilihat didepan matanya saat ini.


“Gimana? Kamu suka nggak?” tanya Anton pada Hanum dengan tatapan tengilnya.


“Wuahhh, udah lama aku nggak kesini.” Jawab Hanum yang langsung berlari kecil ke arah Anton.


Maklumlah, dulu saat masih tinggal didesa hiburan yang paling menyenangkan untuknya yaitu pasar malam. Karena ia bisa menaiki banyak wahana dan bisa membeli makanan atau bahkan baju dengan harga yang murah, namun sayangnya pasar malam tak selalu ada. Hanya dihari hari tertentu diadakannya dan tentu saja hal itu membuat Hanum sangat rindu dengan suasana ramai indahnya pasar malam.

__ADS_1


“Aku tau, apa sih emangnya yang bisa bikin anak desa seneng kalau bukan pasar malam.” Jawab Anton dengan senyum mengejeknya.


“Ih...berati situ juga dong.” Sindir Hanum.


Hahahaha....tawa mereka pecah secara bersamaan. Akhirnya Hanum dan Anton pun mulai memasuki area pasar malam dan menaiki beberapa wahana yang sangat dirindukan oleh mereka.


“Wuahhh pusing juga jadinya, udah lama nggak naik komedi putar.” Keluh Hanum yang merasa kepalanya berputar putar sembari memegang kepalanya dan tangannya yang satunya lagi berkacak pinggang.


Hah...hhah...hahh...deru nafas Anton yang juga merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan Hanum.


“Kita duduk dulu disitu.” tunjuk Anton pada sebuah kursi kayu panjang yang saat ini kosong.


“He eh.” Jawab Hanum menyetujui saran dari Anton. Keduanya pun berjalan berdua dengan sempoyongan menuju ke arah kursi tersebut.


Bughhh....


“Aduh.” Keluh Hanum yang tubuhnya langsung oleng begitu saja ketika merasakan ada yang menabrak tubuhnya.


“Hanum, Hanum kamu nggak papa?” Anton pun langsung menolong Hanum dengan wajah paniknya.


“Papaaaaaa.” Terdengar teriakan melengking dari seorang anak kecil yang Hanum yakin dialah yang telah menabraknya.


“A..aku nggak papa kok.” Jawab Hanum yang langsung mencoba berdiri dengan dibantu oleh Anton.


“Hati hati.” Ucap Anton mengingatkan.


Usai menolong Hanum, Anton pun langsung mendekati kearah anak kecil tersebut dan berjongkok.


“Kamu nggak papa dek?” tanya Anton dengan wajah bersalahnya.


“Huwaaaa, Papaaaa.” Teriak anak kecil tersebut memanggil manggil Papanya lagi.


“Aduh dek, jangan nangis dong.” Dengan bingung Anton pun membantu mendirikan tubuh kecil tersebut.


Huwaaaaa....tangisan anak kecil tersebut malah semakin keras tak kunjung mereda.


“Coba aku lihat.” Ucap Hanum yang langsung menggeser posisi Anton dan langsung berjongkok didepan anak kecil tersebut, Hanum cukup terkejut melihat anak yang menabraknya adalah anak yang ditemuinya tadi siang.


“Heyyy, kok nangis? Lihat deh, kita ketemu lagi.” Kata Hanum sembari mencoba menyingkirkan tangan anak kecil tersebut yang menutupi matanya.


Perlahan lahan anak kecil tersebut menyingkirkan kedua tangannya dan membuka matanya.


Hiksss..


“Ta...ta..hiks...enn..te..hiksss.” dengan susah payah anak kecil bermana Retha tersebut mengejanya.


“Haiii Retha...kit..” jawab Hanum yang belum selesai.


“Retha.” Terdengar suara teriakan seorang laki laki dari arah belakang Hanum.


“Papaaa.” Teriak Retha yang langsung berlari kearah sang Papa.


Bugh....


“Papa...hiks..” Anak kecil tersebut terlihat menumpahkan tangisannya didalam pelukan sang Papa.


“Sayang, anak Papa kok nangis? Kenapa? Cup...cup...cup.” balas laki laki tersebut sembari berlahan lahan melepaskan pelukan anaknya.


“Ja..ja..et...tuh pa.” Jawab Retha dengan sesenggukan yang akhirnya memotong setiap ucapannya yang ingin ia katakan.


“Jatuh lagi? Makanya jangan lari lari.” Ucap sang Papa.


Ehemmm....Hanum berdehem untuk memberi kode jika dirinya ada disini.


“Maaf permisi.” Kata Hanum, sontak laki laki tersebut langsung menoleh ke arahnya.


“Iya, oh...maaf yah Mbak kalau anak saya nabrak Mbak lagi.” Ucap laki laki tersebut yang ternyata masih mengingat dirinya.


“Oh nggak kok Pak nggak.” Tolak Hanum cepat menggeleng gelengkan kepalanya.


“Tadi saya pusing soalnya abis naik salah satu permainan, jadi mungkin saya yang nggak hati hati jadi nabrak anak Bapak. Saya minta maaf sama Bapak dan anak Bapak.” Ucap Hanum mengutarakan niatnya.


“Tadi tantenya jalannya nggak bener pa.” Sahut anak kecil tersebut. Membuat semua orang langsung mengalihkan pandangannya pada anak kecil tersebut.

__ADS_1


Hahahaa...tawa Hanum pecah mendengar kejujuran yang terlontar dari bibir mungil tersebut.


“Retha.” Bisik laki laki tersebut yang merasa tak enak dengan Hanum.


“Nggak papa kok pak, emang bener saya jalannya nggak bener karena masih pusing tadi.” Sahut Hanum yang mendengar laki laki tersebut berbisik memanggil anaknya, Hanum pun langsung berjongkok mensejajarkan tingginya dengan tinggi anak kecil tersebut.


“Karena tante yang salah, gimana kalau tante beli in kamu es krim? Sebagai tanda permintaan maaf tante?” tawar Hanum pada anak kecil bernama Retha tersebut.


“Emmm boleh, tapi beliin buat Papa juga.” Tawar anak kecil tersebut membuat Hanum mengulum senyumannya mendengar kepolosan setiap kata kata yang terucap dari bibir mungil itu.


“Boleh.” Jawab Hanum mengangguk anggukkan kepalanya menyetujui.


Akhirnya mereka pun jalan berempat, disinilah Anton yang merasa paling dirugikan didunia. Karena niatnya untuk semakin dekat dengan Hanum malah berantakan kacau total, ia harus menahan perasaannya dan bersikap seolah olah ia juga menikmati kebersamaan ini.


Kini mereka berempat tenga duduk menikmati semangkuk bakso yang katanya sangat enak ditempat ini.


“Gimana? Enak nggak es krimnya?” tanya Hanum pada Retha yang tampaknya sangat menikmati es krim yang setiap beberapa detik sekali selalu masuk ke dalam mulutnya tersebut.


“Enak kok tan.” Balas Retha dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


“Papa juga makan dong es krimnya, jangan makan bakso terus.” Ucap Retha pada Papanya.


“Iya, Retha jangan sering sering makan Es Krim lagi juga loh.” Balas laki laki itu mengingatkan yang hanya dijawabi dengan anggukan kepala pasrah oleh Retha.


“Oh iya, kita belum kenalan nih.” Sahut Anton menyela pembicaraan anak dan Papa tersebut.


“Oh iya, maaf saya jadi lupa.” Ucap laki laki tersebut merasa tak enak hati.


“Sans aja, kenalin aku Anton.” Kata Anton mengulurkan tangannya.


“Tyo, Setyo.” Jawab laki laki yang ternyata bernama Tyo tersebut sembari menjabat tangan Anton.


“Oh oke,” balas Anton mengangguk anggukkan kepalanya.


“Kenalin, ini Hanum. Udah saling kenal yah?” tanya Anton.


“Kayaknya tadi udah nggak asing waktu ketemu?” tanya Anton pada Tyo dan Hanum bersamaan.


“Emm pernah ketemu ditabrak Retha juga,” balas Hanum.


“Hanum.” Ucap Hanum memperkenalkan dirinya pada Tyo.


“Tyo.” Balas Tyo menerima uluran tangan Hanum.


Tiba tiba Hanum langsung teringat kembali dengan pertemuan pertamanya dengan Retha, yah...ia ingat betul pertemuan pertamanya yang terjadi di sebuah hotel.


Saat itu ia tengah membuntuti Anton yang masuk ke dalam hotel bersama dengan seorang wanita, tiba tiba saja Hanum malah kembali di buat penasaran dengan sosok wanita tersebut padahal ia sudah berjanji tidak ingin ikut campur dengan urusan orang lain.


Sepulang dari pasar malam, Hanum dan Anton langsung pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang, Anton tak henti hentinya bercerita mengenang masa masa sekolahnya.


“Oh iya num, rencana kamu kedepan apa?” tanya Anton pada Hanum.


“Aku rencananya mau cari kerja disini Mas.” Jawab Hanum.


“Kamu mau kerja di Jakarta?” tanya Anton memastikan.


“Iya Mas.” Jawab Hanum mengangguk anggukkan kepalanya.


“Udah dapet belom?” tanya Anton langsung.


“Belum Mas.” Jawab Hanum yang tampak lemah tak bersemangat.


“Mas Anton ada kerjaan nggak buat aku?” tanya Hanum.


“Apa aja Mas.” Kata Hanum.


“Kamu mau?” tanya Anton pada Hanum.


“Mau Mas mau,” jawab Hanum antusias.


“Kerja apa Mas?” tanya Hanum dengan sorot mata yang tampak berbinar binar.


“Kerja...

__ADS_1


“Jangan biarkan orang lain mengendalikan hidupmu~


__ADS_2