Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 117


__ADS_3

Sepulang dari restoran Vanessa pun langsung merebahkan dirinya dikamarnya, dirumah lamanya pastinya. Dan dikamar ini pula yang dulu pernah menjadi saksi bisu perbuatan bejatnya dengan Adnan, oleh sebab itu Vanessa pun merenovasi seluruh rumahnya sehingga terlihat baru dan lebih berwarna.


Ia berbaring dengan menatap langit langit diatasnya, hidupnya kini telah kembali seperti sedia kala, ditempatnya semula. Seorang diri tanpa ada orang lain yang menemani, jauh didalam lubuk hati Vanessa ia merasa sangat sangat kesepian. Terpaksa menjalani hari hari yang selalu dirasanya berat, andai saja ia tidak mengingat akan dosa dosa yang telah diperbuatnya pada Hanum mungkin saja Vanessa sudah tidak menghirup oksigen lagi.


"Aku tahu ini semua ada yang nggak beres." gumam Vanessa.


"Dan aku akan berusaha sekuat semampuku untuk membantu kamu num."


"Aku janji, aku akan menebus semua dosa dosa dan kesalahan kesalahan yang sudah aku perbuat sama kamu num." ucapnya lirih.


"Apa aku pasang kamera kecil aja di kos kosan Hanum?" gumam Vanessa.


"Tapi kan Hanum sekarang ada dirumah sakit, kira kira bakalan berguna apa nggak yah?" gumamnya ragu ragu.


"Hallah, bodo amat ah belum juga dicoba." ucap Vanessa menepis pikiran pikiran buruknya. Karena badannya yang sudah lelah hingga tak terasa Vanessa kini telah tidur dengan lelapnya.


.........


"Hanummm." lirih Adnan yang kini mendekam dipenjara.


"Maafin aku num."


"Aku menyesal."


"Aku janji num, aku bakalan buat kamu jatuh cinta kembali sama aku num seperti dulu. Aku bakalan ngembaliin rasa cinta itu lagi num." lirih Adnan dengan lirihnya namun terdengar sangat optimis.


"Akhhhhh." ringis Adnan yang merasakan nyeri di pulung hatinya, ia pun langsung meraih sebotol air mineral yang berada disampingnya.


Glek...glekkk....glekkk..... air itupun akhirnya langsung tandas dalam beberapa tegukan saja.


..........


"Gimana? udah enakan Ma?" tanya Zidan yang baru saja mengecek suhu tubuh Mamanya.


"Masih pusing banget Mama dan." jawab Bu Dian dengan suara lemahnya.


"Ya udah sekarang lebih baik Mama istirahat aja dulu biar besok badannya bisa seger lagi." kata Zidan memberitahu.


"Mama belum ngantuk dan." tolak Bu Dian.


"Ngomong ngomong Papa kemana dan?" tanya Bu Dian yang tidak melihat keberadaan suaminya.


"Papa lagi ngerjain banyak berkas ma, maklum lah semenjak Mas Adnan masuk penjara kan Papa harus balik lagi turun tangan mengurus perusahaan." jawab Zidan menjelaskan.


"Kasihan banget Papa sama Zidan." lirih Bu Dian yang mengingat putra tertuanya harus mendekam dipenjara akibat ulahnya meenyalahgunakan narkoba, sednagkan suaminya harus mengurus dan menghandle kembali perusahaan yang kian bertambah besar tersebut di usia senjanya.


Jujur saja Bu Dian merasa bahwa dirinya juga turut andil dalam semua kekacauan yang tengah terjadi ini yang berawal dari masalah rumah tangga Adnan dan Hanum. Jujur saja sebenarnya Bu Dian hanya ingin putranya mendapatkan semuanya yang terbaik, bagi orang yang sudah menikah tentu saja perihal anak adalah hal yang paling utama.


Ia juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Hanum yang tak kunjung bisa memberikan keturunan untuk anaknya, tapi ia juga tak ingin anaknya ikut merasakan kegagalan tersebut hingga membuatnya tak punya pilihan yang lain lagi selain mendukung Vanessa masuk kedalam rumah tangga anaknya. Dulu ia sering menyalahkan Hanum hanya untuk membuat Hanum tersadar dengan kekurangannya hingga membiarkannya memiliki wanita lain selain dirinya, toh...ini semua juga untuk dia juga kan? semua wanita pasti ingin menjadi orang tua untuk anak anaknya kan? ia terus berusaha membuat Hanum mengerti akan hal itu.


Namun kini semuanya malah berakhir kacau, mulai dari Hanum yang meminta cerai hingga perubahan drastis yang terjadi pada putranya tersebut semenjak perpisahannya dengan Hanum. Hingga sesuatu yang tak pernah disangkanya terjadi, ia sama sekali tak pernah menyangka bahkan terlintas diotaknya saja tidak jika Adnan anaknya harus mengonsumsi narkoba yang mampu membuatnya tenang.


"Mau gimana lagi ma, udah jadi hukuman Mas Adnan dong ma. Biar Mas Adnan juga bisa bertanggungjawab dari kesalananya, biar bagaimanapun Mas Adnan sendiri yang salah Ma." kata Zidan mencoba memberi penjelasan pada Mamanya.


"Mama ngerasa jadi Ibu yang gagal dan, sebagai seorang ibu seharusnya Mama selalu mendukung Adnan. Mendukung dengan sepenuhnya hal hal yang bisa membuatnya bahagi bukannya malah merestui datangnya orang ketiga yang menghancurkan rumah tangganya." kata Bu Dian dengan wajah bersalahnya.


"Ma." panggil Zidan yang langsung mendekat dan memeluk Mamanya.


"Hikss....hiks....hiks."


"Ma, ini semua sudah menjadi takdir ma." kata Zidan.


"Mau sekuat apapun Mama menyesalinya, semuanya nggak bisa diulang ma."


"Kita nggak bisa kembali ke masa lalu untuk menyelamatkan masa depan kita."


"Kita hanya perlu belajar dari kesalahan yang telah kita lakukan Ma." ucap Zidan yang berusaha memberi kalimag kalimat motivasi.


"Mama nyesel banget dan, hiks...hiks...hiks.." akhirnya tangis Bu Dian pun kembali pecah dan otomatis saja Zidan langsung mempererat pelukannya dan mengelus elus punggung Mamanya.


"Mama ngerasa bersalah banget sama Hanum." lirihnya.

__ADS_1


"Jika Mama benar benar udah menyesal, Mama bisa minta maaf ke Mbak Hanum kok Ma." jawab Zidan.


"Mama nggak yakin kalau Hanum bakalan mau maafin Mama dan, Mama udah keterlaluan banget." bantah Bu Dian.


"Urusan memaafkan Mama atau nggaknya itu urusan Mbak Hanum Ma, yang penting Mama sudah menyadari kesalahan Mama dan benar benar menyesalinya, aku yakin Mbak Hanum bakalan maafin Mama kok." kata Zidan sembari melepaskan pelukannya perlahan lahan.


"Iya, kamu bener. Besok Mama akan menemui Hanum." ucap Bu Dian dengan penuh antusias dan keyakinannya.


"Nah gitu dong ma." jawab Zidan yang ikut senang melihat Mamanya yang tampak sangat bahagia tersebut.


"Emmm, tapi ma." lirih Zidan.


"Tapi apa?" tanya Bu Dian yang tampak penasaran dan langsung menatap anak bungsunya tersebut lekat lekat.


"Tapi kenapa dan? jangan buat Mama takut dong." desak Bu Dian yang masih sangat penasaran.


"An..anu Ma, M..Mbak Hanum." lirih Zidan terbata bata, rasanya lidahnya sama sekali tak sanggup jika digunakan untuk mengatakan jika Kakak tirinya tersebut tengah mengalami gangguan mental.


"Apa dan, cepetan. Jangan buat Mama penasaran." desak Bu Dian yang kesabaranya sudah terlewat dari batas normalnya.


"Mbak Hanum mengalami gangguan mental ma, dan sekarang lagi dirawat dirumah sakit jawab Zidan ragu ragu.


"Apa???" terkejut Bu Dian hingga membuatnya langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dan jangan lupakan kedua matanya yang bahkan sampai melotot tersebut.


"Terus keadaan Hanum sekarang gimana?" tanyanya lagi dengan penuh ketidak sabaran.


"Aku belum tahu ma, soalnya aku juga baru tahu kejadian ini dan tadi saat aku dirumah sakit mau jenguk Mbak Hanum tapi udah keburu dapet telepon dari Mama." jaaab Zidan menceritakan dari awal hingga akhir.


"Astagahhh." terkejut Bu Dian untuk yang kedua kaliny.


Akhirnya pembicaraan antara Ibu dan anak tersebut pun berjalan dengan mulus hingga akhirnya sesi dialog mereka harus diakhiri karena Zidan sudah merasa mengantuk.


"Aku ngantuk bangt nih ma." adu Zidan.


"Aku pamit mau tidur dulu yah ma." ucap Zidan yang langsung berdiri dari posisinya semula.


"Iya, langsung tidur yah." jawab Bu Dian.


"Iya, Mama juga harua istirahat biar cepet pulih badannya." kata Zidan sembari membenarkan tata letak selimut Mamanya.


.........


"Mandi aja dulu, gerah banget." gumam Pak Tyo yang langsung berdiri dan berjalan kearah kamar mandi.


Karena merasa tubuhnya sudah sangat lelap akhirnya Pak Tyo memutuskan untuk merendam tubuhnya agar otot ototnya kembali relaks.


Butuh waktu sekitar 35 menit bagi Pak Tyo untuk berendam, usai berendam Pak Tyo pun langsung membilas tubuhnya dibawah guyuran shower dan setelah dirasanya bersih Pak Tyo pun langaung mengakhiri sesi mandinya kali ini.


"Kira kira keputusan aku buat menghubungi keluarga Hanum gimana yah?" pikir Pak Tyo.


"Semoga semunya akan baik baik aja." doanya penuh harap kepada sang pencipta, Pak Tyo pun langsung mengistirahatkan badannya agar kembali segar esok hari.


...........


Malam yang bertabur bintang bagi sebagian orang adalah moment paling menyenangkan, apa lagi bagi kaum pengagum malam yang rela tidak tidur sekedar untuk menikmati suasana dimalam hari. Namun sebesar apapun kamu menyukainya pasti malam yang menenangkan namun sepi tersebut harus berakhir dan berganti dengan hadirnya sinar matahari yang terang benderang menyinari dunia ini.


Kini Pak Tyo dan Retha tengah menikmati acaran sarapan paginya dengan menu nasi goreng telur ceplok.


"Pa...nanti Papa jegukin tante Hanum lagi apa nggak?" tanya Retha disela sela kegiatan makannya.


"Emm nggak tahu deh." jawab Pak Tyo sembari meneguk wedang jeruk yang sudah tersaji didepannya.


"Aaaahhh Papa kok gitu sih?" kesal Retha.


"Hahahaha." tawa Pak Tyo pun pecah mendengar suaea suga yang nggak ngotak banget ngerepp nya..


"Yaudah nanti Papa bakalan ajak Retha jalan jalan." ucap Pak Tyo diakhir sesi berbincangnya.


Usai menghabiskan sarapannya, seperti biasa Pak Tyo harua mengantarkan Retha ke sekolah seperti biasanya. Setelah menempuh perjalanan yang sedang dalam keadaan macet tersebut akhirnya Pak Tyo dan Retha pun sampai disekolah.


"Retha sayang sekolahnya yang rajin yah." ucap Pak Tyo yang kemudian langsung mengecip kening Zidan.

__ADS_1


"Iya, Papa juga harus selalu hati hati yah bawa mobilnya." jawab Retha.


"Iya, Papa bakalan hati hati kok sayang." balas Pak Tyo.


"Udah sana masuk, nanti keburu telat loh." ucap Pak Tyo, Retha pun langsung meraih tangan kanan Papanya dan menciumnya lalu pergi dengan setelah berlari begitu saja. Pak Tyo hanya menatap Retha yang terlihat sangat menggemaskan tersebut, tanpa menunggu lama lagi Pak Tyo pun kembali masuk kedalam mobilnya dan melajukannya kembali dengan tujuan ke butiknya.


Selama diperjalanan tidak ada hal aneh yang terjadi, semakin lama jalanan pun terlihat semakin sepi karena sudah terlewat jam sibuk.


Tttuuutttt......ttuuutttt.....tttuuttt


Tiba tiba saja ponsel miliknya berdering, otomatis Pak Tyo pun langsung merogoh ponselnya yang terletak disaku jassnya.


"Rini?" gumam Tyo membaca nama yang tertera dilayarnya.


Tak ingin mengambil resiko apapun akhirnya Pak Tyo lebih memilih untuk menepikan mobilnya dikiri jalan Tyo pun langsung memggeser tombol berwarna hijau tersebut.


"Halo." sapa Tyo.


"Ada apa lagi?" tanyanya langsung pada intinya.


"Yo kamu jangan lupa buat mempertemukan aku sama Retha yo, kamu udah janji lo." jawab Rini dari seberang sana.


Huffftttt.....Pak Tyo hanya bisa menghela nafas panjang, ia benar benar lupa akan hal ini, sialnya wanita itu justru malah mengingatnya dengan jelas.


"Oke, saya akan berusaha untuk membujuk Retha." ucap Pak Tyo yang langsung memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.


"Aku harus bilanga apa sama Retha?" gumam Pak Tyo yang merasa kalut, melihat jam yang melingkar ditangannya membuat Pak Tyo langsung teringat jika hari sudah semakin siang, ia pun lekas menginjak gass tersebut hingga membuatnya melaju denga kencang.


..........


"Mama yakin mau jenguk Hanum?" tanya Pak Bassuki pada istrinya.


"Ya yakin dong pa, emang Papa nggak lihat apa kalau Mama udah siap dan cuma tinggal jalan doang." jawab Bu Dian memamerkan outfit kece yang dipakainya.


"Tapi Mama janjikan kalau Mama nggak bakal bikin ulah lagi?" tanya Pak Tyo dengan nada tegasnya.


"Yah yakin dong pa, kan Mama kesana mau minta maaf sama Hanum. Ya kali Mama langsung nge gass? tau Papa sekalian mau ikut aja?" tawar Bu Dian.


"Nggak usah, lain kali Papa bakalan jenguk Hanum sendiri." tolak Pak Tyo.


"Oke." jawab Bu Dian acuh tak acuh.


"Mama udah siap?" tanya Zidan yang baru datang.


"Udah, kita pergi sekarang. Kajja." ajak Bu Dian yang langsung berjalan mendahului Zidan.


Zidan dan Pak Bassuki hanya bisa menghela nafas sembari geleng geleng kepala melihat kelakuan Ratu dirumahnya tersebut, sebenarnya Bu Dian adalah orang yang sangat baik serta selalu ceria. Namun sepertinya rasa irinya pada teman temannya yang telah memiliki cuculah yang membuat pola pikirnya langsung berubah, bahkan sampai bisa mencampuri urusan rumah tangga anaknya.


"Kalau gitu aku sama Mama berangkat dulu pa." kata Zidan yang langsung meraih tangan Papanya untuk disaliminya.


"Iya, kamu hati hati yah." balas Pak Bassuki yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh Zidan, Zidan pun langsung melangkah pergi untuk menyusul Mamanya yang telah menunggunya.


Selama diperjalanan tidak ada suara sama sekali yang menemani mereka, tiba tiba saja Mamanya kini kembali bersikap diam dan terus menerus melamun menatap kosong kearah luar jendela. Entah apa yang tengah difikirkan oleh Mamanya tersebut.


"Ma." panggil Zidan yang membuat Bu Dian langsung menoleh kearahnya.


"Mama kenapa?" tanya Zidan.


"Mama?" tanya Bu Dian sembari menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan seolah olah tak mengerti.


"Iya Mama, emangnya siapa lagi?" jawab Zidan sembari menganggukkan kepalanya.


"Lha emangnya Mama kenapa?" tanya Bu Dian yang masih belum mengerti dengan maksud anaknya tersebut.


"Kenapa Mama ngelamun terus dari tadi?" tanya Zidan to the point.


"Emmmm Mama nggak papa kok." jawab Bu Dian.


"Yakin?" tanya Zidan memastikan.


"Mama hanya sedang bersiap siap saja menghadapi Hanum dan, bagi Mama ini sangat berat. Mama merasa malu dan." jawab Bu Dian jujur.

__ADS_1


~Jangan khawatir tentang akhirnya, jika kamu belum memulainya~


^Oh Sehun^


__ADS_2