
"Mas, mau bawa baju yang ini atau yang ini?" tanya Hanum sembari membawa 2 buah baju yang masih digantung, ia menghampiri Adnan yang masih djatas ranjang berusaha mengumpulkan nyawanya
Adnan tentu saja merasa tidak enak jika harus mengatakan pada Hanum jik hari ini rencana liburan mereka harus ditunda karena ia harus menyelesaikan sebuah urusan
Sedangkan Hanum? ia masih terus berharap jika liburan yang direncanakan kali ini masih akan tetap terjadi sesuai rencana yang telah disusunnya
"Oh iya mas, aku lupa belum pesen tiket lagi" kata Hanum yang baru teringat, ia kemudian langsung meletakkan kedua baju yang dibawanya tadi keatas ranjang dan melangkah mendekatai nakas tempat ponselnya berada
"Hanum, nggak usah" kata Adnan yang sontak langsung menghentikan aktivitas Hanum yang tengah mengotak atik ponselnya
"Kenapa Mas?" tanya Hanum yang langsung menoleh pada suaminya dengan raut wajah yang terkejut
"Em, Maaf. Tiba tiba hari ini Mas ada pekerjaan mendadak" jawab Adnan yang nampak ragu ragu mengatakannya
"Kerjaan?" tanya Hanum mengulang ucapan suaminya barusan dengan penuh keheranan
"Bukannya hari ini hari libur kan mas?" tanya Hanum yang langsung mendekati suaminya tersebut
"Eh iya, tapi tiba tiba ada pekerjaan mendadak dan harus diselesaikan hari ini" jawab Adnan kemudian. Hanum nampak menatap Adnan dengan tatapan penuh selidik
"Yaudah. Aku ikut ke kantor" ucap Hanum cepat kemudian ia beranjak berdiri, namun dengan cepat pula Adnan langsung meraih pergelangan tangan Hanum hingga membuat Hanum menghentikan langkahnya seketika
"Mas nggak kekantor, Mas harus ke Surabaya hari ini" jawab Adnan kemudian
"Ke Surabaya?" Dahi Hanum nampak berkerut
"Kalau gitu aku ikut, anggep aja kita lagi jalan jalan" ucap Hanum setelah menemukan sebuah ide yang tiba tiba melintas diotaknya
"Nggak bisa gitu num" tolak Adnan dengan lembutnya
"Kenapa?" tanya Hanum yang nampak heran disertai dengan kekesalan
"Kan ini kerja, lagi pula Mas perginya juga sama bawahan mas kok" jawab Adnan meyakinkan Hanum
"Lain kali aja ya liburannya, hari ini kita belum ditakdirkan buat liburan" kata Adnan sembari mengelus tangan Hanum agar wanita itu luluh
"Aku harap kamu mengerti, ini kerjaan aku num" lanjut Adnan berbicara lagi karena Hanum nampak diam saja tak menimpali ucapannya
Dalam hal ini tentu saja ia tidak bisa bersikap egois, pasalnya setelah menikah dengan Adnan Hanum datang kerumah ini hanya dengan membawa diri. Tentu saja ia masih sadar betul siapa dirinya, selama ini Adnan lah yang memenuhi semua kebutuhan Hanum dengan pekerjaannya ini
"Yaudah" jawab Hanum lemas, mau tak mau akhirnya ia harus merelakan kepegian suaminya hari ini
"Kok lemes gitu sih jawabnya" kata Adnan sembari menarik tangan Hanum hingga Hanum terduduk ditepi ranjang
"Jangan gitu dong mukanya, mas kan jadi gamang ini" kata Adnan sembari mengelus elus pipi Hanum
"Nggak papa, bener kata Mas kita nggak ditakdirkan liburan deh hari ini" jawab Hanum
"Nanti kita bisa liburan keluar negeri " kata Adnan menenangkan Hanum
"Uh...jangan banyak janji janji terus ih" kesal Hanum kemudian langsung bangkit dari posisi duduknya dan pergi meninggalkan Adnan sendirian
Huhhhh....Adnan menghela nafas panjang setelah kepergian Hanum
"Mas, mau dibawain bekel nggak?" tanya Hanum disela sela makannya, biasanya Hanum akan selalu membawakan bekal untuk Adnan bawa saat bekerja, namun kali ini Adnan akan pergi cukup jauh takutnya nanti nggak sempet untuk dimakan
"Nggak usah deh, kan perjalanannya agak jauh. Lagi pula kan perginya nggak sendirian, masak nanti aku makan sendirian? nggak enak kan sama yang lainnya" jawab Adnan sembari meraih gelas yang berisi air putih
"Yaudah deh" jawab Hanum kemudian melanjutkan aktivitas sarapannya
Seusai menghabiskan sarapan berdua, kini tibalah saatnya untuk Adnan harus berangkat kerja meninggalkan Hanum sendirian dirumah. Sebenarnya tentu saja Adnan merasa berat, namun ini sudah terjadi. Lagi pula juga baru kali ini acara liburan mereka harus batal, jadi tak apa lah
"Mas hati hati ya" pesan Hanum sembari mengambil tangan Adnan untuk kemudian diciumnya
"Iya, kamu juga hati hati dirumah. Jangan kecapean" balas Adnan pada Hanum
__ADS_1
"Iya" jawab Hanum. Adnan pun langsung mengecup kening Hanum sebelum ia berangkat
Perlahan lahan mobil yang dikendarai Adnan pun berjalan semakin menjauh dari rumah ini, Hanum pun kembali masuk kedalam rumah dengan bergegas. Hanum menuju kamarnya untuk mengambil tas, ia sudah berencana untuk mengikuti suaminya pergi. Bukan karena apa apa, Hanum hanya ingin memastikan jika Suaminya benar benar keluar kota, sejujurnya saat mendengar telepon Adnan semalam Hanum merasa sedikit was was. Wajar saja Hanum merasakan demikian karena mengingat Adnan memiliki istri lain selain dirinya, ya...meskipun Andan telah berjanji tidak akan berurusan lagi dengan wanita itu. Namun tetap saja sebagai seorang wanita Hanum memiliki rasa cemburu akan hal hal yang bisa memancing kecurigaan
Tutt....tuuuttt.....tuuut.....tiba tiba saja ponsel Hanum yang terletak diatas ranjang berdering. Hanum pun dengan cepat mengambil ponselnya sebelum suaminya semakin jauh
"Mama?" gumam Hanum saat melihat nama yang tertera, Mama Mertuanya lah rupanya yang menelponnya. Hanum pun lekas menjawab panggilan tersebut
"Assalamualaikum ma" salam Hanum setelah menggeser tombol hinau
"Waalaikumsalam Num" balas Mama Dian dari seberang sana
"Ada apa yah ma? kok pagi pagi nelpon?" tanya Hanum berbasa basi, kini tubuhnya kian resah saat meliha mobil Adnan sudah tak terlihat lagi melalui jendela kamarnya
"Maaf num, Mama udah ganggu kamu ya pagi pagi begini?" tanya Mama Dian dari seberang sana yang merasa tidak enak
"Eh nggak kok ma, Hanum nggak merasa terganggu sama sekali" balas Hanum cepat
"Hanum cuma penasaran aja kenapa Mama tiba tiba nelepon sepagi ini" ucap Hanum kemudian
"Gini num Mama mau minta kamu kesini buat bantu bantu Mama masak" jawab Mama Dian dari seberang sana
"Mama mau masak banyak? emang ada acara apa?" tanya Hanum yang tiba tiba saja menjadi penasaran
"Gini num nanti siang Zidan udah sampai bandara, jadi Mama mau masak banyak buat Zidan" jawab Mama Dian
"Zidan pulang ma?" tanya Hanum, ia sungguh terkejut karena bahagia saat mendengar jika Zidan akan pulang dari luar negeri
"Iya num, makanya Mama mau minta kamu buat bantuin Mama Masak. Zidan kan suka banget sama masakan kamu" kata Mama Dian
"Tapi kamunya sibuk nggak? kalau sib.." ucap Bu Dian dari seberang sana namun belum selesai
"Nggak kok ma, Hanum nggak sibuk" balas Hanum cepat karena sudah tau apa yang hendak dikatakan Mama mertuanya tersebut. Lagi pula sepertinya ia juga sudah terlambat untuk membuntuti mobil suaminya tersebut
"Makasih num, Mama tunggu ya" kata Mama Dian dari seberang sana
Huhhh....Hanum menghembuskan nafas kasar sembari menuju kearah ranjangnya kemudian menghempaskan tubuhnya dengan kasar, ia jadi teringat kembali mengenai suaminya tersebut
"Nggak num, kamu harus percaya sama Mas Adnan. Dia nggak akan kecewain kamu lagi num" kata Hanum pada dirinya sendiri sembari menepuk kedua pipinya, berniat untuk membuang jauh jauh segala pikiran buruk yang melintas diotaknya tentang suaminya tersebut
Didalam mobilnya Adnan terus memikirkan Hanum, ia merasa bersalah karena telah membohongi wanita itu lagi. Namun ia tak punya piliha lain, ia hanya merasa sangat kasian pada Vanessa. Pasalnya tadi malam Vanessa meminta bantuannya untuk mengantarnya periksa kandungan karena Mama dan Papanya tengah berada diluar kota, hingga Vanessa memohon mohon padanya semalam " untuk kali ini saja" kata wanita itu. Huh....entah apa yang dipikirkan orang tua jaman sekarang ini, sudah tua tapi masih selalu mengejar keuangan didunia saja, padahal uang mereka sudah cukup banyak untuk bertahan hidup
Adnan melajukan mobilnya menuju rumah Vanesaa,m sembari meyakinkan hatinya jika ini terakhir kalinya ia membohongi Hanum. Selama 30 menit mobil Adnan membelah jalanan ibu kota sebelum pada akhirnya sampailah ia dirumah milik keluarga Vanessa
Adnan pun bergegas turun dari mobil dan memasuki rumah Vanesaa, namun sebelum itu tentu saja Adnan memencet bell terlebih dahulu
Tak berselang lama kemudian keluarlah Vanessa dari dalam rumah, Vanessa mengenakan dress selutut yang cukup longgar dibadannya hingga membuat perutnya yang sudah mulai membuncit tersebut tidak terlalu kelihatan
"Kamu idah dateng?" Vanessa pun terkejut ketika membuka pintu dan rupanya Adnan sudah sampai dirumahnya
"Udah siap?" Tanya Adnan tanpa basa basi lagi, ia ingin segera mengantarkan Vanessa periksa kedokter kandungan agar bisa segera pulang kerumah, entak apa yang akan ia katakan pada Hanum nanti sebagai alasan ia bisa pulang cepat
"Kamu nggak mau masuk dulu?" tanya Vanesaa pada Adnan, tentu saja Vanessa menewarkan Adnan mampir terlebih dahulu untuk sekedar minum kopi seperti kebiasaan laki laki pada umumnya
"Nggak" tolak Adnan cepat yang kemudian langsung berbalik arah dan berjalan terlebih dahulu meninggalkan Vanessa yang masih mematung
Vanessa pun bergegas masuk kembali kedalam rumah untuk mengambil tasnya terlebih dahulu, sementara Adnan menunggu Vanessa didalam mobil
"Assalamualaikum" salam Hanum sembari melangkahkan kakinya memasuki rumah mertuanya tersebut
"Waalaikumsalam non" jawab pembantu yang kebetulan melintas
"Eh bik, Mama dimana ya?" tanya Hanum oada pembantu tersebut
"Mama ada didapur non, lagi potong potong bumbu dapur" jawab Pembantu tersebut dengan sopan
__ADS_1
"Oh gitu, makasih ya bik. Kalau gitu aku nyusul Mama dulu" kata Hanum pada pembantu tersebut
"Iya non" balas pembantu tersebut
"Loh, kamu sendirian aja num?" tanya Pak Basuki yang kebetulan hendak ke depan
"Eh iya pa" jawab hanum sembari mengulurkan tanganya, Pak Basuki pun memberikan tangannya untuk kemudian disalami Hanum
"Lah emanganya Adnan kemana? tidur?" tanya Pak Basuki sembari menebak
"Mas Adnan lagi ..." Balas Hanum namun belum usai
"Hanum udah datenggg" tiba tiba saja Bu Dian datang dari arah belakang
"Eh Mama, iya ma" jawab Hanum kemudian meminta tangan Mama Dian untuk disalaminya
"Kok cepet banget datangnya?" tanya Mama Dian
"Iya ma, soalnya Mas Adnan juga keluar. Jadi gebut juga dirumah" jawab Hanum
"Oh gitu, emang kemana Adnan?" tanya Mama Dian
"Laki laki emang gitu num, kelayapan terus kerjaannya" sahut Mama Dian menimpali ucapannya sendiri
"Eh..eh..eh..kata siapa, kata siapa?" sahut Pak Basuki yang tak terima jika kaumnya ditiduh tuduh seperti ini
"Kata Mama barusan, emang Papa nggak denger?" tanya Mama Dian yang malah menantang Pak Basuki
"Enak aja ngomongnya, ngaco " ketus Pak Basuki kemudian berjalan meninggalkan 2 wanita tersebut. Hanum pun tampak geleng geleng kepala melihat kelakukan pasangan lawas didepannya ini, meskipun sudah bukan pasangan muda lagi dan kerap bertengkar karena hal hal kecil, namun Hanum dapat meilhat cinta yang tulus diantara keduanya hingga berhasil mempertahankan pernikahannya hingga saat ini
"Yaudah ma, ayo kita ke dapur" kata Hanum sembari meraih tangan Mamanya
"Kita mau kemana?" tanya Vanesaa saat melihat jalanan ini bukanlah jalan menuju rumah sakit yang biasa ia kunjungi untuk melakukan pemeriksaan
"Kita nggak bisa kerumah sakit itu, kita kerumah sakit yang agak jauh"
"Takut ada yang lihat" jawab Adnan yang masih fokus pada jalanan
"Kenapa? aku kan juga istri kamu, nggak ada yang bisa ngelarang kita atau berfikiran buruk tentang kita kan" balas Vanessa
"Aku nggak perduli kalau ada orang yang berfikiran buruk tentang kita sekalipun" balas Adnan
"Aku cuma takut kalau Hanum akan salah paham jika tau" lanjutnya lagi
Oh....kini Vanessa pun memahami apa yang dimaksud Adnan, dia tidak ingin istrinya terluka lagi untuk yang kedua kali rupanya
"Maafin aku karena udah ngerepotin kamu nan" ucap Vanessa yang merasa bersalah
"Nggak perlu minta maaf, lagi pula ini untuk yang pertama dan terakhir" kata Adnan yang acuh
"I..iya, aku mengerti" jawab Vanessa, rasanya hatinya perih melihat keacuhan Adnan yang statusnya sebagai suaminya ini. Bagaimana bisa seorang suami bersikap seperti ini? Ah....lagi lagi Vanessa harus sadar apa posisinya ini
Setelah perjalanan yang cukup jauh, tibalah Adnan dan Vanessa dirumah sakit yang cukup jauh dari ibu kota. Mereka pun bergegas menuju dokter kandungan, namun sialnya kini sudah ramai orang yang tengah mengantri untuk diperiksa
"Yah...rame banget lagi" keluh Vanessa yang melihat banyaknya pasangan suami istri yang tengah duduk untuk menunggu antrian
"Nggak ada pilihan lain, kita harus menunggu" balas Adnan kemudian berjalan menuju kursi kosong dibagian belakang meninggalkan Vanessa, akhirnya Vanessa pun bergegas mengikuti Adnan dari belakang
"Ma, kita mau masak apa?" tanya Hanum saat tiba didapur
" Mama mau masak lontong sayur, nanti sayurnya sayur rebung. Kan Zidan suka banget" jawab Bu Dian
"Oh, gitu ma. Kalau gitu biar aku aja yang masak sayurnya" kata Hanum
"Lah, emang Mama nyuruh kamu kesini buat masak sayurnya" jawab Mama Dian dengan kemudian tertawa
__ADS_1
Hampir satu jam Adnan dan Vanesaa duduk dikursi tunggu, sedari tadi Adnan pun terus bersikap cuek terhadap Vanessa. Bahkan saat Vanessa pamit ke kamar mandi pun Adnan tampak tak perduli, keduanya terluhat seperti bukan pasangan suami istri karena tak ada komunikasi atau sekedar candaan untuk mengisi kejenuhan dalam menunggu seperti pasangan pasangan yang lainnya