Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 40


__ADS_3

Udara malam berhembus menenangkan jiwa. Padahal jam telah menunjukkan pukul 10 lebih bahkan Hanum saja sudah tertidur selepas melaksanakan sholat Isya' tadi, mungkin karena kelelahan dalam perjalananlah yang membuat Hanum lebih cepat tidur.


Menghirup dalam dalam udara malam membuat otak Adnan serasa rileks, ia memejamkan matanya agar mendapat manfaat yang lebih optimal. Hingga tak sengaja kejadian dikamar Vanessa terlintas dalam pikirannya, ciuman itu? bibir itu? iya...dia sudah pernah merasakan bibir itu 2 kali setelah menikah. Padahal dulu sewaktu ia masih pacaran dengan Vanessa, tak pernah sekalipun Adnan berbuat macam macam karena Adnan benar benar mencintai Vanessa dan tak ingin merusaknya.


Sampai pada akhirnya semua usaha yang ia lakukan sia sia dikarenakan hadirnya orang ketiga yang ternyata lebih menarik perhatian Vanessa, perlahan lahan akhirnya ia dapat melupakan Vanessa bahkan Adnan sangat meyakini jika tidak ada setitikpun rasa yang tertinggal untuk Vanessa.


Selepas putus dengan Vanessa, Adnan hanya beberapa kali memiliki pacar lagi sebelum pada akhirnya orang tuanya menjodohkannya dengan Hanum. Yah...pada awalnya tentu saja Adnan menolaknya, namun entah mantra apa yang dipakai Mamanya hingga akhirnya mampu meluluhkan hati Adnan.


Hanya sekitar 3 bulan waktu yang tersisa untuk mengenal Hanum lebih dekat lagi sebelum hari pernikahan mereka, tak ada perasaan istimewa yang dirasakan Adnan saat awal awal bertemu dengan Hanum. Dimatanya Hanum hanyalah gadis desa yang tak pandai merawat diri hingga membuat tampilannya tampak sangat sangat jauh dengan levelnya, tak seperti Vanessa dan juga pacar pacarnya yang lain yang tampak modis dan cantik.


Hanya 2 hal yang membuat Hanum tampak lain dari wanita wanita yang ditemuinya, yaitu keceriaannya dan juga tawa indah yang membuat orang lain disekitarnya merasakan kenyamanan dan kebahagiaan saat bersama Hanum.


Ah....wanita itu, wanita hebat yang berhasil membuatnya bertekuklutut atas cintanya, Wanita yang selalu dan akan selalu menjadi miliknya sampai kapanpun.


"Kamu masih disini?" tanya Pak Imam yang tiba tiba datang dari dalam rumah.


"Iya Pak" jawab Adnan langsung menurunkan kaki kanannya yang tadi naik diatas kursi.


"Bapak belum tidur?" tanya Adnan berbasa basi.


"Hah....Bapak belum bisa tidur." jawab Pak Imam sembari berjalan melewati Adnan kemudian duduk dikursi samping Adnan.


"Ibuk udah tidur?" tanya Adnan.


"Tadi udah, terus kebangun karena Bapak buka pintu. Terus Ibuk kekamar Hanum, makanya Bapak tau kalau kamu nggak dikamar." jawab Pak Imam dengan tatapan lurus kedepan.


"Kayaknya Ibuk bakalan tidur sama Hanum." kata Pak Imam lagi.


"Nggak papa kok Pak, mungkin Ibu udah kangen banget sama Hanum karena kita juga udah lama nggak pulang juga." balas Adnan yang nampak tak enak hati karena dirinya lah yang membuat Hanum tidak bisa pulang karena kesibukannya.


"Bagi orang tua, anak mereka akan tetap menjadi anak kecilnya walaupun anak itu telah dewasa atau menikah sekalipun." ucap Pak Imam menatap lurus, namun ada seuntai senyuman yang menghiasi bibirnya.


Sementara itu Adnan tampak bingung kenapa Pak Imam tiba tiba berbicara seperti itu, mungkin Pak Imam sedang menceritakan sebuah fase yang sedang dialaminya saat ini. Adnan pun tak berani menyahut karena tak tau harus berbicara apa karena ia juga belum memiliki anak, bahkan Hanum pun belum.juga hamil hingga kini.


"Dulu Hanum katanya pengen jadi pramugari." ucap Pak Imam kembali mengingat kenangan sewaktu dulu.

__ADS_1


"Hanum itu anak nakal, sewaktu sekolah Bapak sama Ibu sering gantian dateng kesekolah karena dipanggil guru Bk."


"Kata temen temen Hanum, Hanum itu anaknya juga sering nggak ngerjain tugas dan sering tidur juga dikelas." Pak Imam tersenyum sendiri saat bercerita tentang kenakalan anaknya itu.


"Maaf, Bapak malah cerita kayak gini." ucap Pak Imam karena telah bercerita sendiri.


"Nggak papa kok Pak, aku malah seneng dengernya. Hanum nggak pernah cerita masa masa sekolahnya, mungkin karena malu kali pak sering dapet panggilan dari guru Bk." balas Adnan yang sama sekali tak keberatan mendengar cerita masa lalu Hanum.


Hahahahaha....tawa Pak Imam dan Adnan pecah bersama sama saat Pak Imam menceritakan masa lalu Hanum, bahkan Pak Imam bercerita mulai dari Hanum kecil hingga Hanum dewasa.


"Bapak harap kalian akan segera dikaruniahi anak." ucap Pak Imam yang tiba tiba merasakan kesedihan mengingat anak dan menantunya belum dikaruniahi keturunan juga.


"Adnan nggak mempermasalahkan hal itu kok Pak, sedikasinya aja." jawab Adnan menyunggingkan senyumnya.


"Syukurlah kalau kalian tak mempermasalahkan hal itu, biasanya orang orang akan menyalahkan pihak perempuan karena belum memiliki anak." kata Pak Imam menyampaikan pendapatnya.


"Adnan nggak akan menyalahkan Hanum pak, Adnan janji." sahut Adnan dengan wajah seriusnya, karena ia memang telah berjanji tidak akan membebani Hanum terlebih lagi setelah ia melakukan kesalahan besar.


"Bapak yakin kamu tidak akan menyakiti Hanum seperti iti." kata Pak Imam mengangguk anggukkan kepalanya mengakui keseriusan Adnan.


"Tapi nggak tau kalau orang lain." lanjut Pak Imam lagi.


"Lalu, bagaimana dengan Istri kedua kamu?" tanya Pak Imam yang tiba tiba langsung teringat jika menantunya ini bukan hanya milik anaknya saja.


"Eh." tentu saja Adnan langsung terkejut dengan pertanyaan Mertuanya yang tak pernah ia duga sebelumnya.


"Semua akan berjalan sesuai rencana kok Pak, begitu anak yang dikandung Vanessa lahir saya akan menceraikan dia." jawab Adnan. Pak Imam mengangguk anggukkan kepalanya mengerti.


"Lalu, apakah Hanum dan Istri kedua kamu akur? jangan sampai mereka jadi salimmng bermusuhan kayak difilm film." kata Pak Imam terkekeh geli.


"Kamu harus bisa berbuat adil nan, walau apapun alasan kamu menikahi Vanessa. Itu semua keputusan kamu, kamu harus bisa mempertanggungjawabkannya dan juga mengendalikan keduanya." ucap Pak Imam kemudian beranjak dari kursinya.


"Sudah malam, istirahatlah kamu pasti capek." kata Pak Imam sembari menepuk punggung Adnan.


"Sebentar lagi Pak." jawab Adnan dengan sopan.

__ADS_1


"Baiklah, Bapak masuk dulu. Jangan lupa nanti kunci pintunya." ucap Pak Imam.


"Iya pak." balas Adnan. Pak Imam pun berjalan masuk kedalam rumah.


Huhhhh....Adnan menghembuskan nafas panjang, entah kenapa kata Pak Imam yang paling ia ingat hanyalah kata kata adil akan kedua Istrinya. Apakah ia sudah pernah berbuat adil selama ini? jawabannya tidak sama sekali karena selama ini yang menjadi prioritasnya hanyalah Hanum seorang. Adnan beranggapan jika keputusannya menolong Vanessa agar tak bunuh diri waktu itu adalah keputusan baik dan tepat, ia merasa seharusnya Vanessa mengingat kembali kebaikannya tersebut agar tak mengharapkan rumah tangga yang normal saat bersamanya karena baginya hanyalah Hanum seorang Istri yang nyata baginya.


Setelah menimang nimang, akhirnya Adnan memutuskan mengirim pesan kepada Vanessa untuk sekedar menanyakan keadaannya.


"Udah tidur Van?" begitulah kira kira pesan yang dikirimkan Adnan untuk Vanessa.


................


Disisi lain Vanessa tengah duduk didepan cermin riasnya, seperti kebiasaan wanita lain sebelum tidur yaitu mengoleskan krim malam atau melakukan perawatan lainnya demi menjaga kesehatan dan kecantikan kulitnya.


Tring.....bunyi ponsel Vanessa yang diletakkannya diatas ranjang tempat tidurnya.


"Siapa tuh?" kata Vanessa pada dirinya sendiri kemudian menutup tutup wadah krim malamnya kemudian beranjak berdiri menuju ranjangnya untuk mengambil ponselnya.


"Mas Adnan?" gumam Vanessa dengan rasa terkejutnya setelah membaca nama yang tertera dilayar ponselnya.


"Tumben banget Mas Adnan kirim pesan." ucap Vanessa dengan senyum bahagia yang melengkung dibibir tipisnya, kemudian Vanessa pun membuka pesan yang dikirimkan Adnan tersebut.


"Udah tidur Van?" begitulah pesan yang dikirimkan Adnan.


"Belum Mas, kenapa yah? kok tumben kamu hubungin aku?" tanya Vanessa melalui balasan pesannya.


Tak berapa lama kemudian ponsel Vanessa pun berdenting kembali menandakan adanya pesan masuk, sesuai dengan dugaannya jika itu pasti balasan dari Adnan.


"Oh, nggak ada apa apa kok. Tadinya aku khawatir sama kondisi kamu, gimana sekarang keadaan kamu?" betitulah balasan yang dikirimkan Adnan.


"Udah sembuh kok Mas, Mas nggak usah khawatir lagi." Vanessa pun langsung mengirim balasan untuk Adnan.


"Syukurlah kalau begitu, jangan tidur malam malam." balas Adnan dari seberang sana.


Vanessa membaca pesan peaan yang dikirimkan Adnan dengan perasaan bahagia tak terkira. Akan menjadi hal yang biasa untuk pasangan normal yang lainnya, namun berbeda dengan Vanessa yang sama sekali tak menyangka jika Adnan akan menanyakan kondisinya.

__ADS_1


"Spertinya Mas Adnan sudah mulai tertarik denganku." batin Vanessa.


Note: Mohon tinggalkan jejak yah, biar Otor makin semangat nulisnya:)


__ADS_2