
“Kerja jadi sekretaris aku aja di kantor?” tawar Anton pada Hanum.
Bhahahahaha....seketika tawa Hanum pun pecah mendengar tawaran pekerjaan Anton, membuat Anton tampak bingung dengan apa yang membuat Hanum tertawa seperti ini.
“Kenapa?” tanya Anton begitu tawa Hanum mulai mereda.
“Heh...heh....aduh, sakit perut aku Mas.” Kata Hanum sembari memegang perutnya.
“Abisnya Mas lucu bin aneh tau nggak sih? Aku ini Cuma lulusan Sma Mas, nggak ngerti sama kerjaan gituan.” Jawab Hanum jujur apa adanya membuat Anton tersenyum dengan kejujuran Hanum.
“Kan bisa belajar num, aku juga pasti bantuin kamu kok.” Kata Anton.
“Nggak deh Mas, maaf yah nanti aku bisanya malah cuma nyusahin Mas aja dong.” Ujar Hanum.
“Nggak lah, masak nyusahin.” Ucap Anton lagi.
“Nggak deh Mas, aku coba cari kerjaan yang lainnya aja.” Ujar Hanum kemudian.
“Kerjaan apa num? Hari gini susah banget lo nyari kerjaan.” Jawab Anton yang nampak khawatir.
“Oh gini aja, kamu masih suka bikin kue kue gitu nggak? Aku masih inget kalau dulu kamu ikut ekstrakurikuler itu kan waktu masih sekolah?” tanya Anton langsung mengalihkan pandangannya pada Hanum.
“Suka Mas, aku suka banget bikin kue.” Jawab Hanum penuh antusiasnya.
“Makan telur gulung juga?” tebak Anton.
“He eum.” Jawab Hanum menganggukkan kepalanya dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
“Kalau gitu kamu kerja ada di toko kue milik punyaku aja, gimana?” tawar Anton yang menemukan ide.
“Boleh, mau mau. Eh...Mas Anton punya toko roti juga?” tanya Hanum yang baru menyadarinya.
“Baru banget buka, jadi masih sepi gitu lah. Kebetulan aku jarang banget kesana.” Jawab Anton.
“Wihhh keren banget Mas, sumber uangnya dimana mana.” Jawab Hanum.
“Tapi,” jawab Anton yang tampak ragu ragu.
“Tapi apa Mas?” tanya Hanum yang dibuat penasaran.
“Tokonya deket sama kantor Adnan.” Jawab Anton tampak ragu ragu menyampaikannya.
Seketika wajah Hanum tampak terkejut sebelum pada akhirnya tersenyum kembali.
“Nggak papa dong Mas, nggak masalah.” Jawab Hanum.
__ADS_1
“Beneran? Kamu nggak papa?” tanya Anton memastikan.
“Iya, serius nggak papa.” Jawab Hanum menampilkan raut wajah bahagianya.
“Oke, kalau gitu mulai besok kamu udah bisa kerja. Aku share alamatnya, aku juga bakalan bilang sama anak anak yang lainnya.” Jawab Anton.
“Makasih Mas, Mas udah banyak banget bantuin aku selama ini.” Ucap Hanum penuh rasa terima kasih.
“Sama sama, suatu saat aku bakalan minta balasannya loh.” Jawab Anton dengan senyum jahilnya.
“Apaan, nolong tapi kok nggak iklas.” Sinis Hanum.
.............
Hari pertama Hanum kerja tak ada sesuatu yang istimewa yang dialaminya, begitu pun dengan hari hari setelahnya.
Bagaimana dengan hubungan Hanum dan juga Anton? Keduanya kini semakin dekat, Anton kerap kali datang menjemput Hanum kerja dan keduanya juga kerap pergi bersama entah itu sekedar makan atau pergi jalan jalan.
“Hanum.” panggil Susi.
“Iya Mbak.” Sahut Hanum, ia pun langsung bergegas menghampiri wanita yang memanggilnya tersebut.
“Iya Mbak, kenapa Mbak?” tanya Hanum begitu menghampiri Mbak Susi.
“Jangan takut Hanum, nggak ada yang perlu kamu takutin lagi.” Ucap Hanum pada dirinya sendiri.
“Oke Mbak.” Jawab Hanum dengan senyumannya.
........
“Mbak saya mau nganterin kue.” Ucap Hanum pada pegawai resepsionis.
“M...Mbak Hanum?” kaget dua resepsionis tersebut hampir bersamaan, Hanum hanya tersenyum menanggapinya.
“Kalau gitu biar saya bawain ke Pantry Mbak.” Ucap Rita yang langsung berdiri dan menghampiri Hanum serta meraih kue pesanannya.
“Eh nggak usah, biar saya aja.” Tolak Hanum yang merasa tak enak hati.
“Eh nggak papa kok Mbak, biar aku aja yang bawain.” Ucap Rita yang tak mau kalah, akhirnya dengan terpaksa Hanum pun menyerahkannya pada Rita.
.......
Brukkkkk.....
“Auh.” Ringis Hanum merasakan perih pada sikunya.
__ADS_1
“Gimana sih Mbak jalannya kok nggak hati hati.” Hardik wanita yang menabraknya namun dia tak sampai jatuh seperti Hanum, hanya mundur beberapa langkah saja.
“Maaf mbak.” Kata Hanum yang langsung berdiri dan melihat wanita yang ditabraknya.
“Vanessa.” Terkejut Hanum melihat mantan madunya tersebut.
“Hanum.” Vanessa pun tak kalah terkejutnya melihat Hanum yang berdiri tegak didepanya.
“Ngapain kamu disini?” tanya Vanessa kemudian.
“Nggak nyangka banget yah kita ketemu lagi dikantor suami kita.” Ucap Vanessa.
“Ups...maksudku suami aku.” Ralat Vanessa.
Mendengar Vanessa yang menyindirnya secara langsung membuat Hanum geram namun tak mau menampakkannya, ia juga baru tahu sifat asli Vanessa yang ternyata terpendam selama ini.
“Hek em, nggak nyangka juga ya ternyata kamu masih hidup.” Balas Hanum sinis.
“Oh iya, mungkin tuhan kasihan kali ya. Udah hamil sama pacarnya, eh pacarnya nggak mau tanggung jawab lagi.”
“Yah....namanya juga laki laki yah, mestinya pilih pilih dulu lah siapa wanita yang mau dinikahi sama yang cuma jadi...” ucap Hanum yang perlahan mendekat ke arah Vanessa dan mendekatkan wajahnya pada telinga Vanessa walaupun bibirnya tak sejajar dengan telinga Vanessa.
“Jalangnya.” Ucap Hanum dengan suara berbisiknya tak lupa juga dengan senyum mengejek yang dipersembahkan Hanum untuk membungkam bibir wanita itu.
Jelas saja, tampak Vanessa yang mengeraskan rahangnya dengan tangan yang mengepal erat. Melirik kesana kemari seakan akan ingin memastikan jika tak ada orang lain yang mendengarnya.
"Aku tahu karena kehadiranku membuat rumah tangga kamu dengan Mas Adnan hancur, tapi itu semua bukan sepenuhnya salah aku num. Itu semua karena Mas Adnan masih cinta sama aku, jadi kamu nggak boleh kayak gini dong." jawab Vanessa setelah berhasil mengendalikan emosinya.
"Iya, ucapan kamu bener." jawab Hanum menampakkan wajah sedihnya.
"Aku yakin kamu pasti bisa ngelaluhi ini semua num." ucap Vanessa yang bersikap seolah olah prihatin sembari menepuk bahu Hanum.
"Aku akhirnya sadar kalau ternyata kalian itu benar benar jodoh, walaupun berpisah tapi pada akhirnya kalian bersatu kembali." ucap Hanum mendongak mantap Vanessa.
"Iya kamu benar num, karena aku adalah cinta pertamanya Mas Adnan dan tuhan akhirnya melihat ketulusan cinta kita." balas Vanessa.
"Bukan karena itu Van, yang aku lihat kalian bisa bersatu kembali karena tuhan tau..."
"BARANG BEKAS COCOKNYA YA...SAMA BARANG BEKAS!!!" Ucap Hanum dengan tawa sinis menghiasi bibirnya, sontak saja Vanessa langsung terkejut dengan kata kata yang dilontarkan Hanum. Saking terkejutnya sampai sampai ia tak menyadari jika Hanum telah pergi meninggalkannya sendiri.
Hah...hah....hah.....terdengar nafas Hanum yang masih memburu setelah keluar dari pagar.
"Bagus, kamu hebat num. Jangan biarkan orang lain menindas kamu." ucap Hanum pada dirinya sendiri sembari memukul dadanya dengan kepalan tangannya seolah olah memberikan kekuatan pada hatinya.
~Papan setrika sebenarnya adalah papan seluncur yang menyerah pada mimpinya. Maka dari itu, jangan lah menjadi papan setrika.
__ADS_1