Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 76


__ADS_3

“Ma, aku nggak mau ma.” Tolak anak kecil tersebut sembari menarik narik tubuhnya ke belakang agar tidak terseret oleh Ibunya.


“Retha, kamu jangan gini dong.” Kesal wanita yang sudah pasti Mamanya tersebut.


“Nggak mau ma...huwaaaa.” tolak anak kecil tersebut yang kemudian menangis sekencang kencangnya.


“Rini, jangan paksa Retha dong kalau nggak mau.” Tiba tiba saja seorang laki laki datang dari arah belakang yang langsung melepaskan tangan wanita itu dari tangan anaknya.


Tampak wanita itu melengos kearah lain sembari menghela nafasnya kasar.


“Mas, Mas bisa nggak sih sekali aja biarin Retha tinggal sama aku Mas?” tanya wanita itu seolah olah sedang putus asa.


“Rin, kamu sendiri yang udah hilangin kepercayaan Retha.” Balas laki laki itu.


“Waktu Retha tinggal sama kamu kenapa kamu malah pergi sama laki laki lain rin? Kamu nggak ngurusin Retha sama sekali, jadi wajar dong kalau Retha belum mau tinggal sama kamu lagi.” Ucap laki laki itu kembali.


“Aku nggak ngelarang kamu buat bawa Retha rin, tapi tolong pelan pelan jangan paksa Retha kaya gini.” Ucap laki laki itu terdengar memohon.


“Tanteee.” Teriak anak kecil tersebut kearahnya, sontak Hanum langsung menoleh kesana kemari bahkan ke belakang untuk memastikan yang dipanggil anak itu bukan dirinya, namun ia sama sekali tak menemukan adanya orang lain di sekitarnya.


“Tante.” Panggil anak kecil tersebut yang tiba tiba saja sudah ada didepanya.


“Eh,.” kaget Hanum, namun sejurus kemudian ia langsung jongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan tinggi anak kecil tersebut.


“Tante, tante yang dulu pernah aku tabrak kan?” tanya anak kecil tersebut yang rupanya masih mengingat dirinya beberapa minggu yang lalu.


“He eum, kamu ingat tante?” tanya Hanum mencoba bersikap ramah.


“Ingat tante, aku mau minta maaf tante. Dulu kan aku yang nabrak.” Ucap anak kecil bernama Retha tersebut tertunduk.


“Heyy, kenapa sedih? Tante nggak papa kok? Tante juga udah lupain semuanya.” Kata Hanum mencoba menghibur.


“Nama tente Hanum, nama kamu siapa?” tanya Hanum berpura pura tak tahu nama anak kecil tersebut.


“Aku Retha tante, Aretha.” Jawab anak kecil tersebut dengan senyumannya.


“Retha.” Panggil laki laki tersebut yang akhirnya datang menghampiri Retha.


“Retha, Mama mau pulang. Salim dulu sama Mama dong.” Ucap laki laki tersebut memberi tahu.


Walaupun tampak malas dan mengerucutkan bibirnya, namun anak kecil tersebut tetap mematuhi perintah Papanya. Anak kecil tersebut berjalan dengan malas kearah Mamanya.


“Maaf ya kalau anak saya ganggu.” Ucap laki laki tersebut meminta maaf pada Hanum.


“Oh, nggak kok pak nggak ganggu sama sekali.” Tolak Hanum cepat.


“Kalau begitu saya permisi dulu pak.” Kata Hanum kemudian pamit undur diri yang dijawabi dengan anggukan kepala serta senyuman oleh laki laki tersebut.


Hanum pun pada akhirnya berjalan sedikit menjauh dari tempat tersebut, sebenarnya ia merasa malu karena dengan sengaja ia malah menonton pertengkaran rumah tangga tersebut.


“Mana lagi taksinya lama banget?” gumam Hanum sembari terus menunggu kedatangan taksi yang dipesannya.


Setelah cukup lama menunggu akhirnya yang ditunggu tunggu datang juga, ia pun bergegas masuk dan meminta supir tersebut untuk mengantarkannya ke alamat kos kosan Maya.


......


Vanessa yang kini tengah dalam perjalanan ke kantor Adnan, tujuannya yaitu sekedar mengantarkan makan siang untuk sang suami.


Setelah menempuh perjalanan beberapa puluh menit pada akhirnya ia sampai juga ditempat yang sudah sejak lama ingin ia kunjungi.


Setelah memarkirkan mobilnya ia pun bergegas masuk ke menemui resepsionis untuk menanyakan apakah suaminya ada di ruangannya atau tidak.


“Emm permisi mbak, suami saya ada didalam nggak ya?” tanya Vanessa langsung pada intinya pada dua wanita yang tengah bertugas tersebut.


Untung saja kedua wanita tersebut sedikit mengenali wanita dihadapannya ini, yah...mereka cukup tau jika bos nya memiliki dua istri sebelumnya sebelum istri pertama yang dikenalnya telah berpisah dengan boss mereka.


“Oh, Pak Adnan ada di ruangannya buk. Ibu bisa langsung menuju ruangannya sekarang.” Jawab resepsionis tersebut dengan ramahnya.


“Baik mbak, makasih.” Jawab Vanessa yang kemudian langsung pergi meninggalkan dua resepsionis tersebut.


“Eh lihat deh, cantikkan juga Mbak Hanum yah?” bisik salah satu resepsionis kepada teman di sebelahnya.


“Iya, kasihan banget yah mbak Hanum.” Balas perempuan di sampingnya.


“Biasanya di film film wanita perebut suami orang tuh bakalan dapat karmanya.” Jawab satunya lagi.


Tok...tok...tok, Sayang....tanpa menunggu jawaban Vanessa langsung masuk begitu saja kedalam ruangan Adnan.


Adnan yang tengah mengerjakan beberapa pekerjaannya pun langsung mendongak menatap orang yang telah masuk tanpa izin di ruangannya tersebut sebenarnya hendak memarahi orang tersebut, namun kemarahannya memudar begitu melihat wanita yang datang adalah istrinya.


Selama beberapa hari belakangan ini Adnan yang sebenarnya belum mengikhlaskan perceraiannya selalu melampiaskan kekesalannya pada Vanessa, walaupun sebenarnya tidak melalui fisik tapi melalui sikapnya yang tak pernah memperhatikan wanita itu.


“Sayang, kamu masih sibuk banget yah?” tanya Vanessa sembari meletakkan bekal yang dibawanya diatas meja tamu ruangan Adnan.


“Lumayan.” Jawab Adnan singkat sembari berdiri dari posisi duduknya dan berjalan menghampiri Vanessa.


Cupp...Vanessa langsung mengecup singkat pipi kiri Adnan.

__ADS_1


“Kamu udah makan belum?” tanya Vanessa.


“Belum.” Jawab Adnan singkat dengan senyum menghiasi bibirnya.


“Kebetulan banget hari ini aku bawain kamu makanan.” Balas Vanessa yang kemudian menarik tangan Adnan untuk duduk di sebelahnya.


“Kok tumben banget kamu kesini?” tanya Adnan yang tampak penasaran, sontak langsung saja Vanessa menghadap Adnan dan meraih kedua tangan Adnan untuk kemudian digenggamnya.


“Nan, aku mau bicara serius sama kamu.” Ucap Vanessa memulai percakapan.


“Ngomong apa?” tanya Adnan yang tampak penasaran.


“Aku mau perbaiki hubungan kita, aku mau hubungan kita jadi lebih baik lagi.” Ucap Vanessa lagi, tampak Adnan yang memandang wajah Vanessa lekat lekat.


“Hubungan kita selama ini baik baik aja kok.” Jawab Adnan yang memang merasa hubungan yang dijalaninya kini tampak mulus tak ada masalah.


“Baik baik aja?” tanya Vanessa seolah olah mengejek apa yang dikatakan Adnan barusan.


“Baik baik aja gimana nan?” tanya Vanessa lagi.


“Kamu selalu aja cuekin aku nan,”


“Kamu nggak pernah nganggep kehadiran aku,”


“Setelah perceraian kamu sama Hanum, kamu beda nan.” Kata Vanessa lagi.


“Kamu nyesel cerai sama Hanum?” tanya Vanessa lagi dengan suara sinisnya.


“Banget!” jawab Adnan singkat padat namun terasa menusuk dihati Vanessa.


“A...Apa?” tanya Vanessa yang hampir tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya ini.


“Ka...kamu nyesel sama semua ini?” tanya Vanessa lagi.


“Aku nggak pernah nyangka aku bakalan cerai sama Hanum van.” Tiba tiba saja emosi Adnan langsung naik seketika begitu mendengar kata kata perceraian yang baru saja dialaminya tersebut.


“Ya tapi mau gimana lagi nan? Ini udah terjadi, kamu juga harus belajar nerima kenyataannya juga dong.” Balas Vanessa.


“Nggak, aku bakalan mulai dari awal lagi buat dapetin Hanum van.” Tolak Adnan dengan keras.


“Jika dulu kita menikah karena perjodohan, maka nanti kita bakalan nikah lagi karena saling mencintai.” Jawab Adnan dengan penuh keyakinan dihatinya.


“Nan, sadar nan. Kamu gila?!” pekik Vanessa yang mulai tersulut emosi.


“Aku gila? Nggak aku nggak gila van.” Bentak Adnan tepat didepan wajah Vanessa, membuat Vanessa langsung membuang pandangan matanya.


“Terserrah.” Jawab Vanessa yang mulai jenuh dengan pertengkaran ini.


Haaaaaahhhhhh....terdengar suara teriakan dari ruangan Adnan selepas sepeninggalan Vanessa.


“Hahhhhh, siallll” teriak Vanessa sembari memukul setir mobilnya.


“Hanum Hanum Hanum lagi, Hanum terus.” Teriak Vanessa penuh frustasi.


..........


Setelah cukup lama di perjalanan, kini akhirnya Hanum sampai juga di kos kosan Maya. Ia pun bergegas menuju kamar Maya.


Tok....tok.....tok..., tak perlu menunggu lama akhirnya pintu terbuka pula menampilkan sosok sahabatnya tersebut.


“Hanummm.” Teriak Maya yang langsung menghambur ke pelukan Hanum.


“Aku kangen banget sama kamu num.” Kata Maya.


“Aku juga kangen banget sama kamu May.” Balas Hanum.


Setelah itu mereka berbincang cukup lama dan Maya juga sudah mengatur semuanya untuk Hanum, mulai dari berbicara dengan ibu kos dan juga telah membantu Hanum beberes beres kamar barunya.


“Ngomong ngomong lo udah pernah ketemu sama Adnan belum?” tanya Maya pada sahabatnya tersebut.


“Terakhir di persidangan.” Jawab Hanum jujur.


“Nggak nyangka banget kalau tuh laki bakalan ketarik sama pelakor.” Kata Maya dengan nada berapi api.


“Emang apa sih kurangnya kamu num?” tanya Maya yang tampak heran.


“Nggak tau ah, ngapain juga ngurusin gituan.” Kesal Hanum yang ingin mengakhiri dengan cepat percakapan yang menurutnya unfaedah tersebut.


“Oh iya, bisa bantu cari pekerjaan nggak?.” tanya Hanum yang kebetulan ingat.


“Kerjaan? Kerjaan apa yah num?” tanya Maya yang kemudian tampak berfikir mencoba mengingat ingat sesuatu.


“Apa aja, aku kan cuma lulusan Sma juga.” Jawab Hanum pasrah.


“Nanti aku bantu cari cari deh.” Jawab Maya karena saat ini ia juga belum mampu membantu Hanum.


“Oke,” jawab Hanum singkat.

__ADS_1


Tring....Mendengar ada sebuah pesan singkat yang masuk di ponselnya, Hanum pun langsung meraih ponselnya.


“Mas Anton?” gumam Hanum membaca nama yang tertera dilayar ponselnya.


“Siapa?” tanya Maya yang tampak penasaran dan kebetulan tidak mendengar gumaman Hanum.


“Mas Anton.” Jawab Hanum sedikit berbisik yang hanya dijawabi dengan anggukan kepala oleh Maya.


“Kamu ke Jakarta kapan?” tanya Anton melalui pesan singkatnya, memang Hanum baru datang dari kampung halamannya usai sidang perceraiannya dan baru kembali ke Jakarta hari ini.


“Aku udah di Jakarta Mas.” Balas Hanum


Tut....tuuuttt....ttut, tak berselang lama Mas Anton langsung menelepon Hanum.


“Halo.” Sapa Hanum setelah menggeser tombol hijau di ponselnya.


“Halo num, kamu sejak kapan di Jakarta?” tanya Anton langsung pada intinya, dari suaranya ia terdengar panik.


“Baru aja dateng tadi pagi kok Mas.” Jawab Hanum.


“Sekarang kamu dimana? Kamu udah dapet tempat tinggal belum?” tanya Anton lagi dari seberang sana.


“Udah kok Mas, aku udah dapet kos. Kebetulan temen aku ada yang kos disini juga.” Jawab Hanum sembari melirik lirik ke arah Maya yang tampak sibuk dengan ponselnya.


“Kalau gitu nanti malam kita ketemu, aku jemput kamu di kos. Kamu sharelock aja oke.” Kata Anton dari seberang sana.


“Oke.” Jawab Hanum yang kemudian langsung mengakhiri sesi bicaranya.


“Ada apa?” tanya Maya begitu panggilan selesai.


“Mas Anton ngajak ketemu nanti malam.” Jawab Hanum yang kemudian langsung berbaring ditempat tidurnya.


“Kemana?” tanya Maya lagi.


“Nggak tau.” Jawab Hanum singkat.


Sore pun telah datang, Hanum yang baru saja selesai mandi yang kebetulan kos kosan ini kamar mandi dalam mendengar suara ketukan pintu, ia pun segera mengintip orang dibalik pintu tersebut.


“Maya?” gumam Hanum yang kemudian langsung membuka sedikit pintunya hingga menampakkan kepalanya saja.


“Kenapa?” tanya Maya yang merasa heran karena Hanum hanya menampakkan kepalanya saja.


“Habis mandi, kenapa?” tanya Hanum langsung pada intinya.


“Mau beli makan nih, nitip nggak?” tanya Maya menyampaikan tujuannya.


“He em, menunya samain aja.” Jawab Hanum.


“Oke.” Balas Maya yang kemudian langsung pergi, begitu pula Hanum yang langsung masuk kembali ke dalam dan memakai pakaiannya.


Tak berselang lama Maya pun datang membawa kantung keresek ditangannya.


“Cuma ada ini.” Kata Maya yang baru datang dan langsung meletakkan apa yang dibawanya diatas ranjang.


“Nggak papa, emangnya apa isinya?” tanya Hanum yang tampak penasaran.


“Telor ceplok, tempe orek, sambel sama tahu goreng.” Jawab Maya yang ternyata langsung membuka bungkusan nasinya, Hanum pun juga langsung membuka dan memakannya.


“Oh ya, nanti malam pergi jam berapa?” tanya Maya disela sela makannya.


“Nggak tau.” Balas Hanum singkat.


Terang telah berganti malam, saat ini Hanum telah bersiap siap untuk pergi dengan Anton. Hanya tinggal memakai jaket saja dan menunggu kedatangan Anton. Hampir setengah jam Hanum menunggu Anton sampai pada akhirnya...


Tringgg....


“Aku udah didepan kos kamu.” Begitulah isi pesan dari Anton, sontak Hanum pun langsung bergegas keluar dari kos nya.


“Maya...aku pergi dulu.” Teriak Hanum didepan kamar Maya.


“Iya.” Terdengar suara sahutan dari kamar Maya.


Hanum pun lekas keluar menemui Anton, begitu keluar dari pagar Hanum pun melihat Anton yang tengah menunggunya disamping mobilnya dengan posisi membelakanginya.


“Mas Anton?” panggil Hanum yang sontak membuat Anton langsung berbalik kearahnya.


“Hanum.” Terkejut Anton.


“Udah lama ya Mas nunggunya?” tanya Hanum basa basi.


“Oh, nggak kok. Aku baru aja dateng.” Jawab Anton.


“Oh.” Balas Hanum dengan mengangguk anggukkan kepalanya.


“Emm, kita pergi sekarang aja gimana?” tanya Anton meminta persetujuan.


“Oh He eum” balas Hanum, Anton pun bergegas membukakan pintu mobil untuk Hanum.

__ADS_1


“Mbak Hanum?”.....tiba tiba saja tersengar suara orang yang memanggil namanya.


~Cobalah konsisten dalam menjalankan usaha yang kamu jalani sampai apa yang kamu inginkan bisa kamu dapatkan~


__ADS_2