Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 33


__ADS_3

Kesabaran ada batasnya?...mungkin kata kata itulah yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan Vanessa pada saat ini, bagaimana Vanessa tidak sebal? jika ditotal total sudah hampir 2 jam ia duduk sendirian menunggu Adnan dimeja makan. Namun apa yang terjadi? hingga matahari telah bergerak naik dan panasnya juga sudah semakin terik 2 orang tersebut tak kunjung menampakkan batang hidungnya pula


"Memangnya apa yang sedang mereka lakukan sampai tidak keluar dari kamar" omel Vanessa, keningnya berkerut menandakan jika ia tengah berfikir keras


"Apa aku samperin aja dikamarnya?" gumam Vanessa


"Apa mereka sama sekali nggak punya sopan santun kalau dirumah ini sekarang bukan hanya ada mereka berdua aja, tapi ada aku juga" kesalnya


"Gini nih resikonya kalau setujunya cuma setengah hati, nggak dianggap banget" cibir Vanessa yang beranjak dari posisi duduknya, ia telah memutuskan untuk melihat apa yang sedang dilakukan dua orang itu hingga tak keluar kamar sedetikpun


Sesampainya didepan kamar Hanum dan Adnan Vanessa lebih dulu menguping dengan cara menempelkan telinganya pada pintu, awalnya tak ada suara sama sekali hingga...


"Sayang baju aku mana?" tanya Adnan yang baru keluar dari kamar mandi


"Oiya Mas, aku lupa belum siapin. Maaf yah" sesal Hanum karena melupakan kewajibannya, dari tadi ia malah fokus pada ponselnya


"Yaudah kalau gitu ambilin gih" kata Adnan yang kemudian menyomot sebuah roti sementara Hanum masih memilah milah pakaian rumahan yang cocok untuk suaminya


"Ini Mas" kata Hanum sembari menyodorkan 1 set pakaian untuk suaminya


"Makasih" balas Adnan sembari meraih baju tersebut dan berjalan kearah ranjang kemudian melepaskan haduk yang melilit dipinggangnya begitu saja


"Masss" pekik Hanum melihat tindakan suaminya


"Kenapa nggak ganti dikamar mandi aja sih" kesal Hanum


"Kenapa? kok kamu yang sewot sih? kan yang ganti baju disini aku" balas Adnan tanpa merasa bersalah sedikit pun sembari terus memakai pakaiannya, sementata Hanum langsung duduk menghadap makanan didepannya tanpa memperdulikan lagi suaminya


"Jangan makan dulu, tunggu Mas" kata Adnan menghentikan gerakan tangan Hanum yang hendak meraih sebuah roti


"Apaaaa?" pekik Vanessa diluaran pintu, untungnya ia bisa mengerem mulutnya agar tak berteriak


"Kurang ajar banget mereka berdua, sialan" geram Vanessa kemudian berjalan meninggalkan kamar Hanum


Tap...tap...tap....Vanessa berjalan dengan sedikit menghentak sembari tangannya berpegangan pada pegangan tangga, kalau saja dirinya tidak tengah hamil mungkin saja ia sudah menendang pintu kamar Hanum


"Kurang ajar banget mereka" geram Vanessa sembari meminum air yang telah disiapkannya, mengatur emosinya agar lekas stabil kembali


Vanessa memandang makanan yang telah dibuatnya dengan sepenuh hati namun belum tersentuh sama sekali tersebut


"Padahal aku udah cape cape bikin" ucap Vanessa memandang sedih makanannya


...........

__ADS_1


"Aaaa....buka mulutnya yang lebar ini gede loh potongannya" kata Adnan dengan tangan yang sudah memegang potongan buah apel hendak menyuapi Hanum


"Mas, itu gede banget. Susah dong makannya" kesal Hanum mengerucutkan bibirnya


"Masa?" kata Adnan dengan nada tengilnya kemudian memakan potongan apel tersebut, namun ia hanya memakan satu gigitan saja


"Emmm...enak" kata Adnan yang masih mengunyah makanannya


"Nih Aaaaa" ucap Adnan yang kembali menyuapi Hanum dengan potongan buah apel yang tinggal setengah tersebut, kali ini Hanum membuka mulutnya


"Aummm....emmmm, manis manis asem. Enak" ucap Hanum menikmati rasa buah apel tersebut


Tut....tut....tuttt....tiba tiba saja ponsel Adnan berdering, Adnan pun mengambil ponselnya dan membaca nama yang tertera dilayar ponselnya


"Bapak" ucap Adnan memberitahu Hanum


"Kok nggak telepon aku?" heran Hanum, Adnan hanya mengendikkan bahunya kemudian menggeser icon berwarna hijau tersebut


"Assalamualaikum Bapak" salam Adnan


"Waalaikumsalam " balas Pak Imam dari seberang sana


"Gimana kabarnya Bapak sama Ibu?" tanya Adnan, Hanum memberi kode agar meloudspeaker ponselnya dan Adnan pun mengikutinya dan meletakkan ponselnya diatas meja


"Alhamdulillah" ucap syukur Adnan


"Bapakkkk, Hanum kangen bangetttt" sahut Hanum dengan sedikit berteriak


"Astagfirullah" kaget Pak Imam diseberang sana begitu mendengar teriakan Hanum, sementara Adnan hanya menutup kedua telinganya


"Hanum ngagetin aja" kesal Pak Imam


"Hehehe, Maaf dong kalau gitu" jawab Hanum


"Kenapa nggak telepon kenomor Hanum?" tanya Hanum langsung pada intinya


"Memangnya kenapa kalau Bapak telepon menantu Bapak?" balik tanya Pak Imam tanpa menjawab terlebih dahulu pertanyaan Hanum


"Ya nggak papa, kan biasanya teleponnya pake nomor Hanum" ucap Hanum sembari melirik suaminya


"Bosen ah telepon kamu terus" jawab Pak Imam


"Ishhh" desis Hanum tak terima, sementara Adnan tampak berusaha menahan rasa ingin tertawanya

__ADS_1


"Ibu kemana?" tanya Hanum


"Ibu lagi kepasar" jawab Pak Imam


"Suami kamu mana? masih disitu kan?" tanya Pak Imam


"Ada kok pak, aku masih disini" sahut Adnan begitu mertuanya menanyakan keberadaannya


"Kamu kapan liburnya?" tanya Pak Imam


"Kenapa Pak emangnya?" sahut Hanum yang tiba tiba penasaran


"Kalian kapan pulang kesininya? Bapak kangen banget sama Hanum. Mana anak satu satunya lagi" ucap Pak Imam yang sudah amat rindu pada Hanum


"Kalau bisa pulangnya dalam waktu dekat, jangan lama lama" kata Pak Imam lagi


"Kapan Mas?" tanya Hanum pada suaminya, jujur ia juga sudah merindukan keluarganya karena sudah hampir 2 bulan ia tak pulang pulang


"Waduh pak, aku juga belum tau nih pak. Aku musti ngecek dulu jadwal aku" kata Adnan menjawab pertanyaan dari mertuanya


"Yaudah kalau gitu buruan dicek terus pulang, emangnya nggak kangen apa sama Bapak Ibu" jawab Pak Imam dari seberang sana


"Ya kangen dong pak, apalagi sama masakan Ibuk" balas Adnan


"Makanya pulang" kata Pak Imam


"Iya, doain semoga ada jadwal kosong pak biar aku sama Hanum bisa cepet pulang" ucap Adnan


"Pasti" balas Pak Imam. Ketiganya melanjutkan teleponan membahas sawahnya yang baru saja panen raya tersebut


..........


Dimeja makan dengan perasaan amat dongkol Vanessa memakan sendiri omeletnya, rasanya perutnya sudah tak dapat lagi menahan rasa laparnya


"Huh...harusnya tadi langsung aku makan aja begitu mateng omeletnya" kesal Vanessa sembari mengunyah makanannya


"Kalau kayak gini terus bakalan banyak banyak makan ati aku" omelnya


"Sih Hanum juga keterlaluan banget sih sampe sampe bawa makanan kekamar segala"


"Emang sengaja yah mereka mau berdua duaan dikamar seharian"


"Emangnya nggak pengap apa" kesal Vanessa mengeluarkan segala uneg unegnya

__ADS_1


Usai menyantap sarapan terlalu lambatnya, Vanessa pun langsung kembali kekamarnya. Mau dirumah ini atau dirumahnya sendiri rasanya sama sekali tak ada bedanya, hanya ada perasaan kesepian lah yang merasuk kedalam dirinya, hanya bayi dalam kandungannya inilah yang menjadi penyemangatnya dalam menjalani hidupnya saat ini


__ADS_2