
"Hanum kan nggak bawa ponsel." Adnan tersenyum sendiri menertawakan kebodohannya, usai mendapatkan pesanannya ia pun langsung kembali kerumah tak sabar rasanya untuk segera bertemu dengan Hanum.
"Pak antarkan saya ke alamat xxx." ucap Hanum pada si supir taksi tesebut.
"Baik neng." jawab supir taksi tersebut menoleh sekilas pada Hanum. Entah mengapa perjalanan yang dilalui Hanum saat ini terasa sangat lama, padahal jarak yang ditempuh seharusnya tak terlalu jauh.
Lagi lagi dan lagi hujan datang membasahi bumi, menjadi saksi disaat Hanum lagi lagi harus terpuruk oleh keadaan. Memori indah yang pernah dilaluinya kini tiba tiba berputar putar dalam ingatannya bagaikan sebuah film, 3 tahun yang dilaluinya dengan Adnan tak akan mungkin bisa hilang begitu saja.
Teringat kembali saat saat ia kecil dahulu, Bapak dan Ibunya sama sekali tak pernah mengekangnya untuk menjadi apapun. Mereka akan selalu mendukung setiap ke inginan dan langkah yang ditempuh Hanum.
Sungguh indah bukan hidupnya? rasanya tak mungkin jika orang tuanya akan berbuat seperti itu kepadanya. Ah, tidak seharusnya ia memikirkan perkataan busuk laki laki itu.
"Neng, sudah sampai neng." ucap supir taksi tersebut yang membuat Hanum kembali tersadar dari jebakan masa lalunya.
"Oh udah sampai yah." ditatapnya kearah luar jendela, tampak hujan yang masih mengguyur Ibu kota ini.
"Totalnya 600 ribu neng." ucap supir tersebut memberi tahu.
"Ah.." Hanum dibuat gelagapan sendiri, pasalnya ia sama sekali tak memiliki sepeser uang pun dikantongnya.
"Emmm." Hanum tampak bingung melirik kesana kemari, tanpa sengaja tatapan matanya tertuju pada sebuah benda yang melingkar manis dijarinya.
"Apa aku harus melepaskan cincin ini?" gumam Hanum yang terus menatap cincin tersebut, walaupun ia sudah bilang untuk bertekad kuat melupakan Adnan namun nyatanya ucapan memang jauh lebih mudah dikatakan dari pada tindakan yang harus dilakukan.
Hanum menarik nafas dalam dalam mengumpulkan ketekadannya, semuanya memang harus dimulai dari hal hal kecil.
Hanum pun dengan yakin melepaskan cincin yang melingkar dijari manisnya selama tiga tahun ini.
"Ini pak, ini harganya lebih mahal." kata Hanum yang langsung menarik tangan kiri supir tersebut dan meletakkannya ditelapak tangannya, tanpa menunggu lebih lama lagi Hanum pun langsung keluar dari taksi tersebut walaupun hujan langsung membasahi tubuhnya dan berlari.
"Pak pak, tolong bukain gerbangnya pak....dor...dor...dor" Hanum berteriak teriak sembari menggedor gedor gerbang tersebut untuk memanggil satpam yang tengah berjaga dipos.
"Pak buka!!!" teriak Hanum lagi, Satpam yang pada akhirnya mendengarnya pun langsung mengambil payung dan bergegas menghampiri Hanum.
"Pak tolong buka." kata Hanum sedikit berteriak agar suaranya tak hilang ditelan hujan.
"Maaf mbak, jangan minta sumbangan kesini." jawab Satpam tersebut yang mengira Hanum adalah orang yang meminta sumbangan, pasalnya ia sama sekali tak pernah melihat wanita ini dan benar saja jika dia memintanya untuk membuka gerbang?
"Pak, saya mau cari Mas Anton Pak." kata Hanum.
"Saya mau ketemu sama Mas Antonnn." teriaknya lagi.
"Maaf mbak, tapi Pak Antonnya nggak ada dirumah." jawab satpam tersebut yang juga ikut berteriak.
"Tolong biarin saya masuk pak, saya kedinginan." ucap Hanum lagi yang memang merasakan tubuhnya sudah menggigil.
__ADS_1
"Baik Mbak." satpam tersebut pun bergegas membukakan pintu gerbang dan mempersilahakn Hanum untuk masuk karena tadi wanita didepannya menyebutkan nama majikannya dan sudah dipastikan jika wanita ini pasti mengenal majikannya.
Bi Inah langsung melayani Hanum dengan baik karena ia ingat betul wajah wanita yang pernah dibawa majikannya kesini saat malam beberapa waktu lalu.
"Bi, bisa tolong telepon Mas Anton?" tanya Hanum dengan penuh harap pada wanita paruh baya tersebut.
"Sebentar Mbak." jawab Bi Inah yang langsung berjalan cepat entah kemana, namun Hanum dapat menyimpulkan jika Bi Inah pasti akan mengambil ponselnya.
Sembari menunggu Bi Inah kembali, Hanum pun meraih secangkir cokelat panas yang telah dibuatkan Bi Inah dan menyesapnya kembali agar badannya lekas menghangat.
Hanum mengedarkan pandangannya seleuruh sudut ruangan terlihatlah foto seorang wanita cantik yang terlihat berumur, entahlah saat ia pernah meginap disini ia tentu saja ia tak sempat memperhatikan seluruh isi rumah ini karena ia juga harus pulang pagi pagi sekali.
Hanum semakin lekat memperhatikan wajah wanita difoto tersebut, kalau tak salah tebakannya itu pasti ibu dari Mas Anton. Hanum seperti melihat ada kesamaan wajah wanita itu dengan Mas Anton walaupun Hanum sama sekali tak tau dengan pasti apa yang membuatnya mirip.
"Maaf Mbak lama," tiba tiba saja Bi Inah datang dengan nafas memburunya dengan ponsel yang digenggam dikedua tangannya.
"Nggak papa bik, maafin saya yang udah ngerepotin bibik." bapas Hanum yang merasa sungkan.
"Ah nggak papa non, kalau gitu ini nomor den Anton. Bibik mau kebelakang dulu." ucap Bi Inah yang menyodorkan ponselnya dan Hanum pun langsung menerimanya, tanpa berkata apa apa lagi Bi Inah pun langsung kebelakang...entah apa yang akan dikerjakannya tersebut.
Dengan cepat Hanum langsung menekan icon berwarnah hijau tersebut.
Tut....tuttt....tuuttt terhubung namun belum diangkat oleh Anton disana. Hanum mondar mandir kesana kemari berdoa agar Anton cepat menjawab panggilannya.
"Halo bi, maaf aku baru angkat soalnya abis meeting." tiba tiba saja terdengar suara Anton dari seberang sana.
"Ha...Hanum, Hanum kamu kok bisa pegang..." kata Anton yang baru saja hendak melontarkan pertanyaannya.
"Mas, tolong aku Mas. Mas aku mohon." ucap Hanum yang terdengar putus asa.
"Halo Hanum, kamu sekarang dimana?" tanya Anton yang ikut panik mendengar suara Hanum.
"Aku aku ada dirumah kamu mas." jawab Hanum cepat.
"Oke, oke aku bakalan cepat pulang." jawab Anton yang langsung memutuskan sambungan teleponnya.
............
"Sayang, Mas pulanggg" teriak Adnan membuka pintu kamar Hanum dengan tawa yang mengambang menghiasi bibirnya.
Kosong....sepi, itulah yang pertama kali dirasakan Adnan ketika masuk kedalam.
"Dimana Hanum?" gumam Adnan yang tak melihat Hanum yang biasanya berbaring diranjang, tak ingin overthinking diawal Adnan pun mencoba mengecek Hanum siapa tau dia tengah mandi.
"Hanum, kamu didalem yah?" tok....tok....tok... Adnan mencoba berbicara pada Hanum yang disangkanya ada didalam kamar mandi.
__ADS_1
Tak ada sahutan dan juga tak ada suara gemericik air dari dalam membuat Adnan langsung was was dibuatnya.
"Hanum....duok...duok...duok" sekali lagi Adnan memanggil Hanum dan tak kunjung ada sahutan juga, tanpa menunggu lama ia pun langsung mendobrak pintu kamar mandi tersebut.
Bruaaakkkk.....kosong...
"Hanummm!" teriak Adnan yang menggema, Adnan pun langsung bergegas turun keluar kamar.
Brakkk.....Adnan membuak pintu dengan sangat kasar, siapapun yang mendengarnya pun pasti akan langsung tau jika Adnan tengah dalam tekanan emosi tinggi.
"Dimana Hanummm!" teriak Adnan didepan dua pengawalnya. Dua pengawal tersebut pun saling berpandangan tak mengerti dengan apa yang dikatakan boss nya tersebut.
"Dimana Hanumm" teriak Adnan lagi sembari menarik kerah salah satu pengawalnya tersebut.
"Maaf Boss, pasti ada didalam" ucap salah seorang pengawal satunya.
"Dimanaaa? Hah? cari cepat!!!" teriak Adnan, tanpa menunggu lama lagi dua pengawal tersebut pun langsung lari terbirit birit masuk kedalam rumah untuk memastikan keberadaan Hanum.
Benar juga, bahkan tadi Adnan hanya mencari Hanum di dalam kamar saja tanpa mencari keruangan lainnya. Namun nyatanya ia langsung terbakar emosi dan menyimpulkan jika Hanum pergi dari rumah ini. Tak ingin tinggal diam, Adnan pun langsung ikut masuk dan memastikan jika Hanum masih ada didalam rumah.
........
Anton mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, seakan akan hujan sama sekali tak menjadi penghalang untuknya.
Ciiitttt.....hampir saja Anton menabrak mobil yang hendak berbelok didepannya.
Hah....hah....hah....nafas Anton yang terdengar masih memburu, kejadian barusan seakan akan menjadi pengingat untuknya jika ia harus tetap berhati hati dan tetap mementingkan kondisininya.
Setelah berhasil menormalkan detak jantungnya Anton pun kembali menancap gass namun kali ini ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Beberapa puluh menit kemudian akhirnya Anton sampai juga dirumahnya, setelah memerkirkan mobilnya dengan asal Anton pun bergegas masuk kedalam rumahnya.
Brakkk ...." Hanumm"
Hanum yang terduduk pun langsung bangun akibat terkejut mendengar teriakan Anton tersebut.
"Hanumm" Anton dengan wajah paniknya langsung bergegas menghampiri Hanum.
"Mas Anton." Hanum langsung berlari dan memeluk Anton saat itu juga, entah mengapa ia merasa tersentuh melihat Anton yang perduli padanya dan langsung bertindak cepat untuknya.
Brak....pelukan Hanum membuat tubuh Anton terpaku dan menegang seketika
~Apapun yang terjadi, tetaplah hidup.
Meskipun sakit, tetaplah hidup.
Kalau kau bertahan, artinya kau menang.
__ADS_1
^Another Oh Hae Young^~