
Tanpa sengaja Hanum terjatuh saat salah satu kakinya turun dari trotoar hingga membuat tubuhnya oleh dan alhasil kakinya kini terkilir.
"Isss." ringis Hanum sembari mengurut kakinya, berharap agar rasa sakitnya perlahan mereda hingga ia bisa berjalan kembali.
Tinn....tinnn....
Tiba tiba saja ada sebuah mobil yang membunyikan klakson kearahnya dan pada akhirnya berhenti tepat didepan Hanum, plat mobil yang sudah sabgat Hanum hafal hingga membuatnya lebih memilih untuk tak perduli dan fokus pada kakinya.
"Hanum, Hanum kamu kenapa?" tanya orang yang tampak buru buru turun dari mobil dengan wajah khawatirnya.
"Nggak papa." jawab Hanum singkat tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.
"Nggak papa gimana? coba lihat sampe memar kayak gini." kata Anton yang langsung menyingkirkan tangan Hanum dari kakinya.
Kalau udah tau kenapa mesti nanya?
"Kamu pasti kesakitan banget, jalan kamu juga pasti susah kan?" tanya Anton sembari mengelus elus kaki Hanum yang tampak memar tersebut.
"Aduhh." ringis Hanum yang langsung menepis dengan kasar tangan Anton.
Anton hanya bisa terdiam untuk sesaat menerima perlakuan seperti itu dari Hanum, dalam suasana yang buruk seperti saat ini ia harus bisa mrerubah diri menjadi sosok yang dipenuhi dengan aura kesabaran sebelum semuanya menjadi kacau karena mengikuti amarahnya.
Tanpa menunggu lama lagi Anton pun langsung menggendong tubuh mungil Hanum dalam sekali gerakan hingga membuat Hanum terkejut dibuatnya.
"Aduhh." rintih Hanum saat merasakan sakit pada pergelangan kakinya ketika dengan refleksnya ia hendak menendang nendangkan kakinya sebagai bentuk rasa tidak sukanya dengan apa yang dilakukan Anton tersebut.
"Sakit kan? makanya diem aja." tekan Anton membuat Hanum langsung membuang mukanya kearah lain.
..........
Tik...tik....tik
Detik demi detik terus berlalu tanpa merubah keadaan dari dua belah pihak yang bersikap asing tersebut.
"Maaf." ucap Anton tiba tiba membuat Hanum yang tadi menatap kearah luar jendela didepannya langsung menoleh kepadanya.
"Untuk?" tanya Hanum.
"Kesalahanku." jawab Anton.
"Bukan padaku, Vanessalah yang tersakiti bukan aku." jawab Hanum datar dan langsung membuang pandangannya kembali.
__ADS_1
"Aku harap hubungan kita masih akan tetap baik baik saja." ucap Anton kemudian.
"Kita masih bisa menjadi teman baik, seperti dulu lagi." jawab Hanum santai.
Ciiiitttttttt.....tiba tiba saja Anton langsung menginjak pedal remnya membuat tubuh Hanum terhuyung kedepan.
"Auuhhhh." ringis Hanum karena tubuhnya hampir terguling kedepan, karena posisi Hanum yang duduk bersandar pada pintu mobil bagian belakang. Untung saja ia berhasil menahannya.
Mendengar ringisan Hanum yang membuat Anton langsung tersadar dengan apa yang barusan dilakukannya menoleh dan langsung memeriksa keadaan Hanum.
"Kamu nggak papa kan? maaf aku nggak bermaksud buat kamu kayak gini." ucap Anton dengan penuh rasa bersalah sekaligus khawatirnya.
"Mas Anton gimana sih? sebenarnya Mas Anton niat nolongin aku nggak sih!" kesal Hanum dengan wajah bersungut sungut, tiba tiba saja air matanya mengalir begitu saja.
"Kamu nangis?" terkejut Anton.
"Sakit banget ya, maaf banget aku nggak sengaja." ucap Anton dengan wajah paniknya.
" Cepet Mas, ini sakit banget." lirih Hanum.
"Iya iya aku bakalan ngebut sekarang." jawab Anton yang lansgung merubah posisinya kembali pada kemudi.
Tanpa menunggu lama lagi Anton pun langsung menyalakan mesin mobilnya dan menginjak pedal gassnya.
Bagaimana bisa ia terus kuat bersikap biasa saja pada orang yang telah menghantam hatinya dengan batu besar? sekuat apapun ia mencoba menahannya rasanya kodratnya kembali menuntunnya pada sosok wanita rapuh.
Jika difikir menggunakan logika seharusnya saat ini Hanum menjadi sosok wanita kuat bukan? pasalnya ini bukan kali pertamanya hatinya dihacurkan oleh makhluk yang bernama laki laki.
Bodoh...hanya manusia bodoh yang mengatakan hal demikian, pasti hanyalah manusia yang menjadi penonton dari kisah manusia lain yang mengatakannya.
Nyatanya yang dirasakan Hanum saat ini hanyalah kehancuran hatinya yang tiada tara ditambah lagi dengan pikiran sampahnya yang mengatakan apakah ini kutukan? apakah tuhan segitu bencinya dengan dirinya hingga lagi lagi membuat hatinya remuk seperti ini?
Apakah ia hanya ditakdirkan menjadi samsak? tidak ada laki laki yang tulus dengan dirinya, memikirkan hal itu membuat Hanum hampir kehilangan kewarasan.
Marah? tentu saja ia sangat marah dan kecewa, dalam kondisi seperti ini ingin sekali rasanya Hanum berteriak sekencang kencangnya sampai pita suaranya habis demi bisa mengeluarkan segala bentuk emosinya.
Namun itu semua hanya sia sia, yah...sia sia karena setelah itu bahkan tidak ada sesuatu yang akan berubah. Semuanya akan berjalan maju, tak sanggup lagi rasanya Hanum mengikuti arus kehidupan ini.
Dalam hal seperti ini seharusnya bercerita kepada orang yang paling dipercayainya lah yang ia butuhkan, tidak...ia tiba bisa bercerita kepada orang tuanya yang tentunya hanya akan menambah jumlah orang yang sakit hati karena takdir yang ditujukan padanya.
Yang tidak mengalami tidak akan paham, yang tidak merasakan tidak akan mengerti pula.
__ADS_1
"Hanum sekarang kita sudah sampai." ucap Anton tiba tiba yang langsung membuat Hanum tersadar dari renungan keterpurukannya. Anton pun dengan hati hati membantu Hanum.
Anton pun mengikuti Hanum yang dibawa para suster menggunakan brankar menuju ruangan rawatnya, padahal kondisi Hanum bukanlah kondisi yang parah namun sudah membuat Anton melupakan sosok wanita yang berjuang melawan sakitnya.
.......
Dirumah sakit yang sama namun diruangan yang berbeda seorang wanita cantik masih dalam pengaruh obat biusnya, para suster pun dibuat kewalahan karena wali yang membawa Vanessa tiba tiba saja tidak ada ditempat padahal kondisi Vanessa dan kandungannya sangat memprihatinkan.
Perlahan lahan Vanessa mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan dengan cahaya yang masuk.
"Ibu sudah bangun." sapa seorang perawat yang tengah menyuntikkan obat apa didalam tabung infus Vanessa.
"Saya dimana?" tanya Vanessa yang tampak linglung dan berusaha bangun dari posisinya saat ini.
"Ibu, Ibu jangan banyak gerak dulu." kata suster tersebut yang dengan sigap langsung membantu Vanessa agar kembali berbaring seperti semula.
"Saat ini Ibu tengah berada dirumah sakit, Mbak harus banyak banyak istirahat supaya kondisi Mbak lekas membaik." ucap suster tersebut.
"Rumah sakit?" gumam Vanessa mencoba mencerna kembali ucapan suster tersebut.
"Gimana kondisi Hanum?" tanya Anton pada seorang dokter yang barus saja keluar dari ruangan rawat Hanum.
"Hanya cedera ringan, jadi Bapak tidak perlu khawatir." jawab dokter tersebut.
"Kalau begitu saya permisi dulu." ucap dokter tersebut yang kemudian langsung pergi, Anton pun langsung bergegas masuk kekamar rawat Hanum.
"Bapak." panggil seseorang tiba tiba.
Namun baru saja tangannya memegang handle pintu seseorang memanggilnya membuat Anton menghentikan aktivitasnya.
"Suster manggil saya?" tanya Anton pada seorang perawat yang sudah berdiri disampingnya.
"Bapak yang tadi nganterin wanita hamil kan?" balik tanya suster tersebut.
"Astaga, aku sampai lupa kalau Vanessa dirawat disini juga." batin Anton meruntuki kebodohannya.
"I iya." jawab Anton kemudian.
"Bagaimana kondisi Vanessa saya sus?" tanya Anton kemudian.
"Kondisi Bu Vanessa saat ini.....
__ADS_1
~Percaya pada dirimu sendiri dan segala kemampuan sekecil apapun~
^RM^