
"Astagfirullah nak, kamu kenapa jadi seperti ini nak hiks...hiks...hiks." akhirnya tangis Bu Lastri pun langsung pecah, tak kuasa rasanya melihat putri semata wayangnya harus tinggal dirumah sakit jiwa.
"Ibuk...hiks...hiks..hiks." seolah ikatan batin mereka yang sangat kuat, Hanum pun langsung memeluk ibunya tanpa ragu ragu.
"Ibuk aku takut buk, hiks..hiks...hiks." lirih Hanum.
"Jangan takut lagi nak, ada Ibu sama Bapak disini."
"Ibu sama Bapak bakalan terus jagain kamu." ucap Bu Lastri.
"Jangan takut lagi ya nak." sahut Pak Basuki yang juga memeluk Putri beserta istri tercintanya.
Waktu pun berlalu tak terasa hari telah menjelang sore.
Tok....tok....tok
"Permisi." sapa salah seorang perawat yang biasa merawat Hanum, semua mata pun langsung menoleh dan tertuju pada perawat berpawakan tinggi ramping dan cantik tesebut.
"Wahhh ramai sekali ya, maaf Bapak Ibu mengganggu waktunya sebentar." ucap Perawat tersebut.
"Sekarang sudah waktunya Bu Hanum mandi." ucapnya.
"Oh iya sus, biar saya aja yang membersihkan tubuh Hanum." sahut Bu Lastri cepat.
"Eh." terkejut perawat bernama Sonia tersebut.
"Biar saya aja buk, nggak papa." tolaknya dengan halus.
"Saya ibunya, biar saya aja sus nggak papa saya sama sekali nggak keberatan kok." desak Bu Lastri.
"Iya sus, biar istri saya aja yang ngurusin Hanum." timpal Pak Basuki.
"Tap-tapi pak say..." tolak suster Sonia.
"Sus, nggak papa!" sahut Pak Tyo yang sudah merasa jengah dengan perdebatan ini.
"Biar orang tua Hanum aja." imbuhnya.
"Ba...baik pak, biar saya ambilkan airnya dulu." jawab suster Sonia yang kemudian langsung berlalu pergi.
..........
"Apa?" terkejut Anton.
"Maaf pak, saya juga baru tahu kalau keluarga Bu Hanum datang." cicit Sonia melalui panggilan teleponnya.
"Brengsekk!" umpat Anton yang kemudian langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Sial!."
Prangggg.....
"Ma..maaf pak." cicit Pak Tyo.
"Iya?" Pak Imam pun langsung menoleh ke arahnya.
"Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan pak." jawabnya.
"Tanyakan?" bingung Pak Imam.
"Silahkan tanyakan saja." ucap Pak Imam mempersilahkan. Pak Tyo pun langsung mengeluarkan kalung tersebut dari dalam saku kemejanya.
"Apa Bapak tahu tentang kalung ini?" tanya Pak Tyo ragu ragu, Pak Imam pun meraih kalung tersebut dan mengamatinya lekat lekat.
"Bukankah ini kalung milik Hanum?" tanya Pak Imam.
"I..iya Pak Benar, tapi apa bapak tahu ini kalung pemberian siapa?" tanya Tyo.
"Dulu ini kalung dari Pak diberikan oleh Pak Basuki saat meminang Hanum untuk Adnan." jawab Pak Imam sembari menatap kalung tersebut dengan tatapan penuh haru.
"Memangnya kenapa?" tanya Pak Imam.
"Oh, nggak kok pak nggak ada apa apa." jawab Pak Tyo cepat.
"Kalau gitu saya permisi dulu Pak, ada sesuatu yang harus saya urus." kata Pak Tyo yang kemudian langsung menyalimi Pak Imam sebelum pergi.
..................
Pak Tyo dengan langkah tergesa gesanya keluar dari rumah sakit jiwa tersebut, ada sesuatu yang harus ia tanyakan pada seseorang.
Tutt....ttuuttt.....ttuttt
"****." umpat Pak Tyo yang tiba tiba harus menghentikan langkah kakinya karena ponselnya berdering tersebut.
"Bibi?" gumam Pak Tyo yang merasa heran, pasalany Bibinya tersebut hampir tak pernah menghubinginya. Dulu saat Retha masih kecil Bibi yang paling sering menghubunginya hanya untuk mengatakan jika si kecil tengah rewel, merajuk atau pun menangis. Namun seiring bertambahnya waktu, Retha pun telah berubah menjadi anak pintar yang tak mudah menangis seperti sebelumnya.
Pak Tyo pun langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Assalamu'alaikum bik." salam Pak Tyo pertama kali.
"Waalaikumsalam Pak, maaf saya harus telepon bapak begini." jawab Bibi dari seberang sana.
"Bi, kenapa sama bibi? kenapa suara bibi panik begini?" tanya Pak Tyo yang mulai merasa ada yang salah.
"Pak tolong pak, tolong non Retha." suara Bibi yang terdengar panik seakan akan hendak menangis.
"Retha kenapa Bik?" tanya Pak Tyo yang juga langsung panik mendengar nama anaknya disebutkan.
"Non Retha nggak ada di tempat les nya pak, pak satpam bilang tadi non Retha dijemput Mamanya." jawab Bibi.
"Apa??" terkejut Pak Tyo.
"Gimana ini pak? maafkan atas kelalaian saya pak." hiba Bibi.
"Sekarang bibi tenang aja, bibi pulang biar saya yang akan mengurus semua ini." jawab Pak Tyo yang kemudian langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Ia mengotak atik ponselnya untuk mencari nomor sialan mantan istrinya tersebut.
Ttuuut.....tttuuuuttt...ttuuttt..
__ADS_1
"Halo." terdengar suara seseorang dari seberang sana.
"Dimana Retha sekarang?" tanya Pak Tyo langsung pada intinya.
"Oh Retha? kamu tenang aja yo Retha aman kok sama aku, kan aku Mamanya." jawab Rini dengan santainya dari seberang sana.
"Cihhh." decih Pak Tyo.
Mama katanya? dia hanya menyebut jika dirinya adalah seorang ibu pada situasi situasi tertentu saja.
"Berikan ponselnya pada Retha." perintah Pak Tyo.
"Aku mau denger suara Retha." tekannya lagi.
"Aduh tapi gimana ya yo, Rethanya lagi bobo mania nih." jawab Rini kemudian.
Tanpa menjawabnya Pak Tyo pun langsung memutuskan sammbungan teleponnya, setidaknya ia bisa memastikan jika Rini tidak akan melakukan apa pun pada Retha sehingga ia bisa menjamin keselamatan Retha.
"Vanesaa." gumam Pak Tyo.
"Yah...lebih baik aku minta tolong sama Vanessa aja." gumamnya lagi, beruntung ia mendapatkan nomor Vanessa beberapa hari yang lalu.
Ttuuttt.....tttuuttt....tttuuuttt.
"Iya halo." sapa Vanessa dari seberang sana.
"Van aku minta tolong sama kamu." ucap Pak Tyo to the point.
"Minta tolong?" gumam Vanessa.
"Minta tolong apa?" tanyanya lagi.
"Van kamu bisa datang ke penjara Adanan nggak? tolong tanyain sama Adnan tentang kalung yang Hanum pakai, kalung yang tiba tiba Hanum takut itu." jawab Pak Tyo yang sontak langsung saja membuat Vanessa terkejut.
"Hah?" terkejut Vanessa yang hampir tak percaya.
"Ehh." Pak Tyo pun baru menyadari jika Vanessa juga merupakan mantan istri Adnan, tentu saja dia akan keberatan dengan permintaan tolongnya ini.
"Maaf van, aku bener bener lupa. Maaf aku nggak ada maksud apa apa, apa lagi sampai bikin kamu tersinggung."
"Lebih baik aku minta tolong Zidan aja." ucap Pak Tyo.
"Eh nggak kok, nggak papa biar aku aja yang nemuin Mas Adnan." sahut Vanessa kemudian.
"Kamu yakin nggak papa? aku nggak maksa kok." tanya Pak Tyo memastikan.
"Nggak papa kok, tenang aja." jawab Vanessa yakin.
"Oke, terima kasih. Maaf aku malah ngerepotin kamu." ucap Pak Tyo.
"Don't worry, i'm fine." jawab Vanessa dari seberang sana sebelum mengakhiri panggilannya.
Pak Tyo pun kemudian langsung melanjutkan langkah kakinya kembali, ia harus cepat cepat bertemu dengan mantan istrinya tersebut dan membawa pulang Retha kembali.
.........
"Apa kabar?" tanya Vanessa berbasa basi memulai percakapan.
"Baik." jawab Adnan sekedarnya.
"Apa kamu makan dengan baik? badanmu masih sama seperti semula." balas Vanessa yang hanya dijawabi dengan anggukan kepala samar oleh Adnan.
"Ada perlu apa?" tanya Adnan langsung pada intinya.
"Ehm, kedatanganku kesini untuk menanyakan kalung Hanum." jawab Vanessa.
"Kalung Hanum?" heran Adnan.
"Ehhmm jadi....Vanessa pun menceritakan semua perihal kondisi Hanum hingga keadaannya saat ini.
Brakkk.....
"Apa??" bagaikan diterjang bom atom, itulah yang dirasakan Adnan saat ini, mendengar wanita yang ia cintai tengah mengalami gangguan mental seperti hukuman berat untuknya. Ia merasa dosanya kian bertambah, ia yang pertama kali menyakiti Hanum, membuat Hanum sedih hingga berakhir seperti ini.
"Dimana laki laki itu?" tanya Adnan kemudian, Vanessa pun tampak bingung dengan maksud dari pertanyaan Adnan.
"Anton, dimana laki laki itu?" tanya Adnan tegas.
"Aku tidak tahu." jawab Vanessa kemudian yang langsung membuang pandangannya kearah lain.
"Apa dia bersedia menikahimu?" tanya Adnan kemudian.
"Bayi kami telah tiada, jadi tidak ada alasan bagi kami untuk menikah." jawab Vanessa cepat.
Membicarakan tentang anaknya yang telah tiada dengan pria lain bersama dengan mantan suaminya seperti ia tengah mengalami ujian mental berat, jujur...perasaannya untuk Adnan dulu kian bertumbuh pesat sebelum pada akhirnya badai bencana ini datang. Dalam waktu sesingkat itu tentu saja perasaannya untuk Adnan belum sepenuhnya menghilang.
"Selidiki dia." tekan Adnan.
"Selidiki Anton?" tanya Vanessa yang terkejut sekaligus hampir tak percaya.
"Aku yakin dia ada hubungannya dengan semua ini." ucap Adnan dengan raut wajah tegasnya.
"Kamu yakin?" tanya Vanessa memastikan.
"Aku bahkan telah mengamati bajingan itu sejak lama, bahkan hubungan kalian dulu sekalipun." jawab Adnan dengan nada sinisnya.
Degg....
Tentu saja perkataan Adnan barusan seperti sebuah tamparan keras untuk Vanessa, bisa bisanya laki laki itu mengungkit keburukannya waktu itu sekarang.
"Baiklah, terima kasih atas kerja sama anda." ucap Vanessa kemudian yang langsung bangkit dari kursinya dan berlalu pergi meninggalkan Adnan begitu saja.
Tes...tiba tiba saja air mata Adnan langsung menetes begitu saja, mengingat dalam sedih wanita malang tersebut.
Jika waktu dapat diputar kembali, ia sama sekali tidak akan pernah menduakan Hanum dan semua ini tidak akan pernah terjadi. Sial....sekarang ia hanya bisa berandai dalam hidup penuh penyesalannya.
.......
Braaakkkkk.....
__ADS_1
"Aaaahhhhh" tiba tiba saja mobil yang dikendarai Vanessa ditabrak dari belakang hingga membuatnya oleng dan menabrak pembatas jalan.
Pandangan mata Vanessa perlahan lahan mulai memudar sebelum pada akhirnya ia pingsan.
"Qeqqhhh."
"Jangan macam macam denganku." sinis Anton yang kemudian langsung melarikan diri dari tempat tersebut dengan mobilnya.
"Woii...."
"Woooiii.
"Jangan labur woiii.
"Dasar gila."
"Foto platnyaaa."
Banyak sorakan sorakan yang terdengar dari warga yang tiba tiba berbondong bondong datang kelokasi tersebut dan mengeluarkan Vanessa yang terjebak didalamnya denhan asap yang sudah mengepul.
"Cepat hubungi ambulan."
.......
"Maaf ya sayang, Mama harus jadiin kamu umpan buat dapetin Papa lagi." ucap Rini sembari mengelus elus rambut lurus putrinya.
"Mama janji, Mama akan mengembalikan semuanya seperti semula."
"Mama akan memberikan kamu keluarga yang utuh, keluarga kecil yang bahagia sayang." ucapnya.
Tring.....tring.....tring.....
"Papa dateng sayang." ucap Rini dengan senyum yang mengambang dari bibirnya, ia pun langsung berdiri dan sedikut merapikan rambut dan pakaiannya.
Ceklekkk.....
"Dimana Retha?" tanya Tyo yang langsung menerobos masuk begitu saja setelah pintu dibukakan.
"Yo, sabar yo." Rini pun berjalan membuntuti Tyo yang sudah kebakaran jenggot tersebut.
"Retha tidur yo, jangan ganggu dia." ucapnya lagi yang sama sekali tidak digubris oleh Pak Tyo.
"Retha." Pak Tyo langsung senang ketika melihat putrinya yang tengah tertidur tersebut, ia pun bergegas mendekat kearahnya.
"Retha." panggilnya serayan menggoyang goyangkan tubuhnya pelan.
"Retha ayo bangun." panggilnya setelah tak kunjung mendapat respon.
"Retha sayang." Pak Tyo pun mulai panik karena Retha sama sekali tak bangun sedikitpun.
"Apa yang sudah kamu lakukan pada Retha!?" tanya Pak Tyo dengan tegas menunjuk ke arah mantan istrinya tersebut.
"Kamu kaku banget sih yo, Retha nggak kenapa napa kok." jawab Rini dengan santainya.
"Dasar wanita gila." decih Pak Tyo.
"Ada yang mau aku omongin sama kamu yo." kata Rini yang tidak diperdulikan sama sekali oleh Pak Tyo yang kembali mendekat ke arah Retha dan berniat untuk menggendongnya.
"Yo." panggil Rini yang juga mendekat ke arah mantan suaminya tersebut.
"YO. AKU MAU NGOMONG SAMA KAMU YO." bentak Rini.
"Apa yang udah kamu kasih ke Retha?" tanya Pak Tyo yang tak ambil pusing dengan omongan Rini.
"Retha nggak bakalan kenapa napa yo! aku mau ngomong sama kamu, kamu bisa denger nggak!" bentak Rini yang sudah diujung batas kesabarannya yang membuat Pak Tyo langsung menghentikan geraka tangannya.
"Oke." kat Pak Tyo yang kemudian langsung berbalik arah manatap mantan Istrinya tersebut.
"Katakan." ucapnya.
"Aku...aku mau kita rujuk yo." ucap Rini kemudian.
"Apa?" terkejut Pak Tyo.
"Aku tahu aku egois yo, tapi kita harus ngelakuin ini semua berkorban ini semua demi Retha yo." ucap Rini menggebu gebu.
"Aku cuma pengen Retha bisa punya keluarga kecil yang utuh dan bahagia yo." tuturnya.
"Qeq." decih Tyo yang tak bisa percaya dengan kata kata yang baru saja keluar dengan lancarnya dari bibir wanita itu.
"Kemana aja kamu rin, kemana aja!"
"Kenapa baru sekarang kamu mikir KAYAK GINI? KENAPA BARU SEKARANG!" bentak Pak Tyo.
"Karena kamu sekarang udah dibuang sama selingkuhan kamu?HAH?" teriaknya sembari menunjuk kearah Rini.
"Kamu pikir kamu bisa pergi lalu masuk kembali ke keluarga ini hanya karena kamu Mamanya Retha? hanya karena kamu yang melahirkan Retha?" bentaknya.
"Kamu salah." decih Pak Tyo.
"Aku ataupun Retha sama sekali nggak butuh kamu rin, Retha bakalan dapet Mama yang jauh lebih baik dari pada kamu." ucapnya lagi.
"Apa wanita gila itu!!!?" teriaknya.
Plakkk....
.......
Hiks...hiks...hiksss.
"Apa yang sudah terjadi sama Hanum pak, hiks...hiks...hiks.." tangis Bu Lastri langsung pecah tat kala memeluk tubuh suaminya setelah sejak tadi ia menahan semuanya, menahan diri agar tidak menangis di depan Hanum.
"Bapak sendiri juga nggak tahu buk." lirih Pak Imam yang ikut bersedih setelah istrinya menceritakan semua yang baru saja diketahuinya.
"Kita minta tolong sama Tyo aja buk, kita tidak punya siapa siapa lagi disini." balas Pak Imam.
~Ada saatnya sesuatu itu terasa sangat melelahkan, tetapi jangan menyerah, bertahalah sedikit lagi dan semua itu akan segera berakhir~
^Lay^
__ADS_1