Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 97


__ADS_3

"Bukannya itu Anton yah?" gumam Pak Tyo setelah mempertajam penglihatannya.


"Pa, kayaknya orang didepan itu lagi butuh bantuan deh pa." kata Retha yang langsung menyadarkan Tyo.


"Eh iya." balas Tyo yang kemudian langsung menepikan mobilnya tepat dibelakang mobil Anton.


"Emm sayang tunggu disini dulu yah, biar Papa yang turun." ucap Pak Tyo pada anaknya tersebut.


"Iya pah." jawab Retha sembari mengangguk anggukkan kepalanya.


Pak Tyo pun lekas melepaskan sabuk pengamannya dan langsung turun dari mobil untuk menghampiri laki laki tersebut yang kini tengah sibuk memainkan ponselnya dengan posisi membelakanginya.


"Ehm, permisi." Pak Tyo berdehem untuk menyadarkan laki laki tersebut, sontak saja Anton langsung berbalik ketika mendengar suara deheman seseorang.


"A..anda." terkejut Anton melihat laki laki yang pernah ditemuinya tersebut.


"Ehm, tadi saya kebetulan lewat dan nggak sengaja lihat Mas nya lagi mondar mandir saya pikir sedang dalam kesulitan." ucap Pak Tyo menjelaskan kenapa ia berada disini saat ini.


"Oh iya benar, ehmm mobil saya bannya kempes dan saya juga tidak punya ban serep." jawab Anton yang juga menjelaskan kondisi yang tengah dialaminya.


"Oh, emm....karena sudah semakin malam gimana kalau anda saya anter saja?" tawar Pak Tyo yang berniat untuk memberikan tumpangan.


"Em terima kasih sebelumnya, maaf sudah merepotkan." balas Anton yang merasa sungkan sebenarnya.


"Tidak masalah, mari." ucap Pak Tyo mempersilahkan.


"Emmm bisa tidak kita ngobrolnya santai saja, jangan pakai bahasa formal?" ucap Anton yang merasa tak nyaman berbicara formal diluar pekerjaan kantornya.


"Lo gue?" tanya Pak Tyo.


"Yes." balas Anton.


"Jhahahaha." tawa dua laki laki tersebut pun akhirnya pecah secara bersamaan.


"Eh, anakku sudah menunggu dimobil." ucap Pak Tyo yang langsung menghentikan tawanya mengingat putrinya saat ini tengah sendirian berada didalam mobil.


"Eh, yaudah kalau gitu sekarang kita kemobil aja." balas Anton yang memang sudah lelah sedari tadi ia terus berdiri.


"Oke, ayo." setuju Pak Tyo, keduanya pun langsung berjalan menuju mobil.


Pak Tyo langsung berjalan menuju bangku kemudi, sedangkan Anton langsung berjalan menuju bangku penumpang dibelakang.

__ADS_1


"Lama yah sayang? maaf yah?" ucap Pak Tyo begitu masuk kedalam mobilnya.


"Nggak kok pa." balas Retha.


"Hallo." sapa Anton pada anak kecil tersebut, mendengar suara orang lain tentu saja Retha langsung menoleh ke belakang.


"Om?" terkejut Retha melihat laki laki yang pernah ditemuinya tersebut.


"Om nebeng yah, anterin pulang. Mobil om bannya bocor." ucap Anton.


"No problem om, Papaku bakal anterin Om selamat sampai tujuan." balas Retha sembari mengacungkan jari jempolnya.


"Hahaha, lucu banget sih kamu." ucap Anton sembari mengacak acak gemas rambut Retha.


"Ya udah, kalau gitu kita jalan sekarang?" tanya Pak Tyo memotong pembicaraan dua orang yang terlihat langsung akrab tersebut.


"Yes, let's go!" teriak Retha dengan semangatnya.


Pak Tyo pun langsung menyalakan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang, dia memang type orang yang tak terlalu suka ngebut ngebutan. Baginya berjalan santai namun pasti terasa jauh lebih menyenangkan.


"Oh ya om, kok bisa bocor bannya?" tanya Retha memulai percakapan.


"Kalau nggak ada Papa om pulangnya gimana yah?" tanya Retha sembari nampak berfikir.


"Emm, mungkin Om pulangnya jalan kaki? atau nggak pulang?" bingung Anton dalam menjawabnya.


"Hahahaha, kasian dong om kalau jalan kaki. Rumah Om kan jauh, naik mobil ini aja nggak nyampe nyampe." balas Retha.


"Hahaha iya juga yah, om pasti bakalan auto pijet kalau sampe rumah." balas Anton yang ikut menertawakan kebodohannya.


"Makanya om terima kasih banyak karena Retha sama Papa Retha udah nolongin om." lanjut Anton lagi.


"Menurut om itu karena takdir apa kebetulan?" tanya Retha yang sepertinya sangat ingin bermain tebak tebakan.


"Emm." Anton tampak berfikir sebelum memberikan jawaban.


"Kebetulan?" jawab Anton.


"Retha kan bisa pulang lewat jalan lain om, kalau tadi Retha lewat jalan lain kan nggak bakalan ketemu sama Om." balas Retha tampak berapi api menjelaskan.


"Retha." panggil Pak Tyo dengan nada seolah olah mengingatkan Retha akan batasan yang tidak boleh dilaluinya.

__ADS_1


"Berati takdir dong kalau gitu." ralat Anton yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh Retha.


"Om baru pulang kerja yah? kok masih pakai baju itu?" tanya Retha yang melihat Anton masih mengenakan setelan jas lengkap dengan dasi motif garis garos yang dikenakannya.


"Iya, tadi om lembur jadi baru pulang." jawab Anton.


"Berati om belum nengokin tante Hanum dong?" tanya Retha yang membuat Anton langsung terkejut sekaligus bingung, ia menatap Retha dan Tyo secara bergantian. Tyo yang melihat pantulan wajah Anton dari kaca pun langsung membuka suara.


"Em jadi tadi Retha ngajak saya ke toki roti temoat Hanum kerja dan ternyata Hanum nggak masuk kerja karena dia lagi sakit." ucap Pak Tyo mulai bercerita.


"Jadi Retha sama saya minta alamat kos kosan Hanum dan kita jengukin Hanum." lanjut Pak Tyo.


"Om gimana sih? temennya kok sampai nggak tahu." sahut Retha sembari menggeleng gelengkan kepalanya tak habis pikir.


Sementara Anton tampak sama sekali tak memperdulikan hal tersebut, pikirannya langsung melayang tertuju pada Hanum. Kenapa dia nggak bilang sama aku? siapa yang mengurusnya waktu sakit? pikir Anton.


"Em, maaf tapi bisa anterin saya ke rumah Hanum?" tanya Anton.


"Emz tapi ini sudah mau sampai dirumah lo." jawab Pak Tyo yang jadi bingung.


"Lagi pula waktu kami pulang Hanum juga udah mau istirahat katanya, terus ini juga udah malam kan? kenapa nggak besok pagi aja." ucap Pak Tyo membeberkan keadaan dan situasi saat ini.


Benar juga, sekarang sudah malam dan Hanum pasti juga sudah beristirahat. Jika ia datang malam ini tentu saja hal tersebut akan mengganggu waktu istirahat Hanum.


"Oke, kalau gitu gue kesana besok pagi aja." ucap Anton yang akhirnya menyerah pada keadaan, Pak Tyo hanya menganggukkan kepalanya menyetujui keputusan Anton yang dirasanya sangat tepat. Ia pun kembali melanjutkan perjalanannya, entah sejak kapan putri kecilnya kini sudah tertidur terlelap dengan mulut yang sedikit terbuka.


Akhirnya kini sampailah juga mobil Tyo didepan rumah Anton.


"Terima kasih atas tumpangannya." ucap Anton lagi sebelum turun dari mobil.


"Santai aja." balas Tyo, Anton pun menganggukkan kepalanya.


"Hati hati." ucap Anton lagi yang kemudian langsung turun dari mobil.


Usai Anton turun dari mobil Pak Tyo pun langsung menancap kembali pedal gasnya, putri nya sudah tidur dalam kondisi yang kurang nyaman jadi ia harus segera sampai dirumah.


Sementara itu Anton pun langsung masuk kedalam rumahnya.


~Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit.~


^Conficius^

__ADS_1


__ADS_2