
"Ish, ya nggak gitu juga dong." balas Anton cepat.
Perjalanan kembali diisi dengan keheningan, sampai akhirnya ada sebuah mobil yang menyalip mereka dan tiba tiba langsung berhenti didepan mereka membuat Anton dengan cepat menginjak pedal rem hingga membuat Hanum yang tidak tau apa apa tubuhnya langsung terdorong kedepan.
Chhiiiitttt...........
"Aduh." ringis Hanum yang kepalanya hampir membentur dashboard.
"Kamu nggak papa?" kaget Anton yang langsung memeriksa kondisi Hanum.
"Nggak papa kok, nggak papa." jawab Hanum yang tetap berusaha untuk tersenyum.
"Kenapa ngerem mendadak?" tanya Hanum.
"A.." balas Anton yang bahkan belum mengucapkan sepatah katapun.
Dok.....dook.....dookk......dokk......gedoran pintu memotong ucapan Anton dan membuat Anton beserta Hanum langsung mengalihkan pandaganya keluar pintu Anton.
"Dia siapa?" tanya Hanum yang tidak begitu jelas melihat wajah orang yang menggedor gedor kaca tersebut, yang ia tahu pastinya orang itu berjenis kelamin laki laki.
"Kamu nggak perlu khawatir, kamu disini aja biar aku yang keluar." kata Anton sembari menggenggam tangan Hanum.
"Tap..." potong Hanum yang langsung terhenti karena Anton yang langsung turun.
Anton pun membuka pintu mobilnya yang otomatis membuat orang tersebut mundur beberapa langkah kebelakang.
"Adnan?" terkejut Anton melihat laki laki yang telah menjadi mantan suami dari calon istrinya tersebut bertindak kasar tak seperti Adnan yang dikenalnya.
"Brengsekk." sinis Adnan yang dijawab dengan tatapan tak mengerti oleh Anton.
"Ma...maksudnya apa?" tanya Anton yang masih berusaha bersikap tenang.
Bughhh.....tanpa banyak cin cong Adnan langsung melayangkan pukulannya yang mendarat mulus diwajah Adnan.
Aaahhh......ringis Anton memegang bagian pelipisnya akibat pukulan Adnan yang membuatnya hampir tersungkur ketanah.
Bughh....Anton langsung membalas pukulan Adnan hingga membuat Adnan pun tersungkur dijalan.
"****." umpat Adnan sembari memegang bagian sudut bibirnya yang terasa sedikit sobek.
Tanpa menunggu lama Adnan pun langsung bangkit dan hendak membalas kembali pukulan Anton, namun dengan gesit Adnan pun menangkis tangannya.
"Brengsek." sinis Adnan.
"Apa maksud ini semua?" tanya Anton dengan rahang yang telah mengeras.
__ADS_1
"Jauhin Hanum." jawab Adnan dengan tegas.
"Qih...dasar bajingan gila." sarkas Anton yang langsung menghempaskan tangan Adnan.
"Gue peringatin sekali lagi, jauhin Hanum sekarang juga." ucap Adnan dengan menunjuk wajah Anton dengan tatapan sengit.
"Nggak perlu peringatin gue, karena gue nggak bakalam pernah ngelepasin Hanum." jawab Anton dengan penuh keyakinannya.
"Sialan." geram Adnan yang kemudian hendak kembali melayangkan pukulannya.
"Berhentiiii." teriak Hanum yang sedari tadi melihat keributan yang ternyata dilakukan oleh mantan suaminya tersebut dan akhirnya memutuskan untuk turun dari mobil.
"Hanum?" terkejut Adnan dan Anton hampir bersamaan.
"****." umpat Anton yang langsung menghempaskan dengan kasar tangan Adnan yang mencengkeram bajunya.
"Hanum?" panggil Adnan yang berlahan lahan berjalan ke arah Hanum.
"Berhenti Mas." ucap Hanum dengan tatapan tegasnya yang spontan saja membuat Adnan langsung menghentikan langkahnya.
"Kenapa mas?" tanya Hanum.
"Kenapa Mas kayak gini?" tanyanya lagi.
"Ha...Hanum aku mohon tolong kamu tinggalin laki laki brengsek ini." ucap Adnan dengan penuh keyakinan sembari menunjuk Anton yang berada dibelakangnya.
"Qeq, nggak salah mas?" tanya Hanum lagi dengan nada merendahkan.
"Lebih brengsek mana mas dia sama kamu?" tanyanya lagi sembari geleng geleng kepala tak mengerti.
"Hanum aku tau aku dulu salah, aku mohon maafkan aku." ucap Adnan dengan tatapan memohonnya.
"Aku sudah memafkanmu." jawab Hanum yang membuat senyum dibibir Adnan langsung mengambang, Anton yang mendengarkannya langaung membuang pandangannya ke arah lain.
"Bi...bisakah kita kembali seperti dulu lagi?" tanya Adnan lagi.
"Kembali?" tanya Hanum yang belum.mengerti akan maksud dari perkataan Adnan.
"Iya Hanum, kita bisa kembali seperti dulu lagi." jawab Adnan dengan penuh pengharapan.
"Kita akan menjadi keluarga bahagia Hanum, keluarga impian kita dulu." ucap Adnan.
"Itu dulu, dan sekarang keadaannya sudah berbeda." potong Hanum cepat membuat senyum yang tadi menghiasi bibir Adnan kini hilanglah sudah.
"Lagi pula aku juga akan menikah dengan Mas Anton." ucap Hanum kemudian membuat rahang Adnan kembali mengeras tak suka mendengarnya.
__ADS_1
"Hanum dia itu laki laki brengsek, dia it..." sarkas Adnan cepat.
"Cukup mas, cukup. Jangan bersikap seperti ini, ini hanya akan merendahkan dirimu saja mas." potong Hanum dengan cepat yang kemudian langsung berjalan dan masuk kembali ke mobil Anton. Adnan hanya bisa memandang punggung Hanum dengan perasaan tak menentunya, memandangnya dengan mata yang sudah mulai berair.
Puk....puk...Anton menepuk nepuk punggung Adnan, entah sejak kapan laki laki itu kini telah berdiri tepat dibelakangnya.
"Lupakan Hanum." ucap Adnan yang kemudian langsung pergi meninggalkan Adnan dan masuk kembali ke mobilnya.
................
"Mampir dulu ke apotik." ucap Hanum tiba tiba yang membuat Anton langsung menoleh ke arahnya.
"Lukamu, lukamu harus segera diobati." ucap Hanum.
"Oh, tidak perlu. Aku baik baik saja." jawab Anton.
"Jangan membantah!" tekan Hanum membuat Anton langsung cekicep.
Beberapa menit diperjalanan akhirnya Anton melihat ada sebuah apotik yang cukup besar, ia pun menepikan mobilnya terlebih dahulu. Adnan pun hendak turun dari mobilnya namun,
"Tunggu disini, biar aku saja yang turun." potong Hanum yang tanpa mendengarkan jawaban dari Anton langsung turun dari mobil.
Anton hanya bisa memandang punggung kecil Hanum yang berjalan kian menjauh, ada sebuah perasaan yang tiba tiba hinggap didalam batinnya membuatnya langsung menundukkan pandagan matanya.
Tak berselang lama kemudian, Hanum pun datang dengan membawa kereksek ditangan kanannya dan langsung masuk kedalam mobil.
"Biar aku obati dulu." ucap Hanum sembari membuka keresek tersebut dan mengambil obat yang berada didalamnya.
Anton sama sekali tak menolaknya, ia malah terpesona dengan kecantikan Hanum yang terlihat sangat mengkhawatirkannya.
"Madep sini." kata Hanum yang kemudian langsung membersikah luka memar dipelipis Anton.
Dengan telaten Hanum mengobati luka Anton, hingga akhirnya ia selesai mengobati lukanya.
"Makasih." ucap Anton.
"Sama sama." balas Hanum singkat.
"Kalau begitu, lebih baik kita pulang sekarang." ucap Hanum yang dijawab i dengan anggukan kepala oleh Anton.
Anton pun kembali menyalakan mesin mobilnya dan kembali membelah jalanan ibu kota. Tak ada percakapan apapun yang menghiasi perjalanan ini, Hanum yang tampak termenung entah sedang memikirkan apa wanita itu. Sedangkan Anton yang fokus menyetir pun sesekali melirik lirik kearah Hanum .
Hingga pada akhirnya sampailah keduanya dikos kosan Hanum, namun tampaknya Hanum tak menyadari jika kini mereka sudah sampai. Terlihat dari raut wajah Hanum yang sama sekali tidak berubah dari sebelumnya, masih tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Hanum, kita udah sampai." ucap Anton.
__ADS_1
"Eh, udah sampai yah." terkejut Hanum yang seperti terpaksa ditarik kembali kedunia nyatanya, Anton hanya menganggukkan kepalanya.
~Salah satu kunci kebahagiaan adalah menggunakan uangmu untuk pengalaman, bukan untuk keinginan.~