Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 68


__ADS_3

"Mas, tolongin aku Mas." ucap Hanum didalam pelukan Anton.


"Kamu tenangin diri kamu dulu num," balas Anton yang kemudian melepaskan pelukan Hanum perlahan.


"Mas, tolong aku." kata Hanum tanpa menyerah membuat Anton menghela nafasnya.


"Tolong apa num? aku bakalan bantuin kamu semampu aku, kamu tenang aja yah." ucap Anton yang berusaha menenangkan Hanum.


"Mas, tolong anterin aku ke Bapak mas." jawab Hanum penuh harap membuat Anton mengernyit heran, kenapa malah minta tolong kepadanya kalau sekdar ingin pulang? dimana suaminya? pikir Anton.


"Sekarang kamu duduk dulu, kamu pasti capek." kata Anton yang langsung menggiring Hanum kearah sofa dan mendudukkannya, sementara Hanum hanya menuruti dan mengikuti apa yang dikatakan Anton.


"Sekarang kamu cerita sama aku pelan pelan dari awal." kata Anton dengan penuh kelembutan.


"A...aku cerai sama Mas Adnan." kata Hanum yang menundukkan kepalanya.


"Apa??" pekik Anton yang terkejut.


"Ke...kenapa bisa cerai?" tanya Anton yang penasaran.


"Karena Vanessa?" terka Anton.


"Bukan hanya dia mas, tapi juga Mas Adnan." lirih Hanum.


"Kenapa kamu minta cerai num? itu berarti kamu memberikan kemenangan untuk Vanessa?" kata Anton mencoba mengeluarkan pendapatnya.


"Nggak, aku sama sekali nggak perduli." sahut Hanum menggeleng gelengkan kepalanya.


"Aku nggak perduli lagi sama semuanya, yang jelas aku cuma pengen cerai dari laki laki itu." ucap Hanum masih mencoba mempertahankan keputusan awalnya.


Anton menghela nafas panjang mencoba memahami lebih dekat permasalahan Hanum, pernikahan bukanlah sesuatu yang dapat dipermainkan. Lagi pula dulu Hanum juga sudah memberikan izin pada Adnan untuk menikahi Vanessa secara resmi bukan?


"Lebih baik sekarang kamu istirahat disini dulu, tenangin pikiran kamu. Aku pastikan Adnan nggak akan tahu kalau kamu disini." ucap Anton mencoba memberikan solusi terbaik, ia berharap Hanum memikirkan matang matang kembali keputusannya tersebut.


"Nggak." tolak Hanum cepat.


"Mas Anton harus tolongin aku, tolong anterin aku kerumah Bapak Mas." kata Hanum dengan cepat, tampak Anton yang diam seakan akan menimang nimang keputusannya apakah ia akan membantu Hanum atau tidak.


Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, Hanum pun langsung bangkit dari posisi duduknya dan bersimpuh dihadapan Anton membuat Anton terkejut dengan tindakan yang dilakukan Hanum.


"Aku mohon tolong aku Mas." ucap Hanum tertunduk penuh harap.


"Hanum hanum, tolong kamu jangan seperti ini." Anton yang merasa tak nyaman pun berusaha membantu Hanum untuk berdiri kembali.


"Aku mohon Mas." pinta Hanum untuk kesekian kalinya dengan mengantupkan kedua tangannya didepan dada membuat Anton langsung memejamkan mata dan membuang nafasnya kasar.


"Baik, aku aku akan bantu kamu." ucap Anton pada akhirnya, Hanum yang tengah tertunduk kini tersenyum lega mendengar jawaban dari Anton.


........


Brakkkkk....."Brengsekkkk"........Adnan menggebrek meja dengan kekuatan penuh untuk menyalurkan kemarahannya.


"Bodoh! bagaimana bisa kalian membiarkan Hanum kaburrr!" bentak Adnan pada dua pengawal bodohnya. seakan akan hukum yang mengatakan jika bawahan harua tunduk pada majikannya, begitupun dua pengawal yang berbadan bersar tersebut kini hanya bisa menunduk tersebut.


"Brengsekkk!" maki Adnan.


"Sekarang juga kalian cari keberadaan Hanum, Sekarang!" perintah Adnan tegas dengan dibumbui oleh kemarahan yang hakiki, tanpa menunggu lama lagi kedua pengawal tersebut pun langsung berlari menjalankan perintah majikannya.


Brakk.....brakk....brakkkkk....Lagi lagi Adnan menggebrak meja dihadapannya tersebut.


"Aku pastikan kamu tidak akan bisa lari dariku Hanum." batin Adnan penuh keyakinan.


........


Disisi lain, saat ini juga Hanum dan Anton tengah dalam perjalanan menuju kampung halaman Hanum. Tak ada obrolan yang mengiringi perjalanan ini, baik Hanum atau Anton sama sama fokus dengan kegiatannya masing masing. Anton yang fokus menyetir dan Hanum yang tengah fokus pada pikiran pikiran buruk yang terus berkeliaran dalam fikirannya, bagaimana jika yang dikatakan Adnan tentang keluarganya benar? bagaimana ia harus menyikapinya nanti?


"Sebaiknya kamu tidur, perjalanan masih jauh." ucap Anton tiba tiba seakan menarik paksa Hanum agar kembali kedunia nyata.


"Maaf, aku harus merepotkanmu." ucap Hanum penuh dengan penyesalan.


"Ini tidak gratis." jawab Anton disertai dengan senyumannya.


"Aku akan membalasnya suatu saat nanti." balas Hanum.


"Apapun itu?" tanya Anton membuat Hanum bingung tak mengerti maksud dari perkataan Anton.

__ADS_1


"A..papun nanti." jawab Hanum meskipun ragu ragu membuat senyum Anton kini bertambah lebar dibuatnya.


Hahahaha...Anton tertawa keras seakan akan yang dikatakan Hanum barusan sangat lucu untuknya, Hanum hanya tersenyum simpul menanggapinya karena tak mengerti dibagian mana yang lucu dari perkataannya tadi.


"Hanum, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Anton mencoba membuka percakapan kembali, Hanum pun langsung menoleh kearah Anton.


"Silahkan." jawab Hanum mempersilahkan.


"Apa yang membuatmu begitu yakin ingin bercerai dari Adnan?" tanya Anton membuat Hanum tampak terkejut namun kemudian berhasil merubah raut wajahnya hingga tampak biasa saja.


"Aku tidak ingin lagi hidup dengan laki laki penipu seperti dia." jawab Hanum.


"Yang membuat aku menyetujui Mas Adnan untuk menikahi Vanessa adalah karena Mas Adnan berjanji untuk tidak akan menyentuh Vanessa." ucap Hanum lagi.


"Bukankah itu bukan masalah, biar bagaimanapun Vanessa juga istri sah dari Adnan." timpal Anton menyuarakan pendapatnya.


"Itu kata kata yang dijanjikan Mas Adnan, bukankah yang dipegang dari laki laki itu ucapannya? persetan dengan masalah agama atau kewajiban atau apapun itu aku sama sekali tidak mau berkomentar." jawab Hanum, memang benar jika dalam agama seharusnya itu hal yang lumrah dilakukan untuk pasangan halal bukan? entahlah disaat seperti ini ia sama sekali tak tau bagaimana harus menyikapinya bagaimana.


Tak cukupkah pengorbanannya selama ini? bukankah ia sudah cukup baik membiarkan suaminya menolong wanita itu yang artinya menyelamatkan dua nyawa?.


"Kau tau Anton?" tanya Hanum membuka suara lagi.


"Apa?" tanya Anton yang langsung menoleh sekilas pada Hanum.


"Aku seperti orang bodoh disini, aku bingung apa yang harus aku lakukan." ucap Hanum memejamkan matanya.


"Bukankah seharusnya tuhan memberikan aku balasan yang lebih baik atas pengorbanan yang sudah aku lakukan? tapi lihatlah, bahkan rumah tanggaku hancur karena ini." kata Hanum yang seolah olah tak habis pikir dengan semua yang telah terjadi.


"Yakinlah pasti akan ada hal baik dibalik ini semua." balas Anton mencoba menasihati Hanum.


"Kau berbicara seperti itu karena tidak tau apa yang aku rasakan." balas Hanum yang tak setuju dengan ucapan yang dilontarkan Anton.


"Kesabaran itu pahit, tapi buahnya manis." sahut Anton lagi, namun Hanum sama sekali tak menimpalinya lagi ia lebih memilih untuk memejamkan matanya sejenak melepaskan semua beban beban hidupnya. Anton hanya melirik sekilas dan menghela nafas mencoba memaklumi Hanum, pastilah mental wanita itu down hari ini karena menghadapi hari buruk dalam hidupnya.


Disis lain Adnan saat ini tengah dalam perjalanan menuju rumahnya, yah...rumah tempatnya membagi kasih dengan Hanum selama tiga tahun ini.


"Aku yakin kamu pasti pulang kerumah Hanum, kamu tidak memiliki siapa siapa disini selain aku." ucap Adnan terdengar penuh dengan keyakinan.


Adnan pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dijalanan ramai ini, seakan akan menantang maut.


"Halo, bagaimana?" tanya Adnan melalui sambungan teleponnya.


"Boddoh!" maki Adnan.


"Cari Hanum sampai ketemu." ucap Adnan terdengar pelan namun penuh dengan penekanan seakan akan tengah berusaha sekuat tenaga untuk menekan emosinya. Usai mengatakan hal tersebut Adnan pun langsung membuang earphonenya dengan asal.


Tak berselang lama kemudian sampailah Adnan dikediamannya, ia pun memarkirkan mobilnya dengan asal dan bergegas berlari menuju rumah.


"Hanummm." teriak Adnan sembari memasuki rumahnya.


"Hanum sayang...." panggilnya lagi sembari menaiki tangga.


"Sayang kamu dirumah kan?" teriaknya lagi yang sama sekali tak mendapatkan sahutan dari Hanum.


Ceklekkkk.....Adnan membuka pintu kamarnya dan langsung memasukinya dengan terus berteriak memanggil nama Hanum.


Aaaaaa.....Brakkk...Adnan memukul cermin menggunakan kepalan tangannya hingga membuat kaca cermin tersebut pecah dan mengakibatkan tangan Adnan kini berdarah.


"Dimana kamu Hanummmm" teriak Adnan yang menggema dikamar ini.


Adnan terdiam seakan akan tengah menikmati rasa sakit yang menjalar keseluruh tubuhnya, bukan hanya tangannya melainkan hatinya juga. Adnan kembali mengingat ingat kemungkinan tempat yang akan didatangi Hanum, melihat kondisi tubuh Hanum rasanya tak mungkin jika Hanum akan pergi jauh.


"Maya." gumam Adnan dengan seutas senyum dibibirnya.


"Iya, Hanum pasti pergi kerumah Maya." ucap Adnan lagi penuh keyakinan, tanpa berfikir panjang Adnan pun lekas bangkit dari posisi bersimpuhnya.


"Mas Adnan?" kaget Zidan yang baru saja masuk kedalam rumah dan melihat Kakaknya yang hendak keluar dari rumah.


"Kamu ngapain disini?" tanya Adnan cepat penih selidik.


"Aku udah beberapa hari ini kesini nyari Mbak Hanum tapi nggak ada orang, terus aku barusan lewat lagi dan lihat mobil Mas jadi aku pikir Mas sama Mbak Hanum udah baikan." jawab Zidan jujur apa adanya.


"Mas sama Mbak Hanum udah baikan kan Mas?" tanya Zidan dengan tatapan menelisiknya.


"Udah, tapi sekarang Hanum malah pergi." jawab Adnan yang langsung membuang pandangannya.

__ADS_1


"Apa!" kaget Zidan.


"Kalau udah baikan nggak mungkin Mbak Hanum oergi dong Mas." protes Zidan yang tak habis pikir dengan ucapan Kakaknya.


"Mas nggak tau," jawab Adnan cepat.


"Sekarang Mas mau nyari istri Mas." kata Adnan lagi yang kemudian melangkahkan kakinya disusul oleh Zidan.


"Mas mau nyari kemana?" teriak Zidan yang langsung membuat Adnan menghentikan langkahnya dan berbalik.


Kini Adnan dan Zidan tengah dalam perjalanan menuju rumah Maya, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir keduanya. Adnan yang pikirannya kini tenga terbagi bagi antara fokus menyetir dan juga mencari cari tau apa penyebab Hanum pergi, bukankah beberapa hari ini Hanum kembali menjadi wanita penurut seperti sebelumnya? bahkan Hanum terlihat seolah olah sudah madalah kemarin karena tak pernah mengungkitnya lagi.


Setelah beberapa pulih menit diperjalanan kini sampailah Adnan didepan rumah Maya, ia pun langsung turun dari mobilnya.


"Maya....Maya...." dok...dok....dokk....Adnan menggedor gedor pintu rumah Maya dengan keras seakan akan memerintah pada pemilik rumah agar lekas keluar.


"Mas pelan pelan dong, ini rumah orang." kata Zidan yang mencoba menyadarkan Kakaknya dari tindakan tak sopan ini.


"Maya...Maya..." Adnan sama sekali tak mengindahkan perkataan Zidan barusan, mau dikatakan tidak sopan atau apapun Adnan sama sekali tak perduli yang jelas ia hanya harus cepat menemukan keberadaan Hanum.


"Zidannn..."


"Pak Adnan..."


Tiba tiba saja terdengar suara orang dari arah belakang, sontak Adnan dan Zidan langsung berbalik arah.


"Maya" pekik Adnan yang kemudian langsung mendekat kearah Maya yang tengah membawa keranjamg berisi sayuran tersebut.


"Ada apa yah kalian ke..si...ni?" tanya Maya yang menatap Zidan dan Adnan secara bergantian.


"Dimana Hanum?" tanya Adnan langsung pada intinya membuat Maya menatap Anggia dengan bingung.


"Maaf Pak, maksud Bapak apa yah?" tanya Maya menyampaikan kebingungannya.


"Hanum pasti ada disini kan?" tanya Adnan kembali penuh penegasan.


"Maaf pak, tapi Hanum nggak ada disini." jawab Maya yang sedikit mulai mengerti jika Adnan tengah mencari keberadaan Hanum yang sama sekali tidak ia ketahui.


"Jangan bohong kamu." hardik Adnan dengan menujuk wajah Maya.


"Mas, Mas jangan gitu dong." Zidan pun harus turun tangan ketika Kakaknya sudah bertindak keluar jalur seperti ini.


"Kamu pasti tau kan dimana Hanum sekarang." tunjuk Adnan lagi tanpa perduli dengan peringatan yang diberikan Zidan.


"Dimana kamu sembunyiin Hanum." bentak Adnan lagi, lama lama kesabaran Maya akhirnya mencapai batasnya juga. Maya pun langsung menjatuhkan keranjanhnya begitu saja dengan kasar.


"Dengar ya pak, saya sama sekali tidak tau dimana Hanum sekarang." bentak Maya yang kini menunjuk wajah Adnan.


"Lagi pula Bapak itu suaminya, bagaimana bisa Bapak tidak tau dimana keberadaan istri Bapak sekarang?." lanjut Maya yang belum ingin berhenti.


"Jangan jangan Bapak tidak becus jadi suami." sinis Maya menatap sengit wajah Adnan.


Ucapan Maya barusan bagaikan bensin yang sengaja disiramkan pada api membuat emosi Adnan kini semakin naik bahkan kian meledak.


"Jaga ucapan kamu!" bentak Adnan tepat didepan wajah Maya.


Tak ingin membuang buang waktu lebih lama lagi ditempat ini Zidan pun langsung menarik paksa tangan Kakaknya dan membawanya masuk kembali kedalam mobil.


"Mas, Mas kontrol dong emosinya." kata Zidan yang tampak kesal sembari menyalakan mesin mobilnya, Zidan tak akan membiarkan orang yang tengah dirasuki setan disampingnya ini untuk mengemudikan mobil yang jelas jelas akan membahayakan bagi mereka berdua.


"Sekarang kita cari kemana lagi?" tanya Zidan setelah beberapa menit melajukan mobilnya. Adnan tampak belum berniat menyahuti karena sendirinya juga masih menerka nerka kemungkinan kemungkinan tempat yang akan didatangi oleh istrinya tersebut.


Melihat Kakaknya yang tampak tak ada niatan untuk menjawab itu membuat Zidan menghela nafas panjang, mau tak mau kali ini ia harus membantu Kakaknya berharap agar rumah tangga Kakaknya tersebut dapat diperbaiki.


.......


Setelah menempuh perjalanan yang cukup menguras tenaga, akhirnya kini sampailah Anton di kampung halaman Hanum. Kampung yang tak jauh dari tempat dirinya dibesarkan bersama neneknya dulu.


Beberapa menit kemudian sampailah Anton didepan rumah Hanum, bagaimana bisa ia tahu rumah Hanum? tentu saja ia tahu sewaktu sekolah dulu karena ia pernah menyukai Hanum dan otomatis ia juga mencari tahu dimana rumah Hanum.


"Hanum, bangun." Anton menepuk nepuk pipi Hanum agar Hanum cepat bangun.


Eughh....lenguh Hanum yang kemudian perlahan lagan membuak matanya.


"Dimana ini?" tanya Hanum yang belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.

__ADS_1


~Jangan menyesali sesuatu yang telah berlalu, tapi sesalilah tidak melakukan sesuatu yang kau inginkan~


^Prison Playbook^


__ADS_2