Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 101


__ADS_3

"Anda?" terkejut Maya yang melihat kedatangan Pak Tyo, begitu juga dengan Pak Tyo yang terkejut ketika berpapasan dengan Maya.


"Ma..maaf." kata Pak Tyo yang tampak canggung.


"Em nggak papa kok pak, eh ya ngomong ngomong Pak Tyo ngapain kesini?" tanta Maya dengan berhati hati.


"Oh saya mau jenguk Hanum, kamu sendiri? nggak kerja?" balik tanya Pak Tyo..


"Ini baru mau berangkat kerja." jawab Maya.


"Mau jenguk Hanum?" tanya Maya dengan mendelik sembari menunjuk ke arah belakangnya.


"Iya." jawab Pak Tyo kembali memperjelas.


"Bukannya Hanum udah berangkat ya, tadi aku lihat setelah Adton pergi nggak begitu lama Hanum juga pergi soalnya." jawab Maya yang juga malah tampak bingung begitu juga Pak Tyo yang turut terkejut mendengar penjelasan dari Maya.


"Tadi saya ketoko dan Mbak Susi bilang kalau Hanum belum masuk, jadi saya pikir Hanum masih sakit. Jadi saya kesini mau jenguk Hanum, cuma mau mastiin kondisi Hanum aja." jawab Pak Tyo dan diikuti dengan kerutan di dahi Maya.


"Oh ya, ngomong ngomong Anton sering kesini yah?" tanya Pak Tyo yang tampak penasaran.


"Em nggak sering sering amat juga sih, kadang mereka juga pergi keluar. Ya...maklum lah namanya juga sama calon suami." jawab Maya dengan jelasnya.


"Apa?" terkejut Pak Tyo, seketika saja raut wajahnya berubah antara terkejut dan juga tak percaya.


"Kenapa bapak malah terkejut kayak gitu?" tanya Maya yang tampak heran.


"Ah, nggak papa." jawab Pak Tyo seolah olah baik baik saja dan langsung memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


"Bapak sebelumnya belum tau ya kalau Hanum sama Anton itu udah tunangan?" tanya Maya dengan penuh selidik.


"Ah, belum." jawab Pak Tyo dengan mengeluarkan senyum terpaksa dibibirnya.


"Apa jangan jangan Pak Tyo juga belum tahu kalau sebenarnya Hanum itu janda?" tanya Maya lagi seakan akan memastikan.


"Hah???." untuk yang kedua kalinya Pak Tyo kembali dibuat terkejut dengan pernyataan pernyataan yang baru saja ia ketahui tentang wanita yang sudah mencuri hatinya tersebut, bodoh benar benar bodoh dirinya selama ini bukan? kenapa ia sama sekali tak tau apa apa tentang Hanum.

__ADS_1


"Ehm, saya rasa saya juga tidak berkewajiban untuk tahu kehidupan pribadi Hanum." ucap Pak Tyo kemudian dengan mengubah raut wajah serta intonasi suaranya, supaya tampak jika ia baik baik saja.


"Oh, benar juga." balas Maya mengangguk anggukkan kepalanya.


.............


Hanum mengerjabkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan dengan cahaya disekelilingnya, samar samar ia melihat seseorang yang tengah duduk disampingnya seakan akan sedang menunggu dirinya sadar.


"Eighh." kaget Hanum yang otomatis langsung bangun dari posisi tidurnya dan duduk.


"Kamu sudah bangun?" tanya Adnan dengan tangan yang terulur seakan akan hendak menyentuh Hanum.


"Apa yang kamu lakukan!" bentak Hanum yang langsung menepis dengan kasar tangan Adnan, rasanya tak sudi lagi jika ia membiarkan tangan laki laki penghianat itu mententuh anggota tubuhnya.


"Ha...Hanum, aku hanya ingin membantumu." jawab Adnan dengan tersenyum kecut, mendapatkan penolakan dari wanita yang dahulu selalu mendamba untuk mendapatkan sentuhan dari tanganya nyatanya menorehkan luka tersendiri dihati Adnan.


"Tak perlu," tolak Hanum dengan tegas, seketika pandangan mata Hanum berkeliling menelusuri ruangan tampatnya berada saat ini.


Sebuah kamar yang tampak asing untuk Hanum, ia sama sekali tak tahu dimana ia berada saat ini.


"Apa yang kau lakukan brengsekkk!" teriak Hanum didepan Adnan, tak ada sama sekali secuil rasa hormat yang tertinggal dihati Hanum untuk mantan suaminya tersebut.


"Hanum tenang, saat ini kau akan aman bersamaku." jawab Adnan yang juga terlihat panik namun tetap berusaha untuk meyakinkan Hanum.


Tanpa ba bi bu lagi Hanum langsung beranjak turun dari ranjangnya dan bergegas menuju ke pintu.


Tek...tek...tek....Hanum berkali kali memutar gagang pintu tersebut dengan harapan ia dapat keluar dari tempat terkutuk ini. namun alih alih keluar ia malah tidak bisa membuka pintu tersebut.


"Brengsekkk, keluarkan aku dari sini!" bentak Hanum pada Adnan.


"Hanum, bagaimana bisa aku mengeluarkanmu dari sini kalau kamu sama sekali tidak bisa tenang seperti ini." balas Adnan yang perlahan lahan turun menghampiri Hanum.


"Brengsekkk." umapat Hanum yang langsung berbalik kembali menatap pintu.


Dok....dokkk....doookkkk.

__ADS_1


"Tolongggggg, tolong keluarkan aku dari sinii." teriak Hanum.


Dokkk....doookkk...ddddoook...


"Siapapun yang ada diluar sana, tolong bantu aku keluar dari siniiii." teriak Hanum lagi dengan masih terus menerus menggedor gedor pintunya.


Sementara Hanum yang masih fokus untuk keluar ditambah lagi dengan kondisi Hanum yang tampak tidak stabil, Dengan terpaksa Adnan kembali harus menuangkan obat bius kesebuah kain kecil. Dengan berhati hati Adnan kembali mendekat kearah Hanum.


Dokkk....doookkk....ddddoookkk...


Bsssttttt


Perlahan lahan pandangan mata Hanum kembali memudar, hingga tanpa ia sadari ia kembali pingsan akibat obat bius lagi. Dengan sigap Adnan pun menangkap tubuh Hanum agar tak membentur lantai.


"Maafkan aku, aku terpaksa melakukan ini." ucap Adnan dengan penuh prihatin menatap wanita yang masih bertakhta didalam hatinya kini. Adnan pun menggendong tubuh Hanum dan merebahkannya kembali di atas ranjang.


.............


"Aaahhhh sialannn." teriak Vanessa yang melihat ada sepucuk surat yang terselip dimeja riasnya. Surat yang berisi sebuah ancaman dari Adnan, ancaman yang mengatakan jika ia harus pergi menemuinya kesebuah tempat yang nantinya akan menjadi saksi bisu perjanjian kembali keduanya.


Bukan masalah suratnya yang membuat Vanessa marah, melainkan tulisan yang berisi ancamanlah yang membuatnya marah. Dimana jika ia mengganggu Hanum maka ia harus bersiap siap untuk menerima surat cerai dari Adnan, bahkan tanpa menunggu bayi yang dikandungnya ini lahir. Lebih parahnya lagi Adnan akan mengatakan alasan perceraiannya adalah karena mendapati Vanessa selingkuh dan mengatakan jika anak yang dikandungnya adalah anak orang lain, bakan Adnan sendiri juga siap untuk melakukan tes DNA.


"Hanummmm brengseeeekkk!" teriak Vanessa lagi.


Bbraaakkk....


..........


Disisi lain Pak Tyo keluar dari area kos kosan Hanum dengan hati yang gelisah.


Gelisah antara sedih dan marah. Sedih dengan kabar wanita yang mulai ia dekati kini ternyata adalah seorang wanita dengan status tunangan seseorang. Marah, marah karena dengan bodohnya selama ini ia tidak mencari tahu dahulu latar belakang Hanum. Sebenarnya benar kata orang jika sebelum janur kuning melengkung Hanum masih dapat ditikung olehnya, tapi bagaimana bisa ia mengambil Hanum dari tangan Anton yang telah serius ingin menghalalkan Hanum tanpa perduli dengan status yang disandang Hanum saat ini.


Ia pernah mengalami belahan jiwanya direbut oleh seseorang dan itu rasanya sangat menyakitkan terlebih lagi untuk Retha, jadi bagaimana bisa ia akan melakukan itu pada Anton? bagaimana bisa ia berusaha menjadi ornag ketiga dalam hubungan mereka?


~Jangan terlalu baik untuk semua orang, cintai dan hargai dirimu sendiri~

__ADS_1


^Kim Seokjin^


__ADS_2